
“Apa yang kamu ingin katakan, Bella?” tanya Dave ketika dia sudah sampai di sebuah cafe tidak jauh dari tempatnya bertemu dengan Bella.
Bella menatap Dave lekat. Bibirnya masih mengulas senyum tipis, sampai tanganya memilih mendekat dan meraih jemari Dave. Membuat pria yang ada di depannya menatap bingung.
“Bella, kamu kenapa?” tanya Dave merasa bingung.
“Aku hanya ingin mengatakan maaf dan terima kasih untuk semuanya, Dave,” jawab Bella.
“Untuk?” Dave mengerutkan kening heran. Apa maksud Bella?
Bella mulai mengulas senyum dan melepaskan genggaman tangannya. “Aku hanya ingin meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan, termasuk Ryan yang juga jadi memusuhi dan menuduhmu yang tidak-tidak. Selain itu aku juga ingin berterima kasih karena selama aku bekerja bersama denganmu, kamu menjagaku dengan baik. Kamu mengajarkanku banyak hal dengan sabar dan aku sangat berterima kasih utnuk itu,” jelas Bella dengan pandangan lembut.
Dave hanya terkekeh kecil, mengalihkan pandangan dan kembali menatap Bella lekat. “Ada acara apa kamu mengatakan hal ini, Bella? Apa ini adalah hari penuh kejutan?” tanya Dave dengan santai.
Bella segera menggeleng, membuat senyum Dave menghilang seketika. “Aku akan pergi bersama dengan Ryan. Aku akan meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru,” jelas Bella membuat Dave semakin terdiam dengan wajah datar.
“Kamu akan pergi?” ulang Dave masih tidak percaya dan mendapat anggukan dari Bella.
“Kapan kamu pergi?” tanya Dave dengan suara datar.
“Besok.”
“Apa dia memaksamu?”
Bella terkekeh kecil dan menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan dan menatap Dave serius. “Terpaksa atau tidak, itu tidak ada bedanya, Dave. Bagaimana pun, aku adalah miliknya. Apa yang menjadi kehendak tuanku, aku harus menurutinya. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak ajakannya,” jelas Bella terasa tanpa beban.
Dave diam. Matanya masih menatap lekat ke arah Bella. Memikirkan sesuatu yang ada dalam hati. Namun, Dave masih berhati-hati untuk menafsirkannya. Dia enggan jika nanti salah dalam melagkah. Dia enggan salah mengambil keputusan untuk kesekian kalinya.
“Kenapa kamu tidak mencoba kabur dirinya, Bella? Kenapa kamu tidak berusaha pergi dari sisinya?” tanya Dave merasa binging. “Aku akan membantumu.”
Lagi-lagi Bella mengulas senyum tipis dan menggeleng pelan. “Aku tidak bisa dan tidak mau melibatkan siapa pun dalam masalahku, Dave. Orang tuaku memiliki hutang yang sangat besar dengan keluarga Ryan dan karena perusahaan papa yang bangkut, aku harus rela menjadi bahan pengganti bayaran hutang mereka,” jelas Bella dengan senyum tipis.
Dave yang mendengar mengalihkan pandangan ke arah lain. Perasannya semakin terasa tidak karuan sama sekali. Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak tahu ini cinta atau iba, batin Dave merasa bingung.
__ADS_1
“Sudahlah,” putus Bella dengan wajah ceria dan mulai bagkit. “Aku mengikutimu sampai sini bukan untuk meminta rasa ibamu, Dave. Aku hanya datang untuk mengucapkan salam perpisahan dan semoga lain waktu, kita bisa berjumpa kembali,” imbuh Bella dengan senyum kecil.
Dan aku akan merindukan atasan sepertimu, Dave, batin Bella.
“Jaga diri dan janga sungkan jika kamu membutuhkan bantuanku,” ucap Dave enggan menahan Bella lebih lama.
“Pasti. Senang mengenalmu.”
Dave hanya diam dan menatap Bella yang sudah melangkah pergi. Perlahan, matanya memejam, mencoba menghapus bayang tangis Bella yang sering mengusik. Rasanya dia selalu membenci saat di mana rasa empatinya tidak bekerja pada tempatnya.
Dave menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia baru membuka mata dan tersentak kaget ketika melihat seorag gadis duduk di depanya dengan wajah dihiasi senyum indah.
“Hai, tuan. Apa anda keberatan ketika aku duduk di sini?”
