
“Ada masalah dengan perusahaan kita di Singapura,” celetuk Surya sembari menatap Bara lekat. Tangannya menyerahkan sebuah map yang langsung diterima Bara.
Bara segera menerima berkas tersebut dan membacanya pelan. Mengamati satu per satu tulisan yang sudah tertera di depannya bersama dengan Alice. Hingga helaan napas keras terdengar, membuat Alice menatap ke arah suaminya dengan pandangan lekat.
“Papa berharap kamu mau datang ke sana dan menyelesaikannya. Papa yakin, kamu bisa menangani semua masalah yang ada di sana,” ucap Surya serius.Tidak ada senyum yang terbentuk sama sekali di bibirnya.
Bara terdiam sejenak. Rasanya sulit untuk mengambil keputusan. Sesekali menatap Alice yang hanya diam dengan wajah tertunduk, seolah memikirkan sesuatu yang cukup rumit untuk dijelaskan.
“Berapa hari aku di sana, Pa?” tanya Bara dengan suara tegas.
“Papa tidak bisa memastikan itu, Bara. Menurut Darka, kamu butuh waktu satu minggu atau bahkan bisa lebih dari itu. Semua tergantung seberapa cepat kamu menanganinya,” jawab Surya.
“Kalau begitu aku tidak bis....”
“Mas Bara bisa,” potong Alice cepat, membuat Bara mengerutkan kening dengan pandangan bingung. Alice yang mengerti segera menatap ke arah Bara dan mengulas senyum tipis. Tangannya segera meraih jemari Bara dan menggenggamnya lembut.
“Kamu mau ya berangkat? Bantu papa menyelesaikan masalah ini,” ujar Alice dengan suara lembut.
“Aku tidak bisa, sayang. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri di sini. Aku tidak mau kalau nanti Rony memiliki kesempatan untuk melukaimu,” jawab Bara.
Alice mengulas senyum tipis mendengar ucapan Bara. “Hey, kamu lupa? Rony sudah masuk penjara,” ujar Alice dengan suara penuh kelembutan. Tanganya mengusap lembut pipi suaminya. "Jadi, jangan cemas lagi. Aku akan baik-baik saja."
Bara semakin diam. Hingga dia menatap ke arah Alice dan mengangguk pelan, tidak tega melihat wajah memelas sang istri. Alice yang melihat hanya tersenyum tipis dan memeluk Bara. Mencoba menenangkan perasaan gundah sang suami.
Aku tahu kamu terpaksa melakukannya, Mas, batin Alice paham dengan sikap Bara.
“Kamu tidak perlu khawatir, Bara. Alice bisa tinggal di sini terlebih dahulu. Sementara, apartemen kalian di biarkan kosong dahulu,” sela Galuh dengan senyum tipis. Menatap Alice dan Bara bergantian.
“Tidak perlu, Ma. Alice bisa tinggal di sana sendiri. Mama dan Papa jangan khawatir, Alice akan menghubungi ketika ada masalah di sana,” ucap Alice santai.
“Kamu yakin, Nak?” tanya Surya dan mendapat anggukan. Membuat Surya hanya mampu pasrah dengan apa yang diinginkan sang anak.
“Maaf karena papa malah menyusahkan kalian,” cicit Sury merasa bersalah.
__ADS_1
“Tidak, Pa. Ini semua memang tugas kami,” sahut Bara dengan senyum tipis. Matanya beralih menatap ke arah Alice dan menghela napas pelan.
“Aku pastikan semua akan selesai dengan cepat,” janji Bara sembari mencium puncak kepala Alice.
Alice mengagguk pelan, menyembunyikan perasaan aneh yang sejak tadi terjadi dalam tubuhnya. Bukankah aku tidak hamil, tetapi kenapa rasanya aku seperti lemas, mual dan hanya ingin tiduran saja, batin Alice.
_____
Dara melangkah ke arah parkiran dengan senyum menawan. Beberapa menit yang lalu dia menerima pesan dari Dave, mengatakan bahwa pria tersebut sudah menunggunya di parkiran. Dengan cepat, Dara melangkah untuk menemui Dave. Hingga matanya menatap keberadaan Dave yang sudah berdiri di depan pintu mobil, bersandar dan memainkan ponsel. Membuat Dara semakin mempercepat langkah.
Aku tidak pernah merasa sesemangat ini saat pulang, batin Dara dengan langkah tergesa.
Dara baru akan membuka mulut ketika seseorang membekapnya dari belakang, membuat teriakan Dara hanya tertelah begitu saja.
“Tolommmph,” teriak Dara tertahan.
