
“Kamu harus menjadi anak yang kuat ya, sayang. Di sini, mama dan papa menunggu kamu,” ucap Alice sembari mengelus pelan perutnya yang sudah membuncit. Dia hanya berbaring dengan tubuh bersandar dengan pungung ranjang.
Alice menarik napas dalam dan mengembuskan pelan. Dia memilih menurunkan kaki dan menapak di lantai dingin di rumahnya. Perlahan, dia mulai bangkit dan berniat keluar kamar. Pasalnya, dia merasa lelah harus duduk terus di dalam kamar.
Namun, Alice baru dua langkah Alice meninggalkan ranjang, dia harus menghentikan langkah karena pintu di depannya terbuka. Menghadirkan Dara yang sudah menatapnya dengan penuh keceriaan.
“Kamu mau ke mana?” tanya Dara yang langsung mendekati Alice.
“Aku mau keluar, Dara. Aku bosan kalau harus di kamar terus-menerus,” jawab Alice dengan wajah riang. Dia mulai melangkah ke arah sofa di kamar dan menghela napas lega. Pasalnya, dia merasa lelah meski hanya berjalan beberapa langkah.
“Kamu kenapa ke sini gak bilang-bilang dulu?" tanya Alice dengan wajah riang. Dia merasa senang karena ada teman yang bisa diajak untuk berbincang.
Dara mengulas senyum tipis dan memilih duduk di dekat Alice. Menatap sahabatnya yang sudah berubah menjadi seorang wanita sesungguhnya. Membuat Dara merasa lega dan bangga seketika.
“Dara. Kenapa diam saja?” tegur Alice karena sahabatnya senyum-senyum tidak jelas.
“Tidak, Alice. Aku hanya merasa senang saja karena sebentar lagi kamu akan menjadi ibu,” jawab Dara dengan wajah berbinar.
Alice melirik sahabatnya dan mengulas senyum tipis. “Kalau begitu, kamu sudah mau memiliki anak?” tanya Alice sembari mengulum senyum tipis.
Dara berdecak kecil dan mengalihkan pandangan. “Aku bukannya tidak mau, Al. Aku sudah berusaha dan mungkin Tuhan belum menghendaki aku memiliki seorang anak,” jawab Dara dengan bibir dimanyunkan. Jujur, dia juga sangat mengharapkan seorang anak dalam rumah tangganya.
Alice terkekeh kecil dan menepuk pundak Dara pelan. “Jangan putus asa. Aku yakin kamu dan Dave akan memiliki anak secepatnya,” ujar Alice menenangkan Dara.
Dara mengangguk kecil dan menatap Alice lekat. Dia merasa beruntung pernah bertemu dengan orang semacam Alice dalam hidupnya. Dia bersyukur mendapat seorang sahabat yang bahkan terasa seperti saudara untuknya.
“Jadi, ada keperluan apa kamu kemari?” tanya Alice sembari menatap sahabatnya. Dia berusaha mengahalau rasa aneh yang tiba-tiba saja menyerang.
“Bara. Dia menghubungiku dan meminta agar aku menemanimu. Dia merasa tidak enak meninggalkanmu di rumah sendiri. Jadi, aku datang ke sini,” jawab Dara dengan senyum manis. “Lagi pula di rumah tidak ada kerjaan sama sekali. Dave kerja dan mama ke rumah saudaranya. Jadi, di rum ....”
“Dara,” potong Alice membuat ucapan Dara terhenti seketika.
__ADS_1
Alice meremas pergelangan tangan sahabatnya erat. Mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja dirasakan.
“Alice, kamu kenapa?” tanya Dara dengan tatapan cemas.
“Aku rasa aku akan melahirkan. Bawa aku ke rumah sakit,” jawab Alice sembari mengatur napas. Berusaha menahan sakit yang terus saja dirasakan.
Apa? Dara membelalak kaget. Jujur, ini pertama kalinya dia melihat seseorang akan melahirkan. Perlahan, dia mulai membantu Alice bangkit. Merasakan genggaman tangan sahabatnya yang kian erat.
Astaga, ini pertama kali aku menemani wanita yang akan melahirkan. Apa yang harus aku lakukan, batin Dara merasa buntu. Dia tidak mampu berpikir dengan tenang. Dia takut ada hal buruk yang terjadi dengan sahabatnya.
