
Renita tenga asyik menonton televisi ketika mendengar bel rumahnya berbunyi, membuatnya mentap ke asal suara dan menghela napas perlahan. “Itu pasti Dave,” gumam Renita sembari menarik kursi rodanya menuju ke arah pintu utama rumahnya.
Renita menghela napas perlahan. Merasa kesal karena Dave yang selalu saja melupakan kunci cadangan rumahnya. Itu juga yang membuat Renita belum tidur sampai jam sebelas malam. Dia menunggu Dave yang tidak juga kembali.
Tangannya mulai membuka kunci pintu rumahnya dan menarik gagang pintunya pelan. Baru saja Renita akan menyapa sang anak dengan omelannya, tetapi terhenti karena seseorang yang terasa asing tengah berdiri di dekat Dave.
“Dave, ini siapa?” tanya Renita sembari menunjuk ke arah Bella yang hanya diam dengan senyum canggung.
“Ma, dia Bella,” ucap Dave dengan perasaan ragu. Dia takut jika mamanya akan marah dengan kedatangan Bella.
“Terus kenapa kamu ajak pulang ke rumah? Ini sudah malam. Sehar....”
“Bella akan menginap di rumah kita, Ma,” potong Dave dengan sekali ucap. Matanya menatap sang mama yang langsung diam dengan kening berkerut semakin dalam. Dia tahu, mamanya pasti kaget dengan ucapannya.
Dave mulai mendudukan tubuh dan menatap mamanya lekat. “Ma, Bella membutuhkan bantuan kita,” ucap Dave dengan suara lirih. Matanya menunjukan pandangan memohon. Berharap mamanya akan setuju dengan hal yang baru saja diungkapkan.
Aku tidak mungkin meninggalkan Bella dan memberikannya kepada Ryan, Ma, batin Dave dengan tangan yang mulai menggenggam jemari mamanya.
“Ma, Bella adalah mantan sekretaris Dave dan dia membutuhkan bantuan Dave. Dia sedang dikejar kekasihnya yang tidak memiliki hati. Dia kabur dari rumah kekasihnya yang selalu menyiksa hingga dia mendapat banyak sekali luka,” jelas Dave dengan nada lirih.
Renita hanya diam. Matanya menatap ke arah Bella yang masih menunduk dan tidak berani menatapnya sama sekali. Perlahan, dia mulai menghela napas pelan dan mengangguk pelan.
Mengatakan tidak pun kamu akan tetap memaksa, kan, batin Renita hapal dengan sikap Dave.
__ADS_1
“Terima kasih, Ma,” ucap Dave dengan senyum sumringah. Merasa lega karena mendapat persetujuan sang mama.
Renita hanya menghela napas perlahan dan menatap ke arah Bella. “Mari ikut tante. Akan tante tunjukan di mana kamarmu,” ucap Renita dengan nada berbeda. Membuat Fave menatap mamanya dengan pandangan lekat. Merasakan hal berbeda dengan. Namun, dia hanya diam dan membiarkan sang mama pergi membawa Bella.
Bella hanya diam dan mengikuti ke mana Renita membawanya. Sampai langkahnya berhenti tepat di depan pintu kayu dengan ukiran kecil di tiap sudut. Renita membukanya pelan dan berusaha masuk ke dalam. Pandangannya berlaih menatap ke arah Bella yang tidak juga masuk bersamanya.
“Kamu tidak mau ke dalam?” tanya Renita membuat Bella tersentak.
Bella mulai mengulas senyum tipis dan memasuki kamar tersebut. Matanya menatap kamar dengan tatanan rapi. Membuat wajahnya kembali menyunggingkan senyum bahagia.
“Kamu bisa tidur di kamar tamu selama kamu tinggal di rumah ini, Bella,” ucap Renita dengan senyum tipis.
Bella mengangguk pelan. “Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan,” sahut Bella lembut.
“Anggap saja ini rumahmu dan jangan sungkan jika membutuhkan pertolongan,” kata Renita dengan lembut. “Sekarang tidurlah. Tante akan keluar.”
_____
Dave mengetuk pintu kamar sang mama dengan pelan. Tangannya mulai membuka knop pintu yang tidak terkunci sama sekali. Perlahan, dia mulai mendorong pintu dan mendapati sang mama tengah duduk di sofa dan sibuk membaca majalah. Membuat bibirnya tersenyum senang.
“Ada apa, Dave?” tanya Renita yang mulai menutup majalahnya dan menatap sang anak lekat.
“Boleh Dave masuk?” tanya Dave dengan senyum tipis dan mendapat anggukan. Dave segera melangkah masuk dan menutup pintu. Kakinya mulai melangkah mendekati sang mama lalu duduk di sofa bersama dengan Renita.
__ADS_1
Renita meletakan majalahnya dan menatap Dave lekat. “Apa yang membawamu sampai di kamar mama?” tanya Renita dengan tatapan lembut.
“Dave mau tanya, apa Mama tidak suka dengan kedatangan Bella di rumah kita?” tanya Dave dengan pandangan lekat.
Renita yang mendengar terkekeh kecil dan menatap anaknya. Bibrirnya masih menahan tawa melihat Dave yang memandangnya dengan tatapan memprotes. Hal yang membuat Renita ingin tertawa semakin keras. Namun, ditahan sebelum Dave marah dan pergi dari kamarnya.
“Sudah?” tanya Dave dengan pandangan santai.
Renita mengangguk pelan. Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap ke arah Dave yang masih menunggu jawaban.
“Dave, mama bukannya tidak suka dengan kedatangan Bella, hanya saja kamu baru membawa Dara kemari dan mengatakan dia wanita pilihanmu. Lalu, apa yang akan Dara pikirkan jika dia melihat Bella di rumah kita? Dia pasti merasa sakit, Nak,” jawab Renita denga suara lembut.
“Tidak, Ma. Dave akan mengatakannya kepada Dara mengenai ini,” ujar Dave dengan pemikirannya.
“Lalu mengenai kekasih Bella. Sepertinya dia bukan orang baik, kan?” tanya Renita dengan tatapan lekat. Tangannya mulai terulur dan menyentuh pelan wajah sang anak. “Mama hanya takut kalau nantinya kamu terkena masalah karena ini sayang. Mama takut kalau nantinya mama akan kehilangan kamu. Hanya kamu yang mama miliki saat ini.”
Dave mulai menghentikan gerak tangan sang mama dan menangkupnya pelan. Menatap dengan pandangan lembut dan menenangkan. “Mama jangan takut. Dave bisa menjaga diri. Lagi pula tidak ada yang melihat Dave membawa Bella. Dave bertemu denganya di pinggir jalan saat dia hampir Dave tabrak. Jadi, mama tenang saja, ya?”
“Kamu yakin dengan itu?” tanya Renita dengan pandangan lekat. Tetap saja hatinya merasa tidak enak mendengar cerita Dave.
Dave mengangguk pelan, mencoba menenangkan sang mama yang masih tidak yakin dengannya. Sampai dia mendapatkan anggukan kecil dari arah sang mama. Hal yang membuatnya merasa lega seketika.
Tidak masalah, kan?, batin Dave meyakinkan diri sendiri.
__ADS_1
______
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian ya. Boleh banget loh kalau mau kasih vote. See you next chapter dan janga lupa dukung Kim selalu ya. 😘😘