Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 82_Sebuah Keseriusan


__ADS_3

Dara menatap ke arah Dave dengan pandangan lekat. Kakinya terus melangkah, menuju ke arah halaman belakang rumah pria tersebut. Bibirnya masih saja bungkam dengan perasaan yang semakin tidak karuan.


Apa yang akan dikatakannya, batin Dara dengan perasaan yang semakin takut.


Dara menghentikan langkah ketika Dave di depannya berhenti. Membuatnya menatap ke arah taman kecil di depannya. Matanya menatap dengan kening berkerut heran. Di depannya sudah ada meja dengan tiga kursi dan juga makanan yang tertata rapi. Bahkan, Renita sudah tersenyum lembut ke arahnya.


“Dave, ada apa ini?” tanya Dara mulai membuka percakapan.


Dave yang mendengar hanya diam dan menatap Dara singkat. Langkahnya kembali ke arah sang mama, menatap wanita yang sudah melahirkannya lekat. Sampai Dave memutuskan berdiri di belakang kursi roda mamanya dan mendorong pelan.


Dave melangkah ke arah Dara yang masih berdiri dengan perasaan bingung. Dave menghentikan langkah di depan Dara, menatap wanita tersebut lembut.


“Kamu bingung dengan hal ini?” tanya Renita dengan senyum tipis. Membuat Dara menatap ke arah wanita yang sudah menggenggam jemarinya erat.


“Tante, ada apa ini sebenarnya?” Dara balik bertanya dengan tatapan bingung.


Renita yang mendengar mulai mengulas senyum tipis dan memandang Dara dengan penuh kebahagiaan. “Kamu tahu? Tante suka kamu tinggal di rumah tante. Tante senang kamu bisa mengubah anak tante yang tidak mau berpacaran menjadi mau memiliki hubungan denganmu. Bahkan, dia berniat akan menjadikanmu sebagai menantu tante,” ucap Renita berbasa-basi.


“Maksudnya?” tanya Dara semakin bingung.


“Semalam, Dave bilang kalau dia akan menikah denganmu, Dara. Jadi, pagi ini tante berniat melamarmu dengan cara yang benar. Tante ingin mendatangi orang tuamu dan meminta restu mereka,” jelas Renita membuat Dara membelalakan mata.


Dara menatap ke arah Dave dengan pandangan tidak percaya. Aku pikir dia tidak secepat ini, batin Dara sembari menelan salivanya pelan.


“Aku sudah katakan bahwa aku serius dengan apa yang aku katakan, Dara. Jadi, ini adalah bukti keseriusanku. Aku tahu kita baru saja mengenal, tetapi aku akan berusaha untuk mulai mencintaimu. Aku berjanji akan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku,” ucap Dave dengan pandangan serius.

__ADS_1


Dara mengulas senyum tipis dan menatap Dave lekat. Pipinya sudah merona merah karena ucapan pria di depannya. Tangannya meremas pelan jemarinya yang saling bertautan. Mencoba menenangkan dengup jantung yang kian berdebar kencang.


“Dara, bagaimana? Kamu mau menerima Dave, kan ?” tanya Renita dengan pandangan lekat.


Dara yang mendengar mengulas senyum tipis dan mulai mengangguk. Membuat Renita yang ada di depannya ikut tertawa bahagia. Tangannya menyenggol Dave yang masih menatap Dara lekat. Membuat Dave menatap sang mama dan mengangguk pelan. Seakan mengerti dengan kode yang diberikan oleh mamanya.


Ini benar, kan?, batin Dara merasa aneh.


_____


“Kamu sudah mencoba menghubungi Alice dan Bara? Apa mereka membutuhkan sesuatu?” tanya Surya dengan mata menatap koran. Matanya mengamati setiap tulisan dengan pandangan lekat.


“Tidak, Mas. Bara bahkan menolak kiriman uang yang kemarin kamu berikan, Mas,” jawab Galuh sembari meletakan cangkir berisi kopi.


Galuh segera bangkit, meninggalkan Surya yang sudah menutup koran. Kakinya melangkah menuju ke arah ruang tamu dan membuka pintu pelan. Hingga matanya menatap sang tamu dengan pandangan terkejut.


“Alice, Bara. Kalian sudah kembali?” tanya Galuh dengan pandangan tidak percaya. Pasalnya, dia masih sangat ingat jika masa berbulan madu anaknya masih tersisa lima hari lagi.


Alice yang mendengar tersenyum lebar. Dengan cepat, dia segera mendekap sang mama erat, membuat Galuh segera menatap Bara dengan pandangan menyelidik. Bara yang ditatap sedemikian lekat hanya mengangkat bahu ringan.


“Ada apa, sayang?” tanya Surya dari arah belakang. Membuat Alice dan Bara menatap ke asal suara dengan tatapan lekat. Sampai Surya berhenti dan menatap dengan pandangan terkejut.


“Kenapa kalian sudah kembali? Bukanya masih ada lima hari lagi masa liburan kalian?” tanya Surya yang mulai mendekat ke arah Alice dan Bara. Matanya menatap Bara yang masih memandangnya lekat.


“Alice rindu dengan mama, Pa,” jawab Bara sembari memberikan salam kepada Surya.

__ADS_1


Surya mengerutkan kening heran ketika melihat Alice yang masih mendekap erat istrinya. Sejak kapan dia sebegitu manja dengan Galuh, batin Surya merasa heran. Namun, dia hanya mengabaikan hal tersebut.


“Masuklah, kalian butuh istirahat,” ucap Surya tenang.


Alice yang mendengar mengulas senyum tipis dan mendongakan kepala. Matanya menatap Galuh dengan pandangan lekat. “Ma, Alice mau dibuatkan petis sama Mama,” celetuk Alice membuat seisi ruangan terdiam seketika, terkecuali Bara yang sudah beberapa kali melihat tingkah aneh sang istri.


“Kamu mau petisan?” ulang Galuh dan mendapat anggukan dari arah Alice. “Apa kamu hamil? Ada rasa mual?” tanya Galuh dengan penuh semangat.


Alice berdecak kecil dan menatap Galuh lekat. “Ma, Alice hanya mau makan petisan, bukan berarti Alice hamil. Lagi pula, Alice gak mual sama sekali,” kekeh Alice.


Galuh yang mendengar hendak melakukan protes ketika Bara lebih dulu menyela ucapannya.


“Untuk saat ini kami memang belum tahu mengenai itu, Ma. Namun, nanti Bara dan Alice akan memeriksakan kandungan Alice,” sela Bara.


“Sudahlah,” sahut Surya tegas. “Kalian masuk saja dulu. Kalian butuh istirahat. Kamu bisa bisa Alice ke dokter nanti saja Bara, saat kalian sudah merasa baikan,” sambung Surya dengan senyum tipis.


Bara dan Alice hanya mengangguk pelan dan mulai melangkah masuk. Keduanya melangkah ke arah kamar, meningalkan Surya dan Galuh yang masih menatapnya lekat. Hingga keduanya masuk ke dalam kamar, membuat Surya beralih ke arah Galuh yang tengah berdiri menatap sang anak.


“Buatkan apa yang Alice minta, sayang. Mungkin saja anak kita memang sedang hamil,” ucap Surya dengan senyum tipis.


Galuh yang mendengar mengangguk pelan. Dia segera melangkah ke arah dapur dan siap membuatkan apa yang diinginkan sang anak. Aku harap Alice benar hamil, batin Galuh bersemangat.


_____


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan vote cerita Kim ya. See you next chapter 😘😘

__ADS_1


__ADS_2