Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 31_Lindungi Dia, Tuhan


__ADS_3

Bara melangkah menyusuri pantai, mencoba mencari sosok Alice yang tidak juga terlihat. Dia merasa tidak enak hati karena sudah mengatakan hal yang sepertinya menyakiti gadis tersebut.


Helaan napas terdengar ketika Bara merasa tidak mengenal dirinya sendiri. Dia marah tanpa sebab dan malah mengatakan hal yang menyakitkan. Hal yang tidak pernah diperkirakan sama sekali. Namun, melihat Alice tersenyum kepada Dave membuatnya merasa hilang akal seketika.


“Dasar bodoh,” ucap Bara yang langsung mengetuk kepalanya pelan.


“Ke mana dia,” ujar Bara merasa bigung karena dia tidak juga mendapatkan Alice.


Bara mendongak dan menatap lurus ke depan. Sudah tidak ada lagi para pengunuung yang melangkah ke arah di depannya karena sudah berada di paling ujung. Dia yakin, Alice juga tidak akan pergi ke sana karena dia tahu, Alice takut dengan tempat sepi dan juga gelap.


Bara baru akan membalik badan dan berniat mencari Alice di kamar, tetapi terhenti ketika mendengar lolongan keras dari tempat paling ujung di pantai tersebut.


“Tolong!”


Bara mengerutkan kening heran ketika mendengarnya. Dia seperti mengenal suaranya, tetapi dia masih merasa ragu. Langkanya berputar haluan dan kembali melangkah. Dia merasa ada hal yang terjadi di ujung pantai tersebut.


“Tolo....”


Bara yakin dengan apa yang didengarnya dan membelalak. “Alice,” ucap Bara yang langsung berlari secepat kilat menuju ke asal suara.


Bara melangkah lebar menuju ke asal suara. Langkahnya sudah semakin dekat ketika matanya menatap seorang pria yang membopong Alice. Pria yang sempat dilihatnya. Napasnya semakin terasa berat ketika melihat Rony membawa masuk gadis tersebut ke dalam mobil hitam.


“Alice,” teriak Bara mencoba memberitahu bahwa dirinya ada.


Bara menerjang rimbunnya hutan dan segera menyusul mobil tersebut. Namun, semua berhenti ketika mobil tersebut sudah meninggalkan hutan dengan membawa Alice di dalamnya.


“Sial!” geram Bara yang memilih berbalik arah dan menuju ke penginapan.


_____

__ADS_1


Rony menatap Alice yang tengah tertidur lelap di jok mobilnya. Dengan perlahan, dia mulai menepikan mobil di sebuah bangunan megah di tengah hutan. Setelah mematikan mesin mobil, dia segera melangkah membopong Alice masuk ke dalam rumah.


Roy mendongakan kepala melewati para pengawalnya yang tengah berjaga dan masuk ke dalam rumah. Kakinya mulai menaiki satu per satu anak tangga dan masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan. Di sana, dia meletakan Alice yang masih memejamkan mata dengan sempurna. Wajahnya tampak begitu damai dengan masalah yang sudah berada di hadapannya.


“Aku merindukanmu, sayang. Aku bahkan sudah lama menantikan saat ini,” ucap Rony dengan senyum setan.


Rony mengelus pelan pipi Alice dan tersenyum simpul. Dia benar-benar memandang wajah ayu di hadapannya dengan tatapan memuja. Kecantikan dan kepolosan yang dimiliki Alice mampu membawanya pada perasaan suka yang teramat dalam.


“Kamu tahu, Alice. Aku sangat mencintaimu. Semua yang ada pada dirimu adalah milikku, bukan milik Dave,” ujar Rony seperti sebuah ancaman. Tangannya kembali menyisir rambut Alice dan menyelipkannya di belakang telinga. “Dan sekarang, di sini, kamu tidak akan pernah bisa kabur. Surya atau siapa pun tidak akan pernah bisa menemukanmu. Kamu hanya milikku seorang,” imbuh Rony dengan wajah penuh kemenangan.


Rony menghela napas perlahan dan mulai mendekatkan tubuh. Dia baru akan mengecup puncak kepala gadis tersebut ketika panggilan masuk mulai mengusiknya. Dering ponsel terus saja mengganggu ketenangannya, membuat wajah yang tadinya datar dengan sedikit senyuman menjadi mengeras penuh dengan amarah.


Rony meraih ponsel dan mendesah keras. “Dasar nenek tua pengganggu,” geram Rony sembari mengangkat panggilan dari Margaret.


