
Alice hanya diam ketika Bara mengantarnya kembali ke rumah. Dia merasa canggung karena tadi memeluk Bara dengan erat. Sedangkan pemuda di sebelahnya masih saja memasang wajah datar dan tidak memikirkan sama sekali. Dia hanya diam dan tidak berusaha mengusir kesunyian yang menurut Alice benar-benar menyiksa.
Alice menghela napas pelan dan menatap Bara dengan jantung berdebar keras. “Bara,” panggil Alice dengan wajah bimbang. Dia takut jika nantinya Bara hanya akan diam dan tidak menanggapinya sama sekali.
“Apa, Alice?” jawab Bara dengan tatapan fokus dengan jalanan ramai.
“Maaf dan terima kasih untuk semuanya,” ujar Alice dengan mata menatap Bara lekat.
Bara melirik Alice sekilas. “Untuk apa?”
“Maaf karena aku selalu mengatakan masalahku kepadamu dan terima kasih karena kamu selalu berhasil membuatku merasa tenang,” balas Alice dengan senyum canggung.
Bara mengangguk santai. “Tenang saja, aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Kalau ada masalah, kamu bisa cerita denganku, Alice. Kapan saja aku siap menjadi pendengarmu.”
Alice tersenyum dan mengangguk. “Tetapi kalau aku cerita terus, memangnya kamu gak akan bosan?”
Bara menggeleng dan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Alice. Matanya menatap gadis di sebelah dengan pandangan lembut. Membuat Alice yang saat itu masih fokus merasakan hal yang berbeda. Rasaya seperti dia baru saja mendapat keberuntungan karena sudah melihat wajah lembut seorang Bara.
"Kamu berhak cerita apa pun. Jika memang nyaman menceritakannya denganku, kamu bisa menceritakannya dan aku siap menjadi pendengar,” kata Bara tidak secuek biasanya.
Alice yang mendengar menatap Bara tajam. “Kenapa?” tanya Alice penasaran. Apa Bara juga mulai mengasihaniku? Jadi, dia bersikap lembut dan tidak seperti biasa.
“Karena aku melihat diri Rika di dalam dirimu, Alice. Kamu sama sepertinya, selalu berpura-pura kuat. Luka kalian sama, tetapi tetap terlihat tegar dengan semuanya,” jelas Bara membuat Alice lemas seketika.
Kamu terlalu berharap, Alice, batin Alice dengan senyum tipis.
“Baiklah, aku akan turun. Terima kasih untuk semuanya,” ucap Alice mencoba tidak terganggu dengan ucapan Bara.
“Tunggu,” cegah Bara ketika Alice hendak membuka pintu, membuat gadis tersebut menghentikan gerakan dan menatapnya bingung.
“Bisa pinjam ponselmu?” imbuh Bara dengan senyum tipis.
Alice yang mendengar mengerutkan kening bingung. Namun, dia memilih mengambil posnel dan memberikannya kepada Bara. Setelah itu Bara sibuk sendiri dengan dua ponsel yang didekatkan. Sedangkan Alice, dia hanya diam dengan wajah mengamati dan tidak mengerti apa yang tengah dilakukan Bara dengan ponselnya.
“Sudah,” ucap Bara sembari memberikan ponsel Alice kembali.
__ADS_1
Alice yang menerima hanya tersenyum dan keluar. Dia segera masuk ke dalam rumah dan menatap Bara yang masih menunggu sampai dia menutup pintu gerbang rapat. Alice menghela napas keras dan menyandarkan tubuhnya di gerbang rumah.
Apa yang sebnarnya kamu harapkan, Alice, batin Alice dengan wajah lesu.
“Siapa dia, Alice?”
_____
Galuh masih asyik membereskan tanaman di balkon rumah dan menatap mobil hitam berhenti tepat di depan rumahnya. Matanya menyipit melihat siapa yang ada di dalam karena kaca mobil tersebut berwarna gelap. Sampai akhirnya, kaca mobil terbuka dan menunjukan siapa yang ada di dalamnya.
“Alice,” ucap Galuh dengan terkejut dan kening bekerut bingung.
Matanya mengamati pemuda yang ada di dekat anaknya dan diam seketika. Dia meletakan pot berisi bunga dan menatap pemuda tersebut lekat.
“Siapa dia?” tanya Galuh dengan pandangan tajam.
Rasanya aku pernah melihatnya, batin Galuh terus mengamati wajah Bara yang menurutnya tidak asing.
