
“Ruangan atas nama Bara Pradipta,” tanya Surya dengan wajah serius.
“Baik, akan saya carikan terlebih dahulu, Pak.”
Surya menunggu dengan pandangan cemas. Dia tidak menyangka jika pemuda tersebut benar-benar melindungi anaknya, bahkan mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Setelah menunggu, petugas tersebut menatap ke arah Surya dengan tatapan lembut.
“Pasien atas nama Bara Pradipta ada di ruang Mawar nomor satu, Pak.”
“Baik, terima kasih.” Surya langsung melangkah menuju ke ruangan yang dimaksud.
Surya menatap setiap plang nama yang dipasang di depan pintu dan menemukan ruangan yang dimaksud. Tangannya baru saja memegang knop pintu dan siap masuk, tetapi terhenti karena sebuah suara yang sangat dihapalnya.
“Aku juga mencintaimu.”
Surya mengerutkan kening heran dan segera membuka pintu di hadapannya sedikit, mengintip siapa yang ada di ruangan Bara. Matanya menatap ke dalam dan terkejut dengan siapa yang ditemuinya di ruangan Bara.
“Alice,” gumam Surya dengan pandangan tidak percaya. Dia hendak masuk, tetapi ucapan lain membuatnya berhenti dan memutuskan untuk jadi penonton.
“Aku mencintaimu, Alice. Aku mencintaimu.”
Surya yang mendengar mengerutkan kening heran, tetapi bibirnya kembali mengulum senyum. Dia tidak berniat menghentikan apa yang terjadi di dalam dan memilih untuk menjadi penonton saja. Namun, matanya semakin membelalak ketika melihat Alice yang tengah berciuman dengan Bara.
Surya menghela napas perlahan dan menutup pintu. “Aku baru tahu kalau anakku sudah tumbuh dewasa,” gumam Surya dengan tawa tertahan. Dia memilih untuk melangkah meninggalkan ruangan Bara. Dia yakin, akan ada hal lain yang nantinya terjadi.
“Kamu harus bertanggung jawab, Bara. Kamu sudah mengambil ciuman pertama putriku,” ujar Surya dengan tawa tertahan. Dia bahkan tidak menyangka jika keduanya saling mencintai.
"Aku rasa aku harus cepat menikahkan kalian."
“Semoga Galuh mengerti, Alice,” ujar Surya dengan helaan napas lelah.
_____
__ADS_1
“Jadi, sejak kapan kamu suka sama aku,” ucap Alice sembari mendongak, menatap Bara yang tengah mendekapnya dari samping.
Bara diam sejenak dan memasang wajah berpikir. Dia juga tidak tahu mengenai perasaannya, sejak kapan mulia hadir. Yang diketahuinya hanya dia merasa tidak rela jika melihat Dave bersama dengan Alice.
Bara menatap Alice yang masih duduk di sebelahnya dan memandang dengan tatapan datar. “Aku juga tidak tahu, Alice. Aku hanya tahu jika kamu bersama dengan Dave aku merasa cemburu.”
“Jadi kamu cemburu ketika aku bersama denga Dave?" ulang Alice dengan bibir mengulum senyum.
Bara menatap Alice dengan pandangan tajam. “Iya dan kalau sampai kamu dekat dengannya, aku akan benar-benar marah denganmu,” ancam Bara membuat Alice tersenyum.
Alice tidak menjawab dan memilih untuk memeluk Bara erat. “Kamu tahu, aku juga cemburu ketika kamu bersama dengan Bella. Apalagi selama satu minggu ini dai terus saja menempel denganmu. Aku benar-benar kesal dan hendak memberinya pelajaran saat itu juga,” ujar Alice mulai mengungkapkan isi hatinya.
Bara yang mendengar awalnya menahan tawa, tetapi ternyata sulit. Dia malah tertawa keras dan melepaskan pelukannya. Alice yang melihat memberengut kesal dan menatap Bara dengan pandangan tidak suka.
“Bara,” teriak Alice menyuruh Bara diam. Namun, Bara masih saja tertawa dengan tangan memegang perut. Alice merasa kesal dan siap turun dari ranjang, tetapi dekapan di pinggangnya membuat Alice berhenti.
Bara menghela napas perlahan dan meletakan dagunya di ceruk leher Alice, mencium bau harum yang keluar dari tubuh wanitanya. “Jangan marah, sayang. Aku hanya tertawa karena tidak menyangka kamu bisa semengerikan itu. Aku pikir, kekasihku adalah orang pendiam dan tidak pernah berpikir seperti itu.”
