
Dara menggeliat dalam tidur ketika merasakan tidak nyaman di bagian kepala. Membuatnya membuka mata pelan dan menatap sekitar. sepi. Tidak ada Dave di sampingnya. Perlahan, matanya menyusuri ruangan yang hanya ditinggali olehnya, sampai dia berhenti tepat di depan jam dinding dengan mata menyipit.
“Astaga,” pekik Dara dengan mata membelalak ketika jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Tiga puluh menit sebelum Dave berangkat ke kantor.
Dara baru akan bangkit ketika sebuah hantaman kecil dirasakan di bagian kepala, membuatnya langsung terdiam dengan tangan meremas rambut pelan. Ditambah dengan perut yang terasa tidak nyaman, membuatnya langsung berbaring kembali.
Kenapa rasanya mual, batin Dara sembari memijat keningnya pelan, berusaha mengusir rasa sakit yang sejak tadi mulai menguasainya.
Dara diam dengan napas tidak karuan. Matanya tidak terbuka sama sekali. Bahkan, ketika pintu kamarnya terbuka, dia masih asyik dengan keterdiaman dan tdak menghiraukan siapa pun di sana.
“Sayang,” panggl Dave mulai melangkah masuk. Bibirnya masih mengulas senyum lebar. Namun, senyumnya perlahan menghilang ketika dia sudah semakin dekat dengan Dara, menyaksikan wajah yang terlihat pucat di depannya.
“Sayang,” gumam Dave segera mempercepat langkah. Dia mendekat ke arah Dara yang tengah berbaring dan duduk di samping Dara. Dengan cemas, dia menyentuh pelan kening sang istri dan menatap cemas.
“Kamu sakit?” tanya Dave takut. “Aku akan panggilkan dokter,” ujarnya segera bangkit.
Namun, Dara mencegah. Dengan cekatan dia meraih jemari suaminya dan menggeleng pelan. Perlahan, matanya terbuka dan menatap wajah yang masih menunjukan kecemasan terhadapnya.
“Jangan cemas, Dave. Aku hanya tidak enak badan saja. Setelah istirahat nanti, aku pasti akan membaik,” ucap Dara lemah.
Dave membuang napas pelan dan memilih duduk di dekat Dara. Tangannya masih asyik mengenggam jemari sang istri dan menatap wajah Dara lekat.
“Apa yang kamu rasakan, Sayang?” tanya Dave lembut.
“Hanya pusing dan mual saja,” jawab Dara. “Mungkin masuk angin.”
“Kalau begitu aku panggilkan saja Randy biar bisa memeriksa kamu,” ucap Dave pelan.
Lagi. Dara menggeleng sebagai tanda penolakan. Entah mengapa, rasanya terlalu tidak nyaman jika dia harus berhadapan dengan seorang dokter. Dia merasa takut akan ada vonis buruk nantinya.
“Aku mohon. Setidaknya itu bisa membuat aku menjadi tenang,” pinta Dave dengan wajah memelas.
Dara yang melihat terdiam dan memejamkan mata pelan. “Namun, aku takut,” cicit Dara tanpa membuka mata.
Dave yang mendengar mengulas senyum tipis. Dia mulai mendekat dan mengecup pelan kening sang istri. Hingga dia kembali menjauhkan tubuh dan menatap mata yang mulai terbuka.
__ADS_1
“Jangan cemas, aku akan ada untuk kamu. Aku pastikan tidak akan ada hal buruk dengan kamu,” ucap Dave pelan.
“Kamu janji?” tanya Dara memastikan.
Dara hanya mengangguk pelan, yakin dengan apa yang dikatakan Dave. Dia bahkan hanya diam, menatap Dave yang mulai sibuk menekan layar dan berbicara degan seseorang. Sampai Dave mulai menutup panggilan dan menatap Dara lekat.
“Sebentar lagi Randy akan datang,” ucap Dave sembari mengelus pelan pipi Dara, mendapat anggukan dari arah wanita tersebut.
Aku harap dia akan baik-baik saja, batin Dave.
_____
Cemas. Itulah yang dirasakan Dave saat ini. Sejak tiga puluh menit yang lalu dia menunggu Randy yang tidak juga datang. Bahkan, sudah beberapa kali dia melihat ke bagian halaman rumah dari balik kaca jendela kamar, tetapi hasilnya nihil. Randy belum juga datang.
Dara yang sejak tadi melihat Dave ke sana-sini mulai berdecak dan kembali memijat pelipisnya. Astaga, kenapa dia malah membuatku semakin pusing, batin Dara.
