
Sudah hampir satu minggu Alice dan rombongan ada di kota tersebut. Acara yang dilakukan berjalan dengan baik. Namun, ada hal yang membuat Alice hanya mampu diam sembari menahan amarah yang sebenarnya sudah siap meledak karena selama satu minggu pula dia harus menahan rasa kesal karena ulah Bella. Bella terus saja menempel dengan Bara bagaikan surat dan perangko. Seperti saat ini, keduanya tengah duduk di depan Alice dengan Bella yang terus menggoda Bara.
Jika saja ini tidak jauh dari rumah, aku akan benar-benar pergi dari hadapan kalian, ucap Alice dalam hati.
Bella tersenyum menatap Alice yang sejak tadi bungkam dan hanya mengaduk makanannya saja. Tidak sesuap pun dimasukan ke dalam mulut gadis tersebut.
“Alice,” panggil Bella membuat Bara dan Dave yang ada di sana menghentikan aktivitas dan menatap ke arah Alice lekat.
“Kamu tidak mau makan? Aku rasa sejak tadi makananmu tidak tersentuh sama sekali,” imbuh Bella tanpa rasa bersalah.
Alice yang ditaya diam. Dia hanya tersenyum canggung dan mencoba menyendok makanannya. Dia mengabaikan tatapan yang seakan mengintimidasinya saat ini.
“Ap...”
“Apa kamu tidak suka dengan makanannya? Kalau iya aku bisa pesankan lagi,” ucap Dave membuat ucapan Bara menggantung begitu saja. Bara memilih diam dan kembali memakan makanannya.
“Tidak, aku hanya merasa kenyang,” jawab Alice sembari melempar senyum tipis.
“Aku baru tahu kalau angin bisa membuatmu kenyang, Alice,” celetuk Bara dengan nada sinis. Matanya menunjukan kekesalan entah karena apa.
Alice yang disindir hanya diam dan mengabaikan ucapan Bara. Dia merasa tidak perlu menanggapi ucapan tidak penting pemuda tersebut. Lagi pula dia tidak mengerti mengapa Bara menatapnya dengan pandangan mematikan.
“Ah, itu urusan dia, Bara. Alice sudah cukup besar untuk mengurusi hidupnya,” sahut Bella sembari mengelus pelan lengan Bara, membuat Alice yang ada di sana diam sembari menahan amarah.
“Maaf, aku harus pergi,” ucap Alice sudah tidak tahan dengan tingkah laku Bella.
Bara yang melihat Alice bangkit hanya diam dan menghela napas perlahan. Dia mencoba mengabaikan hal tersebut. Dave sendiri malah sibuk dengan ponselnya dan tidak mengurusi Alice yang sudah tidak lagi ada di dekatnya.
“Kamu tidak menyusulnya?” tanya Bara sembari menatap Dave lekat.
Dave mendongak dan menatap bingung. Dia baru sadar jika Alice sudah tidak lagi ada di dekatnya. “Di mana Alice?” Dave malah balik bertanya dan menatap Bara dengan pandangan bingung.
__ADS_1
“Dia sudah pergi dan kamu tidak mau mengikutinya?” ucap Bara dengan wajah serius.
“Dia sudah besar, Bara. Lagi pula aku masih memiliki pekerjaan lain. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia akan baik-baik saja.” Dave kembali menundukan kepala dan mengotak-atik ponselnya. Matanya mulai membaca deretan angka dan tulisan yang dikirimkan melalui emailnya.
Bara yang mendengar tertawa kecil dan meremehkan. Dengan cepat dia bangkit dan membanting sapu tangan dengan keras, membuat Dave kembali mendongak dan menatapnya dengan wajah bingung.
“Aku rasa Alice sudah salah memilih orang. Mana ada calon tunangan yang begitu tidak peduli dengan wanitanya. Kamu benar-benar keterlaluan, Dave,” ucap Bara sembari melangkah menjauh.
Bella yang melihat hanya mengulum senyum, bahkan ketika Dave menatapnya dengan wajah bingung. Sudah satu minggu Bella membuat rasa cemburu dari Alice terus berkobar. Dia ingin diantara keduanya mau mengungkapkan perasaannya karena dia yakin, baik Bara mau pun Alice tidak ada yang mengatakan isi hatinya.
Dasar bocah-bocah bodoh, batin Bella dengan wajah santai. Dia merasa sekarang tinggal Ruhan yang mulai bekerja untuk menyatukan.
