
Dave melangkah memasuki kantor dengan senyum sumringah. Menunjukan rasa bahagia yang entah dari mana datangnya. Membuat seluruh karyawan yang menyapanya menatap dengan pandangan bingung, merasa aneh dengan sikap Dave yang berbeda dengan biasanya. Namun, dia hanya menikmati begitu saja apa yang sedang dirasakannya kali ini.
Dave baru akan memasuki ruangannya ketika sebuah deheman pelan menghentikan gerakannya. Dave segera menatap ke asal suara dan tersenyum lebar.
“Hai, Ael,” sapa Dave dengan penuh kebahagiaan.
“Apa kamu baru mendapatkan undian berhadian dan kamu menang?” tanya Michael dengan pandangan mengamati. Merasa penasaran dengan hal yang membuat Dave bahagia sepagi ini.
“Tidak, memangnya kenapa?” sahut Dave dengan wajah bingung.
“Aku melihatmu pagi ini sangat bahagia. Jadi, aku pikir kamu baru saja menang undian berhadiah,” jelas Michael santai.
Dave yang mendengar berdecak kecil dan tertawa. Matanya menatap ke arah Michael yang menatapnya lekat. “Bukankah pagi hari itu memang harus dimulai dengan senyum, Ael? Aku hanya melakukannya saja,” ujar Dave dengan kekehan kecil.
Michael yang mendengar menatap ke arah Dave yang sudah membuka pintu ruangan dan masuk. “Apa dia baru saja kesambet setan jalanan,” gumam Michal dan mulai mengikuti Dave masuk.
Dave memilih duduk di sofa ruangannya dan menatap langit kantor dengan pandangan lekat. Membuat Michael semakin bingung dibuatnya.
“Aku tahu ada hal yang kamu sembunyikan kali ini, Dave,” ucap Michael membuat fokus Dave teralihkan. “Meski kita tidak mengenal sejak kecil, tetapi aku cukup mengerti dengan sikapmu.”
“Aku memang tidak bisa bermain denganmu, Michael,” sahut Dave yang mulai menegakan badan. “Aku memang sedang bahagia. Pagi ini, lamaranku diterima,” celetuk Dave santai.
“Kamu melamar siapa?” tanya Michael bingung.
“Dara,” jawab Dave tegas.
“Kamu serius? Kamu malamarnya?” tanya Michel dan mendapat anggukan dari arah Dave. Michael yang melihat menghela napas lega da menepuk pundak Dara pelan. “Aku harap kamu tidak sedang bermain dengannya, Dave.”
“Awalnya aku memang bermain dengannya, Michael. Aku mencoba berpacaran dengannya. Aku tidak pernah berpikir sampai di detik ini. Namun, aku merasa tidak rela ketika melihatnya bersama dengan pria tua bangka itu,” jelas Dave dengan rahang mengeras. Merasa kesal dengan sikap papa tiri Dara yang seenaknya saja.
“Pria tua? Maksudnya?” tanya Michael dengan kening berkerut bingung.
“Iya. Dara memiliki papa tiri dan pria itu pernah memperkosa Dara. Itu sebabnya Dara memilih pindah rumah, tetapi sayangnya, papanya tetap saja mengikuti. Jadi, aku membawa dia ke rumah. Aku tidak mau kalau nantinya akan ada hal buruk yang terulang lagi,” oceh Dave dengan emosi tertahan.
“Itu sebabnya kamu melamar dia?” tebak Michael dengan pandangan lekat.
__ADS_1
Dave mengangguk pelan dan menatap Michael tidak kalah serius. “Awalnya begitu, tetapi pagi ini aku merasakan hal berbeda. Aku benar-benar takut kehilangan dirinya.”
Michael hanya mengangguk mengerti. Mulutnya baru terbuka ketika pintu rungan Dave terbuka, menghadirkan seorang wanita dengan pakaian rapi tersenyum ke arahnya.
“Maaf mengganggu, Tuan. Ada nyonya Vinda di ruangan anda,” ucap wanita tersebut sopan.
Michael mengangguk kecil dan menatap Dave. “Aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu melupakan Rensi. Sekarang aku harus kembali ke ruangan karena istriku tersayang ada di sana,” kata Michael sembari menepuk pundak Dave pelan.
Dave menghela napas keras ketika melihat Michael sudah keluar dari ruangannya. “Aku harap saat aku menikah dengan Dara, aku tidak akan menjadi seperti Michael,” gumam Dave pelan.
