Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 97_Sejak Kapan Mesum?


__ADS_3

“Semua karena Dave. Andai saja dia tidak semesum itu. Aku rasa siang ini aku tidak perlu kelaparan,” gumam Dara dengan tatapan kesal.


Dara kembali diam dengan tangan yang sibuk memainksn alat-alat di dapur. Dia memih diam dan fokus dengan masakannya. Pasalnya, saat ini sudah pukul dua belas dan tidak ada makanan sama sekali di meja makan. Membuatnya harus memulai memasak dengan terburu-buru.


Dara mulai memasukan sayurannya dan mengaduk pelan. Sesekali menatap ke arah lain untuk membuat bumbu masakan yang lain. Sampai dia merasakan dekapan pelan di pinggang. Membuat Dara menghentikan gerakan dan berdecak kecil.


“Dave, aku sedang memasak. Bisa kamu duduk dengan tenang saja?” protes Dara yang kembali melanjutkan aktivitas.


Dave yang baru saja datang hanya diam. Dia memilih meletakan kepala di ceruk leher istrinya dan menatap penggorengan di depanya lekat. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Dara yang melihat kediaman Dave mulai menghentikan gerakan dan melirik Dave pelan. “Hey, kenapa?” tanya Dara dengan suara lembut. Dia memilih melepaskan dekapan Dave dan membalik badan. Menatap suaminya sepenuhnya.


Dave yang melihat Dara di depannya hanya mengulas senyum tipis dan menarik istrinya pelan. Membuat wanita tersebut berada semakin dekat dengannya. Bahkan, Dave memilih mencondongkan tubuh dan menatap Dara dari jarak yang sangat dekat.


“Kenapa kamu tidak membangunkanku, sayang?” tanya Dave pelan.


Dara terkekeh kecil dan menatap Dave lekat. Dia memilih menangkup wajah tampan suaminya dan mengecup pelan. “Aku harus memasak, Dave. Jadi, aku memilih bangun lebih dulu dan membiarkanmu tidur. Aku tidak mau mengganggumu,” jawab Dara lembut.


“Kenapa kamu memasak? Kita bisa makan di luar,” ucap Dave santai.


Dara berdecak kecil dan memutar bola mata jengah. Dia memilih membalik badan dan berniat memastikan makanannya. Namun, niatnya terhenti ketika Dave menghentikannya. Membuat Dara menatap ke arah suaminya lekat.


“Dave, aku....” Dara menghentikan ucapannya ketika Dave tanpa aba-aba mematikan kompor di belakangnya. Membuat Dara menatap ke arah suaminya semakin tajam.


“Sudah matang, sayang,” jawab Dave dengan senyum kecil. Dia kembali mendekatkan tubuh dan menatap Dara lekat.


“Aku mau minum, sayang,” kata Dave pelan.


“Kamu mau minum apa, Dave? Kopi apa teh?” tanya Dara pelan.


“Susu,” jawab Dave cepat.


Dara yang mendengar mengerutkan kening dalam. Sejak kapan Dave menyukai susu? Aku rasa dia tidak mau meminum susu sama sekali, batin Dara penuh tanya. Setidaknya, itu yang diingatnya dari percakapan dengan mama Dave beberapa waktu yang lalu.


“Susu kamu,” bisik Dave membuat Dara membelakan mata tidak percaya.


Dara dengan cepat menepuk lengan Dave keras. Dia memilih mendorong pria yang sudah menertawakannya sejak tadi. Mengabaikan Dave yang seakan puas mengerjainya. Dia mulai membelakangi Dave dan memasukan sayur buatannya ke dalam mangkuk dan melangkah ke arah meja makan.

__ADS_1


Dave yang melihat hanya asyik mengikuti Dara yang ada di depannya. Sampai istrinya kembali berbalik badan dan siap pergi. Namun, Dave dengan cekatan menghentikan dan menatap dengan kedua alis yang mulai naik turun.


“Dave, aku mau mengambil piring,” ucap Dara dengan suara lembut. Berharap pria tersebut akan berhenti mengganggunya.


“Kasih aku minum dulu,” rengek Dave dengan tawa tertahan. Rasanya dia benar-benar bahagia melihat wajah memerah Dara karena ucapanya.


“Dave, kenapa kamu menjadi pria mesum,” teriak Dara dengan nada kesal.


Dave semakin tertawa melihat tingkah Dara yang menurutnya menggemaskan. Dia baru membuka mulut dan siap menyahuti ucapan istinya. Namun, naitnya terhenti karena suara bel rumah yang terdengar berulang kali. Membuat Dave berdecak kecil dan menatap ke asal suara kesal.


“Siapa yang menggangguku pagi-pagi sekali,” celetuk Dave sembari melangkahkan kaki ke arah ruang tamu.


Dara hanya menggeleng pelan. Dia mulai melangkah ke arah dapur dan mengambil perlengkapan lain. Setelah semuanya siap, Dara memilih duduk, menunggu Dave yang tdiak juga kembali. Membuatnya menatap ke arah ruang tamu curiga.


