Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 90_Perasaan Haru


__ADS_3

“Kamu,” ucap Alice tidak percaya.


Bara yang ada di depan Alice menatap dengan bibir tersenyum lebar. Memperhatikan sang istri yang sudah menatapnya lekat. Seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat. Hal yang membuta Bara semakin tersenyum karena wajah Alice yang terlihat begitu polos.


“Kamu bukan bayangan, kan?” ucap Alice sembari menepuk pelan pipi sang suami. Mengamati tubuh yang seakan nyata di depannya.


Bara terkekeh kecil dan langsung mencubit Alice pelan. Membuat istrinya mengaduh kecil dan mengusap pipi pelan.


“Sakit?” tanya Bara dengan senyum kecil.


Alice mengangguk pelan dan masih asyik mengelus pipinya yang memerah karena ulah Bara. Bibirnya sudah dimanyunkan, merasa kesal denga ulah pria yang sudah ada di depannya.


“Itu artinya mas nyata, sayang. Mas ada di depan kamu dan ini bukan bayangan,” jelas Bara dengan wajah yang berubah serius.


“Kamu pulang? Apa urusan kamu sudah selesai?” tanya Alice merasa bingung.


Bara menghela napas kasar dan membalik tubuh Alice. Tangannya sudah merangkul sang istri dan melangkah masuk. Perlahan, dia mulai mendudukan Alice di sofa ruang tamu dan menatap istrinya lekat.


“Papa yang menyuruhku pulang, sayang. Dia mau aku menemanimu. Jadi, dia mengirim karyawannya untuk menyelesaikan masalah di sana. Lagi pula, dia sana tingga sebentar karena aku langsung mengerjakan saat kamu memberiku foto hasil dari rumah sakit,” jelas Bara lembut.


“Papa yang menyuruh?” ulang Alice tidak percaya. Dia bahkan lupa untuk memberitahukan kabar bahagia dengan orang tuanya.


Bara mengangguk pelan dan duduk di dekat Alice. Mengingat bagaimana Surya menyuruhnya pulang ke Indonesia.


Flash back.


Bara menghela napas kasar ketika wanita yang tidak dikenalnya pergi. Dengan cepat, dia segera bangkit dan mengunci pintu. Tidak mau kalau nantinya ada yang mengganggu. Setelah itu, dia memilih kembali ke kursi dan melanjutkan tugas. Namun, gerakannya terhenti ketika ingatannya kembali pada foto yang Alice kirimkan.


“Mama sudah tahu belum ya mengenai kabar Alice hamil?” gumam Bara dengan wajah berpikir.


Bukannya Alice mengatakan akan tinggal di rumah mama dan papa? Mungkin aku bisa menghubungi mereka dan memberikan ponselnya dengan Alice, batin Bara.


Bara segera meraih ponsel dan mencari nama sang mama. Dengan semangat dia menekan nomor tersebut dan menunggu panggilannya tersambung. Dia bahkan melupakan waktu yang berbeda. Hingga panggilannya mulai tersambung.


“Halo,” sapa Galuh dari seberang.

__ADS_1


“Halo, Ma. Mama sedang di mana?” tanya Bara mencoba berbasa-basi.


“Mama sedang di rumah nenek, Bara. Ada apa?”


“Rumah nenek?” ulang Bara dengan mata membelalak. “Lalu Alice?”


“Dia mengatakan akan tinggal di rumah kalian saja. Jadi, mama tidak bersama dengannya. Dia juga menolak waktu mama mengatakan akan ke rumah nenek,” jelas Galuh dengan suara santai.


Bara yang mendengar semakin gusar. Dia merasa cemas ketika mengingat Alice seorang diri di rumah. Ditambah dengan ponsel istrinya yang tidak juga aktif.


“Memangnya ada apa? Kamu sudah merindukannya?” ucap Galuh dengan suara meledek.


“Kalau itu memang iya, Ma. Namun, ada hal yang lebih penting selain itu. Saat ini Alice tengah hamil dan ponselnya tidak aktif. Aku tak....”


“Apa? Alice hamil?" potong Galuh dengan suara terkejut.


“Iya. Memangnya dia tidak memberitahu Mama?” tanya Bara dengan penuh tanda tanya.


Tidak ada jawaban sama sekali. Hanya terdengar suara riuh yang kembali menyapa. Membuat Bara bedecak kecil dan siap mematikan panggilan. Namun, niatnya terhenti ketika mendengar suara tegas yang mulai menyapa.


“Bara, benar Alice hamil?” tanya Surya mengambil alih ponsel Galuh.


