
Dave menyandarkan tubuhnya di kursi mobil yang sudah terparkir di parkiran kantor. Pikirannya masih melayang, mengingat ucapan mamanya yang mengusik pikirannya. Bahkan sampai pagi ini, dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Mama selalu percaya dengan semua keputusanmu, Dave. Mama juga menunggu kamu datang membawa calon menantu untuk mama.
Helaan napas kasar terdengar dari arah Dave. Hatinya terasa berat ketika mendengar ucapan mamanya. Selama ini dia memang tidak mempermasalahkan mengenai hatinya. Bahkan, kekasih dan pernikahaan adalah nomor sekian. Namun, mendengar ucapan sang mama membuatnya mulai tersadar.
“Apa selama ini aku yang terlalu tidak menganggap semuanya penting, ya? Aku selalu menjauhi wanita yang mencintaiku dan bahkan menolaknya. Apa selama ini mama memang hanya memendamnya saja?” batin Dave mulai ragu.
Dave berdecak kasar dan memilih untuk keluar dari mobil. Namun, matanya menangkap sosok yang tidak asing untuknya. Bella. Dengan cepat dia keluar dan menatap gadis yang tengah berjalan perlahan.
“Bella,” panggil Dave sembari melambaikan tangan.
Bella yang tengah berjalan sembari menahan luka di bagian bawahnya segera menghentikan langkah. Matanya menatap Dave yang tengah berlari ke arahnya.
“Keren,” gumam Bella ketika melihat Dave dari kejauhan. Namun, seketika dia membuang pikiran bodohnya dan menatap Dave penuh hormat. Bagaimana pun dia adalah bawahan Dave. Selain itu, dia juga sadar bukanlah siapa-siapa. Ditambah dengan hubungannya dan Ryan yang sulit dijelaskan.
“Kamu berangkat sendiri?” tanya Dave sembari menatap Bella lekat.
Bella mengangguk dan mulai melempar senyum tipis. “Iya, Pak. Kan saya tidak memiliki teman yang bisa diajak berangkat bersama,” jawab Bella dengan santai. Dia berusaha mengabaikan hatinya yang tengah gundah gulana kali ini.
“Kekasihmu tidak mengantar?” tanya Dave dengan penuh selidik.
Bella awalnya diam sejenak dan menggeleng. Bibirnya terlihat memaksakan senyum ketika Dave menanyakan mengenai kekasihnya. Kekasih? Bahkan Bella tidak yakin jika Ryan adalah kekasihnya. Pasalnya, mana ada kekasih yang melukai wanita yang dicintainya.
“Dia benar kekasihmu? Dia bahkan tidak memiliki sifat baik kepadamu,” celetuk Dave yang membuat Bella menatapnya lekat.
Bella tampak salah tingkah mendengarnya. Dia baru akan mengatakan jawabannya, tetapi terhenti karena teguran di bekang mereka. Dave dan Bella menatap ke sumber suara. Di sana sudah ada Michael yang tengah membawa bocah kecil yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan tajam dan wajah dingin.
“Kalian ngapain masih di parkiran? Gak mau masuk?” tegur Michael dengan penuh tanya. Dia merasa ada hal aneh yang terjadi antara Dave dan juga Bella.
Bella tersneyum dan menundukan kepala. Setelah berpamitan, dia segera menjauh dari kedua pria dewasa tersebut. Dia bersyukur karena setidaknya dia tidak perlu menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Ryan bisa terjalin.
__ADS_1
Setela kepergian Bella, Michael menghela napas kasar dan menatap Dave tajam. “Bukankah kamu sudah dengan Alice? Lalu kenapa kamu masih mendekati Bella, Dave?” tanya Michael dengan tatapan penuh tanya.
Dave mengembuskan napas kasar dan menatap Michael serius. “Aku dan....”
“Uncle Dave dan aunty Alice sudah tidak bersama, Dad,” potong Mikail dengan wajah datar. Michale yang mendengar menatap Mikail dengan tatapan penuh tanya.
“Ail mendengar mommy bercerita dengan aunty Rika di telfon beberaa hari yang lalu,” jelas Mikai yang mengerti maksud tatapan Michael.
Michael yang mendengar menatap Dave untuk meminta penjelasan dan hanya menganggangguk. Michael yang mendengar hanya bisa pasrah dengan keputusan sahabatnya kali ini. Rasanya dia juga tidak mungkin memaksakan keduanya untuk bersama.
Mikail menatap Dave dengan pandangan datar. “Uncle Dave, kamu benar-benar pria bodoh yang melepaskan wanita baik. Aku harap om tidak akan menjadi pria lajang seumur hidup,” celetuk Mikai dengan senyum sinis dan melangkah menjauh. Dia segera memasang headset yang sejak tadi terkalung di lehernya.
