Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 21_Jangan Terlalu Memperhatikanku


__ADS_3

Alice menatap Bara yang sudah duduk di dekatnya dengan wajah datar. Mata Bara hanya sibuk menatap ke depan tanpa mengabaikan siapa yang ada di dekatnya. Suasana sunyi membuat Alice merasa canggung, tetapi matanya tetap tidak mau terlepas dari pria di dekatnya.


Bara yang merasa sejak awal Alice masuk sudah memperhatikannya langsung melirik sekilas dan kembali fokus dengan kemudi. “Kenapa kamu melihatku terus, Alice? Ada yang salah denganku?” tanya Bara dengan wajah datar.


Alice menggeleng dan hanya diam dengan mulut rapat. Bara yang merasa gerah langsung menepikan mobil dan menatap Alice dengan tampang dingin.


“Ada yang salah denganku, Alice?” tanya Bara dengan pandangan lekat.


Alice langsung menegkan badan dan mengangguk. “Ada, Bara. Kenapa kamu ada di sana ketika Dave menurunkanku?” tanya Alice dengan tatapan penasaran. Sejak awal masuk dia sudah berpikir untuk menanyakan hal tersebut. Tidak mungkin, kan, seorang Bara bisa ada dan muncul di hadapannya tepat ketika dirinya membutuhkan seseorang.


Bara yang mendengar langsung diam dan mengalihkan pandangan. Dengan cepat dia kembali melajukan mobilnya pelan. Ingatannya kembali pada beberapa menit setelah Alice pergi dengan Dave.


Flashback


Bara menghela napas panjang ketika dirasa Alice sudah pergi dari halaman kantor bersama dengan Dave. Berbagai kertas yang ada di depannya terasa membingungkan karena pikirannya terbagi, antara pekerjaan dan juga Alice. Ada rasa tidak rela ketika gadis tersebut pergi dengan pria lain.


“Kau membuatku gila, Alice,” gumam Bara dengan rahang mengeras.


Bara kembali membuang napas keras dan bangkit. Dengan langkah tergesa dia segera keluar dari kantor, mengikuti apa yang sejak tadi dipikirkan oleh hatinya. Sekali ini, dia ingin mengikuti hatinya meski terasa asing.


“Setelah sekian lama aku tidak merasakan hal yang sama, sekarang kamu membuatku merasakannya kembali, Alice. Benar-benar konyol,” gerutu Bara yang melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali.


Alice membuatnya merasakan hal berbeda. Rasa yang sudah menghilang sejak Bella meninggalkannya. Bara menuruni anak tangga dengan sedikit berlari dan tanpa sengaja menabrak seseorang ketika berada tepat di pintu masuk.


Bara menghentikan langkahnya dan menatap gadis yang baru saja ditatapnya. Wajah cemas dan juga khawatir langsung hilang ketika netranya menatap gadis berkacamata yang pernah dilihat bersama dengan Alice.


Dara mengerutkan kening heran ke arah Bara dan masih menatap raut wajah cemas Bara sebelum pria tersebut menatap datar.


“Kamu Bara, kan?” tanya Dara dengan wajah mengamati. Dia masih ingat dengan wajah pria yang sudah membuat sahabatnya memasang wajah sedih.


“Maaf, saya buru-buru,” jawab Bara yang langsung melangkah meninggalkan Dara. Dara hanya menghela napas panjang dan menatap kepergian Bara yang semakin menjauh.

__ADS_1


Bara memasuki mobil dan mulai menembus jalanan, melihat ke mana sekiranya Alice mulai pergi. Bara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atasa rata-rata sampai akhirnya menemukan Alice.


Baru memelankan mobil dan berhenti tepat ketika Dave menghentikan mobil. Keningnya berkerut ketika melihat Alice yang turun dan tersenyum tipis.


“Apa yang dilakukannya?” tanya Bara dengan wajah bingung. Dia mematikan mesin mobil dan mengamati apa yang dilakukan Alice. Netranya menatap Dave yang sudah berlalu pergi.


Bara masih tetap diam sampai akhirnya dia sendiri merasa geram. Dengan langkah terburu dia segera mendekati Alice, melepas jas yang dipakai dan memasangkannya di tubuh Alice.


“Ayo masuk mobil. Di luar dingin,” ucap Bara sembari melemparkan tatapan dingin ke arah Alice.


Flashback selesai


Bara menggeleng pelan menyadari kebodohan dan kekonyolan yang baru saja dilakukan. Bahkan, dalam mimpi pun dia tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini.


“Bara,” panggil Alice pelan dan masih menunggu jawaban, “kenapa kamu ada di sana? Kamu mengikutiku?” tanya Alice tepat sasaran.


Bara yang ditanya melirik sekilas dan tesenyum sinis. “Jangan terlalu bermimpi, Alice. Aku kebetulan lewat karena hendak ke rumah Rika. Jangan berpikir macam-macam,” jawab Bara membuat Alice langsung diam.