Dave, please look at me, batin Dara dengan air mata yang semakin mengalir. Kesadarannya sudah diambang batas. Matanya mulai mengabur, menatap Dave yang masih asyik dengan ponsel. Bahkan, melawanpun dia sudah tidak sanggup.
Aku rasa setelah ini, aku tidak mampu melihatmu, batin Dara lirih. Rasanya terlalu sakit ketika merasakan sebentar lagi kebahagiaannya akan hilang dengan sendirinya.
Kalian bermain dengan orang yang salah, batin Dave dengan senyum tipis. Dengan cepat, dia segera melempar ponsel yang digenggamnya sekuat tenaga. Sampai ponselnya tepat mengenai kepala salah satu pria dengan pakaian rapi di depannya, membuat pria yang lain menatap ke arah Dave lekat.
“Apa kamu gila, hah?” teriak seorang pria dengan tubuh lebih kekar dari yang lainnya.
“Maaf, aku rasa tanganku licin sehingga ponselku terlempar begitu jauh,” jawab Dave dengan nda mengejek. Kakinya melangkah ke arah ketiga pria tersebut dengan langkah santai.
“Memangnya kami gila, hah? Kamu memang mencari gara-gara,” bentak pria yang sama dengan rahang mengeras, menatap Dave dengan tatapan tajam. Bahkan, tangannya sudah mengepal dan siap menghajar Dave saat itu juga.
“Kalian memang gila. Kalian bahkan berniat menculik seorang wanita yang tidak bersalah sama sekali,” celetuk Dave dengan suara tajam.
“Jangan ucapanmu,” teriak pria tersebut. Tangannya sudah terangkat, tetapi terhenti ketika seseorang menepuk pundaknya dan memberikan isyarat bawa mereka tidak perlu meladeni Dave.
Dave yang melihat angukan pria dan tubuh yang mulai berbalik segera menepuk pundak pria di depannya. Tanpa aba-aba, dia segera melayangkan tinju, membuat hidung pria tersebut mulai mengeluarkan setetes darah segar.
__ADS_1
"Kurang ajar,” bentak pria yang sama, membuat kedua sahabatnya membelalak.
Dave mencoba menangkis serangan dari pria di depannya. Namun, serangan dari arah berlainan membuatnya terluka. Membut beberapa luka di bagian wajah dan bibir Dave, menghadirkan darah segar yang mulai mengalir. Hingga dia terhuyung dan terbentur mobil pria tersebut. Membuatnya mampu melihat Dara yang tengah memejamkan mata.
Aku akan membawamu pulang. Kamu calon istriku dan tidak ada yang bisa melukaimu, batin Dave dengan pandangan tegas. Hingga dia melihat ketiga pria di depannya mulai menyeringai dan melangkah ke arahnya.
Dave menatap santai. Tangannya mulai masuk ke dalam kantung celana dan mengambil sebuah benda kecil, mengarahkannya ke arah ketiga dengan senyum sinis.
Dooor...dooor....dooorr...
“Kalian berurusan dengan orang yang salah,” gumam Dave segera memasukan kembali benda tersebut ke dalam saku celana. Mengabaikan teriakan sakit karena ulah Dave yang melukai salah satu kakinya.
Dave segera membuka pintu dan mengangkat Dara keluar. Matanya menatap ketiga orang yang tidak berdaya dengan pandangan cemas.
“Kembalikan wanita itu,” teriak salah satu pria tersebut dengan bibir menahan sakit.
Dave hanya diam dan melangkah ke arah mobilnya cepat. Dia segera memasukan Dara dan tersenyum sinis ke arah ketiga pria yang sudah mengumpatinya. “Katakan dengan orang yang menyuruh kalian, jangan membuat masalah dengan seorang Dave Wijaya dan silahkan kalian nikmati luka kalian,” tegas Dave dengan tatapan mematikan.
Dave segera melangkah ke arah bangku kemudi dan meninggalkan parkiran perusahaan Dara. Sesekali menatap ke arah Dara yang masih terpejam.
Aku tahu siapa yang harus menerima semua ini, Dara. Aku akan membalasnya, batin Dave tidak terima.
_____
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI bagi yang merayakan. Minal Aidzin Wal Faizin semuanya. Maafkan Kim yang banyak salah ini ya sayangkuh. Maaf nih ngucapinnya telat banget hehe.
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa like, commnet, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, commnet, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim.
Untuk kalian yang suka cerita tamat, Kim punya dua cerita tamat yang bisa kalian nikmati dengan judul “Wedding Drama” dan “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan berikan vote untuk cerita Kim.
Kalian juga bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info update dan sebagainya.
__ADS_1
See you next chapter 😘😘