Terdengar helaan dari arah Surya, seakan ada hal yang sangat disayangkan olehnya. Membuat Bara hanya diam, bungkam dan hanya menunggu keputusan sang papa mertua.


“Kamu pulang saja, Bara. Jaga istri dan bayi dalam kandungannya. Besok anak buah papa akan menggantikan tugasmu,” perintah Surya.


Bara yang mendengar tersenyum lebar dan mengiyakan. Dengan semangat dia menyelesaikan tugasnya dan segera kembali ke penginapan untuk mengemasi pakaian. Paginya, Bara segera berangkat dengan penerbangan pagi.


Flashback selesai


Alice yang mendengar menepuk pelan keningnya dan menatap Bara menyesal. “Maaf, ponselnya mati dan aku lupa menghidupkannya,” cicit Alice dengan senyum kecil, menunjukan deretan gigi yang rata.


Bara hanya berdecak kecil dan menatap Alice kesal. Namun, rasa kesalnya perlahan menghilang ketika menatap perut istrinya yang masih rata. Menatap haru. Perlahan, dia mulai turun dan memilih berjongkok di depan perut Alice. Membuat wanita tersebut mengerutkan kening heran.


“Kamu sudah tumbuh di dalam, sayang?” ucap Bara pelan. Tangannya mulai mengusap pelan perut Alice dan tersenyum senang. “Papa senang kamu mau hadir diantara keluarga kita, nak.”

__ADS_1


Alice hanya diam dengan mata menatap haru. Hingga Bara mendekat dan mencium perutnya. Membuat air matanya mulai menggenang dan siap mengalir. Namun, Alice menahan. Dia tidak mau kalau nantinya Bara melihatnya menangis.


“Sehatlah di sana, nak. Papa dan mama menantikan kehadiranmu. Buatlah kehidupan kami semakin sempurna dengan adanya kamu,” ucap Bara lirih. Matanya masih menatap lekat perut Alice dan mendongak, menatap sang istri lekat.


“Terima kasih karena mau mengandung anakku, sayang. Aku mencintaimu,” kata Bara pelan.


“Aku juga mencintaimu. Sangat,” jawab Alice pelan. Mendekap tubuh Bara erat. Bara hanya tersenyum dan mengelus pelan pundak sang istri. Membiarkan wanitanya menangis haru.


Aku akan membahagiakan kalian. Janji, batin Bara.


_____


“Kenapa kalian bisa gagal?” teriak seorang pria dengan rahang mengeras. Matanya menatap ke arah anak buahnya dengan rahang mengeras. Sejak semalam dia menunggu kabar anak buah yang tidak juga kembali. Hingga pada akhirnya, pagi tadi dia mendapat kabar bahwa anak buahnya masuk rumah sakit karena luka tembak. Membuatnya harus datang ke rumah sakit dan dibuat kecewa karena rencananya gagal.


“Maaf, Tuan. Kami bertemu dengan seorang pria yang ternyata membawa senjata. Dia yang menyelamatkan nona Dara,” ucap salah satu anak buah yang terlihat lebih sehat. Dia hanya menundukan kepala, tidak berani menatap pria di depannya.


“Kalian bodoh,” bentak Herman, papa tiri Dara. “Untuk apa aku membekali kalian senjata kalau kalian tidak menggunakannya. Bahkan kalian kalah dengan pria sejenis Dave yang tidak bisa berkelahi sama sekali? Kalian benar-benar mengecewakan.”


Tidak ada jawaban sama sekali. Herman menatap satu per satu anak buahnya dan menggeram marah. Mulutnya baru terbuka dan siap mengatakan sesuatu, tetapi terhenti karena pintu di depannya terbuka. Membuat fokusnya teralihkan dan menatap ke asal suara.


“Maaf mengganggu, Tuan. Ada kabar dari sekretaris anda, bahwa seseorang memaksa bertemu anda di kantor,” ucap anak buahnya lirih.


“Siapa?” tanya Herman dengan mata menyipit. Dia ingat kalau hari ini tidak memiliki janji apapun.


“Dia bilang namanya Dave Wijaya.”


Herman yang mendengar terdiam sejenak dan tersenyum sinis. “Katakan aku akan segera kembali. Biarkan dia menunggu di ruanganku. Untuk kalian, segera berjaga di pos masing-masing,” perintah Herman dan langsung diangguki.


Herman mulai melangkah ke arah pintu keluar dan meninggalkan rumah sakit. Kamu benar-benar sedang menantangku, Dave. Aku akan buktikan kalau kamu memang tidak pantas dengan Dara karena dia adalah wanitaku. Selamanya, batin Herman dengan senyum sinis.


_____


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.


Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.

__ADS_1


Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.


See you next chapter😘😘


__ADS_2