Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 80_Apa Dia Hamil?


__ADS_3

“Kalau begitu, mungkin kita bisa menikah agar ini menjadi hal wajar,” ucap Dave dengan santai.


Dara yang mendengar sempat terdiam seketika. Menatap wajah Dave yang tidak menunjukan keseriusan sama sekali. Membuat Dara berdecak kesal dan mendorong Dave hingga pelukan keduanya terlepas.


Dara menatap ke arah Dave dan menghela napas perlahan. Tangannya sudah bersedekap dan mengamati Dave lekat. “Kamu pikir menikah itu maninan, Dave?” tanya Dara dengan tatapan kesal.


“Hey, siapa juga yang mengatakan menikah adalah maninan?” Dave yang mendengar malah balik bertanya dan menatap Dara bingung. “Aku benar mengajakmu menikah, Dara.”


Dara kembali menghembuskan napas dan memutar bola mata jengah. Rasanya dia ingin sekali memukul pria di depannya. Namun, Dara mengurungkan niat. Dia hanya membalik tubuh Dave dan kembali mendorong pelan.


“Keluar, Dave. Aku mau tidur. Aku lelah,” ucap Dara dengan perasaan kesal.


Memangnya dia pikir aku bisa bersikap biasa kalau dia terus saja menggodaku, batin Dara dengan bibir cemberut.


Dave yang hampir berada di mulut pintu segera menghentikan langkah. Dia memilih membalik badan dan menarik Dara dalam dekapannya. Menatap wajah yang terlihat masam, membuat bibirnya menglum senyum tipis.


“Kamu yakin tidak mau menikah denganku?” tanya Dave dengan senyum tipis.


Lagi, gerutu Dara dalam hati. Dia hanya diam dan berusaha melepaskan pelukan Dave, sampai sebuah ciuman menghentikan aksinya. Matanys beralih menatap ke arah Dave yang masih saja menatapnya lekat.


“Kamu mau menikah denganku?” tanya Dave untuk kesekian kalinya.


“Dave, menikah itu hal sakral dan tidak bisa dipermainkan. Kamu tahu itu, kan?” ucap Dara mulai pasrah dengan sikap Dave.


“Iya, aku tahu. Lagi pula aku mengatakannya juga denganbserius, Dara. Aku serius mengajakmu menikah,” sahut Dave santai.


“Serius?” ulang Dara dengan mata menyipit, menatap Dave dengan sangat lekat. “Aku bahkan tidak melihat keseriusan di wajahmu.”


Kini giliran Dave yang menghela napas kasar. Matanya langsung menatap Dara dan menarik pinggang wanita tersebut agar semakin mendekat denganya. “Apa aku tidak telrihat serius, sayang?” tanya Dave dengan suara menggoda.

__ADS_1


Dara yang mendengar hanya tersenyum dan menunjukan deretan giginya. Sampai dia merasakan Dave mencium pipinya cepat, membuat matanya memejam. Diikuti dengan ciuman lain di setiap bagian wajahnya, sampai berhenti tepat di bibir Dara.


Dave menatap bibir yang terasa menggoda untuknya. Namun, Dave mengurungkan niat. Dia memilih menuju ke arah telinga Dara dan berhenti tepat di sebelahnya. “Bagaimana, apa kamu masih tidak percaya kalau aku serius mengajakmu menikah?” bisik Dave membuat Dara kembali membuka mata.


Dara mengulas senyum tipis dan menatap Dave lekat. Dia memilih mengalungkan tangan di leher Dave dan menatap dengan senyum tipis. “Kenapa kamu mengajakku menikah? Kita bahkan baru kenal belum lama. Kamu mengajakku mencoba untuk berpacaran dan sekarang menikah? Apa kamu juga mengira sebuah pernikahan adalah hal yang bisa dipermainkan?” tanya Dara mencoba memastikan.