Apa yang kamu pikirkan, Alice. Jangan konyol. Bara tidak pernah menyukaimu, batin Alice menyadarkan.


“Kenapa kamu turun dari mobil Dave, Alice?” tanya Bara yang sudah membelokan mobil ke sebuah restoran.


“Dave sedang ada urusan di kantor. Itu sebabnya aku pulang sendiri,” jelas Alice dengan wajah lesu.


Bara menghentikan mobil dan mematikan mesin. Tangannya mengacak pelan puncak kepala Alice, membuat gadis tesebut menatap dengan mata polos.


“Jangan mengorbankan diri terus, Alice. Kamu berhak bahagia. Sesekali merasa egois juga perlu. Harusnya kamu biarkan Dave mengantar samapai kantor lagi,” ujar Bara menasihati, “ayo turun. Kita makan, aku lapar.”


Alice yang mendengar hanya diam dan menatap Bara yang sudah siap turun dengan pandangan nanar. Rasanya ada rasa pedih ketika mendengar nasihat Bara. Egois? Dia bahkan pernah melakukan keegoisan dengan tetap berada di sisi kedua orang tuanya.


“Jangan terlalu memperhatikanku, Bara. Atau aku akan sulit untuk melupakanmu,” gumam Alice ketika Bara sudah turun dan menutup pintu.

__ADS_1


_____


Dave turun dari mobil dengan tergesa. Bahkan dia sudah melupakan Alice yang entah bagaimana kabarnya. Pikirannya hanya terfokus pada masalah perusahaan. Dia ingin memberikan hal yang terbaik untuk Michael sebagai tanda terima kasih dengan semua yang sudah diberikan. Itu sebabnya dia memilih untuk kembali ke kantor dari pada jalan-jalan dengan Alice.


Dave baru sampai di pintu masuk ketika matanya menatap Michael yang sudah melangkah santai. Dengan cepat dia berlari mendatangi Michael yang sudah menatapnya dengan pandangan kaget.


“Dave, kenapa kamu ada di sini?” tanya Michael ketika sudah berhenti tepat di depan Dave.


“Aku mendapat telfon ada masalah di divisiku. Itu sebabnya aku kembali,” jawab Dave dengan wajah cemas.


Michael yang mendengar tertawa kecil. “Berhentilah terlalu khawatir, Dave. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Semua karyawan yang sudah merugikan perusahaanku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal,” sahut Michael masih dengan wajah santai.


Dave yang mendengar menghela napas lega. Setidaknya masalah di divisinya sudah teratasi dengan baik.


“Di mana, Alice? Bukannya kamu mau jalan sama dia?” tanya Michael sembari mencari gadis yang dimaksud.


“Aku meninggalkannya di jalan. Dia tidak mau aku mengantar kembali ke kantor,” balas Dave dengan wajah tenang.


“Hah?” Michael membelalak tidak percaya dengan ucapan Dave. Perlahan dia kembali membuang napas dan menepuk pundak sahabatnya pelan.


“Aku senang memiliki karyawan sepertimu, Dave. Selalu mengutamakan perusahaanku dan berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi, kamu juga harus ingat bahwa kamu juga memiliki kehidupan. Kamu butuh mencari pendamping dan mengerti seorang wanita yang pada akhirnya akan menjadi istrimu. Aku sarankan, jangan melakukan hal itu lagi karena aku tahu, Alice pasti merasa sedih dengan keputusanmu. Dia hanya berbasa-basi dan ingin tahu mengenai, Dave,” jelas Michael dengan panjang lebar.


Dave yang mendengar menghela napas keras. “Sebenarnya aku bahkan tidak yakin untuk membina sebuah hubungan lagi, Ael. Aku takut jika wanita yang aku nikahi sama seperti Rensi,” aku Dave membuat Michael membelalak tidak percaya.


“Lalu Alice? Kalian sudah dijodohkan dan kamu menerimanya,” ucap Michael dengan emosi menggebu.


“Aku akan tetap melakukan pernikahan ini karena mamaku mengharapkannya. Aku ingin melakukan apa yang Mama inginkan dan akan berusaha mencintai Alice, meski aku tidak janji akan mencintai seperti yang diharapkan. Anggap saja, aku mencoba menguji apakah Alice sama seperti Rensi atau tidak dan semoga lambat laun aku akan bisa mencintainya,” jawab Dave yang langsung berjalan ke arah tangga ruangannya.


Michael yang mendengar hanya bisa diam. Dia tidak bisa mengatakan apa pun karena memang tidak pernah tahu perasaan Dave selama ini.


“Aku harap Alice tidak akan pergi darimu, Dave,” ujar Michael dengan tatapan penuh harap. Dia ingin melihat dua sahabatnya merasa bahagia.

__ADS_1


_____


__ADS_2