Galuh akhirnya memilih kembali ke dalam dan menuruni tangga. Dia akan melihat pemuda yang sudah menggetarkan hatinya saat ini. Rasanya ada hal berbeda ketika dia menatap pemuda yang tengah mengobrol dengan anaknya.
“Siapa dia, Alice?” tanya Galuh sembari melangkah mendekati putrinya.
Alice yang mendengar terkejut dan mengelus pelan dadanya. Helaan napas lega terdengar. Dia masih takut jika yang menyapa adalah neneknya. Setelah lega dia melangkah mendekati mamanya yang sudah berdiri diteras dan menatapnya lekat.
Alice memberi salam dan mengulas senyum tipis. “Dia Bara, Ma,” jawab Alice lembut.
“Apa? Bara?” ulang Galuh dengan wajah terkejut.
“Iya. Memangnya Mama belum pernah ketemu sama Bara, ya?” tanya Alice dengan mata mengamati mamanya yang hanya diam.
Bara? Nama itu terus terngiang dalam otaknya. Ditambah dengan wajah yang menurutnya tidak asing dan pernah ditemuinya. Namun, dia lupa di mana dan kapan dia bertemu Bara .
“Ma,” pangil Alce pelan karena mamanya hanya diam dan melamun. Tangannya menggoyangkan pelan lengan mamanya, mengembalikan kesadaran Galuh yang sudah melanglang buana entah ke mana.
Galuh tersentak dan menatap anaknya. Senyumnya terukir, berusaha menghilangkan pikirannya mengenai Bara, pria yang selalu saja dibanggakan suaminya.
__ADS_1
“Mama baik-baik saja?" tanya Alice khawatir.
Galuh yang mendenbgar mengangguk dan tersenyum tipis. “Iya, mama baik-baik saja. Mama cuma berpikir pernah melihat Bara, tetapi lupa di mana,” jawab Galuh dengan wajah berpikir.
Alice tersenyum kecil. “Mungkin Mama bertemu dengannya di kantor papa. Soalnya dia baru saja pulang dari Jepang ketika papa menyurunya bekerja di kantor sini, Ma. Itu saja baru berjalan belum lama,” jelas Alice dengan wajah polos.
“Mungkin,” gumam Galuh dan menatap ke arah anaknya, “terus kamu kenapa sudah pulang jam segini?” tanya Galuh penasaran. Tidak biasanya dia melihat anaknya pulang ketika masih jam kantor.
“Tadi mama datang dan memakinya. Dia datang bersama Rony,” sahut Surya yang sudah datang diantara mereka berdua. Dia mendekat dan mengecup pelan puncak kepala anaknya.
“Kamu baik-baik saja, sayang?” tanya Surya dengan penuh kasih sayang.
Alice mengangguk pelan. “Bara sudah menghiburku, Pa. Aku sudah merasa baikan.”
“Syukurlah,” ucap Galuh dan Surya bersamaan.
“Tetapi kamu gak ada yang luka, kan, sayang?” tanya Galuh merasa khawatir.
Alice mengangguk dan menatap mamanya dengan lembut. “Alice baik-baik saja, Ma. Papa datang tepat waktu,” ujar Alice dengan senyum tanpa masalah.
“Lain kali, kalau Rony dan nenek datang, kamu bisa hubungi papa, Alice. Untung papa datang. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi denganmu,” gerutu Surya masih dengan emosi tinggi.
Alice yang mendengar tersenyum dan memeluk papanya dari arah samping. Wajahnya mendongak dan mengumbar senyum ke arah Surya, membuat papanya luluh seketika.
“Maafkan Alice, Pa,” jawab Alice dengan wajah memohon.
“Biaklah. Jangan diulangi lagi.”
“Kalau begitu, gimana kalau kapan-kapan kita panggil Bara makan bersama di rumah kita?” celetuk Galuh membuat Alice dan Surya menatap penuh tanya. Galuh tersenyum tipis dan kembali melanjutkan ucapannya. “Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menghibur Alice. Bagaimana?”
“Kalau papa sih gak masalah,” balas Surya cepat.
“Alice juga tidak masalah. Kapan-kapan akan Alice ajak dia main ke rumah,” ucap Alice merasa senang.
Galuh yang mendengar menghela napas dan menatap Alice dan Surya dengan senyum bahagia. Setidaknya dengan begitu aku bisa tahu siapa dia. Aku benar-benar penasaran, batin Galuh.
__ADS_1
_____