
“Apa aku selama ini jahat, sayang? Aku selalu menganggap dia seperti orang jahat. Selalu berpikir bahwa selama ini papa yang bekerja mati-matian dan dia hanya menghabiskannya saja. Seperti yang selalu papa katakan,” gumam Bara dengan mata menatap lurus ke depan.
Alice hanya memejamkan mata ketika mendengar ratapan hati Bara yang dipenuhi dengan penyesalan. Sudah satu jam sejak dia masuk ke dalam apartemen kekasihnya. Bara hanya duduk di lantai dan meletakan kepalanya di pangkuan Alice. Tidak berniat pergi ke mana pun dan hanya diam dengan air mata menetes perlahan.
“Seharusnya dia tidak memberikan penjelasan ini sekarang. Kenapa dia tega membuatmu merasa begitu kejam,” gumam Bara dengan nada sendu.
Alice menghela napas perlahan dan membuka mata pelan. Tangannya masih sibuk mengelus pelan puncak kepala Bara dan menatap kekasihnya lekat.
“Sayang, kamu tidak bersalah dalam hal ini. Kamu juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan? Jadi, berhentilah menyalahkan diri. Kamu tidak salah dalam hal ini,” ujar Alice menenangkan Bara.
Bara mendongak dan menatap ke arah Alice. Pipinya bahkan sudah dipenuhi air mata yang selama ini tidak pernah ditunjukannya sama sekali. Tetapi, hari ini, untuk pertama kalinya, Bara menunjukannya di depan Alice, wanita yang akan sudah menjadi kekasihnya.
Alice mengulas senyum tipis dan menghapus air mata Bara pelan, menunjukan kelembutan yang membuat Bara terpana seketika. Sampai kecupan pelan Alice kembali mendarat di kening Bara pelan.
Alice mulai menghentikan kecupannya dan menatap Bara yang masih menatap lekat. “Kamu tidak kejam, sayang. Tidak ada yang perlu kamu sesalkan. Jika kamu ingin memperbaiki semuanya, mama masih ada dan kamu bisa memulai semanya dari awal. Lupakan semua masa lalu itu dan mulailah hidup baru. Kamu berhak bahagia dengan kehidupanmu,” ucap Alice dengan suara lembut.
Bara yang mendengar hanya diam dan menghela napas perlahan. Dia hanya memeluk Alice dan memejamkan mata. Sejenak, dia hanya ingin melupakan masa lalunya. Dia berharap saat membuka mata nanti, semuanya masalahnya akan menghilang dengan segera.
“Alice,” panggil Bara pelan.
“Apa, Bara?”
“Setelah ini kamu tdiak akan meninggalkanku, kan? Kamu akan tetap mau menikah dan hidup denganku,” celetuk Bara dengan suara datar.
Alice tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bara. “Aku tidak ada alasan untuk pergi darimu, Bara. Aku ingin hidup bersamamu. Memiliki malaikat kecil yang nantinya akan menjadi pelengkap kita. Aku mau selamanya bersamamu.”
Bara yang mendengar tersenyum tipis dan mendekap Alice erat. Hingga rasa nyaman mulai mampir dan membuatnya bernapas tenang. Bara memejamkan mata, sejenak hingga akhirnya kembali terlelap dalam tidurnya.
Alice hanya tersneyum simpul dan mencium puncak kepala Bara. “Selamat tidur, sayang. Aku harapa setelah ini tidak ada masalah lain yang menghampirimu.”
__ADS_1
Setelah dirasa Bara sudah nyenyak, Alice meraih bantal kecil di dekatnya, meletakan kepala Bara pelan dan tersenyum tipis.
“Aku sangat mencintiamu, Bara,” bisik Alice beharap kalimatnya sampai di alam bawah sadar Bara dan ternyara berhasil. Bara mengulas senyum tipis dalam tidur nyenyaknya.
_____
Bara menggeliat dalam tidurnya ketika merasakan bau aneh mulai menguar di sekitar apartemen. Perlahan, matanya membuka pelan dan menyesuaikan dengan ruangan sekitar. Menatap sekeliling, mencari sosok Alice yang tiak lagi terlihat disekitarnya.
“Sayang,” panggil Bara sembari bangkit.
