Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 57_Kabar Menggembirakan


__ADS_3

"Jadi, kamu akan menikah dengan Alice?" tanya Dave dengan mata mengamati Bara lekat.


Pagi ini, Bara memang sengaja menemui Dave. Entah mengapa, dia merasa ingin mengatakan rencaanya kepada pria yang pernah dijodohkan dengan Alice, kekasihnya.


Bara mengangguk pelan dan menatap ke arah Dave serius. “Iya, aku akan menikahinya. Kamu tidak keberatan, kan?” tanya Bara sembari menyeruput kopi yang sudah dipesan tiga puluh menit yang lalu. Bahkan, cangkir Dave sudah tidak berisi apa pun.


Dave yang mendengar menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Matanya menatap ke arah Bara dengan tatapan santai, tetapi terkesan serius. “Jika aku mengatakan tidak rela, apa kamu akan melepaskannya?”


Suara tawa kecil terdengar dari arah Bara, membuat Dave hanya mengulum senyum melihatnya. Bara mulai mendongak dan menatap ke arah Dave dengan pandangan lekat.


“Sampai kapan pun juga aku tidak akan pernah melepaskannya. Meski kamu meminta dengan baik atau memaksa,” jawab Bara membuat tawa Dave meledak.


Dave mengabaikan semua pandangan pengunjung cafe dan menatap ke arah Bara lekat. “Kamu benar-benar mengira aku mencintainya, ya?” celetuk Dave masih dengan tawa keras.


“May be,” jawab Bara santai. Matanya menatap Dave dengan pandangan lekat. Dia tidak peduli dengan pikiran pria di depannya karena pada nyatanya, dia memang cemburu dengan Dave. Bahkan, jauh di lubuk hatinya, dia takut jika Alice bisa berpaling dengan Dave.


Dave masih mencoba menghentikan tawa dan menatap ke arah Bara lekat. Neski sesekali bibrinya masih tetap ingin tertawa keras.


“Sudah?” tanay Bara dengan nada santai.


Dave akhirnya berdehem keras beberapa kali dan menatap ke arah Bara serius. Tawanya yang sejak tadi menjadi tontonan pngunjung cafe sudah mereda sepunuhnya. Sekarang, Dave menatap ke arah Bara dengan pandangan lekat.


“Dengar, Bara. Aku memang pernah menyesal telah melepaksan Alice. Dia gadis baik. Tetapi, sekarang dia adalah milikmu. Mengenai perjodohan kami dulu, itu sudah berlalu. Aku hanya menganggapnya sahabatku untuk saat ini. Jadi, kamu tidak perlu takut kau kana merebutnya darimu karena bagaimanapun, dia hanya mencintai kamu,” jelas Dave dengan penuh pengertian


Bara menganguk mengerti. Dia baru membuka mulut ketika suara pecahan kaca terdengar dari arah belakang, membuat fokus seisi cafe menjadi beralih, termasuk Dave dan juga Bara yang menatap ke asal keributan.

__ADS_1


"Aku tidak mau melihatmu dengan pria itu lagi!” teriak seseorang dari belakang, membuat Bara dan Dave menatap dengan mata membelalak.


“Bella,” jawab Bara dan Dave bersamaan.


Bara menatap Bella yang dengan pasrah ditarkk keluar cafe. Dengan cepat, dia segera bangkit dan menyusul. Tetapi, langkahnya terhenti ketika Dave sudah juah lebih dulu berada di depannya, melangkah dengan tergesa.


AmBara mengabaikan tatapan cemas Dave yang melebihi atas dan dan bawahan. Dnegan cepat, dia ikut menyusul ke arah parkiran cafe.


“Bella,” teriak Dave dengan wajah menatap Ryan sangar, membuat Bella yang tengah dicengkramnya menatap dengan mata membelalak.


“Kamu lagi. Ngapain di sini?” tanya Rayn dengan nada tidak suka. Pandangannya mulai beralih je arah Bara yang sudah berdiri di sebelah Dava dengan pandangan datar. Senyum sinis tercetak jelas di wajah kekasih Bella saat ini.


“Bara. Kamu juga di sini rupanya. Mau apa? Mau bawa mantan kekasihmu yang murahan ini pergi?” celetuk Ryan membuat Bella menatap tidak suka. Air matanya mengalir perlahan, merasakan sakit yang mulai terasa menyayat.


Bukannya kamu yang membuatku menjadi murahan, Ryan, batin Bella dengan suara tangis tertahan.


