
Alice memasuki rumahnya dengan langkah bergetar. Rasanya kali ini dia belum siap menghadapi kemurkaan sang ibu yang akan segera didapatkan. Bagaimana tidak? Dia yang menerima semua keinginan sang mama, tetapi dia juga yang sekarang berniat untuk menggagalkannya.
Apa Dave suda memberitahukan kepada mamanya?, batin Alice penuh rasa khawatir. Pasalnya, jika mama Dave sudah tahu, jelas mamanya juga tahu mengenai hal tersebut.
Alice menghela napas keras dan memilh untuk masuk. Apa pun yang terjadi, dia memang harus menyelesaikannya. Dia harus menghadapi sendiri masalahnya. Pasalnya, Alice sudah menolak pertolongan Bara yang hendak menjelaskan kepada orang tuanya.
Aku bisa, kuat Alice dengan semangat yang mulai dipancarkan.
Alice melangkah menuju ke ruang makan karena dia mendengar suara dari arah belakang. Dia yakin, kedua orang tuanya ada di sana. Langkahnya berhenti ketika melihat sang mama dan papa yang tengah bercanda di meja makan. Rasanya dia tidak tega melihat wajah kecewa keduanya.
“Alice,” panggi Galuh ketika menyadari kedatangan anaknya.
Alice yng mendengar tersenyum tipis dan melangkah mendekat. Wajahnya masih terlihat begitu cemas. Dia takut jika nantinya, mamanya marah dengan keinginannya. Surya menepuk pelan kursi di dekatnya dan menyuruh Alice duduk. Alice mengangguk dan segera duduk.
“Sarapan dulu, Alice,” ucap Surya dengan wajah datar. Dia tahu saat ini anaknya tengah memikirkan apa yang harus dilakukan.
Alice menatap papanya dan tersenyum. Helaan napas keras membuat Surya dan Galuh menatap ke arah anaknya dengan pandangan bingung.
“Ada apa, Alice? Ada yang membuatmu merasa tidak baik?” tanya Galuh dengan wajah cemas. Dia takut jika anaknya sakit.
Alice menggeleng pelan. “Tidak, Ma. Cuma ada hal yang harus Alice katakan sekarang juga,” ucap Alice dengan senyum canggung.
“Apa, sayang? Kenapa wajahmu terlihat begitu cemas?” tanya Galuh mulai penasaran. Pasalnya, wajah Alice tidak sesantai biasanya.
Alice diam sejenak, mencoba menguatkan hatinya sendiri untuk mengatakan keinginannya. Matanya menatap lekat mata sang mama yang masih dengan kecemasan. “Ma, Alice begitu menyayangi Mama, juga Papa. Alice mau membahagiakan Mama dan Papa, melakukan apa pun yan kalian suka. Sejak kecil sampai dewasa, kalianlah orang tua yang Alice ketahui. Namun, untuk kali ini Alice benar-benar meminta maaf, Ma, Pa,” ucap Alice dengan wajah serius.
“Maksud kamu apa, sayang?” tanya Galuh merasa bingung. Matanya menatap Alice dengan penuhbselidik. Dia merasa ada hal tidak beres yang terjadi dengan anaknya.
__ADS_1
“Alice tidak bisa bersama dengan Dave, Ma, Pa,” celetuk Alice sembari mengingatkan hatinya yang sudah tidak karuan.
Galuh diam sketika. Tangannya segera melepaskan sendok yang sejak tadi digenggamnya dan menatap Alice dengan tatapan terkejut. Namun, hal berbeda terjadi kepada Surya. Surya hanya menatap anaknya dengan wajah santai. Bahkan, mulutnya masih mengunyah makanannya.
“Maaf, Ma. Alice benar-benar tidak bisa bersama dengan Dave. Alice mencintai orang lain, Ma,” jelas Alice dengan wajah serius. Dia takut jika mamanya tidak menyetujui keinginanya.
“Tidak,” tegas Galuh membuat Alice membelalak. “Tidak ada, Alice. Kamu sudah memiliki Dave dan kamu setuju dengan itu. Jadi, mama tidak akan pernah menggagalkan hubungamu dengan hanya untuk orang lain,” tegas Galuh dengan rahang mengeras.
