Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 38_Belum Saatnya


__ADS_3

Bara menatap Dave dengan pandangan datar. Dia memilih untuk menemui Dave sebelum mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Bara juga tidak yakin akan bisa menemui pria yang saat ini ada di depannya dengan mudah.


“Jadi, apa yang mau kamu katakan, Bara?” tanya Dave dengan wajah serius. Jemarinya meletakan gelas kaca berisi jus yang sudah dipesannya dan selesai diseruput.


Bara menghela napas perlahan dan menyandarkan punggungnya di kursi cafe. “Aku mau berbicara mengenai Alice, Dave,” ucap Bara tidak kala serius.


“Alice?” Dave menaikan salah satu alis matanya dan menatap Bara dengan wjaah bingung. Ada apa dengan Alice?


“Aku tahu kamu dan dia akan segera bertunangan. Keluarga kalian bahkan sudah setuju dengan hubungan kalian. Tetapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa sekarang aku dan Alice sudah menjalin hubungan.”


"Hanya pacaran dan bukan calon tunangan,” sahut Dave dengan wajah datar, “kalian hanya pacaran, kan? Dan aku adalah calon tunangannya. Jadi, harusnya kamu sadar di mana yang lebih unggul antara aku dan kamu, Bara.”


Bara menghela napas perlahan dan menatap ke arah Dave tajam. “Aku tahu itu. Tetapi, kami saling mencintai.”


Dave yang mendengar menghela napas bosan. “Sejak kapan seorang Bara berkata dengan berbelit-belit seperti ini, hah? Setahuku dia selalu berbicara to the point tanpa harus ke sana-kemari,” sindir Dave membuat Bara berdecak eksal.


“Aku hanya bingung bagaimana cara mengatakannya denganmu, Dave,” aku Bara yang ternyata berada diambang kegalauan.


Dave yang mendengar tertawa kecil. Seberapa cueknya seorang Bara, dia juga masih memiliki sifat galau sesuai dengan usianya dan Dave baru tahu itu. Dave menghentikan tawanya dan menatap Bara dengan tatapan tidak percaya.


“Jadi, kamu dari tadi bicara muter-muter cuma karena bingung saja?” tanya Dave mendapat anggukan dari Bara. Dave menghela napas perlahan dan mulai kembali serius.


“Kamu jangan bingung, Bara. Aku tahu Alice mencintaimu dan aku yang memang bersiap melepaskannya. Aku menyuruhnya untuk meraihmu. Aku tidak mau memaksakan hati seseorang yang tidak seharusnya denganku,” kata Dave membuat Bara menatap tidak percya dengan ucapan pria di depannya. Pasalnya, Dave terlihat begitu tenang ketika membicarakannya.


“Dave, apa selama ini kamu mencintai Alkce?” tanya Bara dengan rasa penasaran.


Dave yang ditanya terkekeh kecil. “Mencintai? Sejak Rensi menipuku dan membuat keluargaku hancur, aku lebih selektif dalam memilih wanita. Mungkin Alice salah satunya. Sampai saat ini aku lebih nyaman menganggapnya teman. Itu sebabnya tidak masalah jika kamu bersama dengannya, asalkan kalian bahagia.”

__ADS_1


“Tetapi kamu harus ingat, Bara. Setitik saja kamu membuatnya mengeluarkan air mata, aku yang akan membalasmu untuk itu,” tegas Dave dengan wajah garang.


“Aku akan membahagiakannya,” ujar Bara dengan rasa percaya diri.


“Dan jangan terlalu lama berpacaran. Lebih baik kamu segera melamar Alice sebelum orang tuanya memiliki calon lain untuk anaknya,” peringat Dave dengan mata melirik ke arah Bara, mengamati wajah yang masih terlihat bahagia.


“Ya, secepatnya aku akan melamarnya. Kamu jangan khawatir. Aku akan leih dulu menikah darimu,” celetuk Bara mengejek Dave.


Dave yang mendengar tertawa kecil dan menatap Bara yang tidak menunjukan wajah bersalah sama sekali. Rasanya dia seperti melihat dirinya di masa lalu. Di mana dia bisa melakukan semuanya sesuai dengan keinginnya saja.