Ryan hanya tersenym kecil dan menatap Bella agar semakin dekat dengannya. “Wanita ini memang sudah jago menjadi murahan sejak dulu, Bara. Jadi, jangan salahkan aku. Aku hanya mengasah bakatnya saja,” ujar Ryan masih saja menjatuhkan Bella.


Dave yang sejak tadi diam menatap Ryan dengan rahang mengeras. Tangannya sudah mengepal menyadari ucapan tidak baik dari pria di depannya. Namun, ketika dia hendak melangkah, matanya menatap Bella yang menggeleng, melarangnya untuk melawan.


Dave awalnya berniat mengabaikan tatapan Bella, tetapi melihat wanita tersebut mulai menatap penuh permohonan, Dave mengurungkan niatnya. Kenapa Bella masih saja membela pria yang selalu saja menyakitinya, batin Dave sembari menahan kesal.


“Ryan, lebih baik kita pulang saja. Aku akan menjauhi pak Dave. Aku akan keluar dari perusahaan tuan Michael dan bersama denganmu. Aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan,” cicit Bella lelah mengahadapi tingkah kekasihnya.


Ryan yang mendengar tersenyum sinis dan menatap ke arah keduanya dengan tampang meremehkan. Tanpa mengatakan apa pun, Ryan langusng menyuruh Bella masuk dan langsung dituruti. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Ryan langsung pergi, meninggalkan Dave dan Bara yang masih diam terpaku.

__ADS_1


Bara menepuk punda Dave pelan. “Aku rasa kamu harus mulai mencari wanita lain untuk kamu nikahi, Dave. Bella sudah enggan bersama dneganmu,” kata Bara memecah keheningan.


Dave yang mendengar hanya berdecak kesal dan menatap ke arah Bara yang masih menahan tawa. “Aku rasa Alice memang sudag merubahmu, Bara. Kamu benar-benar sudah tidak terlihat seperti bangunan tanpa nyawa lagi,” sindir Dave sembari melangkah masuk.


“Aku rasa juga begitu,” sahut Bara dengan santai dan mengikuti Dave kembali ke cafe.


_____


“Jadi, sahabatku sekarang akan dilamar, nih? Sebentar lagi udah gak single dong,” celetuk Dara sembari mentap ke arah Alice yag tengah membereskan pakaiannya.


Alice menatap Dara dengan sneyum tipis dan mengangguk. “Jelas, dong. Makanya cepat cari pacar dari pada nanti kamu semakin tua,” celetuk Alice dengan tawa kecil.


Dara berdecak kesal mendengar ucapan Alice. Dia memilih berbaring di ranjang sahabatnya, menatap langit kamar Alice dengan senyum tipis. “Apa kamu bahagia, Alice?” tanya Dara tanpa mengalikan pandangan.


Alice menarik napas dalam dan menatap Dara dengan tatapan penuh kebahagiaan, terlebih ketika mengingat sore nanti, Bara akan datang untuk kembali melamarya. Hal yang selalu diharapkan akan terjdi dan berjalan dengan lancar.


“Aku sangat bahagia, Dara. Aku yakin Bara akan membahagiakanku,” jawab Alice yang langsung bangkit dan menbaringkan badan, mengikuti Draa yang sudah tersenyum ke arahnya.


“Aku rasa kamu harus mulai mencari pria lain dan percaya kembali dengan cinta,” celetuk Alice dengan tatapan menenangkan.


Dara hanya diam dan menarik napas dalam. Perlahan, dia mulai mengembuskannya dan menatap ke arah Alice tenang. “Aku rasa aku enggan mencintai siapa pun, Alice. Aku akan hidup sendiri sampai akhir nanti.”


“Dara,” panggil Alice dengan tatapan iba.


Dara hanya tersenyum dan bangkit. Mata sendunya mulai berubah dan menunjukan semangat yang entah dari mana datangnya. “Sudahlah, jangan pikirkan aku. Lebih baik sekarang kita bersiap. Sebentar lagi Bara datang. Aku akan membantumu berdandan supaya Bara semakin terpesaona denganmu,” ucap Dara semabri memberikan tatapan menggoda untuk Alice.

__ADS_1


Alice hanya tersenyum kecil dan menamgguk. Dia lebih baik menurut dengan gadis yang tengah berjuang melupakan masa lalunya. Aku harap kamu akan menemukan dia yang mencintaimu, batin Alice penuh harap.


_____


__ADS_2