“Halo, Nek,” sapa Rony dengan wajah malas.


“Halo, Rony. Bagaimana perkembangan rencanamu?” tanya Margaret dengan nada penuh antusias.


“Kamu yakin?” tanya Margaret merasa was-was.


“Seratus persen yakin. Tidak ada yang bersama dengan Alice ketika aku menculiknya. Nenek tenang saja, kali ini aku akan memilikinya,” tegas Rony dengan seringai mesum.


“Baiklah. Aku harap kamu benar-benar membuatnya menjadi milikmu dan setelah itu bawa dia pergi sejauh mungkin. Jangan sampai Alice kembali ke dalam kehidupan keluarga Pranata karena aku tidak sudi lagi melihat wajahnya,” jawab Magaret tanpa perasaan.


Rony yang mendengar tertawa keras dan menatap ke arah Alice tajam. “Kamu memang nenek paling kejam di seluruh daratan, Margaret,” celetuk Rony yang sama kejamnya.


“Dia bukan cucuku. Jadi, untuk apa aku memikirkannya, Rony? Dia hanya anak dari wanita murahan dan aku tidak menyukainya. Jadi, terserah apa yang akan kamu lakukan. Kamu hanya perlu memastikan bahwa kamu bisa memiliki dan membawanya pergi sejauh mungkin.”


“Baiklah. Aku tahu dan aku suka itu. Nenek tenang saja. Kali ini Alice akan menjadi milikku. Aku akan menanamkan benihku di dalam rahimnya. Dengan begitu, semua akan selesai dan Surya tidak akan pernah bisa memisahkan kami.”

__ADS_1


“Bagus.”


Rony hanya diam sembari mematikan ponsel. Matanya masih tetap mengawasi wajah tenang Alice dan menghela napas perlahan. Dia memasukan ponselnya di kantung celana dan melangkah mendekat.


“Cepatlah bangun, aku ingin kita melakukannya dan aku ingin kamu dalam keadaan sadar. Agar kamu tahu, milik siapa kamu sebenarnya,” bisik Rony membuat alam bawah sadar Alice bergejolak takut.


_____


“Tuhan, jaga Alice,” pinta Bara dengan wajah panik.


Bara memilih ke penginapan dan meminjam mobil kantor. Awalnya dia ingin mengajak Dave, tetapi diurungkan karena Dave tidak ada di tempat. Dia yakin, semua kekacauan yang terjadi saat ini adalah ulah Rony, paman Alice yang sudah benar-benar gila. Dia bahkan rela menculik keponakannya sendiri. Hal yang membat Bara semakin kalut mengingat keberadaan Alice yang sudah jauh dari keramaian.


Bara menatap layar ponselnya dan mengamati titik kecil yang terus berjalan. Dia memang sengaja memasang alat pelacak di ponsel Alice dan terhubung dengannya. Dia takut kejadian seperti saat ini terjadi. Mengingat tingkah keluarga Alice yang tidak pernah berbuat baik kepada gadis tersebut.


“Aku harap kamu bisa melindungi dirimu sendiri dulu, Alice. Aku akan datang menjemput,” gumam Bara dengan wajah cemas.


Bara menancap gas dan menerjang jalanan yang mulai berliku. Dia sudah menghubuungi orang yang bisa dihubungi dan memberitahukan kabar tersebut. Bahkan Dave sudah diberitahu meski dia sebenarnya enggan.


Bara menghentikan mobil ketika sampai di rumah megah yang ada di dalam hutan. Keningnya berkerut heran menyadari hal tersebut. Rumah mewah di tengah hutan yang tidak jauh dari penginapan. Rasanya dia mencium bau permainan di dalam acara yang diikutinya.


“Sial. Penjagaannya begitu ketat. Bagaimana aku bisa masuk,” gumam Bara dengan wajah mulai berpikir.


“Di situ ada pintu, masuk saja.”


Suara tersebut membuat Bara menatap ke belakang dengan wajah terkejut. Matanya membola menyadari siapa yang ada di belakangnya saat ini. Bahkan, dia merasa tidak yakin dengan pandangannya.


“Dave,” ucap Bara dengan wajah mengamati.


_____

__ADS_1


Hai-hai sayang Kim, apa kabar? Kim mau minta pendapat nih. Kim mau update Wedding Drama 2. Bagaimana menurut kalian? 🥰🥰


__ADS_2