Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 22_Sosok Masa Lalu


__ADS_3

Jangan terlalu menganggapku ada, Bara. Atau aku akan sulit untuk melupakanmu.


Bara masih mendengar ketika Alice mengatakan kalimat tersebut. Namun, dia memutuskan untuk keluar dan bersikap seolah tidak tahu apa pun. Bagaimana pun dia engan menjadi perusak hubungan antara Alice dan juga Dave.


Jika aku mengatakan aku mencintaimu, aku hanya akan menambah masalah dalam hidupmu, Alice, batin Bara yang sudah melangkah memasuki restoran. Dia mendengar langkah berlari dari belakang. Dia yakin itu adalah Alice.


“Bara, jangan cepat-cepat,” ujar Alice sembari menenteng jas Bara yang sudah dilepas.


Entah disadari atau tidak, Bara memang melambatkan gerak kakinya. Dia masih menunggu Alice yang ada di belakangnya dan melangkah biasa ketika sudah bersandingan.


“Kamu kenapa malah jalan cepat sekali, sih?” geruru Alice dengan suara terengah-engah.


“Aku membenci orang yang lamban, Alice,” ucap Bara dngan nada sinis.


“Tetapi aku baru saja mau keluar dan kamu sudah meninggalkanku begitu saja. Mobilmu bahkan belum terkunci,” ujar Alice dengan wajah kesal.


Bara hanya diam dan menekan remot di kunci mobilnya. Membuat suara keras dan menandakan bahwa mobilnya sudah terkunci. “Selesai,” ucap Bara dengan wajah dingin.


Alice yang mendengar memanyunkan bibir dan mengulurkan jas Bara. “Ini milikmu,” ucapnya ketus.


Bara yang melihat berhenti dan melirik ke arah Alice. Tangannya segera meraih jas tersebut dan berbalik menatap Alice yang masih terlihat kesal. Bara menghela napas pelan dan kembali memasangkan jas tersebut ke badan Alice, membuat gadis tersebut menatap Bara dengan tatapan bodoh.


“Pakai. Jika kamu tidak dingin, setidaknya ini akan menutupi bagian terbukamu. Jangan mengenakan pakaian tanpa lengan, Alice. Itu akan membuatmu menjadi tatapan para pria lapar di luar sana,” ujar Bara yang kembali melangkah.


Alice yang mendengar menghentakan kaki kesal. “Kamu sadar gak sih, Bar. Dengan kamu melakukan hal seperti ini, aku jadi gak bisa melupakanmu dengan cepat,” gumam Alice dengan wajah frustasi.


Bara yang ada di depanya hanya mengulum senyum tipis dan masuk ke dalam restoran. Diikuti Alice yang sudah duduk bersembrangan. Setelah memesan makanan, Alice kembali diam dengan jas yang sudah terpakai rapi.


“Bukankah begitu lebih baik?” tanya Bara dengan wajah yang sudah kembali datar.

__ADS_1


“Hmm,” jawab Alice sembari menatap sekeliling. Dia enggan melihat wajah Bara yang seperti patung, tanpa ekpresi.


Bara hanya tersenyum tipis dan diam ketika pelayan sudah datang membawa pesanannya. Alice juga masih betah dengan keterdiamannya. Rasanya dia benci melihat Bara yang terasa memperhatikan. Dia hanya takut jika dia semakin mencintai Bara, akan semakin sulit untuknya melupakan.


“Alice,” panggil Bara pelan.


“Apa?” jawab Alice masih sibuk dengan steak di hadapannya.


“Apa kamu mencintai Dave?” ucap Bara membuat Alice menghentikan gerakannya tiba-tiba. “Aku harap kalian akan bahagia nantinya.”


Alice tersenyum kecil dan kembali memotong steaknya. “Dia pasti akan membahagiakanku, Bara. Jangan terlalu khawatir. Lagi pula aku juga bukan siapa-siapamu,” balas Alice pelan.


“Ah, iya. Aku lupa jika kamu bukan siapa-siapaku,” sahut Bara dengan santai dan kembali memakan pesananya.


Alice hanya bisa menghela napas dan bersikap sesantai mungkin. Menutupi rasa kecewa karena ucapan Bara. Ingat, Alice. Kamu bukan siapa-siapanya. Jadi jangan terlalu berharap lebih.


_____


Rony yang tengah duduk dengan wajah memandang foto seseorang hanya tersenyum kecil dan menatap punggung kursi yang ada di hadapannya. Sikap santai ditambah senyum dingin menambah kesan misterius di wajah pria dengan hidung bangir tersebut. Beberapa kali jemarinya mengelus pelan foto gadis kecil yang tengah di genggamnya.