_____
“Hai, tuan. Apa anda keberatan ketika aku duduk di sini?” ucap Dara dengan senyum sumringah. Menatap Dave dengan pandangan lekat. Tangannya sudah dijadikan penyangga untuk dagu runcingnya.
“Aku tahu. Lalu untuk apa kamu ada di sini?” celetuk Dave dengan tangan mengelus dada.
Dara terkekeh kecil menegakan badan. Tubuhnya mulai disandarkan di kursi kayu dan menatap Dave lekat. “Aku hanya mengantar seseorang datang untuk menjenguk Roy. Namun, saat aku terasa lapar dan masuk ke sini, aku malah melihatmu bersama dengan seorang gadis,” jawab Dara santai.
“Kamu melihatnya?” ulang Dave dan mendapat anggkan dari arah Dara.
“Apa dia kekasihmu? Dia sangat cantik,” ujar Dara memuji penampilan Bella yang benar-benar elegan. Dia mulai mencondongkan badan dan menatap Dave dari jarak yang lumayan dekat.
“Bukan. Dia hanya mantan karyawan di perusahaan Michael. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh,” celetuk Dave yakin jika mata Dara sudah menatapnya dengan pandangan berbinar.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Dara masih enggan menyerah.
Dave menghela napas perlahan dan memilih mencondongkan badan, membuat wajahnya berjarak dua senti dari Dara. “Dengar Nona, dia sudah memiliki kekasih dan jangan buat mereka berpikir macam-macam.”
“Manisnya,” gumam Dara dengan tawa kecil. “Lalu, sekarang kamu memiliki pasangan?”
__ADS_1
Dave terkekeh kecil dan menjauhkan tubuhnya. “Aku rasa itu tidak penting, Nona. Aku tidak membutukan kekasih dan aku bisa hidup sendiri.”
“Kalau begitu, mau mencoba denganku?” tawar Dara dengan wajah serius.
“Apa?”
“Iya. Mungkin kamu bisa mencobanya denganku,” ulang Dara dengan penuh rasa percaya dri. “Berpacaranlah denganku,” ujar Dara. Dia juga ingin menghilangkah traumanya di masa lalu. Dia ingin bisa hdiup normal dan tidak takut dalam menjalin sebuah hubungan.
_____
“Mas, sudahlah. Kamu hanya mempermainku saja,” gerutu Alice ketika untuk kesekian kalinya Bara sudah membuatnya kalah. Wajahnya bahkan sudah penuh dengan bedak yang digunakan sebagai hukuman untuk yang kalah.
“Sayang, hanya kurang satu tangga dan aku akan menang,” ujar Bara masih kekeh dengan kemuannya. Matanya menatap Alice yang sudah memanyunkan bibir, marasa kesal karenannya.
Bara mengabaikannya dan mulai mengocok dadu di dalam sebuah wadah kecil. Kembali mengeluarkannya dan tersenyum menang. “Aku menang lagi, sayang,” ujar Bara sembari menggeser pionnya ke kotak terakhir.
Alice yang melihat mendengus kesal. Dia merasa menyesal karena sudah mengajak Bara bermain ular tangga. Dia pikir pria sekaku Bara tidak akan pernah jago memainkan permainan konyol semacam ini.
“Mana wajahmu, sayang?” celetuk Bara dengan wajah menggoda. Tangannya sudah penuh dengan bedak putih yang siap ditaburkan di wajah istrinya.
Alice menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia segera maju dan memberikan wajahnya untuk dibedaki. Namun, baru saja dia berhenti, Aloie dikagetkan dengan ulah Bara yang langsung meraup bibirnya, membuat Alice terkejut.
Bara masih asyik menikmati bibir menggoda milik istrinya. Menyesapnya hingga terasa memasuki bagian terdalam. Bara baru melepaskan ciumannya ketika Alice mulai tersengal. Matanya menatap wajah memerah Aljce dan juga bibir yang terlihat begitu seksi baginya.
“Kamu curang, Mas,” ucap Alice dengan wajah dibuat semarah mungkin.
“Aku hanya memberi hukuman yang berbeda, baby,” ujar Bara mengelak.
Alice hanya terkekeh kecil mendengar jawaban Bara. Dia segera memajukan bibir dan menyatukan dengan milik Bara. Keduanya hanya asyik menikmati rasa masing-masing. Hingga hanyut dalam lumatan panjang yang terasa memabukan.
_____
Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jagan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh.
__ADS_1