
Renita menatap meja makannya penuh semangat. Bibirnya masih mengulas senyum tipis, menatap hidangan yang baru saja dibuat olehnya. Merasa puas dengan apa yang baru saja dikerjakan.
Aku harap Dara semakin betah tinggal di sini, gumam Renita dalam hati. Ya, dia memang sengaja memasak banyak dan berharap agar Dara merasa nyaman di rumahnya. Setidaknya, itu akan bisa menghambat Dara keluar dari rumah dan kembali ke rumah asal wanita tersebut.
“Semoga, Dara dan Dave cepat menikah,” ucap Renita dengan senyum tipis. Sampai bel rumahnya kembali terdengar, membuat Renita menatap ke asal suara.
Renita mulai melangkah menggunakan tongkat yang baru saja didapatkannya. Dia merasa bosan jika terus saja menggunakan kursi roda. Perlahan, dia mulai melangkah dan menghentikannya ketika sampai di depan pintu. Tangannya mulai membuka pelan kunci rumahnya dan membuka pintu pelan, menatap wajah Dave yang terlihat cemas di depannya.
“Dave, kamu kenapa?” tanya Renita dengan kening berkerut bingung. Ditambah dengan Dara yang ada dalam gendongan sang anak. Membuat Renita semakin membelalak dengan wajah terkejut.
“Dave, Dara kenapa?” tanya Renita dengan wajah menunjukan kecemasan.
“Ma, aku harus membawa Dara ke kamar dulu. Dia butuh istirahat. Dave akan menjelaskannya nanti,” jawab Dave dengan tergesa. Dia segera melangkah masuk, mengabaikan sang mama yang masih terdiam di depan pintu.
Renita mulai tersadar ketika Dave membuka pintu kamar Dara keras. Dengan cepat, dia mengikuti Dave dan menatap sang anak yang sudah meletakan Dara dan sibuk dengan ponselnya. Sampai dia melihat Dave memasukan benda pipih tersebut, membuat Renita melangkah semakin masuk.
“Kamu sudah menelfon dokter?” tanya Renita pelan.
Dave menatap ke arah mamanya dan mengangguk pelan. “Sudah, Ma. Sebentar lagi akan datang,” jawab Dave sedikit tenang.
Renita hanya mengangguk pelan dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai terulur, mengelus pelan punggung tangan Dara yang terlihat lemah. Hingga penglihatannya mulai menangkap gerak Dave yang duduk di lantai dan menatap Dara lekat.
“Tadi ada yang mau menculik Dara, Ma,” ucap Dave lirih. Renita yang mendengar hanya diam, menatap ke arah Dave lekat. Tidak ada respon apapun darinya. Dia hanya diam dan menunggu apa yang akan dikatakan Dave selanjutnya.
Dave menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya mulai beralih dan menatap sang mama lekat. “Aku melihat mereka membius Dara dan berniat membawa kabur. Namun, aku lebih dulu mencegahnya. Aku mampu menghentikan mereka dan membawa Dara kembali.”
“Aku takut, Ma. Aku takut kalau nantinya hal ini akan terjadi lagi,” gumam Dave. Entah mengapa, dia mulai merasa takut untuk kehilangan Dara.
__ADS_1
Renita tersenyum tipis dan mengusap pelan puncak kepala Dave. “Tenanglah. Mama yakin tidak akan ada hal buruk yang menimpa Dara. Kamu harus percaya dengan mama, Dave.”
Dave mengangguk pelan. Matanya menatap Dara dengan pandangan lekat. “Apa salah kalau aku membalaskan dendam akan hal ini, Ma?” tanya Dave menunjukan wajah serius.
“Balas dendam? Memangnya kamu tahu siapa yang melakukannya?” tanya Renita dengan kening berkerut heran.
Dave mengangguk mantap dan menatap ke arah mamanya serius. “Papa tirinya. Aku yakin dia yang melakukannya,” tegas Dave.
“Jangan asal menud....”
“Dave tidak asal menuduh, Ma,” potong Dave. “Memang papa tiri Dara yang melakukannya. Dia mencintai Dara yang tidak pernah mau dengannya,” imbuh Dave membuat Renita terdiam seketika.