“Kamu tahu, Nek? Aku memimpikan saat di mana dia menjadi istriku,” ujar Rony dengan penuh rasa percaya diri. “Sekarang aku sudah kembali dan akan merebutnya. Apa pun yang terjadi, dia harus menjadi milikku,” tegas Rony dengan penuh keyakinan.


Seseorang yang sejak tadi menatap jalanan dari kaca ruangannya segera membalik kursi dan menatap Rony dengan wajah sinis. “Kamu yakin? Sudah hampir dua puluh tahun kamu mengejarnya, Rony? Kamu sadar berapa umurmu sekarang?” sindir wanita tersebut dengan tawa mengejek.


Rony mendengus dan menatap santai. “Tiga puluh tujuh bukanlah usia tua, kan, Nek? Aku masih bisa menikahinya dan aku pastikan dia akan menerimaku kali ini.”


Wanita dengan sanggul kecil hanya menggeleng dengan wajah tidak percaya. “Aku masih tidak percaya bahwa kamu benar-benar terobsesi dengan cucuku, Rony.”


Rony hanya mengabaikan saja dan tersenyum kecil. Matanya menatap foto dalam bingkai dan kembali menatap lekat. Mengabaikan Margaret yang masih memandangnya dengan seribu rahasia.

__ADS_1


_____


Setelah makan bersama dengan Bara, Alice kembali ke kantor. Banyak pasang mata yang menatapnya dengan pandangan bingung karena dia yang berangkat bersama dengan Dave, tetapi pulang bersama dengan Bara. Namun, dia mengabaikan begitu saja hal tersebut. Sedangkan Bara, meski dia masih termasuk karyawan baru di kantornya, pemuda tersebut tetap terlihat santai dan tidak memikirkan apa pun mengenai hal tersebut.


“Bara,” pangil Alice pelan.


“Apa?” jawab Bara tanpa mengalihkan pandangan.


“Kamu tidak masalah dengan apa yang dikatakan mereka tentangmu?” tanya Alice mulai penasaran. Pasalnya wajah Bara hanya menampilkan tatapan cuek saja.


Bara tersenyum kecil dan menggeleng. “Kenapa kita harus mendengarkan apa yang mereka ucapkan, Alice. Kita hanya perlu menjalani hidup kita sebaik mungkin dan tidak merugikan orang lain. Sudah begitu saja cukup,” ujar Bara santai.


Alice hanya manggut-manggut. “Bagaimana bisa kamu bersikap sesantai ini?” tanya Alice mulai penasaran. Apa benar Bara memang sudah tidak memiliki hati sama sekali?


Bara hendak menjawab ketika sebuah suara tegas membuat Alice yang masih menatapnya mengalihkan pandangan. Suara tegas yang membuatnya penasaran dan menatap ke arah yang sama dengan gadis di sebelahnya.


“Alice,” panggil seorang wanita tua yang membuat Alice langsung membeku. Tanpa sadar dia menggenggam jemari Bara dengan begitu erat.


“Nenek,” cicit Alice dengan wajah yang sudah pucat.


“Apa kabar, cucuku tersayang?” sapa Margaret dengan suara ditekan dan senyum sinis. Bara yang melihat merasa ada kejanggalan dengan pemandangan di hadapannya. Dia merasa Alice takut dengan wanita tersebut.


“Hai, Alice sayang,” sapa suara lain membuat Alice semakin membelalak tidak percaya. Rony sudah berdiri di dekat Margaret dengan senyum menjijikan, membuat Alice merasa tidak nyaman.


Margaret tertawa kecil dan melangkah mendekati Alice. Jemarinya mengelus pelan pipi lembut Alice dan mengusapnya penuh sayang. “Kamu tidak mau menyapa nenekmu ini, sayang? Nenek merindukanmu,” ucap Margaret pelan.


Dengan berat hati Alice melepas genggamannya di tangan Bara dan mendekap Margaret. Rasanya dia benar-benar takut. Ingatan tentang masa silam membuatnya merasa begitu bimbang.


Bara yang melihat hanya diam memperhatikan. Namun, dia yakin ada hal yang tidak beres dengan keduanya. Buktinya Alice merasa begitu takut dan itu terlihat dari raut wajahnya.

__ADS_1


Alice berusaha menenangkan degup jantungnya. Tuhan, aku mohon jangan buat aku mengalami hal yang sama seperti dulu, pintanya dalam hati.


_____


__ADS_2