Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 35_You're My Mine


__ADS_3

Karena aku tidak mau gadis yang aku cintai terluka.


Iya, selama ini aku memang selalu menyangkal perasaanku, Alice. Tetapi, melihatmu bersama dengan Dave aku merasa tidak rela. Aku mencintaimu Alice Surya Pranata. Dan aku tidak tahu itu terjadi sejak kapan. Yang aku tahu, sekarang aku mulai takut kehilanganmu.


Alice tersenyum sendiri ketika mengingat ucapan Bara. Berulang kali dia menepuk pelan pipinya, mencoba menyadarkan bahwa semua bukanlah mimpi. Pipinya bahkan sudah bersemu merah setiap mengingatnya. Sampai saat ini, jantungnya tidak juga berhenti berdetak.


Tuhan, ini bukan mimpi, kan?, batin Alice takut. Jika saja itu semua hanyalah mimpi, dia berharap untuk tidak bangun dari kebahagiaannya. Dia menemukan orang tuanya dan mendapatkan cinta dari pria yang diharapkan.


“Eh, aku tadi gak salah dengar, kan?” gumam Alice dengan wajah berpikir.


Alice menghela napas perlahan ketika menyadari perasaannya yang mulai kacau. Dia hanya diam dengan wajah berpikir. Berharap Bara mengulang kalimatnya untuk kedua kali. Setidaknya, itu akan membuatnya sadar dengan kenyataan yang sebenarnya.


“Beneran gak ya kalau Bara suka sama aku,” ucap Alice dengan perasaan yang tidak yakin.


“Memangnya kenapa kalau dia beneran suka sama kamu?”


Sebuah celetukan membuat Alice tersadar dari lamunannya dan menatap ke asal suara. Di sana sudah ada Dave dengan pakaian kusut dan wajah yang sedikit lebam. Matanya membelalak menyadari pria tersebut ada di depannya, terlebih mendengar apa yang baru saja dikatakannya. Alice bangkit dan menatap Dave dengan wajah terkejut.


“Kamu terluka?” tanya Alice dengan wajah panik. Sejak tadi dia hanya sibik dengan perasaannya dan melupakan Dave yang juga ada di tempat kejadian.


“Hanya luka kecil,” jawab Dave yang melangkah mendekati Alice. Kakinya berhenti tepat ketika dia berada di depan Alice, menatap gadis tersebut degan pandangan lembut.


“Jadi, kenapa kalau misalkan Bara benar-benar mencintai kamu? Ada yang kamu takutkan?” tanya Dave denan senyum tipis.


Alice yang mendapat pertanyaan menatap Dave dengan rasa tidak enak. Bagaimana pun, Dave adalah calon tunangannya. Bahkan, kedua belah pihak sudah setuju dan tinggal menentukan hari.


“Maaf, Dave. Aku hanya....”


“Jujurlah pada perasaanmu, Alice,” potong Dave dengan wajah santai. Senyumnya mengembang dengan begitu tulus. “Aku tahu, sejak awal kamu mencintai Bara. Aku hanya diam dan berharap kamu akan jujur dengan isi hatimu. Namun, kamu malah diam dan menerima perjodohan ini. Aku tidak masalah jika perjodohan kita dibatalkan nantinya,” imbuh Dave dengan penuh kerelaan.


Dave menepuk pundak Alice pelan ketika dirasa gadis tersebut hanya diam dan tidak menanggapinya sama sekali. “Berhentilah mengorbankan perasaanmu. Kamu berhak bahagia,” ucap Dave dengan wajah bahagia.

__ADS_1


Alice menatap Dave terharu dan mengangguk. Wajahnya tampak begitu sendu, menyadari bahwa pria di hadapannya terlalu baik untuk disakit. “Lalu orang tua kita?” tanya Alice dengan perasaan ragu.


“Aku yang akan menjelaskan semuanya. kamu hanya butuh kejar cintamu. Dapatkan Bara dan jangan lepaskan dia lagi,” ujar Dave mendukung Alice sepenuhnya.


“Maaf karena aku menyakitimu, Dave,” kata Alice sembari menggeggam tangan Dave erat.


Dave menghela napas perlahan dan mengangguk. “Lagi pula aku juga tidak mau menikahi gadis yang tidak mencintaiku, Alice,” jawab Dave dengan tawa kecil dan menatap Alice lekat. “Masuklah dan katakan kepada Bara bahwa kamu juga mencintainya.”


“Dan kita tetap teman?” tanya Alice mulai merasa ragu. Apa mau Dave berhubungan dengannya?


Dave mengangguk pelan dan tersenyum. “Tentu. Kita tetap teman.”