Aku harap kamu bisa membahagiakan Alice, Bara, batin Dave penuh harap


_____


Setelah pertemuannya dengan Dave, Bara langsung melaju pulang bersama dengan Alice. Sepanjang perjalanan, Alice hanya berbincang dengan tangan yang tidak melepaskan genggamannya dari lengan Bara. Katanya dia takut jika nanti dia kembali, Bara berubah seperti dulu lagi. Cuek kepadanya.


Bara menghela napas perlahan ketika mobil yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan pintu masuk apartemennya. Bara menatap ke arah Alice yang memandangnya dengan tatapan nanar.


Alice menggeleng pelan dan menatap Bara dengan senyum tipis. “Aku mau ikut masuk. Anggap saja aku mengantarmu,” jawab Alice dengan wajah manis.


“Tetapi, kamu....”


“Ayolah, Bara. Aku hanya mau mampir sebentar saja,” mohon Alkce dengan wajah memelas.


Bara yang melihat akhirnya memilih mengiyakan dan segera turun, diikuti Alice yang sudah berseru penuh kebahagiaan. Dia segera turun dari mobil dan memberikan isyarat untuk sopirnya pulang. Dia ingin menginap di rumah Bara malam ini.


Setelah menaiki lift menuju ke kamarnya, Bara segera menggandeng tangan Alice. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan menaikmati kebersamaan. Sampai pada akhirnya Bara melepaskan genggaman tangannya dan membuka pintu. Setela terbuka, matanya menatap ke arah Alice lekat.

__ADS_1


“Sekarang aku sudah sampai apartemen. Kamu bisa pulang, Alice,” ujar Bara tidak mau terjdi hal buruk jika hanya berdua saja dengan Alice.


Alice menggeleng dan malah memilih masuk ke dalam apartemen Bara, membuat pria tersebut membelalak kaget. Namun, dia memilih diam dan mulai menutup pintu.


"Bara, aku mau menginap di sini boleh?” tanya Alice dengan wajah penuh harap.


“Tidak,” tegas Bara dengan wajah serius, “aku tidak mau nantinya kita melakukan kesalahan, Alice. Aku tidak mau.”


Alice diam sejenak dan menatap ke arah Bara lekat. “Kenapa? Apa aku tidak semenarik Bella?” ucapnya menyindir.


Bara yang mendengar terkekeh geli melihat kecemburuan tanpa alasan dari kekasihnya. Dengan perlahan, Bara melangkah mendekati Alice dan menangkup pipi kekasihnya lembut.


Bara mendongakan kepala Alice sehingga menatapnya dan tersenyum. “Bukan begitu, sayang. Kamu bahkan lebih menggairahkan dari siapa pun. Tetapi, aku harus menahannya sampai kita menjadi pasangan suami istri, Alice. Aku mau mengambil saat pertamamu dengan hubungan yang sudah jelas. Bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai suamimu,” jelas Bara berharap Alice akan mengerti.


Alice yang mendengar tersenyum kecil dan meraih tengkuk Bara. Untuk pertama kalinya, dia melakukan hal semacam ini dengan dia yang memulai. Alice mendekatkan bibirnya dengan bibir Bara, membuat pemuda tersebut tersentak sejrnak. Namun, ketika ******* canggung mulai dilancarkan Alice, Bara hanya menikmatinya saja. Tangannya masih menyangga tubuh kecil Alice agar tidak jatuh.


Bara menundukan kepala agar Alice mudah mengecupnya. Sampai dirasa Alice kehabisan napas dan melepaskan ciumannya. Bara menyatukan keningnya dengan kening Alice dan mengulum senyum tipis.


“Jangan lakukan ini dengan siapa pun, oke?” bisik Bara dengan wajah serius.


“Bahkan ciuman pertamaku diambil kamu, Bara,” jawab Alice dengan bibir mengulum senyum.


"Oh iya? Ketika dengan Randy dan Michael?”


Alice menggeleng dan menjauhkan kepalanya. Matanya menatap Bara dengan pandangan lembut. “Mereka tidak pernah melakukannya. Aku menyerahkan ciuman pertamaku denganmu.”


Bara yang mendengar merasa terharu. Dia menjadi yang pertama bahkan untuk sebuah ciuman. Dengan perlahan, tangannya menarik Alice mendekat ke arahnya dan medekap erat.

__ADS_1


“I love you, Alice. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjdi,” ucap Bara membuat Alice merasa begitu senang.


_____


__ADS_2