
Alice hanya duduk diam dengan wajah tertunduk. Sejak satu jam yang lalu, dia berada di ruangannya bersama dengan neneknya dan juga Rony. Rasa takut yang menjalar membuatnya hanya bungkam dan tidak mampu mengatakan apa pun. Dalam hati dia berharap ada yang datang dan menyelamatkannya.
Mama, papa, bantu Alice, batinya meronta.
“Kenapa kamu hanya diam, Alice? Apa kamu tidak mau menayakan bagaimana kabar nenekmu ini?” tanya Margaret sembari menatap Alice dengan pandangan sinis. Dia mencintai ekpresi ketakutan Alice yang selalu ditunjukan ketika melihatnya.
Rony sendiri hanya diam dengan wajah mengamati Alice yang hanya tertunduk. Padahal dia merindukan wajah polos gadis tersebut.
Margaret menghela napas dan mulai menyilangkan kakinya. “Apa kamu senang berada di sini, Alice? Setelah gagal dengan Randy, aku dengar kamu akan menikah dengan Dave, anak seorang tahanan,” celetuk Margaret mampu menarik perhatian Alice.
Alice mendongak dan menatap neneknya dengan wajah masih menunjukan ketakutan. Tetapi, ketika dia hendak melayangkan protes mengenai ucapan neneknya, masih ada ketakutan yang begitu menekan. Terlebih tatapan Margaret yang masih tetap sama. Benci.
“Kenapa? Mau membela calon suamimu yang tidak kaya itu?” ejek Margaret dengan tawa kecil dan diikuti oleh Rony yang juga terkekeh geli.
“Akan jauh lebih baik jika kamu menikah denganku, Alice. Aku akan memberikan segalanya, teramsuk cinta dan kepuasan,” ujar Rony dengan wajah mesum yang diperlihatkan.
Alice yang melihat bergidik ngeri dan memilih untuk menunduk kembali, membuat Margaret dan Rony tertawa mengejek. Rasanya Alice benar-benar ingin keluar dari ruangannya sekarang juga. Namun, dia takut jika akan mendapat pandangan yang semakin buruk dari neneknya.
“Kenapa, sayang? Apa kamu mulai mengingat hal yang dulu pernah kita lakukan?” tanya Rony dengan mata menatap tajam, “padahal aku belum menyelesaikan semuanya dengan benar.”
Rony mulai bangkit dan melangkah mendekati Alice, membuat gadis tersebut terpojok di kursi panjang di ruangan tersebut. Senyum sinisnya terlihat ketika Alice tampak begitu lemah duduk di dekatnya.
“Bagaimana jika aku menuntaskannya sekarang, Nek? Menurutku dia juga tidak akan keberatan,” ujar Rony sembari membelai wajah mulus Alice.
“Apa pun yang ingin kamu lakukan kepadanya, lakukan saja, Rony. Aku tidak peduli sama sekali, bahkan kalau dia mati sekali pun,” jawab Margaret sinis.
Alice yang mendengar menatap neneknya dengan air mata berlinang. Dia sadar dengan posisinya, tetapi dia tidak menyangka jika neneknya akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan untuknya.
Rony yang mendegar tersenyum kecil hendak mendekatkan wajah ke arah Alice. Namun, gerakannya terhenti karena pintu ruangan tersebut yang terbuka, menampilkan pria yang sangat ditakutinya.
“Alice.”
_____
__ADS_1
Surya melangkah memasuki kantor anaknya dengan langkah santai. Dia sudah mengubungi Alice sampai liam belas kali, tetapi tidak mendapat jawaban apa pun. Itu sebabnya dia memutuskan datang ke kantor tersebut. Seluruh karyawan yang melihatnya menunduk memberikan hormat.
Surya melangkah meniki tangga dan matanya bertemu dengan Bara yang tengah berbincang dengan seseorang. Dengan cepat dia melangkah dan menunjukan wajah ramah yang selalu dipasang di depan para karyawannya.
“Bara,” panggil Surya ketika matanya melihat Bara hendak melangkah pergi.
Bara menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Surya berada. “Tuan Surya,” cicitnya pelan. “Anda di sini?”
Surya mengangguk dan meliat Bara. “Bagaimana kabramu? Kamu betah di sini?” tanya Surya dengan wajah mengamati.
Bara yang mendengar mengangguk pelan. “Saya baik, Tuan. Saya juga betah di sini. Semua karyawan di sini ramah dan juga baik.”
