Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 56_Pelukan Pertama


__ADS_3

“Nenek.”


Margareth yang melihat Alice di depannya hanya menatap dengan pandangan datar. Semua ingatannya kembali berkelebat, tentang bagaimana dia berbuat jahat terhadap gadis di depannya. Bahkan, dia mulai merasa kehilangan semua kebahagiaan yang sat ini ada. Dia kehilangan Surya yang menjadi alasannya hidup.


"Silahkan masuk, Nek,” kata Alice sembari menyingkir dari pintu, memberikan jalan untuk neneknya masuk.


Margareth masih saja diam dan memikirkan sesuatu, sampai manik mata dinginnya menatap Alice yang menunduk takut debgannya. Hal yang membuatnya merasa semakin teriris dengan penyesalan.


Selama ini aku memang terlalu jahat dengannya, batin Margareth cukup tahu diri.


Margareth kembali menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Apa kamu takut denganku, Alice?” tanya Margaret dengan suara yang sedikit melunak.


Alice yang mendengar menelan salivanya sudah payah dan mulai mendongakan kepala. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu dia memang masih merasa trauma tersendiri dengan nenek dan juga Rony. Namun, dia hanya mampu menggeleng, takut jika hal itu membuat neneknya merasa tersinggung.


Margareth yang mendengar hanya tertawa kecil dengan gelengan kepala pelan. “Aku tahu kamu menang takut denganku, Alice. Aku cukup sadar diri dengan apa yang aku lakukan. Sudah sepatutnya kamu takut dengan wanita tua yang selalu menyiksamu ini,” celetuk Margareth penuh ketegasan.


“Tidak, Nek. Alice....”


“Sudahlah, kamu tidak perlu takut menyinggungku,” potong Margareth dengan cepat. Matanya menatap ke arah Alice dan memandang lekat. “Kamu jangan selalu memikirkan orang lain, Alice. Aku memang dulu membencimu karena aku pikir kamu yang membuat menantuku meninggal. Ditambah lagi dengan ibu kandungmu yang aku anggap perusak hubungan orang lain. Tetapi, semuanya salah. Menantuku sendiri yang menggali masalah dan juga penderitaannya,” jelas Margareth membuat Alice terdiam seketika.


Alice menutup mulut rapat dengan jemari tangan memainkan salah satu kancing pakaiannya. Dia tidak tahu harus menjawab perkataan Margareth dengan kalimat seperti apa. Sampai sebuah elusan tangan mampir di pipi lembutnya, membuat Alice menatap ke arah neneknya dengan pandangan tidak percaya.


“Aku selalu menyakitimu sampai berbuat hal menyedihkan, Alice. Aku sudah membuatmu berada dalam masalah dan bahkan menyerahkanmu untuk Rony. Nenek minta maaf untuk itu semua. Nenek terlalu menutup mata dengan kenyataan yang ada. Bahkan, nenek mendendam denganmu, anak yang bahkan tidak tahu apa pun,” kata Margareth dengan mata yang mulai berkaca.

__ADS_1


“Nenek,” cicit Alice masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini.


Margareth mengulas senyum tipis yang baru pertama kali dilihat Alice, membuat gadis tersebut menatap sendu ke arah Margareth.


“Maafkan aku dengan semua yang sudah terjadi, Alice. Nenek menyesal dengan semuanya. Sekarang nenek ingin memperbaiki semua itu. Wanita tua ini sudah lelah memendam kebencian untuk orang yang tidak seharusnya,” lanjut Margareth dengan tetes bening yang mulai mengalir dari sudut matanya.


Alice mengeratkan bibirnya, menatap neneknya dengan air mata yang gagal dipertahankan. Matanya menatap Margareth lekat, berharap untuk sekali saja dia bisa mendekap wanita di hadapannya. Namun, sekali lagi, dia masih merasa takut jika neneknya akan tersinggung.


Namun, semua yang ada di pikiran Alice seketika membuyar ketika Margaret menarik tubuhnya dan mendekap erat, membuat Alice seketika menangis tergugu.


“Maafkan nenekmu ini, Alice. Maafkan semua kesalahanku selama ini. Nenek menyesal telah melakukannya.”


Alice memejamkan mata dan mengangguk. Rasanya dia tidak pernah menyangka hari seperti ini akan terjadi. Hingga pelukan Margareth terlepas dan menatap Alice lekat.


“Dia akan membahagiakanmu,” lanjut Margareth menatap Bara lekat. Bara yang baru saja keluar dari kamar hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Margareth.


