Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 29_Rasa


__ADS_3

Alice menghela napas perlahan ketika udara pantai menyentuh kulit mulusnya. Dia bahkan hanya diam di kursi yang diletakan di pinggir pantai. Sejak pergi dari kamar, tempat ini adalah pilihannya untuk menyendiri.


“Kenapa aku kesal sama Bella,” gumam Alice dengan wajah murung. Setiap mengingat ucapan Bella rasanya dia benar-benar tidak suka.


“Dia dengan gampangnya pergi dan sekarang ingin kembali. Dia pikir hati seseorang itu kayak parkiran,” lanjut Alice masih dengan rasa dongkol berlebihan.


Helaan napas terdengra ketika dia merasa bodoh tentang pikirannya. Namun, ketika rasa cemburu mulai kembali muncul, logikanya kembali tidak berjalan. Dia bahkan berniat mengusulkan untuk tidur kembali dengan pasangan masing-masing agar tidak melihat wajah Bella.


“Iiiihhh, sebel,” ucap Alice dengan dua tangan yan diremas dan kaki menginjak-injak pasir pantai.


Alice menghela napas perlahan dan menaikan kakinya dikursi. Tangannya memeluk erat kedua kaki yang sudah ditekuk dan mendudukan dagu. Matanya menatap pasir dengan debur air laut yang terdengar.


“Tetapi aku iri dengannya. Dia bisa bersama dengan pria yang aku suka lebih dahulu dari pada aku. Aku apa, baru juga ketemu sudah main suka saja,” gumam Alice mulai kehilangan kepercayaan diri.


Alice baru berniat menurunkan kakinya ketika udara yang semakin dingin menyentuh kulitnya. Namun, gerakannya terhenti ketika seseorang meletakan jaket tepat di tubuhnya. Membuat Alice menengok ke belakang dan langsung diam.


“Sendiri saja. Gak takut?”


_____


“Sendiri saja. Gak takut?”


“Dave,” panggil Alice pelan.


Dave yang berdiri di belakang Alice langsung tersenyum kecil dan melangkah mendekat. Dia mulai duduk dan menatap pemandangan yang sama dengan Alice. “Kamu kenapa keluar sendiri? Gak ngajak Bella?” tanya Dave sembari menatap Alice.


Alice yang mendengar tersenyum tipis dan menatap lurus ke depan. “Aku hanya mau mencari angin saja,” jawabnya pelan.


Dave yang mendengar mengerutkan kening tipis dan menatap ke arah Alice lekat. “Memangnya di kamarmu tidak ada angin?” gurau Dave membuat Alice diam.


Alice mencerna ucapan Dave dan perlahan tertawa, bersamaan dengan Dave yang ikut tertawa. Dave yang merasa Alice sudah membaik lega dan kembali mengalihkan pandangan.


“Sudah baikan?” tanya Dave yang memang merasa Alice murung sejak dirinya datang.

__ADS_1


Alice menghentikan tawanya dan mengangguk pelan. “Terima kasih.”


“Sama-sama,” jawab Dave santai. Matanya melirik Alice dan menghela napas perlahan. “Aku tidak menyangka kita bertemu di sini.”


Alice yang mendengar ikut mengangguk dan menatap pantai yang ada di hadapannya. Dia berharap hatinya akan merasa baikan ketika masuk lagi ke dalam kamar karena satu kamar bersama dengan Bella bukanlah hal yang mudah untuknya.


“Mau jalan-jalan? Kata orang, di sini banyak sekali makanan enak,” ajak Dave dengan mata meneliti. Dia ingin Alkce pergi bersamanya dengan kemauannya sendiri.


Alice yang mendapat tawaran segera mengangguk dan tersenyum. “Aku juga ingin melihat suasana malam di sini.”


Dave menghela napas perlahan dan bangkit. Dia mengulurkan tagan dan mendapat sambutan dari Alice. Kali ini, dia ingin mengenal Alice dengan baik. Setidaknya sebelum acara pertunganan dilakukan.


_____


Bara mengetuk pintu kamar Alice berulang kali dan tidak mendapat jawaban. Awalnya dia berpikir akan membuka dengan kunci yang dipegangnya, tetapi suara pintu terbuka dari dalam terdengar. Bara mengurungkan niatnya dan kembali menunggu Alice di depan kamar.


Bara melihat pintu terbuka, tetapi wajahnya semakin datar ketika melihat siapa yang tengah berdiri di depannya.


“Bara. Kamu ngapain di sini?” tanya Bella dengan wajah ceria.


