
Alice menggeliat dalam tidur ketika merasakan sentuhan kecil yang terus saja menggelitik. Perlahan, matanya mulai terbuka, menyesuaikan dengan ruangan sekitar. Sampai semua terlihat pas, Alice segera menatap ke arah perut, mendapati tangan Bara yang mengelusnya pelan, membuat rasa geli dan tidak nyaman mulai menyerang Alice.
“Mas,” panggil Alice dengan suara pelan.
Bara yan sejak tadi mengelus perut Alice segera membuka mata, menatap ke arah sang istri yang sudah memegang tangannya. Mencoba menghentikan gerakannya. “Apa, sayang?” tanya Bara dengan senyum sumringah.
“Ini tangan sejak kapan nakal banget,” ucap Alice sembari menepuk pelan punggung tangan suaminya.
Bukannya marah, Bara hanya tertawa kecil dan mengeratkan pelukan. Mengabaikan dada bidang yang langsung bersentuhan dengan bagian punggung Alice. “Mas juga mau membuat benih yang baru mas masukan akan nyaman di rahim mamanya, sayang. Jadi, mas elus saja perut kamu,” jawab Bara tanpa merasa bersalah sama sekali.
Astaga, sejak kapan suamiku menjadi orang bodoh sepeti ini, gerutu Alice dalam hati. Dia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Tangannya mulai melepaskan dekapan Bara dan mulai membalik badan, menatap wajah suami yang terlihat sempurna di matanya.
“Mas, sejak kapan ada yang mengatakan seperti itu?” tanya Alice dengan senyum tipis.
“Kataku barusan,” jawab Bara enteng.
Alice yang mendengar berdecih kecil dan memutar mata jengah. Dia mulai membuka selimut yang sejak tadi digunakan dan siap turun dari ranjang. Namun, baru saja dia hendak menurunkan kaki, gerakannya terhenti. Bara menarik dan langsung mendekapnya kemblai.
“Kamu mau ke mana?” tanya Bara dengan suara lembut.
“Aku mau ke kamar mandi, Mas. Aku mau bersih-bersih,” jawab Alice setengah kesal.
“Kamu mau jalan-jalan?” tanya Bara sembari menatap wajah Alice dari arah samping.
Jalan-jalan? Alice menatap ke arah jendela yang belum ditutup dan mendapati langit sudah menggelap. Ditambah angin yang terasa menyejukan mulai berdatangan. Matanya beralih ke arah jam besar yang dipasang di atas pintu dan berdecak kecil.
“Ini sudah hampir jam sepuluh dan kamu mau mengajakku jalan-jalan? Jangan gila, Mas,” ucap Alice dengan nada ketus. “Aku lebih baik mandi dan tidur lagi.”
“Ah, iya. Sekarang sudah terlalu malam untuk berjalan-jalan,” sahut Bara dengan bibir dimanyunkan. Dia mulai melepaskan pelukan dan membenarkan posisis tidur Alice. Dengan cepat, dia mulai bangkit dan berhenti tepat di atas tubuh Alice, membuat wanita tersebut tersentak kaget.
“Tetapi aku rasa ini belum terlalu malam untuk melanjutkan yang tadi kita lakukan,” imbuh Bara tanpa rasa malu sama sekali.
__ADS_1
“Apa?” Alice menatap Bara dengan pandangan tidak percaya. “Ngaco. Sudah aku mau bangun dan mandi.”
Lagi, Bara memilih diam dan menundukan wajah. Menatap Alice dengan pandangan yang sangat dekat. Bahkan, Alice bisa menghirup napas Bara. Hal yang membuatnya terdiam seketika.
“Kita ke sini memang di suruh buat cucu untuk papa, kan? Jadi, aku rasa tidak penting acara jalan-jalannya,” kata Bara.
“Itu sih mau kamu,” sahut Alice ketus.
“Tentu saja,” kata Bara dengan wajah riang.
Bara mulai menundukan tubuh dan mengecup pelan bibir Alice. Dengan perlahan, dia mulai mengulum bibir milik istrinya, merasakan bagian mulut yang begitu lembut. Lidahnya mulai mengabsen satu per satu deretan gigi yang ada bagian terdalam Alice.
