Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 62_Wedding Day


__ADS_3

Alice menatap pantulan dirinya dengan senyum sumringah, menunjukan kebahagiaan yang tiada tara. Sudah dua jam yang lalu dia hanya diam dengan menatap cermin besar. Membiarkan wanita di belakangnya mulai menghias rambut yang biasanya terurai indah. Sampai giliran wajahnya yang mulai dipoles. Alice hanya pasrah dan percaya dengan wanita yag sudah terkenal dengan kemahirannya.


“Nona Alice terlihat senang sekali. Sejak pagi senyumnya tidak luntur,” celetuk wanita bernama Melan-penata riasnya hari ini.


“Bagaimana tidak bahagia, dia itu akan menikah dengan pria yang sangat digilai,” sahut Dara yang kebetulan ada di ruangan tersebut. Matanya menatap ke arah Alice dengan tatapan santai.


Alice yang mendengar hanya diam dengan decakan kecil. Mengabaikan ocehan keduanya yang sedang membicarakannya. Hal yang menurutnya wajar jika dilakukan oleh Dara, gadis yang benar-benar suka sekali berceloteh. Sampai hiasan di wajahnya selesai.


“Selesai,” ucap Melan dengan wajah riang.


Dara yang sejak tadi bercerita menghentikannya dan menatap ke arah Alice dengan tatapan berbinar. Menakjubkan. Itu yang dipikirkan Dara saat itu. Hingag Melan memutuskan untuk keluar dan membiarkan Alice berdua dengan Dara.


Dara mulai bangkit dan berhenti tepat di belakang Alice. “Kamu benar-benar terlihat berbeda, Alice,” gumam Dara dengan senyum merekah. “Aku rasa Bara akan semakin tidak bisa berpaling darimu.”


Alice yang mendengar mengulum senyum tipis dan mengangguk. “Sebentar lagi aku akan menikah. Apa kamu tidak mau mencari pasangan dan menikah?” tanya Alice rinagn.


Dara yang mendengar hanya mampu menghela napas perlahan. “Aku rasa aku belum siap, Alice. Aku takut jika nanti calon suamiku merasa kecewa. Pasalnya, kamu tahu sendiri apa yang pernah terajdi padaku dulu, kan? Aku harus kehilangan mahkotaku karena ulah papa tiri. Aku rasa aku belum siap jika nanti itu dipertanyakan,” jawab Dara dengan tatapan santai.


Alice yang mendengar menghela napas perlahan. Tangannya meraih tangan Dara yang ada di pundaknya dan tersenyum kecil. “Aku yakin akan ada orang yang menerimamu apa adanya. Dia akan mencintai tanpa mempertanyakan hal itu,” ujar Alice dengan tatapan lembut.


Dara yang mendengar menatap Alice dengan lekat dan mengangguk. “Aku harap juga begitu,” jawab Dara pelan. “Sekarang, aku harus keluar dan melihat apakah Bara sudah datang atau belum. Kamu tidak masalah, kan?”


Alice hanya mengangguk. Netranya menatap ke arah Dara yang sudah mulai melangkah keluar ruangan. Menutup pintu rapat dan meninggalkan Alice seorang diri.


“Aku harap kamu akan menemukannya, Dara. Sepeti aku yang menemukan kekasihku,” ujar Alice dengan senyum tipis.


Alice masih menikmati kesendiriannya ketika pintu ruangan terbuka, membuat fokusnya teralihkan. “Kalian siapa?” tanya Alice ketika terdapat dua pria dengan badan kekar berhenti tepat di depan pintu ruangannya. Membuat Alice langsung menatap waspada.

__ADS_1


Siapa mereka, batin Alice takut.


_____


Suasana gedung megah dengan hiasan disetiap ruangan terlihat begitu ramai. Galuh yang sudah berpakaian rapi berdiri bersama dengan Surya yang ada di dekatnya. Matanya mengamati jejeran mobil yang mulai berdatangan. Sampai netranya melihat Bara mulai keluar dengan pakaian rapi, membuat Galuh menatap dengan senyum.


Rika menatap Bara dengan pandangan lekat. Tangannya mengelus pelan lengan sang adik yang terlihat begitu tegang dan mengelusnya pelan, membuat Bara menatapnya dengan penuh kecemasan.


“Tenanglah, semua akan berjalan baik,” ucap Rika dengan wajah menenangkan.