Michael yang mendengar seketika tertawa keras melihat ekspresi Dave yang masih membuka mulut dengan wajah tidak percaya. Dave menatap Michale dengan wajah kesal yang sudah di ubun-ubun.
“Apa dulu kamu memberikan sikap dinginmu dengan anak itu ketika dalam kandungan, Ael?” tanya Dave dengan mata berlikat kesal.
“Dia anakku, Dave. Jadi, tanpa aku menurunkannya pun, dia akan sama denganku,” jawab Michael dengan santai.
Dave hanya menggeleng tidak percaya dengan ucapan Mikai, bocah berusia enam tahun yang terkenal dengan sifat dinginnya. Michael akhirnya melangkah membawa masuk Dave ke dalam kantor. Meski tawanya masih tetap pecah setiap mendengar ucapan anaknya. membuat karyawan menatap Michael dengan tatapan heran.
_____
“Bara,” ucap Surya dengan pandangan kaget. Dia tidak menyangka akan melihat Bara di hadapannya hari ini
Bara melangkah masuk dan duduk di kursi berseberangan dengan meja kerja Surya. Wajahnya masih terlihat datar, bahkan ketika Surya melihat ke arahnya lekat.
“Ada perlu apa kamu datang ke kantorku, Bara? Apa ada masalah di kantor cabang?” tanya Surya dengan perasaan cemas.
Bara segera mengeleng dan menatap Surya lekat. “Tidak ada, Pak. Saya hanya datang untuk mengatakan sesuatu yang penting kepada anda,” jawab Bara dengan nada suara tegas.
“Sesuatu yan penting?” ulang Surya dengan kening berkerut, “apa?”
__ADS_1
Bara menghela napas perlahan dan menatap Surya yang juga menatapnya serius. “Saya tahu mengenai derajat dan juga posisi saya saat ini. Saya mengerti tidak seharusnya saya melakukan hal ini. Tetapi, saya begitu mencintai anak anda, Alice. Saya meminta maaf karena pada akhirnya saya membuat rencana perjodohan antara Alice dan Dave menjadi gagal,” ucap Bara panjang lebar.
Surya yang mendengar menatap Bara dengan begitu dalam, mencari di mana kebohongan dari pemuda di hadapannya. Pasalnya, Bara memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan Alice.
“Kamu benar mencintai anak saya, Bara?” tanya Surya dengan wajah serius. Sejak anaknya mengatakan mencintai pemuda di hadapannya, dia belum pernah menanyakan apa yang selama ini dikhawatirkan olehnya.
Bara yag mendapat pertanyaan segera mengangguk mengiyakan. “Saya benar-benar mencintai anak anda.”
“Kamu yakin akan bisa bersama dengannya? Dia jauh lebih dewasa darimu.”
“Tidak masalah. Lagi pula tidak ada batasan usia untuk mencintai,” sahut Bara dengan santai.
“Dia tidak bisa memasak.”
“Saya tahu itu dan saya menerimanya.”
Surya yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Bara lekat. “Dia adalah putri kesayanganku, putri satu-satunya. Dia adalah segalanya untukku, Bara. Dia permata di hatiku. Jadi, jika kamu benar mencintainya, jangan buat dia menangis. Aku berharap kamu akan membahagiakan dia selama napasmu masih ada. Aku tiak akan pernah terima jika ada pria yang berani menyakitinya.”
Bara yang mendengar mengangguk mantap. “Saya pasti akan membahagiakannya.”
“Kamu serius dengan itu?” Surya masih merasa tidak lega sama sekali.
Bara mengangguk denan senyum tipis. “Saya sangat serius. Itu juga yang menjadi tujuan saya datang ke kantor anda. Saya ingin meminta izin untuk melamar anak anda, dua minggu lagi.”
“Aku akan menunggu itu,” jawab Surya dengan senyum menenangkan, membuat wajah Bara berubah menjadi penuh kelegaan.
_____
Haloo sayang-sayang Kim. Jangan lupa tinggalkan like dan comment ya sayangkuh. Jangan lupa juga baca Wedding With My Lecturer dan tinggalkan like serta commen. Jangan lupa dijadikan favorit ya.
Untuk yang belum follow akun instagram Kim, bisa follow ya di @kimm.meili. Soalnya hari ini Kim mulai up cerita singkat di instagram. Kim sih sebutnya cerigram. Hehe.
__ADS_1
Baiklah, selamat menjalani hari dan selamat membaca. See you next chapter tayong.
_____