Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 71_Masa Lalu


__ADS_3

“Pagi, Ma,” sapa Dave dengan senyum sumringah. Matanya menata ke arah sang mama yang sudah menyiapkan makanan untuknya. Dia mulai mendekat dan memberikan kecupan pagi yang membuat Renita tersenyum ke arah sang anak. Setelah selesai, Dave memilih duduk dan mengambil piring di tangan sang mama.


Renita menarik napas dalam dan mengembusknanya perlahan. “Dave, hari ini kamu ada acara?” tanya Renita dengan tatapan lekat.


“Tidak, Ma. Kenapa?” ucap Dave sembari memasukan sesuap nasi dan menyungah pelan.


“Nanti bisa ikut dengan mama?”


“Ke mana?” Dave melirik sang mama dengan tatapan mengamati. Pasalnya, Renita jarang mengajaknya keluar jika bukan dalam masalah penting. Ya,dia tahu mamanya tidak mau menyusahkan orang lain. Itu sebabnya Dave hanya membiarkannya saja dan yakin sang mama bisa melakukannya.


Renita mulai menelan makananya dan menatap Dave lekat. “Mama mau mengenalkanmu dengan anak teman mama. Dia itu cantik, baik. Mama yakin kamu akan suka denganya,” sahut Renita dengan semangat menggebu.


Dave yang mendengar bahkan hampir saja tersedak. Matanya menatap ke arah mamanya dan mulai menelan makanan perlahan. Tangannya menyambar gelas berisi air dan meminum hingga setengah. Setelahnya, dia menatap Renita yang masih memandangnya penuh harap.


“Mama mohon ya,” pinta Renita dengan padangan memelas.


Dave yang mendengar menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Ma, bukannya Dave mau menolak, tetapi Dave tidak bisa bertemu dengan anak sahabat Mama,” tolak Dave dengan nada lembut.


“Kenapa?” tanya Renita dengan pandangan penuh kekecewaan.


Dave terdiam seketika. Perlahan, tangannya mulai terulur dan meraih jemari Renita, meremas perlahan. Bibirnya mulai mengukir senyum tipis ke arah sang mama, mencoba meredam rasa kecewa yang sudah jelas tergambar.


“Ma, mama jangan sedih begitu dong. Dave bukannya tidak mau bertemu, tetapi Dave tidak bisa menerima perjodohan yang nantinya akan Mama lalukan,” ucap Dave tanpa merasa bersalah sama sekali.


Renita berdecih kesal dan menatap ke arah Dave. “Mama bahkan belum mengatakan bahwa mama akan menjodohkan kalian,” gumam Renita sembari mengalihkan pandangan.


“Tetapi akan, kan?” goda Dave dengan tawa kecil. Dia mulai bangkit dan mendekap sang mama erat. “Dave tidak mau dijodohkan dengan siapapun, Ma. Jadi, mama jangan mencarikan Dave wanita untuk dijadikan pendamping Dave, ya?”


“Kenapa?’ tanya Renita sembari mendongak, menatap ke arah sang anak lekat.


“Karena Dave ingin mencari wanita itu sendiri dan Dave sudah memilihnya.”

__ADS_1


“Kamu serius?” Renita melepaskan pelukan Dave dan menatap dengan pandangan lekat. Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang anak.


Dave yang mendengar mulai menganguk pelan. Membuat bibir sang mama mulai merekahkan senyum. Meski dia sendiri belum yakin mengenai hatinya, tetapi mengakui hal tersebut dengan sang mama adalah pilihan terbaik. Setidaknya ini bisa mencegah mama mencarikanku pasangan, batin Dave.


“Bawa dia kemari. Mama ingin bertemu,” ucap Renita dengan senyum sumringah.


“Iya, Dave akan membawa dia datang ke rumah hari ini juga.”


_____


Dara mengulas senyum tipis ketika melihat masakan didepannya. Dengan cekatan, tangannya mulai memindahkan masakan ke dalam piring dan mulai menyantapnya, sembari menikmati lagu kesukaan miliknya.


Dara mulai mengunyah makanan tersebut santai. Sampai dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangan. Dara menatap ke arah posel yang ada di dekatnya dan tersenyum senang. Tangannya segera meraih ponsel dan mengangkat panggilan cepat.


