
Alice menghela napas perlahan. Rasanya malam ini ada hal berbeda yang diraskan. Jantungnya berdetak tidak karuan, membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya nanti. Sesekali matanya menatap ke arah pintu kamar yang masih tetutup, memastikan bahwa Bara belum memasuki kamar tersebut.
"Alice tenanglah. Ini bukan pertama kalinya kamu menginap di apartemen ini. Kamu sudah berulang kali tidur dengan Bara. Jadi, jangan gugup. Semua pasti akan berjalan dengan semestinya,” gumam Alice sembari menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia benar-benar mengutuk dirinya yang tidak bisa bersikap biasanya saja.
“Ah, rasanya tetap tidak tenag,” gerutu Alice sembari mengacak wajahnya yang sudah tanpa make up. Dia sudah memutuskan untuk berganti pakaian saat Bara keluar kamar, bertemu dengan Randy, Michael dan juga Dave di depan.
Alice kembali menarik napas dalam dan mengembuskanya perlahan. Mengulangi beberapa kali sampai dirasa membaik. Hingga dering ponsel membuyarkan lamunanya. Dengan segera Alice menatap layar ponsel, mengerutkan kening heran ketika nama Dara yang terlihat di layar.
Alice segera meraih ponsel dan mengangkat panggilan dari sahabatnya. “Halo, Dara. Ada apa?” tanya Alice.
“Alice, bisa tolong hubungi montir langgananmu? Aku sedang ada di jalan sepi dan ternyata mobilku mogok. Aku takut mau keluar. Lagi pula aku tidak mengerti mesin,” ucap Dara terasa was-was.
Alice hanya diam, mencoba mencari cara yang lebih efisien. Menghubungi montir di jam malam bukannya juga berisiko?, batin Alice tidak percaya jika harus menyerahkan sahabatnya kepada orang lain.
“Alice, cepatlah,” tegur Dara dengan nada tiak sabar.
“Tunggu sebentar,” ucap Alice yang langsung bangkit dan melangkah keluar. Dia bersyukur karena saat ini dia sudah mengenakan pakain tidur yang selayaknya.
“Tunggu,” teriak Alice ketika melihat sahabatnya sudah akan pergi. Bara yang sudah siap menutup pintu menatap istrinya dengan kening berkerut bingung.
“Ada apa, Alice?” tanya Randy dengan wajah mengamati. Menunggu Alice hingga berdiri tepat di dekat Braa.
“Dave, kamu membawa mobil sendiri?” tanya Alice mengabaikan tatapan kedua sahabatnya.
Dave mengangguk pelan dan menatap Alice bingung. “Memangnya kenapa?"
“Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Bara dengan pandangan lekat.
Alice yang mengerti kekhawatiran Bara tersenyum kecil dan meraih tangan suaminya. “Aku cuma mau suruh Dave menjemut Dara, Mas. Dia sedang di tempat sepi dan mobilnya mogok,” jelas Alice dengan suara lembut.
“Apa Dara sudah memiliki kekasih?” sahut Randy dengan cepat.
“Aku rasa belum,” jawab Alice sembari menatap Dave dengan senyum menggoda. “Mungkin saja nanti bisa berjodoh, Dave.”
“Tepat,” jawab Michael dan Randy bersamaan.
__ADS_1
Dave yang mendengar hanya berdcak dan menatap Alice lekat. Dia baru saja membuka mulut dan hendak menolak keinginan Alice, tetapi terhenti karena Rnady sudah membekap mulutnya rapat. Dengan paksa dia menarik Dave menjauh dari apartemen Bara.
“Kamu bisa kirim nomor dan foto Dara ke nomor Dave, Alice,” teriak Michael yang ikut mendorong Dave paksa.
Alice yang melihat tingkah sahabatnya hanya diam dan terkekeh geli. “Apa itu tidak masalah, Mas?” tanya Alice heran. Sejak kapan sahabatku bertingkah sekonyol itu?, batin Alice.
_____
“Apa itu tidak masalah, Mas?”
Bara yang mendengar menatap ke arah Alice dan mengamati lekat. Dengan perlahan, dia memilih mundur dan mendekap Alice erat, membuat istrinya berteriak kecil dan langsung menatapnya.
“Mas, kamu ini bikin orang jantungan,” tegur Alice sembari mengelus pelan dadanya.
Bara hanya terkekeh kecil dan mengeratkan dekapan. “Abaikan Dave, sayang. Sekarang aku hanya mau kamu memikirkanku,” ucap Bara telat di telinga Alice. “Aku mau memilikimu seutuhnya. Malam ini,” imbuh Bara tidak kalah membuat Alice merinding.
“Mas,” cicit Alice merasa bahwa hatinya terasa semakin keras bertalu. Kakinya terasa melemah ketika Bara menariknya mundur, mengunci pintu dan mengurung Alice dengan kedua tanganya.
“Mas, aku rasa malam ini aku....” Alice mengunci mulutnya rapat ketika Bara memilih mencondongkan badan dan menatap Alice dengan tatapan dalam. Hal yang seketika membuat Alice semakin tidak karuan.
Alice menggigit bibirnya keras. Dia takut jika dia menolak, Bara akan memarahinya. Namun, ada hal lain yang sekarang membuatnya tidak siap. Bara yang mengerti kecemasan istrinya mengulas senyum tipis dan memilih menegakan badan.
“Kalau kamu belum siap, aku tidak memaksa, sayang. Aku akan menunggumu siap untuk memberikan harta yang selama ini kamu jaga,” ucap Bara sembari mendekap Alice erat.
Alice hanya diam. Otaknya masih belum bisa berpikir, sampai sebuah kecupan lain tinggal di puncak kepalanya. Perlaha, Alice mulai mendongak dan menatap Bara yang sudah menetapnya lembut.
“Jangan dipikrkan. Malam ini aku hanya ingin tidur bersama dengannmu,” jelas Bara sembari menggiring Alice masuk ke kamar. Kamar yang sudah dipersiapkan untuk malam pertamanya. Namun, gagal karena Alice yang memang belum siap melepaskannya.
Bara membaringkan Alice yang masih diam dan menatapnya lekat. “Tidur, sayang. Aku tahu kamu capek,” perintah Bara sembari memberikan kecupan ringan.
Bara baru akan bangkit dan pergi menuju ke arah kamar mandi, tetapi terhenti karena tangan Alice sudah mencegahnya. Bara akhirnya memilih berbalik dan menatap Alice lekat.
“Apa, sayang?” tanya Bara.
Alice menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Telapak tangannya sudah sangat dingin, mencoba menenangkan jantung yang mulai tidak karuan. Pandangannya mulai beralih menatap ke arah Bara masih menunggu jawabannya.
__ADS_1
“Mas, aku siap,” kata Alice sembari menguatkan keputusannya.
“Apa?” Bara menatap Alie dengan kening berkerut. Apa benar Alice mau melakukannya malam ini?
“Iya, aku mau melakukanya. Aku sudah siap melepaskannya untukmu, Mas.”
“Sayang, aku tid....” ucapan Bara terhenti ketika Alice dengan secepat kilat bangkit dan membungkam bibirnya. Mencoba membenarkan ciuman yang sama seperti yang pernah didapatkan dari Bara.
Bara hanya mengulum senyum ketika merasakan ciuman kaku dari istrinya. Membiarkan Alice mulai mengerjakan bagiannya. Sampai napasnya terengah, Alice melepaskan ciumannya dan menatap Bara lekat.
“Kamu nakal, sayang,” ujar Bara sembari mengelus pelan pipi istrinya. Perlahan, dia mulai menidurkan Alice yang sudah terlihat begitu pasrah.
“Kamu yakin siap, sayang?” tanya Bara mencoba memastikan.
Alice mengangguk kecil dan mencoba meyakinkan dirinya sendirk. “Tetapi, jangan kasar, Mas. Aku takut nanti sakit,” ujar Alice.
Bara menunduk, mengecup pelan kening istrinya, beralih mengecup pelan kedua mata dan segera mengalihkan bibirnya, kembali ******* bibir Alice yang terlihat menggoda.
Bara mulai menjalarkan tangan, menyentuh bagian terlarang yang biasa ditutupi istrinya.
“Mas,” desah Alice ketika merasa remasan Bara semakin membuatnya terbuai.
Bara yang mendengar hanya diam, menikmati mulut menggairahkan milik istirnya. Bara mulai melepaskan ciiumanya dan menatap Alice yang sudah mulai berkeringat di bagian kening.
“Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu,” ucap Bara sembari melucuti pakaian Alice, memberikan rangsangan pada tubuh polos wanita di depannya, menikmati rasa aneh yang mulai menjalar.
Alice hanya terengah ketika merasakan Bara semakin jauh menjamah tubunya. Sampai sebuah benda aneh memasuki tubuhnya. Membuat Alice menahan sakit yang mulai menjalar.
“Aku mencintaimu, sayang. Aku harap akan ada bayi mungil diantara kita,” bisik Bara disela usahanya merengkuh kenikmatan.
_____
Loha semuanya. Pertama Kim mau meminta maaf nih karean lama tiak muncul. Kim akan usahakan up setiap hari, jika tidak ada massalah atau urusan mendadak tapi ya. Hehe. 🙏🙏
Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh. 😘😘😘
__ADS_1