
“Jangan pernah menyakiti seorang wanita, Tuan.”
Dave menatap Ryan dengan pandangan tajam. Matanya menunjukan amarah yang menggebu. Dia memang selalu membenci sifat pria yang selalu menyakiti wanita. Matanya menatap lekat Ryan yang sudah sama dengannya. Rahang mengeras menandakan emosi yang sudah berada di puncaknya.
Ryan mengibaskan tangan Dave dan menatap dengan wajah dingin. “Siapa anda? Aku tidak memiliki urusan denganmu.”
“Aku atasan Bella dan kamu harus tahu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti seorang wanita,” jawab Dave dengan tegas.
Ryan yang mendengar langsung tertawa keras dan menatap Bella dengan tatapan merendahkan. “Jadi ini alasan kamu tidak mengangkat panggilan dariku?” tanya Ryan dengan wajah menunjukan ekpresi jijik. “Jadi alasanmu mengabaikan ku bukan karena Bara, tetapi karena pria ini!” bentak Ryan dengan emosi menggebu.
Bella yang mendnegar menggeleng dengan cepat. Dia tidak mau jika kekasihnya kembali curiga dan tidak pecaya dengannya. Padahal, dia sudah benar-benar setia denga Ryan. Untuk berselingkuh pun dia tidak pernah terpikirkan.
“Dasar wanita murahan,” celetuk Ryan membuat Bella semakin hancur.
Bella menatap Ryan dengan mata yang sudah siap berlinang. Namun, sebisa mungkin ditahan. Dia tidak mau terlihat begitu lemah di mata pria tersebut. Sudah cukup Ryan menghinanya. Namun, apa pun yang terjadi dia tetaplah tidak bisa meninggalkan pria tersebut.
“Jangan ucapan anda, Tuan,” desis Dave dengan rahang mengeras.
Ryan mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Dave dengan seyum mengejek. “Kamu menyukainya? Ambil saja. Aku bahkan sudah tidak membutuhkan tubuhnya.”
“Ryan!” bentak Bella dengan air mata yang siap turun. Dia merasa sakit ketika pria di hadapannya mengatakan hal demikian.
Ryan yang melihat Bella sudah siap menunjukan kelemahannya hanya diam dan menertawakan sikap lemah gadis tersebut. Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan Bella sendiri. Hal yang sama seperti yang dilakukan.
Dave yang melihat kepergian Ryan menghela napas perlahan, menghilangkan rasa kesal yang tiba-tiba menguasai dirinya. Dengan pelan, dia mulai membalik tubuh dan menatap Bella yang sudah memandang dengan mata berkaca.
“Maaf, Pak,” ucap Bella yang segera menahan air matanya turun.
__ADS_1
Dave yang melihat Bella hendak menghapus air matanya menghentikan cepat. Jemarinya menggenggam pergelangan tangan Bella, membuat gadis tersebut menatap bingung.
“Jagan ditahan. Kalau memang mau menagis, menagislah. Ditahanpun masalahmu tidak akan pergi,” ucap Dave seperti menghipnotis Bella seketika.
Bella menghela napas perlahan dan membiarkan air matanya turun. Ini adalah pertama kalinya dia menangis di hadapan Dave. Biasanya dia selalu menunjukan wajah bahagia dengan segudang semangat.
Dave menghela napas perlahan dan menarik tengkuk Bella, membiarkan gadis tersebut menangis di dada bidangnya. Rasanya dia tidak tega membiarkan wanita lemah tersebut menangis tanpa sandaran.
“Dia kekasihmu?” tanya Dave dan langsung mendapat anggukanbdari Bella. “Dia begitu jahat denganmu. Kenapa kamu tidak memutuskanya saja?”
Bella menarik napas dalam dan menatap Dave dengan pandangan penuh luka. Perlahan, dia mulai menghela napas lelah untuk menormalkan perasaannya yang semakin berkecambuk.
"Aku tidak bisa memutuskannya, Pak. Hanya dia yang bisa membuangku dan melepaskanku dari hubungan ini,” jawab Bella dengan wajah penuh luka.
“Kenapa?” tanya Dave merasa penasaran.
“Aku sudah tidak memiliki hak bahkan untuk hidupku sendiri, Pak. Aku sudah memberikan kepada Ryan seutuhnya,” jawab Bella membuat Dave diam seketika. Matanya menatap Bella yang sudah tergugu kembali dalam tangisnya.