“Aww,” gumam Bara ketika baru saja duduk. Kepalanya terasa pusing karean menangis sampai berjam-jam. Namun, rasa pusingnya tiba-tiba saja menguar ketika mendengar suara berisik di bagian dapur. Dengan perlahan, dia mulai bangkit da melangkah ke arah dapur.
Apa lagi yang dilakukannya kali ini, batin Bara mempercepat langkah. Dia tidak mau jika nanti apartemennya rusak karena ulah kekasihnya.
Bara menghentikan langkah ketika sudah sampai di pintu dapur. Matanya mengamati Alice yang tengah berdiri dengan pakaiannya yang kebesaran, membuat senyum Bara mengumbar seketika.
Bara melangkah pelan ke arah Alice. Matanya mengamati setiap gerakan kekasihnya. Dengan perlahan, dia mulai melingkarkan tangan di pinggang Alice dan mengeratkan pelukannya.
Alice sedikit tersentak dan menatap ke arah Bara dengan pandangan terkejut. Sampai akhirnya, dia mendengus kesal dan kembali menatap ke arah penggorengannya lekat.
“Kamu mengenakan pakaianku?” tanya Bara dengan kepala yang sudah diletakan di ceruk leher Alice.
Alice bergumam dan menatap ke arah Vara lekat. “Aku pinjam ya, sayang. Pakaianku kotor karena jatuh di kamar mandi. Jadi, aku masih menjemurnya di luar,” jelas Alice.
Bara yang mendengar hanya mengangguk mengiyakan dan menatap masakan Alice. “Kamu masak mie instan, sayang?” celetuk Bara dengan sedikit terkejut. “Aku rasa aku tidak memilikinya.”
Alice tersenyum kecil dan mengelus pelan pipi Bara. “Aku yang membelinya, sayang. Aku mau membuatkan makanan untukmu. Berhubung aku hanya bisa memasak mie instan, aku jadi membelinya. Tidak masalah, bukan?”
Bara hanya mengangguk dan terkikik kecil. Dia lupa jika Alice tidak bisa memasak apa pun. Namun, dia diam dengan mata menatap Alice yang sudah dalam dekapan, merasakan bau harum yang menguar dari tubuh kekasihnya.
__ADS_1
“Sayang, kapan-kapan ajari aku memasak,” celetuk Alice dengan bibir dimanyunkan.
“Buat apa?”
Alice mendengus kesal dan mematikan kompor. “Aku juga ingin memasak untukmu. Jadi, nanti waktu kamu bangun aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”
Bara membjka mata dan menatap Alice dari samping. “Kamu tidak perlu memasak untukku, sayang. Aku hanya tinggal memakanmu ketika nanti lapar.”
“Bara,” tegur Alice dengan wajah merona. Jemari kecilnya sudah mencubit pelan lengan Bara yang hanya terkikik kecil.
Dasar. Sejak kapan ini orang jadi mesum kayak Rony, batin Alice, tetapi dia menyukai sikap Bara yang selalu memanjakannya.
“Sayang, mau menikah minggu depan?” tanya Bara membuat Alice tersentak kaget. Matanya membelalak menatap pria yang dengan santainya mengajak menikah.
Alice baru akan membuka mulut untuk menjawab ucapan Bara yang terkesan bercanda, tetapi berbau serius dan terhenti ketika bel berbunyi. Alice menatap ke arah pintu ruang utama Bara dengan penuh tanya.
“Siapa yang datang?” tanya Bara sembari melepaskan pelukannya, tetapi, Alice menghentikan ketika Bara akan pergi untuk membukanya.
"Biar aku saja yang buka,” jawab Alice dengan senyum tipis.
Bara hanya mengangguk dan memilih masuk ke kamar. Dia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Sedangkan Alice, dia melangkah ke arah pintu dengan wajah riang. Namun, senyumnya memudar ketika melihat siapa yang ada di depanya saat ini.
“Nenek,” ucap Alice dengan wajah terkejut. Matanya menatap wanita yang sudah lama hilang dari kehidupannya lekat. Kakinya terasa mati ketika melihat wajah wanita yang sangat dihormati terlihat datar.
Dari mana nenek tahu aku di sini, batin Alice dengan mata menatap lekat.
_____
Halo sayang Kim. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian ya. Baca juga cerita Kim yang berjudul "Wedding with My Lecturer" dan"Wedding Drama 2". Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian ya. 😘😘😉
__ADS_1