Alice menghela napas kasar. Hatinya merasa hancur karena perkataan Galuh yang seakan menganggap keinginannya tidaklah penting. Semua ketakutan yang dipikirkan selama ini terjadi dengan seketika.
Alice baru akan membuka mulut dan kembali melayangkan portesnya, tetapi papanya sudah lebih dulu menyela ucapannya, membuat Alice menelan semua kalimat yang akan dilontarkan. Alice menatap papanya dengan pandangan lekat.
“Cukup, Galuh,” tegas Surya dengan tatapan serius. “Aku sudah mendengar semua argumen darimu. Tetapi, sebelum melayangkan protes dan laranagan untuk Alice, ada baiknya kamu memikirkan perasaan anak kita. Kenapa kita harus memaksa dia untuk bersama dengan Dave kalau dia tidak mau?”
Galuh menghela napas keras dan menatap suaminya lekat. “Mas, bagaimana pun kita yang pernah bertanya mengenai perjodohan ini dan sekarang kita membatalkannya? Jangan buat keluarga kita malu karena hal ini, Mas. Apa yang akan di pikirkan Dave dan keluarganya mengenai ini?”
Galuh hanya diam dan menghela napas kasar. Sebenarnya dia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Renita mengenai hal ini. Padahal, sejak awal dia yang begitu semangat melakukan perjodohan Alice dengan Dave. Namun, rasanya dia juga tidak tahan melihat Alice yang murung di dekatnya.
“Sayang, biarkan Alice bersama dengan pilihannya. Aku yang akan mengatakan kepada keluarga Dave mengenai hal ini. Aku yang akan meyakinkan mereka mengenai keputusan anak kita,” ucap Surya seakan tahu mengenai isi hati istrinya.
Galuh yang mendengar akhirnya pasrah. Melawan dan menolak juga tidak ada efeknya sama sekali karena papa dan anak yang ada di hadapannya saat ini sudah kompak. Galuh menatap ke arah Alice dengan pandangan lekat. Terlihat wajah cemas dari anaknya.
“Baiklah, Alice. Mama merestuimu dengan pria yang kamu cintai.”
“Bara,” sahut Alice dengan senyum tipis dan bahagia, “namanya Bara, Ma.”
Galuh mengangguk pelan. Dia merasa tidak asing dengan nama tersebut, tetapi kembali diabaikan. Dia merasa hal tersebut tidaklah penting.
__ADS_1
“Jadi, kapan Bara akan datang ke sini?” tanya Surya dengan tatapan lekat.
Alice yang ditanya langsung mengulum senyum dan menatap papanya lekat. “Dua minggu lagi,” jawab Alice dengan wajah bersemu merah.
Surya hanya mengangguk. Dia yakin melepaskan anaknya dengan Bara. Setidaknya dia tahu seberapa bertanggung jawabnya pemuda tersebut. Meski usianya jauh lebih muda dari Alice.
“Kalau begitu, Alice ke kamar dulu ya Ma, Pa. Mau bersih-bersih,” ucap Alice dengan senyum bahagia.
Surya dan Galuh yang melihat hanya mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Alice meninggalkan ruangan dan langsung menuju ke arah kamarnya. Sepanjang perjalanan, mulutnya tidak berenti bersenandung riang. Sampai pada akhirnya, Alice sampai di kamar dan langsung merebahkan tubuhnya.
“Aku harap tidak ada masalah lagi untuk kita, Bara,” pinta Alice sembari menggenggam ponselnya dengan erat.
Alice menghela napas perlahan ketika mendengar pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat dia segera membuka pesan tersebut dan tersenyum senang.
Bara
Sudah istirahat?
Alice segera menghetikan pesan dan mengirimnya. Matanya menatap layar yang tidak beralih dari pesan Bara. Dia menunggu pesan lain dari Bara, sampai bunyi pesan masuk kembali terdengar. Jemarinya segera membukanya secepat kilat.
Bara
Istiraatlah sayang dan sampai bertemu besok, aku merindukanmu.
Alice hanya diam sembari mengulum senyum. Ingatannya kembai mearsa bersalah ketika menginhat wajah Dave yang begitu ikhlas melepaskannnya.
“Maafkan aku, Dave. Aku rasa kita memang bukan jodoh. Semoga kamu mendapatkan wanita lebih baik nantinya,” gumam Alice dan kembali menghela napas keras.
__ADS_1
____