_____
“Terus saja mesra-mesraan. Anggap saja semua hanya patung,” gumam Alice degan wajah kesal. Kakinya sesekali menendang pasir yang tidak bersalah sama sekali. Matanya menatap jalanan di depannya dengan wajah cemberut dan bibir yang dimanyunkan. Ada rasa dongkol setiap mengingat tingkah laku Bella dan juga Bara.
“Katanya sudah punya kekasih, gitu masih godain mantan. Yang cowok sama aja. kegatelan,” cetus Alice dengan nada sinis.
“Aku membenci Bara,” teriaknya mencoba melepaskan rasa yang membelenggu.
“Jangan berteriak seperti itu, sayang. Nanti ada yang bangun,” sahut seseorang dari belakang Alice.
Alice yang mendengar segera berbalik dan menatap pria di belakangnya dengan pandangan kaget. Matanya sudah membola dengan bibir terbuka sedikit. Tubuhnya langsung menegang seketika.
“Rony,” ucap Alice dengan wajah waspada.
“Apa kabar, sayang? Senang bisa melihatmu di sini,” jawab Rony dengan seringai senyum menakutkan.
Alice menelan salivanya kasar. Dengan cepat dia mencoba kabur, tetapi langkahnya terhenti. Rony segera menangkap Alice dan mendekapnya dengan erat.
“Lepas,” teriak Alice dengan wajah cemas. Matanya menatap sekitar dan tampak begitu sepi. Untuk pertama kalinya, dia mulai menyalakan emosi sepihak dari dalam hatinya.
__ADS_1
“Mau ke mana, sayang. Aku bahkan baru menemuimu,” bisik Rony dengan senyum kecil.
“Lepaskan aku, Rony,” teriak Alice masih mencoba melarikan diri. Namun, tenaganya tidak pernah sebanding dengan kekutan pria dewasa yang saat ini tengah mendekapnya dari belakang.
“Lepas?” ulang Rony dengan tawa menggelegar, “jangan bermimpi. Aku akan membuatmu menjadi milikku, Alice. Aku bahkan sudah menantikan hari ini,” ucap Rony dengan tawa menggelegar.
Alice yang mendengar merinding seketika. Dia merasa nasib buruk akan menimpanya kali ini. Dengan perlahan, dia masih memberikan perlawanan-perlawanan kecil ketika Rony membawanya meninggalkan pantai.
“Jangan membuatku merasa kesal, Alice. Ikut aku dengan baik atau akibatnya akan buruk,”ancam Rony merasa Alice tidak juga bisa diam.
“Tidak mau, lepaskan aku. Aku mau pulang,” kata Alice masih mencoba melarikan diri. Kakinya bergerak gelisah ketika Rony berniat membopongnya dan membawa pergi.
"Tolong!” teriak Alice berharap ada yang mendengar lolongannya. Namun, harapan hanyalah harapan. Tidak ada seorang pun yang mendengar teriakannya.
“Diam!” bentak Rony membuat Alice langsung mengerut.
“Tolommhhhh.” Alice hanya mampu menitikan air mata ketika Rony menutup mulutnya dengan tangan. Kini, dia hanya mampu berpasrah dengan takdir yang akan membawanya.
Tuhan, tolong hadirkan seseorang untuk menolongku. Jauhkan aku dari pria ini, Tuhan, pinta Alice dalam hati.
“Bara, Dave, tolong aku,” teriak Alice dalam hati.
Rony yang sudah merasa kesal dengan tingkah membangkang Alice segera mengeluarkan sapu tangan dan menutup hidung Alice, membuat gadis tersebut perlahan mengendurkan perlawanan.
Alice merasa lemah ketika sapu tangan tersebut dijauhkan. Namun, matanya menangkap sekelebat bayangan yang mampir dalam benak pandangannya. Meski tidak terlihat begtiu jelas, tetapi dia seperti mengenal orang yang tengah mengejarnya.
“Bara,” ucap Alice lemah dan memejamkan mata. Pandangannya kabur dan berubah menjadi gelap. Alice pingsan.
Sedangkan Rony, dia segera memasukan Alice ke dalam mobil dan segera melaju meninggalkan tempat tersebut dengan senyum penuh kemenangan.
“Akuhirnya kamu akan menjadi milikku, Alice,” ucap Rony dengan tawa setan. Dia merasa akan menang kali ini.
__ADS_1
_____