
“Tante, ada yang cari,” ucap Bella sembari masuk ke dalam.
Renita yang mendengar segera menatap ke asal suara dan menghentikan kegiatannya. Matanya menatap ke arah pintu, menunggu tamu yang baru saja dikatakan oleh Bella. Sampai matanya menatap Dara yang mulai mengulas senyum tipis ke arahnya.
“Dara,” panggil Renita dengan senyum bahagia.
Dara yang mendengar mengulas senyum sumringah dan mendekat ke arah Renita. Hingga dia sampai di depan wanita tersebut dan langsung merasaka dekapan hangat. Hal yang membuat Bella terdiam seketika.
Dara yang melihat Bella menatapnya lekat mulai melepaskan dekapan Renita pelan. Dia merasa tidak enak dengan Bella yang tengah mengaduk adonan kue. Sampai dia merasakan elusan pelan di pipinya, membuat fokus Dara mulai teralihkan.
“Tante senang kamu mau datang lagi, Dara,” ucap Renita dengan senyum sumringah. “Tante pikir, kamu tidak akan datang lagi karena tidak nyaman dengan sikap tante.”
“Mana mungkin, Tante. Dara nyaman kok. Malah Dara senang banget karena Tante sangat baik sama Dara,” jawab Dara jujur.
“Benarkah? Bukan karena kamu sedang dekat dengan Dave saja, kan?” celetuk Renita dengan tawa kecil.
“Tidak, Tante,” sahut Dara dengan senyum canggung. Sesekali menatap ke arah Bella yang menatapnya penuh selidik. Hal yang membuat Dara merasa tidak nyaman.
Dara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Berulang kali melakukan hal yang sama, hinga dia merasa lebih tenang. Dara menatap ke arah Renita kembali.
“Tante, ini kue yang Dara buat tadi pagi. Sengaja Dara buat banyak supaya Tante bisa mencobanya,” ucap Dara sembari memberikan kotak berisi kue.
Renita segera menerima dan mengulas senyum tipis. Dia mulai berbalik dan berniat mengambil piring. Namun, gerakannya terhenti ketika melihat Bella ada diantara mereka. Membuat Renita mengulas senyum tipis.
Aku lupa kalau ada Bella, batin Renita merasa tidak enak karena mengabaikan Bella.
“Bella, bisa tolong ambilkan tante piring?” ucap Renita berusaha menghilangkan kecanggungan yang tercipta.
Bella yang mendengar mengangguk dan mulai bangkit. Dia mengambil piring yang dimaksud dan memberikannya kepada Renita. Renita segera menerimanya dan memindahkan kue yang dibuat Dara ke dalam piring.
Dara menatap Renita dengan perasaan cemas. Dia takut jika menurut Renita kuenya tidak enak. Namun, semua pemikirannya mulai lenyap ketika melihat wajah Renita yang mulai tersenyum dan mengunyah dengan lahap.
__ADS_1
“Ini beneran enak, Dara,” puji Renita dengan senyum bahagia. “Cobalah, Bella. Ini benar-benar enak.”
Bella mulai mengambil satu potong kue yang dibawa Dara dan mencicipinya. Hal yang sama terjadi. Bella mengulas senyum tipis dan menunjukan kue yang ada di tangannya. “Ini enak. Bagaimana kamu membuatnya?”
Dara yang dipuji merasa senang. Dia segera menjelaskan bagaimana cara membuatnya. Namun, belum sepenuhnya dia menjelaskan, ucapannya harus terpotong karena kehadiran seseorang. Membuat ketiganya menatap ke asal suara, mentap Dave yang hanya diam di pintu masuk dapur.
“Dara,” ucap Dave dengan pandangan terkejut. Pasalnya, Dara tidak memberitahukan kalau dia akan datang.
“Hai,” sahut Dara dengan senyum tipis.
Dara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mulai menatap ke arah Renita yang diam di dekatnya. “Tante, sekarang Dara pamit dulu ya. Dara harus segera kembali ke kantor,” ucap Dara dengan senyum tipis.
“Kamu tidak mau di sini dulu?” ujar Renita merasa kecewa.
“Lain kali, Dara akan ke sini lagi, Tante. Sekarang Dara harus kembali,” jelas Dara.
“Baiklah. Tante akan menunggumu.”
