Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 66_Bisa Kita Bicara?


__ADS_3

Alice menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Tangannya masih asyik merapikan diri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Mencoba menghilangkan apa yang sejak tadi berkelebat dalam ingatan. Aku rasa aku bisa gila karena Bara, batin Alce mencoba menenangkan perasaannya.


Alice tersenyum melihat tampilan dirinya yang rapi. Rambut dibiarkan terurai dengan beberapa helai di bagian kanan dan kiri yang kemudian disatukan di bagian belakang membuat wajahnya terlihat lebih cerah.


“Selaesai,” ucap Alice dengan wajah riang. Dia baru akan bangkit dan membalik badan, bersiap pergi ke meja makan. Namun, niatnya terhenti ketika Bara mendekapnya tiba-tiba. Alice yang melihat pantulan Bara hanya diam dengan pandangan mengamati.


Rambut basah dan wajah yang terlihat segar. Rasanya Alice mulai mengutuk dirinya yang selalu saja terbayang dengan aktivitas malam itu dan juga pagi ini. Hal pertama yang baru dia rasakan.


“Sayang, kamu dandan secantik ini memangnya mau kemana?” tanya Bara dengan suara manja, membuat Alice mengulum senyum mendengarnya.


“Mas, aku rasa kamu tdiak pantas dengan nada manja seperti itu,” celetuk Alice sembari menahan tawa.


Bara yang mendengar langsung terkekeh kecil dab memilih mencium pelan pipi istrinya. Perlahan, matanya menatap Alice dari pantulan kaca dan mengulas senyum tipis.


“Kamu mau ke mana, sayang?” tanya Bara dengan suara lembut. Tangannya masih berada di perut istrinya.


“Aku mau di sini saja, Mas. Memangnya mau ke mana lagi?” Alice malah balik bertanya, sembari mengamati wajah Bara lekat.


Bara diam. Tangannya masih sibuk mengelus perut rata Alice pelan. Namun, lamunannya terhenti ketika Alice melepaskan pelukannya dan memilih berbalik menatap ke arahnya. Membuat Bara menatap mata bening Alice secara langsung.


Bara baru akan mendekat dan berniat mencium Alice. Namun, belum sempat bibirnya menyatu dengan bibir Alice, Bara dikagetkan dengan suara perut yang terdengar keras. Membuatnya menjauhkan tubuh dan menatap Alice lekat.


“Kamu lapar, sayang?” tanya Bara dengan tawa tertahan.


Alice mengangguk malu dan memeluk Bara erat, menyembunyikan wajah memerah karena teguran suaminya. “Kamu sih mandinya kelamaan,” protes Alice dengan wajah yang sudah benar-benar memerah.


Bara terkeke kecil dan melepaskan pelukan Alice pelan. “Ya sudah, ayo makan. Lagi pula aku harus memanaskannya dulu. Aku yakin makanannya sudah dingin, sayang,” ujar Bara sembari menggandeng Alice.

__ADS_1


“Aku yang akan memanaskanya,” ujar Alice dengan tawa riang.


“Boleh, asal jangan buat dapurku menjadi gudang, sayang,” ejek Bara dengan bbir mengulum senyum.


“Mas,” teriak Alice kesal dengan tingkah Bara. Namun, bukannya marah, Bara malah memeluk Alice dari samping. Mengabaikan cicitan dan juga protes yang dilakukan istrinya.


_____


“Sialan kamu, Michael!” teriak seseorang yang sedang berada dalam balik jeruji besi.


Rony menggeram kesal karena ulah Michael, pria yang pernah disingkirkannya dari sebelah Alice. Matanya menatap nyalang pada pria yang masih berdiri dan menatapnya dengan pandangan dingin. Tubuhnya sengaja disandarkan dengan meja kayu yang ada di depan kurungan Rony.


Michael menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Mulai menegakan tubuh dan melangkah mendekati Rony, diikuti Roy yang masih setia bersama dengannya.


“Jangn berteriak, Rony. Bahkan sekarang aku ada di depanmu,” jawab Michael tanpa perasaan sama sekali.


“Diam!” tegas Michael dengan suara datar. “Aku tidak mau mendengar ocehan tidak berguna darimu, Rony. Aku sudah berusaha diam sejak dulu, tetapi kamu malah semakin bertingkah. Aku rasa saat ini adalah hal yang tepat bagimu untuk menerima hukuman yang setimpal.”


