Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 92_Kebahagiaan


__ADS_3

Dara menghela napas pelan dan mulai mendudukan tubuhnya di sofa. Berulang kali dia membuka ponsel dan menatap pesan yang sama. Mengamati maksud dari sang pengirim yang jelas tidak diketahui apa tujuannya.


“Apa maksudnya ini? Jangan menikah atau kamu akan berpindah tempat,” gumam Dara dengan pandangan bingung. Sejak tadi dia terus berpikir hal yang sama terus-menerus. Bahkan, dia sampai tidak fokus membantu Renita yang tengah membuat kue.


Astaga, kenapa malah semakin kepikiran, batin Dara dengan perasaan kesal. Dia sudah meremas kesal ponsel di tangan dan hampir saja melempar jika saja pintu di dekatnya terbuka. Membuat Dara menatap ke arah suara dan menghela napas pelan.


“Kamu kenapa?” tanya Dave yang baru saja datang dan mendapati wajah tanpa semangat milik kekasihnya.


“Aku baru saja menerima pesan aneh,” jawab Dara dengan wajah manyun. “Aku sudah berusaha menelaah, tetapi tetap saja tidak ketemu jawabannya.”


“Pesan?” ulang Dave sembari duduk di dekat Dara dan mengulurkan tangan. “Mana, aku lihat.”


Dara yang mendengar hanya diam dan meletakan ponsel di tangan Dave. Dave segera membuka pesan masuk tersebut dan mengerutkan kening dalam.


Siapa yang berani mengancam Dara seperti ini, batin Dave.


“Sudah dapat maksudnya?” tanya Dara dengan tatapan santai.


Dave menatap ke arah Dara dan memberikan ponsel tersebut. “Jangan pikirkan. Itu hanya orang iseng yang mencoba menggagalkan rencana pernikahan kita,” jawab Dave singkat.


Dara mengangguk pelan dan kembali diam. Rasanya tetap saja aneh ketika seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali mengirimi pesan aneh yang terkesan mengancam. Namun, Dara tetap berusaha santai dan tidak menunjukan kecemasannya.


Apa ini kerjaan Herman, batin Dara penuh rasa curiga.


“Dara,” panggil Dave pelan dan berhasil mengalihkan fokus Dara yang sejak tadi diam. “Aku baru saja menemui papa tirimu,” lanjut Dave pelan.


“Apa? Untuk apa kamu menemuinya, Dave?” tanya Dara dengan pandangan lekat.


Dave menarik napas pelan dan mengembuskan pelan. Matanya menatap ke arah Dara dengan pandangan yang berubah serius. Perlahan, tangannya mulai meraih jemari Dara dan menggenggam erat.


“Dara, bagaimanapun kita akan menikah, kan? Aku tidak mau kalau nantinya aku dicap menjadi suami yang tidak bertanggung jawab. Itu sebabnya aku datang dan mengatakan dengan papamu mengenai hal ini dan dia menyetujuinya. Aku mau kita menikahi dengan restu mereka, sayang,” jelas Dave dengan senyum tipis.

__ADS_1


Sayang? Dara yang baru pertama kali mendengar Dave memanggilnya sayang hanya diam dengan bibir mengulas senyum tertahan. Dia tidak mau kalau nantinya Dave mengetahui debar jantung yang tidak beraturan. Namun, Dave yang sejak tadi mengamati perilaku Dara tersenyum kecil dan mengacak rambut Dara pelan.


“Jangan seperti anak ABG yang baru pacaran, Dara. Usia kita bahkan sudah cukup untuk menjalin hubungan yang serius,” celetuk Dave dengan gelengan kecil.


“Maksudnya?” Dara mengerutkan kening dalam. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Dave.


Dave segera menatap Dara lekat dan mengulas senyum tipis. “Ini wajah kenapa memerah? Nervous? Atau selama ini kamu tidak pernah pacaran dan mendapat panggilan sayang?” tebak Dave dengan tawa tertahan.


Dara yang mendengar membelalakan mata dan memukul Dave cepat. Dia hanya mendengus pelan dan mengalihkan pandangan dari Dave. Membuat Dave semakin tersenyum senang.


Rasanya aku memang memiliki hobi baru sekarang, batin Dave dengan tawa kecil.