Dave menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Dengan cepat, dia menarik tangan Dara dan menggenggamnya erat. Membuat Dara menghentikan langkah dan menatanya lekat.
“Dave,” ucap Dara dengan pandangan bingung.
“Aku butuh bicra dneganmu, Dara,” jawab Dave tanpa menatap Dara sama sekali. Pandangannya lurus menatap ke arah Bella yang sudah menunduk dan berusaha menyibukan diri, seakan tidak melihat apa yang Dave lakukan.
"Bella, ada yang mencarimu. Dia ada di luar dan aku harap kamu mau menemuinya,” lanjut Dave serius.
Bella yang mendengar segera mendongak dan menatap Dave. Dia baru akan bertanya siapa yang menemuinya, tetapi terhenti karena Dave yang sudah lebih dulu pergi bersama dengan Dara. Hal yang membuatnya terdiam seketika.
Siapa yang menemuiku, batin Bella penasaran.
_____
__ADS_1
“Dave, leps,” tegur Dara ketika sudah berada di bagian taman di rumah Dave.
Dave yang sadar mulai melepaskan genggamannya dan menatap ke arah Dara lekat. “Apa yang terjadi denganmu, Dara? Kamu seakan menghindariku. Kamu pergi setelah aku datang. Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Dave merasa penasaran dengan sikap Dara yang jauh berbeda.
Padahal dia kemarin bersikap hangat, batin Dave.
“Aku tidak apa, Dave. Aku hanya harus kembali ke kantor sebelum jam istirahatku habis,” jawab Dara dengan senyum tipis. Dia merasa tidak perlu membicarakan mengenai perasaannya kepada Dave.
“Aku tidak percaya dengan itu,” kekeh Dave dengan pandangan mengamati. “Semalam aku merasa kamu hangat dan bukan seperti saat ini. Kamu terlihat sangat berbeda, saat ini kamu lebih seperti orang asing bagiku.”
Dara yang mendengar memejamkan mata dan menarik napas dalam. Dia mulai bangkit dan menatap Dave lekat. “Aku sudah mengatakan semuanya. Percaya atau tidaknya kamu, itu terserah padamu, Dave. Aku hanya mengatakan apa yang kamu tanyakan. Selebihnya, mengenai kamu percaya atau tidak, aku tidak memaksakannya. Sekarang aku harus pergi,” jelas Dara.
Dara baru akan melangkah ketika tangannya di genggam Dave erat. Lagi. Dara yang mendengar mendesah lelah dan menatap Dave. Namun, dia baru membuka mulut ketika Dave bangkit dan mencuiumnya lebih dulu. Hal yang membuat Dara membeku seketika.
Dave mengabaikan keterkejutan Dara dan memilih fokus dengan bibir di depannya. Bibir tipis yang membuatnya merasa ketagihan seketika. Perlahan, lidahnya mulai menelusup masuk ke dalam, bermain dengan lidah Dara yang mulai pasrah. Bahkan, Dara hanya memegang kemeja milik Dave erat.
Dave mulai menghentikan gerakannya dan melepaskan bibir Dara ketika dirasa wanita tersebut mulai kehabisan napas. Matanya mengamati wajah memerah Dara yang terasa menggoda baginya.
“Aku rasa aku tahu apa yang membuatmu begink,” ucap Dave santai. “Kamu merasa cemburu dengan Bella, bukan?” lanjut Dave dengan senyum tipis. Ada perasaan senang yang tiba-tiba muncul
“Jangan berpikir aneh. Aku hanya menolongnya dari Ryan dan saat ini, pria itu bersama dengan Michael. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Bukankah aku sudah katakan aku akan mencoba bersama denganmu?”
Dara hanya diam. Wajahnya semakin memerah karena perasaan malu. Dia malu karena pikirannya terbaca oleh Dave. Sampai dia kembali merasakan ciuman di bagian keningnya, membuat Dara memejamkan mata sejenak.
“Aku tidak pernah ingkar janji, Dara. Lagi pula perasaanku terhadap Bella sudah pergi saat dia memilih bersama dengan Ryan dan bukan aku,” bisik Dave diiringi senyum kecil.
_____
Ada yang kangen Alice dan Bara? Tenang-tenan. Mereka akan segera kembali lagi di next chapter heheh.
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan jangan lupa vote ya. See you next chapter sayangkuh. Jangan lupa jga baca semua karya Kim ya. Bye bye 😘😘
__ADS_1