Dara membukan pintu mobil bagian belakang. Alice segera masuk dan menyandarkan tubuh di kursi. Dia menunggu Dara yang sudah berlari kecil menuju ke arah kemudi. Sampai wanita tersebut masuk dan menjalankan mobil dengan perasaan gugup.
“Dara, hubungi Bara,” perintah Alice di tengah rasa sakitnya.
Dara yang tersadar segera meraih ponsel. Dengan perasaan bercampur, dia segera menekan nomor Bara. Sesekali menatap cemas ke arah Alice yang masih saja terlihat kesakitan.
“Hal ....”
_____
Bara menghela napas pelan. Sejak pagi dia merasa tidak nyaman sama sekali. Pikirannya terus berkutat dengan Alice yang tengah berada di rumah seorang diri. Membuat perasaannya tidak nyaman seketika.
Aku harap dia baik-baik saja. Semoga Dara cepat sampai di rumah dan bisa menemani Alice sampai aku pulang, batin Bara. Dia memilih meraih dokumen di dekatnya dan membaca pelan. Berusha fokus dengan apa bacaan di depannya.
Bara kembali membuang napas ketika rasanya tetap tidak nyaman. Perlahan, dia menutup kembali dokumen di depannya. Dia memilih bangkit dan menyambar kunci mobil cepat.
Aku tetap tidak akan bisa fokus dengan pekerjaan kalau Alice di rumah sendiri, batin Bara segera keluar ruangan. Baru tiga langkah dia meninggalkan ruangan, langkahnya kembali terhenti karena Surya yang berhenti tepat di depannya. Membuat Bara terdiam dan menatap tenang.
“Kamu mau ke mana? Bukannya ada rapat sore nanti?” tanya Surya dengan tatapan datar. Dia segera mendekati menantunya dan mengamati wajah Bara lekat.
“Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Surya mulai terlihat serius.
__ADS_1
“Maaf, Pa. Aku harus pulang sekarang. Aku takut terjadi hal buruk dengan Alice. Sejak tadi aku terus terpikir dengan Alice,” jawab Bara dengan tatapan cemas. Dia takut kalau nantinya Surya tidak memberikan izin dengannya.
“Memang ....” Surya menghentikan ucapan ketika dering ponsel Bara berbunyi. Membuat Surya menatap ke arah Bara lekat.
Bara mengerutkan kening sejenak. Setelahnya dia memiih mengangkat panggilan dari Dara. Cepat.
“Hal ....”
“Bara, Alice akan melahirkan. Sekarang aku membawa dia ke rumah sakit terdekat.”
Bara yang mendengar membelalakan mata dengan degup jantung yang tidak tenang. “Aku akan segera menyusul,” ucap Bara sembari mematikan panggilan.
“Ada apa?” tanya Surya ketika Bara akan pergi meninggalkannya. Dia juga mulai merasa cemas karena wajah Bara yang terlihat seperti biasa.
Bara menatap Surya lekat. “Alice akan melahirkan, Pa. Jadi, Bara izin ke rumah sakit untuk menemaninya,” jawab Bara tergesa.
Surya segera mengangguk pelan dan menepuk pundak Bara. “Pergilah. Temani istrimu,” sahut Surya dengan wajah yang sama-sama cemas.
Bara mengangguk pelan. Dia segera melangkah meninggalkan Surya yang masih termenung di lorong kantor. Sampai dia memutuskan untuk melangkah lebar.
Aku harap kamu baik-baik saja, Alice. Aku mohon, berjuanglah, batin Bara segera membuka pintu mobil.
Bara mulai masuk dan melajukan mobil cepat. “Astaga, seharusnya aku memang tidak ke kantor hari ini. Aku rasa ini adalah pertanda bahwa dia akan melahirkan,” gumam Bara mulai memecah jalanan.
Maafkan aku yang tidak ada untukmu, sayang, batin Bara. Dia bahkan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sedangkan di rumah sakit, Alice sudah mulai masuk ke ruang persalinan. Dara hanya diam dengan pandangan cemas. Menatap ruangan yang terkesan mencekam baginya.
“Alice, berjuanglah,” ucap Dara dengan mata memejam lemah.
_____
__ADS_1
Hai sayang Kim. Please, jangan timpuk Kim dengan sandal kalian, ya. Hehe. Maaf nih Kim gak up lamaaaaaa banget. Maaf ya. hehe