Apa?, batin Renita merasa tidak percaya.
_____
Apa aku bisa meninggalkan Alice di rumah sendiri, batin Bara takut kalau ada orang jahat yang mendekati Alice.
“Mas,” panggil Alice dengan suara lembut, membuat lamunan Bara buyar seketika.
“Apa, sayang?” tanya Bara dengan suara yang tidak kalah lembut. Hal yang sangat disukai Alice selama ini. Bagaimana tidak? Bara bahkan hanya berkata manis dengannya, membuat Alice merasa dispesialkan.
“Kenapa dari tadi diam saja, Mas? Ada yang kamu pikirkan?” ucap Alice dengan pandangan menenangkan.
Bara terdiam, menatap Alice semakin lekat. Hingga helaan napas kasar terdengar dari arahnya, membuat Alice semakin tidak mengerti. Namun, dia hanya diam dan tidak berkomentar apapun. Bahkan, saat dia merasakan tangan Bara yang mulai menariknya dan mendekap tubuhnya erat.
“Aku tidak yakin meninggalkanmu sendirian, sayang. Aku merasa tidak rela,” ucap Bara lirih.
__ADS_1
Alice mengulas senyum tipis mendengar ucapan Bara. “Jangan cemas. Aku akan baik-baik saja. Ada banyak orang yang bisa menjagaku, sayang,” ujar Alice menenangkan. Tangannya sudah mengelus pelan lengan Bara.
“Iya, tetapi tetap saja aku tidak nyaman,” ulang Bara sembari melepaskan dekapannya. Matanya kembali menatap ke arah Alice. “Atau kamu ikut saja denganku? Di sana kamu bisa menunggu di hotel. Kalau tidak, kamu bisa ikut bersama denganku ke kantor kita.”
Alice terkekeh kecil dan menatap Bara. Tangannya mulai terulur dan mengelus pelan pipi suaminya. Membuat Bara terdiam dan mengangkup jemari lembut Alice agar tidak pergi dari wajahnya.
“Hey, kamu hanya pergi sebentar. Aku yakin, tidak sampai satu minggu kamu akan bisa menyelesaikannya,” ucap Alice lirih. “Sedangkan aku, aku harus menyelesaikan masalah di kantor cabang kita.”
“Kamu jangan cemas, Mas. Aku akan tinggal di rumah mama dan papa agar kamu bisa tenang. Fokus saja dengan apa yang kamu kerjakan di sana. Aku akan selalu menghubungimu,” lanjut Alice.
Bara baru akan menjawab ucapan Bara ketika suara keras mulai menyadarkannya. Mengatakan jadwal penerbangan yang akan segera berangkat. Hal yang membuat Bara hanya mampu mengangguk dan percaya dengan apa yang dikatakan sang istri.
“Maaf Pak, Bu. Saya hanya mengingatkan, penerbangan Pak Bara sebentar lagi. Jadi, bisa kita bersiap?” ucap seorang gadis dengan pakaian resmi dan senyum menawan.
Alice yang mendengar hanya mengangguk, diiringi senyum kecil. Dia segera mendekap Bara erat. Jujur, jika saja itu bukanlah permintaan sang papa, Alice dapat memastikan bahwa dia adalah orang pertama yang memprotes keputusan tersebut. Namun, karena papanya yang meminta, Alice hanya mampu diam dan mendukung.
Aku yakin, jika karena masalah serius, papa tidak akan menyuruh mas Bara, batin Alice.
“Jaga diri baik-baik, sayang. Mas akan segera kembali,” bisik Bara.
“Iya, aku akan menunggu,” jawab Alice pelan.
Alice mulai melepaskan pelukannya dan menatap Bara lekat. Mengiringi kepergian sang suami yang terasa berat untuknya. Hingga pria tersebut tidak lagi terlihat, membauat Alice mendesah keras.
Alice baru berbalik dan siap melangkah, tetapi terhenti. Tangannya langsung memegang perutnya yang terasa begitu mual. Ditambah dengan kepala yang mulai berdenyut keras.
“Aku rasa aku harus ke dokter,” ucap Alice.
__ADS_1
_____