
“Dave.”
Bara menatap pria di belakangnya dengan pandangan tajam. Rasanya dia tidak yakin kalau Dave ada di tempat yang sama dengannya. Bahkan, sampai ketika Dave menunduk di dekatnya dan menatap ke depan, mengamati wajah parah pria kekar yang ada di hadapan mereka.
“Kamu mau melawan mereka sendiri dan tanpa taktik?” tanya Dave sembari melirik ke arah Bara lekat.
Bara menghela napas perlahan dan menatap Dave lekat. “Kamu di sini? Aku kira kamu sudah tidak mau mengurus masalah Alice lagi,” ucap Bara dengan nada sinis.
Dave terkekeh geli dan mengabaikan kata-kata Bara. “Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dave merasa tidak memiliki ide sama sekali.
“Kita harus masuk dan menyelamatkan Alice,” ucap Bara tanpa pikir panjang.
Dave yang mendengar mengerutkan kening heran dan mengetok pelan kening Bara, membuat pemuda tersebut mengaduh pelan dan menatap Dave tidak suka.
“Apa-apaan sih, main getok saja,” protes Bara dengan wajah kesal.
“Aku pikir kamu itu pintar karena lulusan Jepang dan sebagai anak beasiswa. Tetapi, ternyata salah. Kamu beneran bodoh dalam hal ini,” celetuk Dave dengan wajah kesal.
Bara yang mendengar hanya diam dengan wajah kesal. Entah kenapa rasanya dia tidak bisa berpikir dengan benar. Yang ada dalam otaknya sekarang adalah menjauhkan Dave dari Alice dan dia menyelamatkan sendiri gadis tersebut. Dia tidak rela jika nantinya Alice merasa bahwa Dave adalah pahlawannya. Hatinya terasa kesal jika membayangkannya.
“Kalau semudah itu, sang penculik tidak akan....”
“Rony,” potong Bara cepat, “namanya Rony. Dia adalah paman Alice,” jelas Bara dengan wajah sinis.
Dave menyipitkan mata dan mengabaikan perasaan aneh yang langsung menyergapnya. “Ya. Kalau semudah itu, Rony tidak akan menyuruh mereka berjaga, Bara. Bagaimana pun, kita harus menyusun rencana sebelum om Surya datang. Aku sudah memberinya kabar mengenai hal ini,” ulang Dave dengan mata yang menatap lekat ke arah para penjaga.
Bara menghela napas perlahan dan mengesampingkan perasaannya. Dia menatap ke arah para penjaga dan memikirkan beberapa cara yang bisa digunakan untuk masuk ke dalam. Dia tahu, dia dan Dave tidak akan pernah bisa dengan mudah untuk masuk.
“Aku memiliki cara untuk membuat Rony mengalihkan perhatian dari Alice,” celetuk Dave dan menatap Bara lekat. Bara menatap ke arah Rony dengan rasa penasaran.
Dave langsung membisikan rencananya dan menatap Bara lekat. Bara menghela napas perlahan dan mengangguk setuju.
__ADS_1
“Kita lakukan,” ucap Bara dengan rasa percaya diri. Kali ini, hanya satu pikirannya. Dia haus menyelamatkan Alice dari tangan Rony. Apa pun caranya.
_____
Alice menggeliat dalam tidurnya ketika rasa penat mulai menyerang. Matanya perlahan terbuka ketika denyut keras di kepalanya kembali terasa ngilu. Manik matanya menatap sekitar dan mulai menyesuaikan dengan tempat asing yang ada di depanya. Keningnya berkerut ketika menyadari tempat itu bukanlah kamar tidurnya.
“Di mana aku,” ucap Alice dengan nada lemah.
Masih asyik menikmati pemandangan di dalam kamar tersebut. ingatannya kembali ke masa di mana dia mengalami hal tidak menyenangkan. Dia kembali ingat, dengan siapa dia datang ke rumah yang saat ini disinggahinya.
Rony. Nama tersebut langsung terlintas dan membuatnya bangkit. Dengan napas memburu, Alice mengabaikan rasa sakitnya dan menatap sekeliling dengan mata membelalak. Dia kembai mencari pintu keluar dan hendak kabur. Namun, ketika dia menemukannya dan siap turun dari ranjang, gerakannya terhenti dengan deheman yang ada di belakangnya.
“Mau ke mana, sayang?” tanya seseroang yang ada di balik badan Alice.
Alice yang mendengar merinding seketika dan menatap ke sumber suara. Matanya menatap Rony yang tengah berdiri dengan senyum iblis. Matanya mengamati Alice yang tampak berantakan.
“Kamu sudah bangun? Aku kira kamu masih mau tidur saja sampai besok,” ucap Rony yang langsung melangkah mendekat ke arah Alice.
“Aaaaaa,” teriak Alice merasa takut. Matanya mnatap Rony yang malah terlihat bahagia di belakangnya.