“Syukurlah,” kaa Surya lega, “bagaimana dengan tanganmu?”
“Ah, sudah sembuh.”
“Maafkan Alice juga. Dia menyusahkanmu, ya? Dia memang selalu ceroboh dalam segara hal. Tetapi, dia begitu pandai dan penuh talenta. Jadi aku harap kamu bisa bekerja sama dengannya,” sahut Surya sembari menepuk pelan pundak Bara.
Bara mengangguk dengan wajah datar.
“Tetapi Alice masih ada tamu, Tuan. Dua orang,” cegah Bara membuat Surya mengerutkan kening bingung.
“Siapa?”
“Neneknya.”
“Apa?” Surya membelalak mendengar kata tersebut. Dengan cepat Surya menuju ke ruangan anaknya dengan langkah lebar. Firasatnya mengatakan hal buruk. Dia tahu, sejak Alice kecil, mamanya tidak suka sama sekali.
Surya langsung membuka pintu tergesa. “Alice,” panggil Surya dengan mata menatap Rony tajam. Dia melihat Alice masih menitikan air mata dengan wajah penuh ketakutan.
Surya segera menutup pintu dan melangkah menuju ke arah Rony yang juga menatapnya dengan rasa takut.
“Surya,” panggil Margaret kehilangan wajah tenangnya ketika Surya berada di depan Rony dan menarik pria tersebut.
__ADS_1
Surya mengabaikan panggilan mamanya. “Kurang ajar kamu, Rony,” bentak Surya yang langsung melayangkan tinjunya. Membuat Rony yang belum siap tersungkur ke belakang dengan darah mengalir.
“Kurang ajar kamu. Berani-beraninya kamu datang dan mengganggu kehidupan anakku lagi,” bentak Surya yang langsung melayangkan kembali tinjunya.
Margaret yang melihat segera melangkah mendekati Surya dan menahan lengan anaknya yang sudah siap melayangkan tinjunya kembali. “Hentikan, Surya,” tegas Margaret membuat Surya menarik napas dalam dan mengurungkan niat.
Surya menatap mamanya tajam. “Untuk apa Mama datang ke kantor Alice?” tanya Suya dengan wajah mengeras.
Margaret melepaskan genggamannya dan berbalik membantu Rony untuk bangkit. Ada beberapa luka di wajahnya karena ulah Surya.
“Apa ini caramu menyambut saudara lama, Surya?” tanya Rony sembari menyentuh luka akibat ulah Surya.
“Aku merasa kamu bukan saudaraku, Rony. Aku tidak sudi memiliki saudara yang hampir memperkosa anakku,” geram Surya dengan rahang mengeras.
Rony hanya mengangkat sebelah bibirnya dan mengabaikan Surya. Matanya memilih fokus menatap Alice yang tengah berdiri di belakang Surya, seakan meminta perlindungan dari sang papa.
Aku pastikan kali ini kamu akan menjadi kekasihku, Alice. Kamu akan menjadi milikku, batin Rony penuh keyakinan. Senyum iblisnya terlihat begitu mengerikan bagi Alice.
“Kamu tidak mau menyapa mamamu, sayang?” tanya Margaret dengan senyum menawan. Dia mengabaikan wajah anaknya yang masih menunjukan kemarahan.
Surya menghela napas perlahan dan menggeggam tangan Alice. “Kita masih memiliki urusan yang harus diselesaikan, Ma. Kita selesaikan sekarang juga,” ujar Surya yang langsung menarik tangan Alice.
Surya membawa Alice keluar dari kamar dan menuju ke ruangan Bara. Bara yang tengah sibuk dengan tugasnya menatap bingung. Netranya melihat Alice yang masih sedikit terisak dengan air mata mengalir.
“Alice,” panggil Bara pelan dan langsung bangkit.
“Antar Alice pulang. Pastikan dia selamat sampai rumah, Bara. Aku meminta tolong kepadamu,” ucap Surya dengan tegas.
Bara menatap Surya dan mengangguk. “Baik, Tuan.”
Surya menatap anaknya yang masih menangis dan mencium keningnya pelan. “Tenang, sayang. Setelah ini tidak akan ada yang bisa mengganggumu,” janji Surya membuat Alice tenang. Setelahnya, dia segera keluar dan menemui kedua orang yang masih menunggu di ruangan Alice.
Kalian sudah terlalu menyusahkan Alice, batin Surya yang sudah naik pitam.
__ADS_1
_____