Dara yang melihat Dave masih saja menertawakannya hanya berdecak kecil dan bangkit. Namun, baru saja dia hendak pergi, tangan Dave kembali menariknya dan mendekap lembut. Membuat Dara terduduk dengan detak jantung yang kian bergemuruh.


“Jangan pergi, aku masih rindu,” bisik Dave tepat di telinga Dara.


Astaga Tuhan, kenapa pria tua ini menjadi seperti ini. Gimana kalau dia mendengar detak jantungku. Bisa malu aku, batin Dara.


_____


“Apa, sayang?” sahut Bara dengan suara lembut.


Alice yang mendengar melangkah ke arah Bara berada dan mendekap lembut. Matanya mengamati wajah lelah Bara yang berubah menjadi penuh curiga. Membuat Alice memanyunkan bibir. Namun, setelahnya dia kembali mengulas senyum tipis dan menatap Bara lekat.


“Kenapa, sayang?” tanya Bara lagi. Dia yakin ada hal yang diinginkan istrinya.


“Mas, aku ingin makan masakan kamu. Kamu maukan masak buat aku?” cicit Dara dengan penuh permohonan.


Bara terdiam sejenak. Mengamati wajah memelas Alice yang semakin membuatnya gemas. Namun, dia mencoba menahan senyumnya dan memasang wajah serius.


“Mas,” panggil Alice kembali. Dia takut kalau nantinya Bara akan marah dengan keinginannya.

__ADS_1


Bara yang dipanggil berdehem kecil dan menatap Alice serius. “Kalau mas mau, kamu mau kasih mas apa?” tanya Bara.


“Hah? Mas mau minta bayar?” Alice menatap ke arah Bara dengan kening berkerut heran. Sejak kapan suamiku menjadi mata duitan?, batin Alice masih merasa tidak yakin.


“Jelas dong,” sahut Bara dengan penuh rasa percaya diri. “Di zaman sekarang mana ada yang gratisan, sayang,” imbuh Bara semakin membuat Alice terkejut.


Perlahan, Bara mulai menarik pinggang Alice, membuat istrinya semakin dekat dan memeluk lembut. Matanya menatap ke arah Alice yang bingung. Hingga dia memberikan kecupan pelan di bagian pipi Alice, menyadarkan sang istri dari lamunan panjangnya.


“Mas mau minta jatah nanti malam. Boleh? Sebagai pengganti bayaran masak nanti,” bisik Bara sembari mengulum senyum tipis.


Alice membelalakan mata dan menepuk lengan Bara pelan. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Namun, Bara yang melihat malah semakin tertawa keras dan mendekap Alice erat.


“Mas, sudah. Berhenti ketawanya,” protes Alice dengan bibir memberengut kesal.


Bara yang mendengar langsung berusaha menghentikan tawa dan menatap Alice, meminta jawaban dari apa yang sudah diinginkannya. Membuat Alice menghela napas dan mengangguk pelan sembari menyembunyikan wajah karena malu.


“Baiklah. Chef Bara akan buatkan makanan untuk istri tercinta,” celetuk Bara sembari melepaskan dekapan.


Alice hanya mendengus kesal melihat Bara yang sudah melangkah ke arah dapur dengan pakaian kerja. Namun, setelahnya dia tersenyum dengan penuh kebahagiaan.


Aku sangat bahagia hidup denganmu, Bara. Aku sangat bahagia, batin Dara merasa terharu karena Bara yang selalu mengutamkan kebahagiaannya.


Sedangkan di tempat lain, Bella tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan pandangan bimbang. Mengamati penampilannya yang menggunakan berwarna putih dengan bagian atas terbuka, ditambah usapan make up tipis yang semakin mempercantik wajahnya.


Bella masih asyik melamun saat pintu terbuka, menghadirkan Ryan dengan pakaian rapi. “Kamu sudah siap, Bella?” tanya Ryan dengan suara berat.


Bella memejamkan mata sejenak dan mengangguk pelan. Dia menatap ke arah Ryan yang sudah mengulurkan tangan dan menatap lembut. Hingga dia memilih meraih uluran tersebut dan mulai bangkit.


“Kamu yakin akan mencintai dan tidak melukaiku?” tanya Bella dengan pandangan cemas.


Ryan mengangguk dan mengulas senyum tipis. “Aku berjanji, Bella. Kalau sampai aku menyakitimu, kamu bisa bebas dan pergi dari kehidupanku,” jawab Ryan penuh keyakinan.

__ADS_1


_____


__ADS_2