
“Mau sampai kapan kamu terus sendiri, Dave? Alice bahkan sudah meresmikan hubungannya. Lalu kamu kapan?" tegur Renita sembari menatap anaknya dengan pandangan melemah. Rasanya dia sudwg putus asa ketika menyuruh Dave untuk mencari pendamping. Hal yang yang seakan tidak digubris sama sekali oleh Dave.
Dave menatap mamanya dengan pandagan datar. Dia sendiri bingung kapan akan mencarinya. Selalu mendapatkan pertanyaan yang sama. Membuatnya menjadi diambang putus asa. Jika saja bukan mamanya yang menanyakan, dia yakin akan menghajar orang itu saat ini juga.
“Mama sudah semakin tua dan tidak selamanya mama bisa menemanimu, Dave. Mama hanya ingin melihatmu menikah dan mama bisa menggendong cucu. Apa itu saja sulit untuk kamu kabulkan?” ucap Renita lagi.
Dave menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Ma, bukannya Dave tidak mau. Tetapi, Dave masih mencari wanita yang tepat untuk hidup Dave nantinya. Dave hanya tidak mau salah dalam memilih wanit lagi,” jawab Dave dengan wajah malas.
“Wanita seperti apa yang kamu cari, Nak? Apa Selama ini kamu masih belum menemukan yang tepat? Kamu sudah matang dan siap membangun rumah tangga. Lalu apalagi yag kamu tunggu?” tanya Renaita dengan suara lembut. Dia tidak mau jika nantinya Dave merasa terbebani karenanya.
Dave diam. Wanita seperti apa yang dicarinya? Rasanya saat pertanyaan itu terlontar keluar, Dave bahkan tidak mampu menjawabnya. Dia sendiri tidak tahu wanita seperti apa yang sebenarnya tengah dicari. Wanita baik? Bahka banyak wanita baik yang sudah mendekatinya dan selalu mendapat penolakan.
Renita yang melihat anaknya diam hanya mengulas senyum tipis dan mengulurkan tangan, menyentuh pelan punggung tangan anaknya, membuat Dave langsung menatap dengan wajah bingung.
“Kamu sendiri saja bingungkan wanita seperti apa yang kamu cari?” celetuk Renita dengan senyum tipis. Dave yang mendengar mengangguk dan menatap mamanya dalam.
“Kamu hanya perlu membuka hati terlebih dahulu, Nak. Dengan begitu, kamu akan mampu mendapatkan apa yang kamu mau. Wanita yang kamu idamkan, dia akan datang dalam kehidupanmu. Tidak perlu kaya, cantik atau apa pun yang menurut pandangan orang lain sempurna. Kamu hanya perlu menjalin dengan dia yang membuatmu nyaman,” ucap Renita memberikan nasihatnya.
Dave hanya diam dan mengangguk. Rasanya dia teringat dengan ajakan Dara yang sempat mengajaknya bersama.
Kalau begitu, mau mencoba denganku?
Berpacaranlah denganku.
Rasanya suara Dara langsung terngiang dalam benak pikirannya. Wajah tanpa beban ketika mengatakannya, terasa masih terngiang jelas. Apa tidak masalah jika aku menclba dengannya, batin Dave merasa ragu. Dia takut jika hasilnya sama seperti dengan Rensi.
“Ma, bagaimana kalau aku salah ketika mencoba membuka hati?” tanya Dave sembari menatap mamanya lekat.
__ADS_1
Renita yang baru akan memasukan makanan segera menatap anaknya dan mengulas senyum tipis. “Hati tidak ada yang salah, sayang. Ketika kamu yakin dengan hatimu, dia akan menuntunmu menemukan yang terbaik. Tuhan akan mendatangkan wania baik dalam kehidupanmu,” jawab Renita tanpa beban sama sekali.
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Sekarang, kamu selesaikan sarapan dan segera ke kantor. Jangan buat Michael memarahimu,” ujar Renita mengalihkan pikiran anaknya. Dia tidak bermaksud membuat Dave terpikir dengan ucapannya.
Dave mengangguk patuh dan mulai melanjutkan sarapannya. Namun, pikirannya masih berkutat dengan permohonan mamanya. Apa aku mencoba saja, ya, batin Dave meragu.
_____
Alice baru saja selesai membersihkan diri ketika seseorang mendekapnya dari belakang, membuat Alice menghentikan gerakan dan terkekeh kecil melihat wajah kusut Bara. Wajah kas bangun tidur dengan rambut acak.