Margareth menatap Alice lekat dan melemparkan senyum tipis. Perlahan, langkahnya memundur dan mulai meninggalkan Alice yang masih menatapnya dengan air mata berlinang. Hingga tubuh neneknya menghilang sempurna.


Alice menitikan air mata penuh kebahagiaan ketika dia merasakan tangan Bara yang mendekapnya erat dari belakang. “Nenek memelukku, Bara. Nenek baru saja memelukku,” ucap Alice dengan tangis kebahagiaan.


Bara yang mendengar mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Dia hanya diam ketika Alice dengan sisa air mata mengatakan seluruh kebahagiaannya. Dan aku juga akan menambah daftar kebahagiaanmu, sayang, batin Bara yakin dengan apa yang akan dijanjikannya.


_____

__ADS_1


“Dari mana kamu, Nyonya Margareth Pranata?” tanya Rony yang saat itu tengah duduk di ruang tamu Margareth dengan suara tegas, membuat wanita tersebut menghentikan langkah dan menatap Rony dengan wajah datar.


“Mau apa kamu datang ke rumahku, Rony? Aku bahkan sudah tidak memiliki masalah denganmu,” jawab Margareth dengan tatapan datar. Saat ini dia sedang malas meladeni Rony yang selalu mengganggu hidupnya.


Rony menghela napas perlahan dan menatap Margareth dengan tatapan kejam. “Apa anda baru dari rumah calon cucu anda?” tanya Rony dengan sebelah bibir dimiringkan, membuat wajah mesumnya terlihat lebih menyebalkan.


Maragareth yang mendengar menatap ke arah Rony dengan tatapan lekat. “Kamu mengikutiku? Kamu memata-mataiku, Rony?” ucap Margareth dengan nada tidak suka. Rahangnya sudah mengeras dengan tangan mengepal, meremas kuat tas yang tengah dibawanya.


Seketika, Rony tertawa keras mendengar pertanyaan Margareth. Matanya menunjukan ketidaksukaan dengan sikap wanita tua yang sudah jauh berubah. Sampai tawnaya mereda dan kembali menatap Margareth dengan tatapan serius.


“Apa yang terjadi denganmu, Nek? Apa kamu sudah mulai lemah dngan penjelasan Surya yang entah benar atau salah? Kamu membiarkan anak dari wanita yang menghancurkan menantumu bahagia begitu saja? Apa kamu mau perjuanganmu selama ini menjadi sia-sia? Kita bahkan belum memberi pelajaran untuk Alice, Nyonya Margaret,” ucap Rony dengan suara penuh penekanan.


Margareth yang mendengar hanya menghela napas perlahan dan menatap Rony dengan tatapan tajam. “Aku sudah semakin tua dan aku merasa selama ini aku hanya melakukan hal sia-sia, Rony. Aku membenci Alice sampai lupa bahwa bagaimana pun dan dari rahim siapa pun, dia tetaplah anak dari putraku. Tidak sepantasnya aku membenci dan malah menjerumuskannya dalam lembah kegelapan. Sekarang, aku hanya ingin bahagia dan aku harap kamu juga melupakan ide konyolmu untuk menikahi Alice. Bagaimana pun kamu adalah pamannya. Usia kalian jauh berbeda. Carilah wanita lain yang bisa menjadi istrimu, Rony,” jelas Magareth dengan nada suara merendah.


“Tidak akan,” desis Rony dengan tatapan kesal.


Margareth yang mendengar hanya menghela napas dan menepuk pundak Rony pelan, membuat pria yang sejak tadi menegang menatapnya dengan tajam. “Alice sudah menemukan kebahagiaannya, jangan ganggu dia lagi. Aku harap kamu akan mengerti dengan hal ini,” ujar Margareth dan berlalu meninggalkan Rony di lantai dasar.


Rony hanya diam dan menatap lurus ke depan, membiarkan Margareth menaiki tangga menuju kamarnya. “Sampai kapan pun, tidak ada yang boleh memiliki Alice kecuali aku. Sampai kapan pun dia hanya milikku,” desis Rony dengan tatapan menakutkan.


_____


Halo semuanya, selamat membaca. Jangan lupa untuk tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit kalian. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals” dan “Wedding Drama 2”. Kim sangat menunggu kehadiran kalian untuk terus mendukung Kim.

__ADS_1


See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan. Semoga kita slelau dalam lindungan sang pencipta. 🤲🤲


__ADS_2