_____
“Saat ini Nyonya Alice hanya mengalami peningkatan nafsu makan saja. Mungkin diakibatkan karena aktivitas berlebihan dari biasanya. Jadi, membuat tubuhnya memerlukan banyak asupan gizi yang jauh lebih banyak dari ukuran biasanya,” jelas wanita yang ada di depan Bara dan Alice.
“Jadi, saya tidak hamil, dok?” tanya Alice lirih.
“Maaf, untuk saat ini tidak,” jawab sang dokter dengan senyum tipis. Membuat Alice menunduk lemah.
Bara melirik ke arah Alice yang hanya diam dengan wajah menunduk. Seketika, membuat rasa bersalah mulai muncul dalam hatinya. Perlahan, tangannya mulai beralih ke arah tangan Alice dan meremas pelan jemari wanita tersebut, membuat Alice mendongak dan menatapnya.
Bara menatap ke arah wanita di depannya dan mengulas senyum tipis. “Kalau begitu, terima kasih, Dok,” ucap Bara sembari mengulurkan tangan yang langsung dijabat olehnya.
Bara mulai bangkit, diikuti Alice yang hanya memasang senyum tipis. Perlahan, kakinya mulai melangkah keluar ruangan dengan langkah malas. Mengikuti Bara yang membawanya keluar rumah sakit.
Bara mulai menghentikan langkah ketika berada di depan mobilnya dan membalik tubuh, menatap Alice lekat. “Maaf,” cicit Bara penuh penyesalan.
Alice yang mendengar menatap ke arah Bara lekat. Mengamati wajah yang terlihat tanpa semangat di depannya. “Maaf untuk apa, Mas?” tanya Alice lirih.
“Maaf karena aku mekaksamu datang ke dokter kandungan,” jawab Bara lirih.
Alice yang mendengar langsung mendekap Bara erat. Rasanya ada hal yan sejak tadi mengganjal dalam hatinya. Hingga tetesan bening mulai turun. Namun, secepat mungkin langsung dihapus. Dia tidak mau jika Bara melihatnya menangis. Jujur, Alice merasa kecewa dengan apa yang terjadi padanya.
Padahal aku pikir aku benar hamil dan bisa membuat semuanya bahagia, batin Alice dengan mata memejam.
“Sayang,” panggil Bara sembari menatap Alice yang ada dalam dekapannya.
__ADS_1
“Maaf,” lirih Alice dengan mata memejam. “Maaf karena aku membuatmu kecewa.”
“Tidak,” sahut Bara lembut. “Aku tidak kecewa sama sekali. Kalau sekarang kita belum diberikan seorang anak, itu tandanya kita masih diperbolehkan untuk bermesraan. Aku masih bisa manja sama kamu. Terlebih, aku masih membuat anak sampai kita dapat,” ucap Bara dengan bibir mengulum senyum kecil.
Alice berdecak kecil dan mendongak, menatap suaminya yang sudah menahan tawa menatapnya. “Jangan mesum, Mas,” celetuk Alice dengan pandangan lekat.
“Gak masalah dong. Kan mas mesumnya sama istri sendiri,” jawab Bara enteng.
“Tetap saja tidak boleh,” kekeh Alice dengan pandangan lekat.
Bara baru akan menyangggah ucapan Alice, tetapi terhenti karena dering ponsel mulai terdengar. Dengan cepat, dia meraih ponsel di kantung celana dan menatap nama di layar yang tertera.
Papa, batin Bara sembari melirik Alice. Jemarinya mulai mengangkat panggilan dari papa mertuanya dan meletakan di dekat telinga.
“Halo, Pa,” sapa Bara membuat Alice semakin menatap lekat.
“Bara, kam sudah mau pulang? Ada hal yang harus papa bicarakan denganmu,” ucap Surya dengan nada tegas.
“Bara sudah akan pulang. Bara akan segera datang,” jawab Bara dengan wajah tidak kalah serius.
“Papa tunggu,” sahut Surya dari seberang.
Bara mematikan panggilan dan menatap Alice lekat. “Kita harus segera pulang ke rumah, sayang. Sepertinya ada masalah serius yang ingin papa bicarakan,” ucap Bara sebelum Alice menanyakan dengannya.
Alice yang mendengar mengangguk pelan dan mulai masuk. Diikuti Bara dan langsung menjalankan mobil.
_____
Jangan marahin Kim, jangan marahin Kim. Hehe, Alicenya gak hamil gaes. Cuma pengen makan banyak aja. Mungkin efek puasa.🤭🤭
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Jangan lupa jugabbaca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.
__ADS_1
See you next chapter😘😘