“Kamu sudah rapi, sayang?” tanya Bara sembari mengecup pelan tengkuk mulus istrinya. Meninggalkan bekas merah yang jelas kentara.
Alice hanya diam ketika mendapat perlakuan Bara. Membiarkan tangan kekar pria di belakangnya mulai mengeratkan pelukan. Perlahan, Alice memejamkan mata saat tangan Braa mulai masuk ke dalam pakaiannya, mengelus pelan perut rata yang terasa lembut, memberikan gelenyar aneh yag terus saja menyerang.
“Apa di sini belum ada baby-nya, sayang?” tanya Bara dengan suara serak.
Alice langsung tertawa kecil dan membuka mata, menatap mata teduh Bara yang sejak tadi menatapnya dari pantulan cermin di depannya. “Sayang, baby itu gak harus muncul ketika kita selesai melakukannya. Banyak hal yang harus dilaluinya ketika dia akan tumbuh dalam rahim,” jawab Alice sembari memegang tangan Bara, mengikuti gerakan mengelus pelan di perutnya.
“Apa aku kurang berusaha?” tanya Bara dengan senyum tipis.
Alice hanya diam. Pipinya bersemu merah ketika mendapat jawaban dari Bara. Namun, lamunannya terhenti ketika Bara mulai menariknya ke ranjang dan langsung menidurkannya pelan, membuat jantung Alkce semakin berdegup kencang.
“Mas, kamu mau apa?” tanya Alice ketika Bara sudah membungkuk dan menatapnya dengan jarak yang cukup dekat.
“Aku mau berusaha membuat baby, sayang,” jawab Bara dengan seyum manis.
“Tetapi ini masih pag....” Alice menghentikan ucapan ketika Bara mulai membekap mulutnya. Menyatukan bibir yang sejak tadi sudah terasa sangat menggoda.
__ADS_1
Bara mulai menghisap pelan dan bermain dengan lidah Alice yang hanya pasrah di bawahnya. Perlahan, Bara mulai membuka satu per satu kancing pakaian Alice hingga menampilkan gundukan kenyal yang lansung diremasnya pelan.
“Aahhh,” teriak Alice ketika Bara melepaskan ciumannya.
Bara hanya diam ketika Alice sudah menggeliat gelisah. Matanya menatap wajah cantik yang tampak menggoda baginya. Dengan cepat, Bara kebali menunduk dan menjilat pelan bagian leher Alice, memberikan rangsangan lain dengan tangan yang masih aktif meremas dada kenyal milik istrinya.
“Mas, aku, harus ke kantor. Ahhh,” ucap Alice sembari menahan gairahnya. Matanya bahkan sudah memejam ketika Bara mulai melahap seluruh dadanya. Mempermainkan puncak yang menegang.
Aku rasa Bara tidak akan mendengarkanku, batin Alice mulai pasrah.
“Aku mau kamu hari ini, sayang,” ucap Bara masih dengan memainkan tangannya di dada Alice.
“Mas, aku harus ke kantor,” ujar Alice mencoba menenangkan Bara.
Bara yang mendengar terdiam. Tangannya sudah berhenti bergerak meski masih berada di dada milik istrinya. “Apa ke kantor sangat penting?” tanya Bara dengan suara lemah. Matanya menatap Alice yang sudah terdiam dengan pakaian acak.
Bara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah. Maaf aku malah menggangumu,” ucap Bara dengan senyum tipis.
Bara baru akan bangkit ketika Alice mencegahnya. Menarik tangan Bara pelan, sehingga tubuhnya kembali beada di ranjang dan menatap Alice lekat.
“Aku mau. Kamu bisa lanjutkan lagi, Mas,” ucap Alice mengalah. Aku akan mengatakan kepada papa nanti. Lagi pula aku masih dalam masa cuti, batin Alice.
“Tetapi kamu mau ke kator, sayang,” jawab Bara mencoba mengerti kesibukan Alice.
“Aku akan menundanya. Sekarang aku mau menikmati milikmu di dalam sana,” ujar Alice sembari menarik Bara mendekat ke arahnya. Bibirnya dengan segera menempel dan menyatu dengan milik Bara. Dengan cepat dia ******* bibir yang hanya diam. Namun, sedetik kemudian dia merasakan Bara yang mulai bermain dan menyentuh semua titik sensitifnya.
Aku berharap ada benih yang berahsil memasuki rahimmu, sayang, batin Bara memohon
__ADS_1
_____
Selamat membaca semuanya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa juga baca carita kim yang berjudul “Wedding with My Lecturer” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili untuk tahu info cerita Kim dan updatenya. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh.