
Bara duduk diam dengan Surya yang ada di kursi lain di hadapannya. Matanya menatap Bara dengan tatapan datar. Sama halnya dengan Braa yang tidak berekspresi apa pun kepadanya. Sampai sebuah deheman keras , membuat Bara menghela napas perlahan.
“Ada apa anda ke mari, Tuan,” ucap Bara dengan nada sopan, tetapi terkesan dingin. Dia masih ingat dengan ucapan Surya yang menyakiti hati kakaknya.
“Saya ingin berbicara denganmu, Bara,” ujar Surya sembari bersandar di punggun sofa ruang tamu Bara.
“Jika anda hanya ingin berbicara agar saya menjauhi Alice, saya sudah melalukanya. Saya juga tidak akan pernah mendekatinya lagi,” kata Bara dengan suara tegas.
Surya yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap ke arah Bara lekat. Matanya menatap wajah Bara yang juga terlihat kacau. Dia yakin, pemuda di hadapannya merasakan hal yang sama dengan putrinya.
Apa saat itu aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan perasaanku dan mengabaikan mereka, batin Surya dengan penuh penyesalan.
“Bukan itu yang ingin aku katakana, Bara,” sahut Surya dengan suara tegas, “aku ingin mengatakan bahwa aku harap kamu tetap bersama dengan Alice. Dia sangat mencintaimu,” kata Surya dengan suara melembut.
Surya menatap air muka yang mulai berubah di wajah Bara. Namun, hanya sejenak dan langsung kembali ke raut semula. Datar.
“Aku tahu bahwa aku sudah melukai perasaanmu. Aku tahu semua bukan murni kesalahan dari Rika. Jadi, aku meminta maaf untuk kesalahanku waktu itu. Kamu tidak harus menghukum Alice untuk semua kesalahanku dan juga Galuh, Bara,” lanjut Surya dengan tatapan penuh penyesalan. Dia bahkan sudah merendahkan dirinya di hadapan Bara yang terlihat tidak menanggapi.
Bara menghela napas perlahan dan menatap Surya datar. “Maaf, Tuan. Apa yang menjadi keputusan saya, saya harap anda tidak akan ikut campur. Lagi pula, anda sudah mengatakan agar saya menjauhi Alice dan tidak akan memberikan izin untuk menikah dengan saya. Jadi, saya hanya menjalankan apa yang anda inginkan.”
“Mengenai itu, aku mi....”
“Maaf, jika anda tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya harap anda segera pulang. Saya masih memiliki perkerjaan lain,” potong Bara dengan pandangan lekat.
Surya yang mendengar hanya mampu menghela nasp perlahan. Matanya menatap Bara yang masih duduk dengan pandangan menatap lurus ke depan, mengabaiknanya yang siap pergi.
“Aku pergi, Bara. Aku harap kamu bisa mempertimbangkannya karena aku yakin, kamu juga masih sangat mencintai Alice,” ucap Surya yang langsung pergi.
__ADS_1
Bara yang mendengar suara pintu tertutup pelan hanya mampu memejamkan mata, menahan rasa sakit yang entah mengapa mampu menggoyahkan keteguhannya. “Aku harap aku tidak pernah mencintaimu, Alice. Aku benar-benar tidak berharap jatuh di hati yang salah seperti saat ini,” gumam Bara sembari menghela naps berulang kali, menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.
Bara meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang yang dia yakin, saat ini tengah menunggunya. Sampai panggilannya sudah tersambung dengan Randy di seberang.
“Halo, Randy. Aku tidak bisa datang hari ini. Aku memiliki urusan lain,” ucap Bara yang langsung mematikan panggilan sepihak. Dengan cepat dia segera meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar dengan rahang mengeras.
“Apa pun caranya, aku akan melupakanmu, Alice. Mencintainya memang hanya akan membuatku merasa sakit hati,” ujar Bara dengan tatapan tegas, mengabaikan beberapa pasang mata yang sesekali meliriknya dengan senyum merekah.
Bara merogoh kantung celana dan mengambil ponsel. Jemarinya langsung sibuk mencari kontak seseroang. Ketika sudah ditemukan, Bara segera menekan dan mendekatkab ponselnya di telinga.
“Hali, aku ingin bertemu,” ucap Bara ketika panggilan tersambung.
Bara diam sejenak dan mengangguk. “Baik. aku akan segera datang,” kata Bara sembari membuka pitu mobil dan segera masuk. Setelahnya, dia langsung melanjukan mobil dengan tatapan yang sulit diartikan.
_____
Alice menatap ke arah mamanya dan tersenyum tipis. “Alice mau bertemu dengan Dara, Ma,” jawab Alice sembari melangkah mendekati mamanya.
“Kamu mau bertemu dengan Dara? Mau mama temani?”
Alice menggeleng dan menatap mamanya lembut. “Gak usah, Ma. Alice sendiri saja," jawab Alice sedikit melemah. Dia merasa tubuhnya memang tidak sehat sejak beberapa hari yang lalu.
Galuh menghela napas perlahan dan mengelus pelan puncak kepala anaknya. “Maafin mama untuk semua kesalahan yang mama perbuat ya, sayang. Mama membuat kamu kehilangan Bara,” ucap Galuh dengan rasa pedih.
Bara? Alice hanya tersenyum kecil dan menatap mamanya, mengabaikan nama yang masih mengusik hatinya. “Tidak masalah, Ma. Mungkin Bara memang bukan takdir Alice,” kata Alice mencoba menenangkan hatinya yang masih rapuh.
Galuh diam dan menatap anaknya dengan air mata yang siap berlinang. Melihat wajah tegar anaknya terasa begitu menyesakan. Aku memang bersalah dalam hal ini. Aku melukai banyak sekali pihak, batin Galuh meratapi kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
“Ma, kok malah diam,” tegur Alice dengan mata menatap mamanya lekat.
Galuh tersentak dari lamunannya dan menatap Alice bingung. “Tidak, sayang. mama hanya masuh berpikir, apa perlu mama menitip bahan makanan yang habis di kulkas denganmu,” jawab Galuh berbohong. Dia merasa Alice tidak perlu mengetahui apa yang ada di pikirannya kali ini.
“Boleh. Mama mau nitip apa?” tanya Alice dengan wajah yang dibuat seceria mungkin. Dia tidak mau membuat orang tuanya merasa terbebani dengan kesedihan yang masih melanda hatinya.
“Gak jadi deh. Lebih baik sekarang kamu keluar gih. Pasti Dara sudah menungumu sangat lama,” ujar Galuh mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah, Alice berangkat dulu, Ma.”
Alice segera menyalami mamanya dan melangkah menjauh. Dia segera keluar dari rumah dan menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk. Perlahan, dia segera menjalankan mobilnya dan menembus jalanana ramai.
Sekarang aku harus melupakanmu, Bara. Kamu bahkan tidak menganggapku ada, batin Alice dengan perasaan pilu.
Alice menghela napas perlahan dan mengbaikan hatinya. Matanya masih fokus dengan jalanan di depannya dan tangan sibuk menyetir. Setelah hampir dua puluh menit, Alice segera membelokan mobil ke sebuah gedung minmalis yang selalu menjadi langganannya. Di depan bangunan tersebut terdapat gedung bertingkat yang menjadi kantor Michael. Ya, dia tahu karena sudah pernah datang ke kantor tersebut.
Alice mengabaikan sekitar dan segera meraih tas di dekatnya, lalu keluar. Langkahnya segera memasuki bangunan dengan kayu papa sebagai temboknya, membuka pintu kaca dengan lonceng di atasnya perlahan. Matanya mengamati sekitar dan menemukan Dara yang sudah melambaikan tangan.
Alice tersenyum senang dan melangkah mendekati Dara. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika matanya menatap sosok yang tidak asing untuknya.
“Bara,” gumam Alice dengan tatapan tidak percaya. Matanya kembali melihat ke arah wanita yang tengah memakan es krim di hadapan Bara dengan kening berkerut heran.
“Bella,” gumam Alice yang langsung terpaku. Matanya menatap keduanya dengan tatapan yang sangat lekat, bahkan dia tidak mau beralih sedikit pun, membuat Dara yang ada di sana mengikuti arah pandang temannya.
Apa yang sebenarnya terjadi, Bara, batin Alice dengan air mata menggenang di pelupuk mata.
_____
__ADS_1