Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 33_Bara!


__ADS_3

“Rony! Keluar kamu!”


Dave menatap dua pria kekar yang ada di depanya dengan pandangan tajam. Rasa takutnya menguap seketika. Matanya menatap sekeliling dan berharap ada celah untuknya masuk. Dia juga berharap Bara dapat masuk ke dalam dengan lancar dan menyelamatkan Alice.


“Hai, siapa kau?” tanya seorang pria kekar di hadapannya.


Dave mengalihkan pandangannya ketika pria di hadapannya bersiap untuk menyerang. Kali ini, dia harus bisa menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu dan langsung sigap memasang kuda-kuda. Dave menatap lekat dan tidak beralih fokus sama sekali. Dia yakin, Bara bisa mengatasi bagian dalam.


“Hey, pergi dari sini atau kami gunakan kekeras untuk mengusirmu,” tegas pria yang ada di depannya.


“Aku tidak akan pernah pergi sebelum Rony keluar. Panggil bosmu keluar dan aku akan pergi,” tegas Dave dengan tatapan lekat.


“Ada urusan apa kamu dengan bos kami?”


“Apa pun urusannya, itu tidak penting untuk kalian. Cepat panggil Rony atau aku akan membuat keributan di sini,” ancam Dave dengan wajah serius.


“Rony! Keluar pengecut!” teriak Dave dengan wajah mengeras. Dia merasa kesal karena Rony seperti tidak mendengar teriakannya sama sekali.


“Rony! Tunjukan wajahmu kalau kamu bukan pecundang!” tambah Dave mencoba memanasi Rony.


“Siapa yang pecundang, bocah.”


Sebuah suara dari balik gerbang membuat Dave berhenti. Matanya menatap lekat sosok yang ada di belakang. Ketika Rony sudah berada di hadapanya, Dave menatap dengan penuh serius.


“Ada perlu apa kamu denganku, bocah? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali,” ucap Rony dengan wajah kesal. Dia baru saja akan melancarkan aksinya dengan Alice ketika pria di hadapannya berusaha mengganggu.


Dave menghela napas perlahan dan menunjukan wajah datar. “Kembalikan Alice. Aku tahu kamu yang menculiknya,” jawab Dave tanpa basa-basi.


Rony yang mendengar langsung tertawa keras dan menatap Dave tidak percaya . “Kamu memintaku mengembalikan Alice? Jangan bermimpi Dave Wijaya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengembalikan Alice kepada kalian,” sahut Rony dengan senyum sinis. Dia ingat dengan wajah yang ada di hadapannya. Emosinya memuncak setiap mengingat bahwa Alice akan menjadi milik Dave.


“Kamu memang pria tua tidak bermoral, Rony. Kamu mengambil dia dengan cara paksa dan mengurungnya. Kamu bahkan tidak sadar dengan statusmu sebagai pamannya,” sindir Dave dengan wajah mengejak.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu, Dave!” bentak Rony dengan wajah mengeras dan tangan menuding keras. “Kamu sudah melewati batasanmu, Dave. Di sini aku yang berkuasa dan jangan berharap dapat keluar dengan keadaan baik-baik saja, Dave. Jadi, jangan macam-macam denganku.”


Dave menghela napas perlahan dan menatap Rony lekat. Dia tahu, mengatakan hal yang memancing emosi Rony bukanlah hal yang baik. “Aku memiliki tawaran denganmu, Rony,” kata Dave dengan wajah serius.


Rony memicingkan mata dan menatap Dave lekat. “Apa penawaranmu untukku, Dave?”


“Aku akan serahkan sahamku di perusahaan Michael kepadamu dan kamu lepaskan Alice,” jawab Dave tanpa pikir panjang. Sekarang menyelamatkan Alice adalah salah satu prioritasnya. Dia tidak mau ada korban lain hanya untuk sebuah ego.


Rony tersenyum miring dan menatap Dave mengejek. “Bahkan, aku tidak membutuhkan sahammu, Dave. Aku butuh Alice dalam hidupku. Aku akan menjadikannya istriku dengan atau tanpa persetujuan orang tuanya. Aku benar-benar merindukan tubuh mungil itu ada dalam dekapanku. Aku ingin membuatnya mengerang karenaku.”


“Rony!” bentak Dave merasa ucapan Rony sudah keterlaluan. Matanya menunjukan kilat penuh amarah dengan otot yang mulai nampak. Usahanya untuk mengulur waktu sudah terlalu lama dan dia sudah tidak tahan.


“Sialan kamu, Rony!” dengan tanpa pikir panjang, Dave langsung menyerang Rony dan menatap penuh amarah. Tangannya sudah mengepal dengan tatapan penuh permusuhan.