Alice hanya diam ketika merasakan Bara mulai mempersiapkan diri. Dia memilih memejamkan mata dan menelan semua desahan yang siap dikeluarkan. Dia memilih mengikuti permainan lidah Bara yang sebenarnya membuatnya kewalahan. Menikmati malam panjang yang terasa melelahkan.
_____
“Kamu yakin tidak mau aku antar sampai rumah?” tanya Dave sembari menatap Dara lekat.
Dara yang mendengar menggeleng pelan dan menatap ke arah Dave lekat. “Tidak perlu, Dave. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula mama kamu jauh lebih membutuhkan bantuanmu,” jawab Dara dengan senyum tipis.
Dara menatap ke asal suara dan tertawa kecil. Matanya menatap ke arah Renita yang sudah berada di dekat Dave dan memilih menudukan tubuh. Tangannya memegang erat tangan Renita dan menggenggamnya erat.
“Tidak perlu, Tante. Dara naik taksi saja. Lagi pula ini sudah malam dan Dave harus istirahat,” ucap Dara dengan nada lembut.
“Tetapi kamu wanita, sayang. Tidak seharusnya kamu pulang selarut ini seorang diri. Bagaiaman kalau ada orang jahat yang menyerang?” sahut Renita tetep kekeh dengan kemauannya.
Dara menatap ke arah Dave yang sudah menatapnya lekat. Meminta pendapat apa yag harus dia lakukan. Namun, dia hanya mendapat angkatan bahu yang terasa menyebalkan untuknya.
“Ya, kamu diantar Dave saja,” ujar Renita sedikit memaksa.
Dara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah. Tetapi, Tante di rumah jaga diri baik-baik ya,” ujar Dara merasa cemas dan mendapat anggukan dari Renita.
__ADS_1
“Ayo berangkat,” ajak Dave yang langsung meminta izin dengan mamanya.
Dara mulai memasuki mobil Dave dan segera meninggalkan pelataran rumah pria tersebut. Bibirnya masih menyunggingkan senyum, mengingat bagaimana Renita memperlakukannya.
Flash back
“Jadi, ini wanita yang sudah kamu pilih?” tanya Renita ketika Dara dan Dave baru datang. Matanya menatap lembut ke arah Dara yang hanya diam dan menatapnya lekat. Hingga tangannya mulai menyentuh tangan Dara dan menyuruh Dara menunduk.
Dara yang mengerti menuruti apa kemauan Renita dan sempat shock karena wanita tersebt memberinya kecupan ringan. Hal yang membuatnya menatap dengan pandangan lekat.
“Semoga kamu yang akan menjadi pendampingnya,” ucap Renita membuat Dara membeku.
Dave yang mendengar berdecak kecil dan menarik Dara dari tangan mamanya. “Ma, jangan buat dia merasa takut dengan sambutan Mama,” celetuk Dave membuat Renita tertawa kecil.
Renita hanya teratwa kecil dan mulai menjalankan kursi rodanya. Dia enggan meminta tolong siapa pun dan Dave juga tidak melarang sama sekali. “Dave, bawa Dara ke sini. Kita makan bersama,” teriak Renita ketika Dave tidak juga bergerak.
“Iya,” jawab Dave sembari menarik Dara memasuki rumahnya.
Dara hanya menurut dan mulai menatap meja makan yang sudah dipenuhi makanan. Tidak percaya dengan sambutan meriah yang diberikan oleh mama Dave. Matanya menatap ke arah Renita yang sudah memandangnya lekat.
“Jangan sungkan. Anggap ini rumah mama kamu dan makan dengan benar,” ucap Renita membuat Dara mengangguk pelan. Menikmati perbincangan hangat hingga dia kembali.
Flashback selesai.
“Hayo, kenapa ketawa sendiri?” tegur Dave membuat lamunan Dara buyar.
Dara yang mendengar menatap ke arah Dave dan mengulas senyum tipis. “Aku hanya merasa senang karena mama kamu baik banget. Mamaku bahkan tidak sebaik itu,” ucap Dara dengan senyum tipis.
“Kalau begitu, jadikan saja mamaku sebagai mama kamu,” celetuk Dave santai.
“Apa?” Dara terdiam, menatap Dave yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Apa maksudnya dia mengajakku menikah?, batin Dara penuh tanya.
_____