Dave yang mendengar tertawa kecil dan mulai menundukan tubuh. Membuat matanya mulai beradu dengan pandangan lembut milik Dara. “Aku tahu ini aneh, tetapi aku merasa yakin ingin menikah denganmu. Dan tenang saja, aku tetap menganggap bahwa pernikahan adalah hal sakral yang tidak bisa dipermainkan,” jawab Dave dengan senyum manis.


“Jadi, kamu mau menikah denganku atau aku harus mencari wanita lain lagi?”


“Baiklah, aku mau,” jawab Dara dengan wajah bersemu merah.


Dave yang mendengar menghela napas perlahan. Dengan cepat, dia menarik Dara dan memeluk erat. Hal yang membuat Dara tersenyum senang. Rasanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Semua terasa begitu cepat dalam benak pikirannya.


“Aku rasa besok aku akan meminta izin dengan Alice untuk menikah dengan mantannya,” gumam Dara dengan tawa tertahan.


“Rensi? Siapa?” tanya Dara dengan pandangan menyelidik.


“Dia juga mantan kekasihku. Sama seperti Alice. Dia juga sudah memiliki suami dan anak seusia Mikail,” jawab Dave.


“Apa kamu setua itu sampai mantan kekasihmu juga sudah memiliki anak, Dave?” tanya Dara dengan tawa tertahan.


“Iya dan kamu wanita beruntung yang mendapatkan pria tua itu,” ucap Dave yang kembali menarik Dara dalam dekapannya.


Dara hanya tertawa kecil ketika Dave mencium bibirnya sekilas. Sampai dia melihat senyum lepas dari arah Dave. Hal yang membuat Dara lega seketika.


Aku harap selamanya mata itu hanya tertuju kepadaku, batin Dara penuh harap.


_____

__ADS_1


“Kamu makan sebanyak ini sendiri, sayang?” tanya Bara dengan pandangan tidak percaya. Matanya mengamati berbagai jenis makanan ringan yang tergeletak di meja ruang tamu di penginapannya.


Alice yang tengah asyik memakan es krim menatap Bara dengan senyum tipis. “Akhir-akhir ini nafsu makanku bertambah, Mas. Aku sering merasa lapar dan ingin makan sesuatu,” jelas Alice sembari menatap Bara lekat.


Bara yang mendengar menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia memilih duduk di dekat Alice yang masih asyik dengan makananya. Mengamati tubuh yang kian mengembang.


Apa dia hamil, batin Bara ketika melihat perut Alice yang masih rata, membuat pemikirannya lenyap seketika.


“Mas, besok aku mau makan udang di restoran tidak jauh dari sini. Kamu mau mengantarku, kan?" tanya Alice tanpa menatap Bara sama sekali.


“Apa? Udang? Bukannya kamu tidak bisa makan udang?” Bara balik bertanya dan menatap Alice lekat. Dia benar-benar merasa aneh dengan sikap istrinya.


Alice yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Bara. “Mas, aku itu pengin banget makan udang. Boleh ya?” pinta Alice dengan tatapan memelas.


Bara yang mendengar terpaksa mengangguk setuju. Mengatakan tidak pun tidak akan ada bedanya. Alice akan tetap kekeh dengan apa yang diinginkannya. Hal yang membuat Alice segera mendekap Bara erat. Rasaya dia sangat bahagia karena Bara selalu menuruti apa keinginannya.


Bara baru membuka mulut dan siap mengatakan sesuatu. Namun, niatnya terhenti karena suara ketukan pintu yang mulai terdengar, membuat Alice segera melepaskan dekapan dan melangkah ke asal suara.


Bara menatap Alice yang mulai membuka pintu, menghadirkan pelayan dengan piring berisi puding, membuat Bara membelalak tidak percaya.


“Sayang, siapa yang memesan itu?” tanya Bara dengan pandangan menyelidik.


Alice sudah menutup pintu dan melangkah mendekati Bara. “Aku, Mas. Aku pengin banget puding,” jawab Alice dengan senyum canggung.


Astaga, lagi?, batin Bara merasa tidak percaya.


_____


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan jangan lupa tinggalkan vote. See you next chapter sayang. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2