“Aku tidak akan membiarkanmu mengatakan hal semacam itu terhadap wanita, Rony. Kamu benar-benar bejat,” desis Dave merasa kesal.


_____


Tahan dia selama yang kamu bisa, Dave, batin Bara yang langsung melangkah.


Bara melihat seorang pria kekar tengah melangkah ke sana-sini dengan membawa senjata. Dengan penuh hati-hati, dia melangkah mendekati pria tersebut. Dia mengeluarkan sapu tangan yang sudah dipenuhi dengan obat bius yang selalu dibawa oleh Dave. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis dan segera membekap pria tersebut hingga mulai tidak sadarkan diri.


Bara menghela napas perlahan dan tersenyum. Dengan cepat dia mengambil senjata pria tersebut dan kembali masuk, melakukan hal yang sama dengan seluruh penjaga yang dilihatnya.


“Di mana Alice berada,” gumam Bara sembari mengamati sekitar. Dia tidak melihat kamar di bagian bawah dan segera berlari ke bagia atas.


Aku harus segera mencari Alice sebelum Rony sadar dengan kekacauan yang ada di dalam, batin Bara dengan napas terengah.


Bara menaiki tangga dan menatap sekitar. Di sana tidak ada penjaga sama sekali. Namun, terlalu banyak kamar di bagian atas. Dia mulai menerka di mana Alice berada dan sangat beruntung karena sebuah teriakan seakan memberitahukan di mana posisi gadis tersebut.


“Dave!”

__ADS_1


“Alice.” Bara segera melangkah mendekat ke asal suara dan mencari keberadaan Alice. Setelah dirasa dia menemukan pintu yang tepat, kembali dia mulai beraksi.


Bara mengeluarkan sebuah obeng dan merusak gagang pintu. Matanya mengamati sekitar ketika pintu tersebut terasa sulit dibukanya. Namun, tidak lama kemudian, pintu terbuka dan dengan cepat segera masuk. Matanya menatap seorang gadis yang tengah menatap dari jendela, memperhatikan keadaan di luar yang semakin kacau.


“Alice,” panggil Bara pelan.


Alice yang mendengar membalik badan dan menatap Bara lekat. Helaan napas lega terdengar dengan tetesan air mata penuh kebahagiaan. Dengan cepat dia turun dari ranjang dan berlari ke arah Bara.


“Bara,” panggil Alice yang langsung memeluk Bara, melupakan di mana saat ini dia berada. “Aku takut. Aku pikir kamu tidak akan datang,” adu Alice dengan air mata yang mengalir deras.


Bara menghela napas perlahan dan mengelus pelan rambut Alice. “Aku melihatmu, Alice. Maaf karena terlambat datang.” Bara melepaskan pelukan Alice dan menatap serius. “Sekarang kita harus segera keluar dari sini. Di bawah, Dave sedang mengalihkan perhatian Rony.”


Alice yang mengerti mengangguk. Bara tersenyum dan menggenggam tangan Alice erat. Dengan mata mengamati sekitar, Bara mulai membawa Alice turun ke bawah. Jantungnya bertalu keras karena ini pertama baginya.


Alice menelan ludahnya kasar ketika sudah menapaki lantai dasar. Kakinya lemah, tetapi tetap dipaksakan untuk melangkah. Dia tidak mau membuat Bara menjadi semakin susah.


“Kmau masih kuat, Alice?" tanya Bara merasa tangan Alice terlalu dingin. Matanya menatap Alice dengan penuh tanya.


Alice mengangguk dan kembali megukuti Bara keluar gerbang. Rasanya aneh karena terlalu mudah untuk Bara membawa Alice keluar dari rumah Rony. Namun, Bara mengabaikannya dan terus melangkah menyusuri hutan lebat dan menuju ke mobilnya.


Bara masih tetap waspada sampai sebuah dentuman keras membuat Bara berhenti seketika. Alice yang mendengar langsung menatap ke arah Bara dengan mata membelalak. Mulutnya menganga dengan air mata yang langsung mengalir kembali.


“Bara,” ucap Alice lemah.


“Mau ke mana, cucuku tersayang?” suara Margaret mengalihkan perhatian Alice dari Bara. Alice menatap Margaret dengan penuh keterkejutan.


“Aku bahkan baru menjengukmu, sayang. Kenapa buru-buru sekali,” celetuk Margaret dengan suara tajam. Bahkan, senyum sinisnya sudah kembali hadir dan menatap


Alice meremehkan.


_____

__ADS_1


__ADS_2