“Jangan berteriak, sayang. Tidak ada yang akan menolongmu di sini,” ucap Rony membuat Alice merasa lemas seketika.
Alice yang masih mencari ide dibuat terkejut ketika Rony menariknya hingga terlentang di ranjang. Matanya langsung membelalak kaget dan merasa takut. Tanpa sadar, air matanya mengalir seketika karena rasa takut yang mulai menjalar.
“Ssstt, jangan menangis, sayang. Aku bahkan belum melakukan apa pun,” ujar Rony dengan suara dibuat selembut mungkin. Namun, suara itu malah membuat Alice yang ada di bawahnya semakin takut.
“Lepaskan aku, Rony. Aku mau pulang,” kata Alice dengan lemah.
Papa, tolong Alice, pinta Alice dengan penuh permohonan.
“Kenapa? Kamu takut denganku? Aku tidak akan melukaimu, Alice. Aku sangat mencitaimu dan akan menjadikanmu istriku satu-satunya,” sahut Rony dengan senyum menjijikan.
__ADS_1
Rony masih melihat air mata yang mengalir di mata Alice hanya tersenyum penuh kemenangan. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya dan hendak mencium Alice. Namun, gadis tersebut membuang muka dan menggerakan kedua tangan yang sudah digenggamnya erat. Rony menghela napas perlahan dan menatap Alice dengan pandangan tajam.
“Jangan menguji kesabaranku, Alice. Aku bahkan sudah berbaik hati dengan tidak mengikatmu,” desis Rony dengan rahang yang mulai mengeras.
“Aku tidak mau denganmu, Rony. Kamu adalah pamanku!” teriak Alice menghilangkan rasa takut di dalam hatinya. Pikirannya sudah benar-benar buntu untuk mecari jalan keluar dari masalahnya. Dia tidak bisa melepaskan diri dari Rony karena tenaga yang tidak sebanding.
Rony yang mendengar kata paman langusng memejamkan mata dan meresapi rasa kesal yang mengalir. Setelah emosinya kembali terkotrol, dia membuka mata dan menatap Alice dengan pandangan tajam. Matanya menunjukan amarah yang jelas berkobar.
“Kamu mengatakan apa? Aku pamanmu?” ulang Rony dengan suara ditekan. Dia mendekatkan kepala dan berhenti tepat di sebelah telinga Alice. “Aku bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai keponakanku, Alice,” bisiknya dengan senyum tipis.
Rony kembali menjauhkan kepalanya dan menatap Alice tajam. Jemarinya mengelus pipi Alice pelan, membuat gadis tersebut semakin tergugu. Rasanya dia senang melihat Alice pasrah di bawahnya. Dia merasa menang melawan gadis lemah yang sekarang ada dalam genggamannya.
Rony berdecak pelan dan tersenyum setan. “Jangan menangis, sayang. Aku benar-benar mencintaimu,” ucap Rony yang langsung mendekat dan memberikan ciuman kecil di kening Alice.
“Rony lepas,” teriak Alice merasa takut. Dia tahu apa yang akan dilakukan Rony kepadanya karena dia pernah mengalami hal yang sama. Bedanya, dia dulu mendapat pertolongan dari papanya. Sedangkan sekarang, dia yakin tidak ada yang bisa menolongnya sama sekali.
Rony hanya tertawa keras dan menatap Alice tajam. Sebelah bibirnya terangkat meremehkan Alice yang masih berontak di bawahnya. Dia baru akan mendekatkan wajahnya dan mencium Alice. Namun, sebuah teriakan membuatnya berhenti dan mengerutkan kening bingung.
“Rony! Keluar kamu!”
Rony menghela napas perlahan dan menatap ke arah jendela kesal. “Siapa yang menggangguku kali ini,” geram Rony yang langsung melepaskannya.
Rony menatap Alice yang ada di bawahanya dengan tatapan mengancam. “Kamu jangan mencoba kabur, Alice. Kalau sampai itu terjadi, kamu akan menerima akibatnya,” ancam Rony yang langsung keluar dan meninggalkan Alice.
Alice yang mendengar pintu terkunci hanya mampu menitikan air mata dan mendekap tubuhnya erat. Namun, ada rasa penasaran ketika indra pendengarannya masih menangkap suara teriakan yang ada di bawah. Dengan cepat dia melangkah turun dari ranjang dan mencari salah satu jendela untuk melihat kondisi di luar.
Alice mencoba tenang dan tetap mencari, sampai ditemukan sebuah jendela kecil yang ada di ruangan tersebut. Dengan perlahan, dia melihat siapa yang ada di bawah dan membelakak ketika Dave ada di depan gerbang.
“Dave,” ucap Alice dengan wajah tidak percaya. Wajah yang sejak tadi menangis berubah menjadi ceria dan tersenyum bahagia.
“Dave!” teriak Alice berharap bahwa teriakannya akan didengar oleh orang di bawah sana.
__ADS_1
_____