“Randy kenapa lama?” gumam Dave yang mulai kembali ke arah ranjang dan menatap Dara lekat.
“Sabar ya, Sayang. Aku rasa Randy sedang terjebak macet,” ucap Dave menenangkan.
“Ada yang lucu?” tanya Dave dengan penuh selidik.
Dara menggeleng pelan. Dia memilih menarik jemari Dave dan meremas pelan. “Seharusnya di sini kamu yang tenang, Dave. Sejak tadi aku pusing melihatmu ke sana-sini dengan wajah yang tidak mengenakan itu,” jawa Dara sembari menunjukan wajah cemas yang diperlihatkan Dave.
“Hey, aku cemas dengan kamu, Sayang,” kata Dave.
“Aku tahu,” sahut Dara cepat. “Aku tahu kalau kamu cemas denganku. Namun, kalau kamu tidak bisa tenang, aku juga malah semakin pusing. Jadi, lebih baik kamu tidur dan peluk aku.”
Dave diam, memikirkan permintaan sang istri. Namun, baru dia akan berbaring dan menurutinya, sebuah ketukan mulai mengalihkan pandangannya. Dengan cepat, dia segera turun dan menuju ke arah ruang tamu. Bahkan, Dara yang melihat hanya mampu berdecak kecil dan menggeleng tidak percaya.
“Astaga, Dave,” gumam Dara dengan bibir yang mulai tersenyum.
Dara hanya diam dan menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Hingga tidak berselang lama, pintu terbuka, menghadirkan Dave dan Randy yang mulai melangkah masuk.
Dara mengulas senyum ketika melihat Randy dan Dave yang mulai masuk.
__ADS_1
“Cepatlah Randy. Dia sudah terlalu lama menunggu kamu,” gerutu Dave sembari mendekati Dara.
Randy yang mendengar berdecak kecil. Dia memilih meletakan tas berisi peralatannya dan menatap Dara lekat. “Kamu tidak pusing tinggal dengan dia?” tanya Randy tanpa dosa sama sekali.
“Sedikit,” jawab Dara dengan bibir mengulum senyum.
Dave yang mendengar berdecak kecil dan memberikan peringatan untuk Randy. Membuat pria di depannya hanya tertawa kecil dan mulai memeriksa kondisi Dara. Wajah yang sejak tadi terlihat ramah mulai berubah serius. Membuat Dara yang diperiksa menjadi cemas seketika.
Astaga, aku harap tidak ada hal buruk terjadi denganku, batin Dara.
Randy menghentikan pemeriksaannya dan menatap keduanya serius. Kali ini, tidak ada senyum yangg terlihat, membuat Dave yang sejak tadi pucat semakin tidak karuan. Membuat Randy yang sejak tadi memasang wajah serius menahan tawa seketika.
“Randy, kenapa kamu terlihat tegang. Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Dave dengan suara bergetar.
Dara yang mendengar mulai mendongak dan menatap Dave lekat. Perlahan, dia menyentuh lengan sang suami dan mengulas senyum, berusaha setegar mungkin dengan apa yang akan diterima dari hasil pemeriksaan Randy.
Seketika, Randy yang sejak tadi menahan tawa langsung terbahak-bahak, tidak tahan dengan pemandangan di depannya, membuat Dara dan Dave menatap penuh tanya.
“Kamu kenapa?” tanya Dave dengan mata menyipit. “Kamu sedang mengerjai kami, Ran?”
“Sorry,” ucap Randy dengan menahan tawa. “Sebenarnya aku mau memberikan kejutan untuk kalian, tetapi aku rasa aku tidak akan tega untuk melakukannya lebih lama. Soalnya kalian terlihat begitu takut.”
“Kejutan? Maksudnya?” tanya Dave dengan kening berkerut dalam.
Randy mengatur napasnya dan menatap ke arah Dara serius. “Selamat, Dara. Saat ini kamu sedang mengandung,” jawab Randy membuat pasangan suami istri di depannya terdiam.
“Apa? Dara mengandung?” tanya Dave dengan tatapan tidak percaya.
Randy mengangguk dan tersenyum lebar, merasakan bahagia yang Dave rasakan. “Untuk lebih jelas kamu bisa bawa Dara ke rumah sakit untuk diperkisa,” jelas Randy.
Dave yang mendengar mengangguk semangat dan mendekap Dara erat. “Terima kasih,” ucap Dave pelan.
Dara hanya diam dan merasakan dekapan yang kain mengerat. Sampai sebuah senyum mulai kembali terbit di bibir tipis miliknya, menunjukan hal yang sama dengan apa yang Dave rasakan.
_____
__ADS_1