Bella yang diabaikan hanya tersenyum dan menggamit lengan Bara mesra. “Ayo jalan. Aku tahu, kamu datang ke sini untuk mencariku,” ucap Bella dengan rasa percaya diri terlalu tinggi.


Bara mengembuskan napas keras dan menyentak tangan Bella keras. “Aku ke sini tidak mau mengajakmu jalan-jalan, Bella. Aku sejak tadi bertanya Alice di mana? Aku datang untuk mencarinya,” tegas Bara yang kesal karena tidak mendapat respon sama sekali.


Bella yang mendengar memberengut kesal dan menatap Bara dengan mata menyipit. “Kamu ngapain cari dia?”


“Sejak kapan pertanyaan dijawab dengan pertanyaan?” Bara memincingkan mata dan menatap Bella dengan pandangan tegas.


“Iya, iya,” jawab Bella dengan kekesalan yang ditunjukan jelas, “dia keluar dari kamar dan aku tidak tahu dia ke mana. Dia pergi begitu saja waktu aku bilang mau ngajak kamu balikan,” jelas Bella dengan jujur.


Bara yang mendengar memutar bola mata jengah dan hendak meninggalkan kamar Bella. Namun, matanya menatap dua siluet yang sangat dikenalnya. Alice dan Dave.


Seharusnya aku tahu kamu pergi menemui siapa, batin Bara dengan rasa dongkol.

__ADS_1


Dengan emosi, Bara meraih tangan Bella, membuat gadis tersebut menatap dengan pandangan bingung.


“Ayo jalan-jalan,” ajak Bara yang langsung menarik Bella untuk mengikutinya.


Bella yang masih shock membelalak ketika ditarik tanpa aba-aba. Awalnya dia hendak protes, tetapi ketika melihat wajah pria di dekatnya menatap sosok lain, dia mengurungkan niatnya. Bella mengulum senyum ketika melihat wajah Bara dan Alice yang sama-sama menyembunyikan sesuatu.


“Kalian mau ke mana?” tanya Dave ketika Bara sudah berada di depannya.


“Jalan-jalan,” jawab Bara singkat.


Bella tersenyum semanis mungkin dan menatap k arah Alice. Rupanya kalian saling suka, pikir Bella dengan wajah jahil. Dia segera mendekatkan tubuh dan memeluk lengan Bara dan tersenyum manis.


“Pak, saya keluar dulu ya. Alice, permisi,” ucap Bella yang berganti menarik Bara yang menurut saja.


Alice hanya mengangguk dan menatap keduanya melangkah semakin jauh. Rasanya dia mulai ragu dengan perasaannya sendiri. Menerima Dave adalah pilihan terbaik untuk melupakanmu, Bara.


Dave kembali mengajak Alice menuju ke kamar. Sedangkan Bara, dia menarik napas dalam ketika sudah berada di lantai dasar dan mengembuskannya perlahan.


“Bisa lepaskan?” pinta Bara sembari menunjuk tangan Bella yang ada di lengannya.


“Kenapa? Bukannya tadi kamu yang meminta?” tanya Bella dengan wajah berpura-pura bodoh.


Bara yang mendengar berdecih pelan dan melepaskan gandegan tangan Bella. “Maaf, aku mau pergi sendiri,” ucap Bara sembari melangkah menjauh.


Bella yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Bara lekat. “Kamu gak mau bilang terima kasih, gitu? Padahal aku sudah membantumu,” celetuk Bella membuat Bara menghentikan langkah.


Bara menatap ke arah Bella. “Maksudnya?” tanya Bara dengan mata menyipit.


Bella menatap santai dan melangkah mendekat ke arah Bara. “Aku tahu, Bar, kamu menyukai Alice. Itu sebabnya kamu merasa cemburu dan menjadikanku sebagai alasan untuk membalas tingkah Alice yang pergi dengan Dave,” jelas Bella dengan wajah lembut, “kenapa kamu lakukan itu? Apa selama ini kamu tidak mengatakan isi hatimu dengan Alice? Aku yakiin, jika itu kamu lakukan, Alice akan menolak Dave dan akan memilihmu.”


“Dan aku tidak mau itu terjadi,” sahut Bara cepat, “jadi, jangan bahas masalah ini lagi. Aku rasa ini sudah tidak berarti apa pun.”


Bella yang mendengar menghela napas lelah melihat tingkah laku Bara. Matanya hanya menatap pungung pria tersebut yang sudah semakin menjauh. Namun, setelanya senyumnya terukir dan berlari mengikuti Bara.

__ADS_1


Kita lihat, sampai kapan pendirian bodohmu itu akan bertahan, batin Bella sudah memikirkan rencana.


_____


__ADS_2