
“Dave, sakit,” keluh Dara ketika sebuah pergerakan terjadi di dalam rahimnya. Tangannya meremas lengan pakaian Dave yang sejak tadi sibuk mengemudikan mobilnya, fokus dengan jalanan yang terasa begitu sesak.
Dave menatap ke arah Dara yang saat itu tengah menahan sakit dengan tatapan cemas. Secepat mungkin, dia berusaha menerjang kemacetan yang terjadi. Sesekali, dia membunyikan klakson mobil keras, berharap mobil di depannya segera menyingkir.
“Dave,” gumam Dara denan keringat yang mulai mengucur.
Dave yang mendengar membuang napas pelan. “Sebentar lagi, Baby. Tunggu sebentar lagi,” ujar Dave berusaha menenangkan.
Dara hanya mengangguk, berusaha percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Matanya memejam, menahan sakit yang sesekali datang. Tangannya meremas pelan lengan Dave dan merasakan elusan di bagian wajah.
“Maafkan aku, Sayang,” ucap Dave dengan tataapan sendu.
Dara yang mendengar membuka mata, menatap wajah cemas dari suaminya. Perlahan, dia menggeleng dengan bibir tersenyum tipis, seakan sakitnya sudah menghilang. Sampai sakit di bagian perut kembali datang dan malah semakin sering, membuat napas Dara terputus-putus.
Dave mempercepat langkah. Andai saja bukan hanya dia yang ada di rumah, dia yakin tidak akan pernah mau mengemudi ketika Dara akan melahirkan. Sampai Dave membelokan mobil di halam rumah sakit dan memarkirkan mobil asal.
“Suster,” teriak Dave ketika baru saja turun. Dengan cepat, dia menuju ke arah pintu sang istri. Bersyukur karena perawat di rumah sakit tersebut segera datang dengan membawa bankar rumah sakit.
Dave segera membopong Dara dan meletakan wanitanya. Matanya menatap lekat wajah yang sudah menahan sakit di depannya. Tangannya meremas erat jemari Dara.
“Sayang, kamu harus kuat. Aku akan menemani kamu,” ucap Dave dengan air mata yang perlahan turun.
Dara mengangguk mendengar ucapan Dave. Dia hanya diam, menatap wajah Dave yang sejak tadi mencemaskannya. Sampai dia mulai memasuki sebuah ruangan dengan bau obat menyengat. Jemarinya masih setia memegang jemari Dave dan meremas erat. Hingga seorang dokter menutup bagian kaki dan merenggangkannya.
Ya Tuhan, jaga istri dan anakku. Jaga mereka dan biarkan kamu tetap bersama, batin Dave dengan cemas. Jemarinnya masih setia menggenggam jemari istrinya. Menatap wajah yang saat ini tengah berjuang melahirkan buah hatinya.
Ya Tuhan, aku yakin engkau ada. Selamatkan istriku, jaga dia dan jangan sampai ada yang terluka diantara keduanya, pinta Dave dengan air mata yang kembali menetes. Dia mengabaikan jika diantara perawat di sana melihat tangisnya.
Sebuah lolongan keras terdengar, membuat cengkraman Dara semakin mengerat. Hingga tangis bayi terdengar, membuat Dave yang ada di sana mematung seketika.
__ADS_1
Anakku lahir, batin Dave dengan tangis yang perlahan turun. Tubuhnya membeku dengan remasan yang semakin mengerat.
“Selamat, Pak. Anak anda laki-laki,” kata sang dokter sembari menunjukan jenis kelaminnya.
Dara mengulas senyum penuh kelegaan. Ada setetes air mata yang mengalir di pipinya sebagai rasa bahagia yang tiada tara. Matanya mulai beralih, mengamati Dave yang tengah menggendong putranya lekat.
“Sayang, terima kasih,” bisik Dave sembari memberikan kecupan untuk Dara.
Dara hanya mengangguk dan menatap putranya lekat. Sampai seorang suster memintanya dan membawa ke ruang lain untuk dibersihkan.
“Dave,” panggil Dara pelan.
Dave menatap ke arah istrinya dan tersenyum tipis. Dia menghilangkan air mata yang masih mengalir di wajahnya kasar. Dengan cepat, dia mendekap Dara erat.
“Terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupanku, Dara. Terima kaish karena sudah menghadirkan malaikat kecil di rumah kita,” ucap Dave tulus.
Dara mengangguk dan tersenyum. Terima kasih juga karena kamu sudah menemaniku di masa sulitku, Dave, batin Dara.
Dara menatap Dave dan mengangguk pelan. “Aku juga mencintai kamu,” sahut Dara.
_____
Beberapa hari kemudian.
“Kamu yakin Dara sudah pulang, Baby?” tanya Bara sembari menatap ke arah Alice yang tengah duduk di dekatnya.
Alice yang tengah menggendong putrinya mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Tadi Dara yang bilang kalau dia baru saja pulang ke rumah,” jawab Alice dengan senyum bahagia.
Bara yang mendengar hanya mengangguk mengiyakan. Dia memilih fokus ke arah jalanan di depannya. Hingga sebuah celetukan dari Alice membuatnya kembali menatap istrinya.
__ADS_1
“Lucu kali ya Mas kalau Aira kita jodohkan dengan anak Dara,” gumam Alice dengan senyum melebar.
Bara ikut tersenyum mendengar ucapan Alice. Dia meraih jemari istrinya dan meremas pelan. “Mengenai itu, kita bisa pikirkan nanti, Sayang. Lagi pula mereka baru berusia beberapa bulan. Selain itu, aku rasa menjodohkan anak bukanlah hal yang benar. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, Sayang,” ujar Bara dengan tatapan lembut, berusaha membuat Alice mengerti.
Alice mengangguk paham. Sampai Bara membelokan mobil di sebuah rumah sederhana dan berhenti. Dia mematikan mesin mobil dan keluar. Dengan cepat, dia melangkah ke arah Alice yang sedang bersiap turun dan membukakan pintu untuk istrinya.
Alice yang melihat mengulas senyum lebar. “Terima kasih, Mas,” ujarnya lembut.
Bara hanya mengangguk dan menutup pintu mobil. Dia baru akan melangkah ke arah rumah Dave ketika sebuah suara terdengar dari arah lain. Dengan cepat, keduanya menuju ke asal suara dan mendapati Dara tengah bersama dengan Dave di halaman samping.
“Alice,” teriak Dara dengan penuh semangat.
Alice tersenyum tipis dan mendekat ke arah Dara berada. “Gimana kondisi kamu? Sudah membaik?” tanya Alice sembari memeluk Dara sekilas.
Dara mengangguk dan tersenyum lebar. “Aku sudah membaik. Lagi pula aku lahir normal. Jadi, tidak butuh waktu lama untuk memulihkannya,” jelas Dara.
“Iya. Hanya aku yang harus berpuasa beberapa saat karena dia melahirkan,” celetuk Dave dengan tatapan kesal.
Dara yang mendengar membelalak dan menyikut perut Dave keras. “Dave,” panggil Dara dengan tatapan mengancam.
Dave yang mengerti hanya memutar bola mata kesal. Aku hanya mengatakan apa yang ada sejak tadi aku pikrkan, batin Dave. Dia bahkan hanya diam ketika Dara dan Alice memutuskan masuk dengan membawa anaknya.
Bara yang melihat tertawa kecil dan menepuk pundak Dave pelan. “Hanya beberapa hari saja, Dave. Jadi, kamu harus tahan untuk tidak memasukinya. Setelahnya, kamu bisa seperti biasa,” ucap Bara menahan tawa.
“Itu pun kalau putramu mengizinkan kalin menikmatinya dengan tenang,” tambah Bara dengan tawa menggelegar.
Dave berdecak kecil. Dia mulai bangkit dan melangkah ke arah istrinya berada. Sampai dia duduk di dekat Dara dan mendekap istrinya lembut, mencium bau harum yang sudah menguar dari tubuh wanitanya.
Alice tersenyum melihat kebahagiaan yang sudah hinggap dalam kehidupannya, sampai dia merasakan kecupan pelan yang berasal dari Bara yang duduk di dekatnya.
__ADS_1
Setiap kehidupan memang memiliki cobaan dan kebahagiaannya. Seberat apa pun itu, yakinlah mampu menghadapinya. Dan aku bersyukur memiliki kalian semua dalam kehidupan ini. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita dengan cara dan ikatan yang begitu apik, batin Alice dengan senyum lebar.
...SELESAI...