Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 61_Awal Hubungan Baik


__ADS_3

Margareth menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap gambaran dirinya yang tengah memeluk Surya dengan senyum merekah. Hingga air matanya mulai mengalir, memberikan setitik luka yang langsung diraskaan.


“Sudah lama mama tidak melihtamu, sayang. Sudah lama mama tidak memeluk dan dekat seperti saat ini,” gumam Margareth sembari mendekap fotonya erat. Hal yang sangat dirindukan, berharap jika saja saat itu dia tidak bodoh dan melakukan hal yang tidak seharusnya.


Margareth menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Mencoba menenangan dirinya yang sempat bergejolak. Bunyi bel rumah kembali terdengar hingga berulang kali. Sampai matanya menatap salah satu asisten rumah tangga melangkah ke arah pintu ruang utama.


Margareth mengabaikan siapa yang datang dan lebih memilih menatap gambaran kedekatannya bersama dengan Surya. Dulu.


“Mama.”


Margareth yang mendengar langsung mendongak dan menatap ke asal suara. Matanya melihat Surya dengan balutan pakaian kerja dan sudah berdiri di depannya. Surya mengulas senyum tipis dan langsng mendekat ke arah mamanya.


“Apa kabar, Ma? Mama baik-baik saja?” tanya Surya yang langsung duduk di dekat mamanya.


“Kamu datang, Nak? Kamu datang ke sini?” Margareth menatap ke arah Surya dengan pandangan tidak percaya. Rasanya semua terasa seperti mimpi untuknya. Pasalnya, Surya sudah lama tidak menginjakan kaki di rumahnya. Tepatnya, saat istri pertamanya meninggal.


Surya mengangguk dan mengulas senyum tipis ketika tangan Margareth masih mengelusnya pelan. Ada rasa bersalah yang langsung terlintas di dalam hatinya ketika melihat sosok mamanya yang terliat lebih menuda. Dia hanya menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.


“Ma, Surya ke sini bukan tanpa alasan. Surya ingn mengatakan jika Alkce sebentar lagi akan menikah. Surya harap mama akan datang dan memberikan restu mama untuk Alice.”


“Alice menikah? Dengan Bara?” tanya Margareth dengan mata mengamati dan mendapat anggukan, membuat bibirnya mengulas senyum tipis dan perasaan lega.


“Aku lega pada akhrinya Alice mendapat calon suami yang baik,” ucap Margareth dengan tulus. Matanya mentap ke arah Surya dengan pandangan lekat. “Tetapi, kamu yakin akan mengundang mama ke acara itu? Kamu tahu sendiri bagaimana mama memperlakukan kalian, kan? Kamu masih saja yakin dengan itu?” tanya Margareth mencoba memastikan. Dia merasa tifak masalah jika Surya belum yakin untuk mengundangnya.


Surya yang mendengar menggenggam erat jemari mamanya dan menatap penun cinta. “Surya yakin, Ma. Surya yakin kalau mama sudah berubah. Mama mau menerima Alice dan Bara, itu juga sudah merupakan hal besar yang mama lakukan. Surya yakin, semua akan baik-baik saja dan Mama sebagai neneknya harus hadir di sana. Menyaksikan pernikahan cucu Mama.”


Margareth langsung memeluk Surya erat, menitikan air mata yang terus saja berlinang. “Maafkan mama, Surya. Mama menyesal pernah melakukan hal semacam itu. Maafkan mama,” ujar Margareth dengan tangis tergugu.


“Tidak masalah, Ma. Kita lupakan semuanya saja. Kita lupakan semua yang pernah terjadi dan memulai hidup baru.”

__ADS_1


Margareth mengangguk pelan dan melepaskan pelukannya. “Kamu sudah mempersiapkan keamanan di sana? Rony pasti akan mengganggu pernikahan Alice. Dia masih mencintai Alice, Surya,” ujar Margareth dengan rasa takut yang melanda.


“Tenang, Ma. Surya sudah memprediksi semuanya. Jadi, Mama tenang saja, ya?”


Margareth mengangguk patuh. Berharap semua yang dilakukan Surya adalah yang terbaik.


_____


“Jadi, mereka menikah minggu depan?” ucap Rony dengan mata menatap lekat. Dia sudah duduk di bangku kebesarannya dengan rahang mengeras. Tangannya masih menggenggam undangan yang diberikan salah satu anak buahnya. Sampai akhinya dia mulai membanting keras kertas tersebut dan bangkit dengan mata penuh amarah.