_____
Surya menghela napas perlahan ketika mobil yang dikendarai sudah memasuki pekarangan rumahnya dan berhenti tepat di depan pintu ruang utama. Dengan perasaan lelah, Surya segera turun dan melangkah memasuki rumah. Hal pertama yag menyambutnya adalah Galuh yang sudah berada di depan pintu dengan senyum manis yang menghiasi.
"Kok tumben sudah pulang, Mas,” ucap Galuh segera meraih tas kerja suaminya dan menatap dengan kening berkerut heran.
“Kamu dari mana? Kok lecek gitu,” tanya Galuh merasa penasaran. Biasanya, suaminya tidak akan betah ketika tidak rapi dalam berpakaian. Namun, sekarang dia melihat sosok berbeda dari biasanya. Surya tampak begitu berantakan dengan pakaian dipenuhi banyak noda.
Surya menghela napas perlahan dan menatap istrinya dengan pandangan serius. “Aku baru saja dari tempat pertemuan Alice. Di sana dia bertemu dengan Rony dan dibawa ke rumahnya. Untung saja Bara dan Dave menyelamatkan Alice,” jelas Surya dengan wajah serius.
__ADS_1
“Apa? Alice ditangkap Rony lagi? Terus sekarang dia gimana, Mas?” tanya Galuh dengan wajah dipenuhi kekhawatiran. Dia tidak menyangka jika Rony masih saja mengejar putrinya. Padahal jelas-jelas Alice menolak dan juga sudah mendapat teguran dari suaminya.
Surya mengangguk lemah. Dia masih terlalu lelah karena masalah anak dan juga ibunya yang bercampur menhadi satu. Awalnya dia tidak pernah berpikir sama sekali mamanya akan nekad menculik Alice dan memberikannya kepada Rony. Namun, setelah hari ini dia kembali sadar bahwa kebencian mamanya memang sudah mendarah daging dan itu semua karenanya. Seharusnya dia mengatakan semua sejak awal meski Melly melarangnya.
“Mas,” panggilGaluh pelan ketika suaminya hanya diam di depan pintu.
Surya tersentak kaget dan menatap Galuh dengan wajah bingung. “Ada apa, sayang?”
"Kamu melamun. Ada yang kamu pikirkan?” tanya Galuh penasaran.
Surya menggeleng pelan dan mengusap pipi istrinya lembut. “Aku hanya kepikiran, bagaimana jika Alice nantinya tidak jadi menikah dengan Dave, sayang. Apa kamu masih memaksanya?” tanya Surya sembari menatap Galuh lekat.
“Apa? Kenapa tiba-tiba kamu malah berbicara mengenai itu, Mas,” celetuk Galuh dan tersenyum tipis. Menganggap ucapan suaminya hanya angin lalu.
“Aku hanya kepikrian saja, sayang. Kalau misalkan itu terjadi, bagaimana?” tanya Surya mulai memancing reaksi istrinya.
Galuh menghela napas perlahan dan menatap suaminya dengan wajah kesal. “Mas, jangan bicara yang aneh-aneh, ya. Aku gak mau loh kalau sampai kejadian. Lagi pula, Alice dan Dave sudah serasi gitu kok. Mereka itu bisa menjadi pasangan yang cocok, Mas dan yang terpenting adalah Alice sudah setuju untuk dijodohkan dengan Dave.”
Surya mengangguk pelan dan mencoba memahami ucapan istrinya. “Bukannya kalau kita begitu akan semakin memaksanya?”
“Maksudnya?” Galuh mengerutkan kening bingung.
Surya menghela napas kasar dan menegakan badan. Tangannya mendekap pundak istrinya dan menatap dengan penuh serius. “Sayang, hubungan itu dimulai dari hati dan mengenai itu kita tidak dapat memaksakannya. Jadi, ketika Alice ingin mengakhiri hubungan lama dan berganti dengan hubungan baru, aku harap kamu tidak menentangnya, sayang. Mereka memiliki pilihannya sendiri dan aku ingin kamu menghormatinya. Mendukung Alice dengan siapa pun dia nantinya menikah. Yang terpenting, dia bahagia dengan pilihanya.”
Setelah mengatakan kalimat pajang tersebut, Surya segera melangkah meninggalkan istrinya yang masih terpaku di depan pintu rumah. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan suaminya. Dia merasa, apa yang Surya katakan adalah sesuatu yang benar terjadi.
“Ada apa ini? Apa Alice tidak mau bersama dengan Dave? Lalu bagaimana aku membatalkan pertunangan ini?” gumam Galuh dengan wajah was-was.
__ADS_1
_____