Bara hanya mengangguk. Matanya menatap ke arah Galuh yang sudah tersenyum ke arahnya. Perlahan, kakinya mulai melangkah maju, mendekati kerumunan dari pihak wanita, diikuti Rika dan Randy dengan kedua anaknya, serta Michael dan Vinda yang ikut hadir.


Galuh yang melihat mengulas senyum tipis. Matanya berkaca menatap Bara yang sudah begitu besar ada di depanya. Tangannya mulai mendekap Bara dan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan.


“Mama pernah bermimpi akan melihatmu menikah, Bara. Mama sangat bahagia karena Tuhan memberikan mama kesempatan untuk itu,” gumam Galuh membuat Bara hampir menitikan air mata.


Surya yang melihat tersenyum dan mengelus pelan istrinya, membuat Galuh menatap dengan pandangan bingung. “Sudah dulu ya. Sekarang Mama panggil Alice, katakan bahwa Bara dan rombongan sudah datang. Kita akan segera laksanakan pernikahan.


Surya mulai membimbing seluruh rombongan masuk dan menuntun Bara duduk di bangku paling depan. Hanya ada beberapa bangku yang digunakan. Membiarkan Bara duduk dengan perasaan gelisah yang terus saja melanda.


Surya yang melihat mengulas senyum tipis, menatap ke arah Bara. “Tenanglah. Jangan gugup begitu,” tegur Sury dengan suara lirih.


Bara yang mendengar menghela napas keras dan mengangguk. Dia hanya mengabaikan ucapan Surya dan memilih fokus dengan hatinya. Sampai matanya menatap sang mama yang mulai datag dengan wajah panik.


“Sayang, di mana Alice?” tanya Surya dengan tatapan bingung.


Galuh menelan salivanya kasar, menatap Surya dengan wajah diliputi kecemasan. “Mas, Alice tidak ada di ruangan. Alice hilang.”

__ADS_1


_____


“Mas, Alice tidak ada di ruangan. Alice hilang.”


Seisi ruangan langsung bangkit, menatap ke arah Galuh dengan tatapan lekat. Terlebih, Bara. Dia langsung bangkit dengan mata membelalak.


“Apa yang Mama katakan? Alice hilang?” tanya Bara dengan pandangan tidak percaya.


Rika yang mendengar menatap ke arah Bara dan segera bangkit. Memberikan putri kecilnya kepada Vinda yang ada di dekatnya. Dengan tergesa, dia melangkah dan memeluk Bara, mencoba meredamkan amarah yang siap memuncak.


“Bara, tenanglah. Aku yakin Alice tidak bermaksud meninggalkanmu. Ini pasti ada kesalahan,” ucap Rika dengan wajah cemas.


“Surya, kenapa kamu tidak mendengarkan peringatan mama? Kenapa kamu tidak mempersiapkan keamanan untuk Alice?” bentak Margareth dengan rahang mengeras. Matanya menatap ke arah pria berjas yang sejak tadi berada di belakangnya.


“Kalian, cari Alice sampia ketemu,” perintah Margareth tegas. “Aku yakin ini pasti ulah Rony.”


Surya mengacak wajahnya kasar. Menatap ke arah Michael yag hanya diam dan duduk santai di sebelah Vinda. Kali ini, dia merasa menyesal karena lupa meminta bantuan dari Michael atau pun anak buah mamanya. Dia terlalu sibuk sampai lupa menjaga putri semata wayangnya.


“Aku akan mencari Alice. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanku,” ucap Bara yang sejak tadi diam.


Bara baru membalik badan dan hendak melangkah ketika sebuah suara menghentikannya. Bara menatap ke asal suara dan membelalak tekejut. “Alice,” gumam Bara dengan air mata mengalir perlahan. Di depan, Alice sudah berada dalam dekapan Rony dengan tangan terikat dan mulut tertutup rapat.


“Kamu mencarinya, Bara?” tanya Rony dengan nada mengejek. Senyunya mulai terukir ketika melihat wajah tegang seisi ruangan yang menatapnya lekat.


“Lepaskan dia, Rony. Jangan macam-macam dengannya,” teriak Bara dengan emosi menggebu.


“Lepaskan? Jangan bermimpi. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya. Dia hanya milikku dan saat aku tidak bisa memilikinya, siapa pun tidak akan bisa,” desis Rony dengan pandangan serius. Sudah tidak ada senyum yang melekat. Sama sekali tidak ada.

__ADS_1


_____


Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jagan lupa juga baca carita kim yang berjudul “Wedding With My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh. 😘😘


__ADS_2