“Terima kasih,” ucap Alice dengan wajah berbinar. Dia merasa beruntung mendapatkan Dave dalam hidupnya, meski hanya sebagai teman. Alice segera bangkit dan berlari ke arah ruangan di mana Bara berada. Matanya menunjukan wajah penuh kebahagiaan yang tidak pernah ditampakannya selama ini.


Dave yang melihat hanya diam dengan mata memandang lekat. “Aku merasa bahagia untukmu, Alice. Dan sekarang sepertinya aku yang harus mencari pendamping yang aku inginkan,” ujar Dave yang langsung berbalik dan meninggalkan rumah sakit. Dia harus kembali ke penginapan dan membereskan kekacauan yang baru saja terjadi.


_____


Bara menghela napas perlahan dan bersamaan dengan itu, pintu ruangannya terbuka. Bara menatap ke asal suara dan melihat Alice tengah berada di ambang pintu. Rasanya dia semakin salah tingkah ketika gadis tersebut sudah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.


“Hai,” sapa Alice dengan nada canggung.


"Hai,” jawab Bara tidak kalah canggung. Jantungnya tidak berhenti berdetak sama sekali.


Alice tersenyum tipis dan melangkah mendekat ke arah ranjang tempat Bara duduk. Dengan perlahan, dia mulai menarik kursi kecil yang ada di dekat ranjang dan duduk sembari menatap Bara lekat.


“Lukamu masih sakit?” tanya Alice dengan senyum tipis.


“Tidak. Ini hanya luka kecil saja,” jawab Bara dengan wajah yang sudah tampak memerah.


Alice menghela napas perlahan dan menatap Bara. Tadi, Bara sudah mengatakan isi hatinya, bukankah sekarang gilirannya? Dengan penuh keyakinan, Alice mulai memperhatikan Bara lekat.

__ADS_1


“Bara, mengenai ucapanmu tadi....”


“Alice,” potong Bara dengan cepat dan menatap ke arah Alice was-was. “Mengenai ucapanku tadi, lebih baik lupakan saja.”


“Kenapa?” tanya Alice dengan kening berkerut. Dia bingung, kenapa Bara menarik ucapannya?


“Karena aku tahu, kamu sudah memiliki Dave. Jadi, lupakan saja mengenai ucapanku tadi. Anggap aku tidak pernah mengatakannya,” jelas Bara dengan wajah yang serius. Dia benar-benar tidak mau hubungannya dengan Alice menjadi jauh.


“Tetapi aku mau denganmu,” jawab Alice dengan wajah yang sudah bersemu merah.


“Hah?” Bara menatap Alice dengan pandangan terkejut.


Alice menghela napas perlahan dan menatap Bara dengan wajah yang benar-benar memerah menahan malu. “Aku juga mencintaimu,” ungkap Alice dan langsung diam. Matanya menatap Bara dengan rasa takut karena pemuda tersebut tidak berekspresi apa pun.


Bara menatap Alice lekat. Sekarang, jantungnya semakin tidak dapat dikendalikan. Ada perasaan senang menyadari Alice memiliki rasa yang sama. “Kamu yakin?” tanya Bara sembari memicingkan mata.


Haruskah aku mengatakannya? Alice menghela napas perlahan dan memberengut kesal. Dia baru akan bangkit, tetapi tangan Bara menghentikannya, membuat mata beningnya menatap ke arah Bara dengan penuh tanya.


“Aku mencintaimu, Alice. Aku mencintaimu,” ucap Bara dengan senyum sumringah.


Alice yang mendengar tersenyum dan tanpa aba-aba segera memeluk Bara erat. Rasanya dia benar-benar bahagia. Bara membalas pelukan Alice dan menghela napas perlahan. Dengan pelan, dia mulai melepaskan pelukan gadis tersebut dan menatap dengan penuh kelembutan.


“Lalu bagaimana dengan Dave?" tanya Bara dengan ragu.


“Dia sudah tahu dan akan menjelaskan semuanya. Dia yang menyuruhku untuk bilang bahwa aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” jawab Alice dengan penuh penekanan.


Bara tersenyum lega dan segera meraih tengkuk Alice, menempelkan bibirnya dan menyesap rasa yang ada. Bara mencium Alice dengan penuh cinta, tidak ada perasaan lain yang disalurkannya.


Bara melepaskan panggutan bibirnya dan menatap Alice lekat. “Aku mencintaimu. Sangat,” ujar Bara kembali menyatukan bibirnya. Bahkan, keduanya melupakan sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan datar.


“Jangan pergi lagi,” ucap Bara disela ciumannya dan mendapat anggukan dari Alice yang sudah pasrah dalam dekapannya.

__ADS_1


_____


__ADS_2