Siapa tamunya? Kenapa lama sekali?, batin Dara penasaran.


Dara memilih bangkit dan berniat menuju ke arah di mana Dave berada. Namun, niatnya terhenti ketika Dave masuk bersama dengan seseorang yang membuatnya terdiam. Dara menatap lekat dengan tangan meremas ujung meja erat.


“Sayang, dia ingin bertemu denganmu,” kata Dave santai. Dia yakin, pria di sebelahnya tidak akan berbuat macam-macam.


“Apa kabar, Dara? Boleh papamu masuk?” celetuk Herman dengan nada datar. Hal yang membuat Dara menatap ke arah Dave takut.


_____


Bara mengulas senyum tipis, memperhatikan Alice yang tengah asyik dengan makanan di depannya. Mengamati setiap gerik tubuh istrinya dan terkekeh kecil. Pasalnya, Alice terlihat seperti anak kecil yang takut kehilangan makananya. Membuat Bara tidak mamu menahan tawa.


Alice menatap ke arah Bara dan mengerutkan kening dalam. “Kenapa, Mas?” tanya Alice penuh tanya.


Bara menggeleng pelan. Dia memilih diam dan menghapus sisa makanan di sudut bibir Alice. “Kalau makan pelan, baby. Tidak akan ada yang meminta makananmu,” kata Bara pelan.


“Maaf, aku lapar sekali, Mas,” sahut Alice dengan senyum malu-malu. Dia menatap ke arah piring Bara yang masih terlihat bersih dan mengerutkan kening dalam.


“Kamu enggak makan, Mas?” tanya Alice dengan pandangan mengamati.


“Aku belum lapar, sayang. Kamu makan dulu saja,” kata Bara pelan.


Alice berdecak kecil. Dia memilih mengambil makanannya dan mengarahkan sendok tersebut ke arah Bara. Membuat pria tersebut menatap bingung.

__ADS_1


“Aku suapi,” jelas Alice singkat.


“Sayang, ak....”


“Jangan protes, Mas. Aku cuma gak mau kamu sakit. Lagi pula, aku ke sini sama kamu buat makan bareng. Bukannya cuma mau dilihatin saja,” celetuk Alice dengan tatapan kesal.


Bara yang melihat berdecak kecil. Dia memilih pasrah dengan apa yang dinginkan istrinya. Dia mendekat dan memakannya. Membuat Alice yang di depannya langsung mengulas senyum bahagia.


Astaga, sejak kapan dia terlihat menggemaskan?, batin Bara dengan senyum tipis.


“Kamu itu harus makan, Mas. Jangan sampai sakit. Aku juga tidak mau kalau nanti Rika tahu adiknya bertambah kurus. Nanti dia mengira aku tidak memberimu makan,” oceh Alice masih setia menyuapi Bara.


Bara terkekeh kecil mendengar ucapan Alice. Mana mungkin Rika akan berkata seperti itu, batin Bara dengan decakan kecil.


Alice baru menyendok makanannya dan siap memasukan ke dalam mulut Bara, tetapi terhenti karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Dia memilih menurunkan tangan dan menahan sakit.


“Sayang, kamu baik?” tanya Bara dengan tatapan yang berubah cemas.


“Sakit, Mas,” cicit Alice dengan menahan sakit.


Bara yang mendengar langsung bangkit cepat. Dia segera mendatangi Alice yang duduk di depannya dan menatap lekat. “Mananya yang sakit?” tanya Bara takut. Dia takut akan terjadi hal buruk dengan istri dan anaknya.


Alice hanya diam dan menunjuk bagian perutnya. Mencoba mengatur napas pelan, berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Sampai Bara mengelus pelan. Membuat rasa sakitnya perlahan menghilang.


Alice menatap Bara yang masih terlihat cemas dan mengelus pipi suaminya pelan. “Jangan cemas, Mas. Aku sudah sedikit membaik,” kata Alice pelan.


Bara mengangguk pelan. “Kita ke rumah sakit. Aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi dengan kalian,” tegasnya tanpa mau diganggu gugat.


Bara segera bankit dan meninggalkan uang di meja mereka. Dengan cekatan, dia menggendong Alice dan melangkah keluar. Aku harap mereka baik-baik saja, batin Bara.


Alice yang melihat hanya terkekeh kecil dan menatap pasrah. Sampai dia duduk di mobil, diikuti Bara yang masih saja cemas.


“Mas,” panggil Alice sembari mengelus pelan lengan suaminya. “Tidak perlu ke rumah sakit. Tadi itu bayinya hanya sedikit bergerak dan aku belum terbiasa dengan itu.”


“Benarkan?” tanya Bara dengan pandangan tidak percaya. Sampai Alice mengangguk pelan. Membuat Bara menghela napas lega.


“Kalau ada yang sakit, bilang ya, sayang,” kata Bara sembari mendekap Alice pelan.

__ADS_1


Alice hanya mengangguk patuh dan mengulas senyum tipis. Aku bahagia denganmu, Bara. Sangat, batin Alice pelan.


_____


__ADS_2