“Halo, Dave,” sapa Dara sembari menguyah makananya. Dengan asyik dia mendengarkan Dave yang tengah berceloteh diseberang panggilan. Sampai dia menghentikan gerakan tangannya dan mengulas senyum bahagia.


“Aku akan segera bersiap dan akan selesai saat kamu sampai apartemen,” ucap Dara dengan penuh semangat. Bibirnya masih mengulas senyum lebar dan segera mematikan pangilan. Tanpa menyelesaikan sarapannya, Dara memilih bangkit dan menuju ke kamar.


“Dave akan datang dan menjemput. Aku harus cepat bersiap,” gumam Dara penuh semangat. Dia segera menuju ke arah lemari pakaian dan mengambil dress berwarna biru. Segera melangkah ke kamar mandi.


“Cantiknya,” kata Dara memuji diri sendiri. Dia masih terkikik kecil ketika sebuah bunyi bel membuat tawanya terhenti.


Itu pasti Dave, batin Dara semangat.


Dara segera melangkah menuju ke arah pintu di rumahnya dan membuka lebar. Namun, baru saja bibirnya terbuka dan siap menyapa, Dara dibuat terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Bahkan, senyumnya sudah menghilang dan berganti dengan pandangan kaku.


“Apa kabar, putriku tersayang?”


“Kamu, untuk apalagi kamu menggangguku? Dasar tua bangka tidak tahu diri,” desis Dara dengan tatapan tidak suka.


“Aku hanya ingin menjengukmu, Dara. Aku merindukanmu.”

__ADS_1


“Dan aku membencimu pria tidak tahu diri,” sahut Dara dengan tatapan sinis.


Dara masih menatap ke arah pria di depannya. Tidak ada keramahan sama sekali. Sampai sebuah panggilan ringan terdengar, membuat fokusnya langsung teralihkan. Matanya semakin membelalak menatap sosok yang tengah berdiri dan menata0nya lekat.


“Dave,” gumam Dara sembari menelan salivanya kasar.


_____


Dave menatap ke arah Dara yang ada di depannya dengan pandangan ramah. Tidak ada kecurigaan sama sekali sampai langkahnya terhenti tepat di depan pintu rumah wanita tersebut. Dia bahkan sudah mengabaikan pria yang ada tepat di sebelahnya.


“Sudah siap?” tanya Dave sembari mengulas senyum tipis.


Dara yang mendengar mengangguk pelan sembari menekan salivanya serat. “Aku ambil tas dulu,” cicit Dara yang langsung berlalu, meninggalkan pria tua yang sudah menatapnya datar.


Dave hanya mengangguk, menatap Dara yang sudah memasuki kamarnya. Bahkan, tidak ada sepatah katapun yang keluar ketika dia menungu Dara. Baginya, tidak penting siapa yang ada di dekatnya. Sampai akhirnya, Dara kembali dengan tas kecil dan berhenti di depannya.


“Ayo kita berangkat,” ucap Dara mengabaikan papa tirinya.


Dave mengangguk pelan dan hendak memutar tubuh. Namun, dia menghentikannya dan menatap pria tersebut lekat. “Anda tidak pulang? Dara akan berangkat bekerja,” ucap Dave dengan pandangan bingung.


“Pulang? Kenapa aku harus pulang? Aku datang ke rumah kekasihku sendiri,” ucap pria tersebut tanpa tahu malu.


Dave mengerutkan kening heran dan menaap ke arah Dara lekat. Mengamati wajah terkejut Dara yang membuatnya bertanya. “Apa itu benar, Dara? Pria ini kekasihmu?”


Dara menatap Dave dan menggeleng. Namun, baru saja muutnya terbuka dan bersiap melakukan protes, sang papa sudah lebih dulu menyela, membuat ucapan Dara hanya menggantung di udara.


“Apa kamu tidak mau mengakuiku, Dara? Bukannya aku bahkan sudah tahu semua mengenaimu? Lalu, apa pantas aku disebut papa dan bukan kekasih?”


“Diam. Aku tidak pernah mau melakukannya denganku!” bentak Dara dengan emosi menggebu.


“Kenapa? Kamu malu mengakui bahwa kamu selalu menikmati sentuhan dari papa tirimu ini?”

__ADS_1


Dara yang mendengar hanya terdiam. Matanya memejam. Merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari dirinya. Kenapa rasanya sulit melupakan masa lalu kelam, batin Dara.


_____


__ADS_2