Rony yang mendengar hanya diam. Tangannya mengepal, tetapi tidak dapat menjangkau Michael yang terasa jauh di depannya. Sampai seseoeang lain masuk, menatapbke arahnya dengan pandangan datar. Rony menyipitkan mata dan menatap Dave yang tengah berbicara dengan Michael serius. Hingga senyum tipis mulai muncul di bibirnya.


“Jadi, kamu sekarang berteman dengan Dave Wijaya, Michael?” tanya Rony dengan wajah mengejek, membuat Michael dan Dave menatap keduanya dengan tatapan datar.


“Aku tidak menyangka kamu berteman dengan pria yang sudah menculik calon istrimu dulu,” ejek Rony berusaha membuat Michael terpancing emosi. Dia berniat memasukan Micahel ke lubang yang sama dengannya.


Michael menarik napas dalam dan mengembuskanya perlahan. Tangannya mulai masuk ke dalam kantung celana dan menatap Rony lekat. “Mungkin jika aku adalah Michael yang dulu, caramu akan berhasil, Rony. Aku akan datang dan menghajarmu tanpa perasaan. Namun, saat ini aku enggan melakukannya. Jadi, aku pastiakn usahamu sia-sia.”


Rony menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap Micael yang melangkah mendekatinya dan mengulurkan berkas dengan map coklakt.

__ADS_1


“Ambil ini. Kamu bisa pikirkan keputusanmu mulai dari hari ini. Besok Roy akan mengambil berkas dan menerima keputusanmu. Semua ada di tanganmu. Serahkan perusahaan yang sudah kamu rampas atau kamu mendekam di penjara seumur hidup.”


Michael meletakannya di lantai dan melangkah, diikuti Dave dan Roy yang ada di belakangnya. Namun, saat dia hendak keluar, langkahnya terhenti dan menatap Rony dengan pandangan merendahkan.


“Dan asal kamu tahu, Rony. Aku bahkan bersyukur karena saat itu Dave membawa pergi calon istriku. Setidaknya dengan begitu aku mampu mendapatkan wanita baik yang saat ini menjadi pendampingku,” ucap Michael dengan wajah santai.


Rony hanya menggeram kesal ketika melihat Michael dan rombongan pergi. Dia menyesal karena melupakan sosok Michael yang merupakan teman Alice. “Aku akan membalasmu, Micahel. Dasar kurang ajar,” geram Rony dengan penuh amarah.


_____


“Kamu yakin dia akan sulit keluar, Micahel?” tanya Dave dengan wajah cemas. Dia takut jika Rony kembali mengganggu Alice dan juga Bara.


Michael yang mendengar menghentikan langkah dan menatap ke arah Dave lekat. “Iya. Kenapa kamu begitu khawatir, Dave?”


"Aku hanya takut jika nantinya dia akan mengganggu Bara dan juga Alice,” jawab Dave sembari menghentikan langkah, mengikuti Michel yang juga tengah menatapnya lekat.


“Kenapa kamu masih peduli dengannya, Dave? Alice sudah menjadi milik orang lain dan aku harap kamu akan menemukanya juga,” ujar Micahel tidak mau jika Dave menjadi perusak rumah tangga orang lain.


Dave yang mengerti arah pembicaraan Michael berdecak kesal dan menatap sahabatnya lekat. “Jangan berpikir buruk dulu, Michael. Aku hanya merasa jika Bara sudah seperti adikku sendiri dan Alice sudah seperti sahabat. Aku hanya tidak mau jika nantinya ada yang mengganggu hubungan mereka,” jelas Dave santai.


Michael baru akan menjawab ucapan Dave, tetapi terhenti karena wanita yang ada di belakang sahabatnya. “Aku rasa Vinda sudah menungguku. Aku akan kembali dulu dan jangan lupa temui wanita di belakangmu,” ucap Micahel sembari menepuk pelan pundak Dave.


Dave segera menatap ke arah belakang dan mengabaikan Michael yang sudah menjauh. “Bella,” panggil Dave dengan suara pelan. Matanya menatap ke arah Bella dengan pandangan tidak percaya.


“Bisa kita bicara? Aku ingin menyampaikan beberapa hal,” ujar Bella dengan saura lembut.


_____

__ADS_1


Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jagan lupa juga baca carita kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh. 😘😘


__ADS_2