“Aku tidak terima jika dia harus menikah dengan Bara. Aku tidak akan pernah membiarkannya menikah begitu saja. Sampai kapan pun, dia hanya boleh menjadi milikku!” teriak Rony dengan rasa menggebu. Matanya sudah menggelap dengan urat yang mulai tampak.


“Apa yang harus kami lakukan, Bos?” tanya salah satu anak buah yang sejak tadi berdiri di depannya.


Rony segera menatap ke asal suara dengan bibir mengatup rapat. “Siapkan anak buah kita untuk menyambut pernikahan mereka. Kita akan berpesta dan menggagalkannya,” perintah Rony dengan tatapan serius.


“Baik.”


“Anak buahmu tampak begitu sibuk, Rony. Apa ada masalah?”


“Diam kamu, Ryan. Aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu,” desis Rony dengan pandangan yang tidak dapat dinegosiasi.


Ryan yang mendengar hanya mengangkat kedua tangan, berusaha santai dengan Rony yang sudah mengenal keluarganya cukup lama. Sampai matanya menatap ke arah meja, di mana undangan Bara dan Alice tergeletak.


“Kamu mendapatkan undangan dari Bara?" tanya Ryan dengan pandangan lekat. Seingatnya, Bara tidak bekerja di bidang yang sama dengan mereka.


“Kamu menegnalnya?” Rony balik bertanya, menatap Ryan dengan penuh selidik.


“Dia mantan kekasih Bella. Aku rasa Bella juga hadir ke sana,” jawab Ryan santai.

__ADS_1


“Bagus,” sahut Rony membuat Ryan mengerutkan kening bingung.


Ada apa dengan pria di depannya, batin Ryan tidak paham. Namun, melihat senyum misterius dari Rony. Ryan memilih diam dan tidak menanyakan lebih lanjut. Biarkan saja Rony dengan pemikirannya.


_____


Galuh melongok ke luar gerbang ketika mendengar suara mobil berheti tepat di depan rumahnya. Matanya menatap ke arah Bara yang sudah berdiri dan menatap Alice lekat. Namun, dia memutuskan keluar ketika dilihat Bara sudah mendekat dan bersiap memeluk Alice yang ada di depannya.


“Mama,” ucap Bara dengan senyum canggung. Tangannya mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Galuh hanya mengulum senyum ketika melihat Bara dan Alice yang salah tingkah. “Kamu masuk ya, sayang. Mama mau berbicara dengan Bara,” ucap Galuh dengan suara lembut.


Alice mengangguk dan segera melangkah, sesekali menatap ke arah Bara yang juga menatapnya. Galuh yang melihat berdehem, membuat keduanya tersenyum malu dan mengalihkan pandangan.


“Bara,” panggil Galuh ketika Alice sudah masuk sepenuhnya.


Bara hanya diam dan memilih menatap Galuh lekat. Sampai akhirnya, dia merasakan elusan di wajahnya, membuat Bara terdiam seketika.


“Mama senang karena kamu mendapatkan wanita baik sebagai istrimu, sayang. Mama yakin, Alice akan membuatmu bahagia. Dia adalah wanita baik dan mama sangat yakin itu. Jadi, mama minta agar kamu jangan menyakitinya, Bara. Tetaplah berada di sampingnya apa pun yang terjadi. Menjadilah pria yang bertanggung jawab kepada istrimu. Bahagiakan dia,” ujar Glauh memberi petuah. Dia enggan kejadian dirinya kembali terulang dengan Alice yang tidak bersalah sama sekali.


Bara menangkup jemari Galuh dan menatap mamanya lembut. “Bara janji akan membahagiakan Alice, Ma. Bara tidak akan pernah meninggalkanya. Bara janji,” ucap Bara.


Galuh yang mendengar menghela napas perlahan dan mendekap Bara, merasakan kebahagiaan yang terasa meluap. Membuat Alice yang ada di belakang gerbang tersenyum seketika.


“Aku bahagia karena pada akhirnya kamu bisa melupakan masa lalu dan mulai berdamai, sayang,” gumam Alice sembari menghapus air matanya perlahan.


_____


Loha semuanya. Kim kembali lagi setelah lama tidak hadir di Relationship Goals. Kalian rindu Kim atau rindu bang Bara dan teh Alice nih? Hehe

__ADS_1


Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Baca juga cerita Kim yang lain berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2” ya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. See you next chapter sayangkuh dan jangan lupa jaga kesehatan 😘😘


__ADS_2