Alice yang mendengar semakin merona malu dan mencubit pelan tangan Bara, membuat pemuda tersebut mengaduh pelan.
“Jangan menggobal, Bara. Aku tidak akan mempan dengan itu,” celetuk Alice berusaha menghilangkan roma merah di wajahnya.
Bara yang mendengar hanya tertawa kecil dan mengeratkan pelukannya. Dia mengabaikan tatapan mengancam dari Alice dan sesekali mengecup lembut pipi gadis tersebut. Dia menyukai rona merah yang muncul setiap kali dia mencium Alice.
Alice akhirnya pasrah dan menerima perlakuan Bara padanya. Namun, ada hal yang membuatnya bertanya karena perilaku Bara. Kenapa Bara tidak pernah menyentuhnya lebih dan hanya mencium pipinya sesekali? Namun, sekali lagi dia mengabaikannya dan menikmati bisikan yang dilontarkan Bara.
“Aku tidak akan membirkan orang lain memilikimu lagi, sayang,” ujar Bara penuh keyakinan. Dia sudah memutuskan akan menjalani kehidupan bersama dengan Alice dan itu semua akan terjadi.
Aku hanya akan menjadikamu wanita satu-satunya dalam kehidupanku, Alice, batin Bara dengan begitu tegas.
_____
__ADS_1
Dave menghela napas perlahan dan keluar dari mobil. Otaknya masih mencoba mencari cara untuk menjelaskan kepada mamanya. Dia tahu, itu tidak akan mudah karena orang tuanya yang sudah begitu dekat dengan orang tua Alice. Itu sebabnya, dia harus menjelaskan secara perlahan.
“Ya, ya, ya. Sekarang aku yang harus memikirkannya,” ucap Dave dengan suara lelah.
Dave melangkah masuk ke dalam penginapan. Namun, baru saja dia menginjakan kaki di lantai dasar, sebuah suara lain membuat perhatiannya teralih. Matanya menatap Bella bersama dengan pria yang memancarkan aura mengerikan.
“Bella,” gumam Dave dengan mata menyipit. Dia baru akan pergi lagi, tetapi suara Bella membuatnya kembali menghentikan langkah. Matanya menyipit ketika dirasa tatapan Bella seperti tidak mengharapkan bertemu dengan pria tersebut.
Bella yang ada di depan penginapan pergi dengan tangan digenggam erat seorang pria. Dave awalnya ingin mengabaikannya saja, tetapi wajah memohon dan seperti terpaksa yang ditunjukan Bella membuat Dave merasa tidak tega. Pada akhirnya, dia kembali memutar langkah dan mengikuti Bella dari belakang.
“Siapa dia?” tanya Dave dengan rasa penasaran.
Dave menghentikan langkah ketika Bella dan pria tersebut berhenti. Matanya menatap Bella lekat dan samar-samar mendengar ucapan keduanya.
“Kamu ke sini bilangnya kerja, tetapi malah bertemu dengan Bara. Kamu pikir aku tidak tahu di sini ada Bara, hah?” teriak pria tersebut tepat di depan wajah Bella.
“Aku tidak tahu jika dia ada di sini, Ryan. Lagi pula kenapa kamu harus takut? Aku hanya berteman dengannya,” jawab Bella dengan wajah memelas.
“Halah, itu hanya akal-akalan kamu saja, Bella. Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu masih mencintai Bara!” bentak Ryan, kekasih Bella dengan suara menggelegar.
“Ryan, aku hanya menganggapnya teman,” ucap Bella dengan wajah cemas. Pasalnya, dia tahu seperti apa sifat kekasihnya.
Ryan yang merasa kesal karena Bella menipu mulai mengayunkan tangan dan siap memberikan tamparan di wajah kekasihnya. Namun, gerakannya terhenti ketika sebuah tangan lain menghalau tamparannya.
“Jangan pernah menyakiti seorang wanita, Tuan,” tegas Dave yang sudah berada di dekat Bella.
Bella sudah bersiap menerima pukulan segera membuka mata, menatap Dave dengan tatapan tidak percaya. “Pak Dave,” ucap Bella dengan pandangan shock. Perhatiannya kembali terarah ke arah Ryan dan meneguk salivanya susah payah.
Matilah aku, batin Bella dengan wajah takut.
_____
__ADS_1