Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 79_Bagaimana Kalau Menikah?


__ADS_3

Bara menghela napas perlahan. Sudah hampir tiga puluh menit dia mencari Alice yang entah di mana keberadananya. Membuat perasaannya semakin cemas. Bahkan, wanita tersebut tidak membawa ponselnya.


“Sayang, kamu dimana,” gumam Bara dengan wajah cemas. Tangannya sudah meremas pelan rambut yang masih basah.


Bara mulai keluar dari lift dan menuju ke arah resepsionist. Dia berharap petugas penginapan tahu dimana keberadaan istrinya. Sampai langkahnya terhenti di depan wanita dengan seragam rapi dan senyum manis.


“Anda melihat istri saya? Dia tidak ada di kamar dan tidak meminta izin dengan saya,” tanya Bara dengan nada tergesa. Dia takut kalau sampai ada hal buruk yang terjadi.


“Maaf, saya tidak melihatnya, Tuan,” jawab sang resepsionist dengan suara lembut.


“Baik, terima kasih. Jika anda melihat istri saya, tolong katakan suaminya mencari. Suruh dia menghubungiku,” ucap Bara yang langsung melangkah. Dia bahkan tidak mau mendengar jawaban dari wanita tersebut sama sekali.


Bara kembali melangkah menyusuri pantai yang terletak tidak jauh dari penginapan. Berharap menemukan Alice di sana. Namun, usahanya tidak membuhakan hasil. Sudah berulang kali dia mengitari pantai tersebut dan menanyakan kepada para pengunjung, menunjukan foto istrinya dengan harapan ada yang melihatnya.


Bara menghentikan langkah dan menghela napas perlahan. Dia kembali menarik napas dalam dan memilih memutar langkah. “Aku rasa aku akan kembali ke kamar dulu. Siapa tahu Alice sudah pulang,” ucap Bara buntu. Dia tidak tahu di mana Alice pergi. Pasalnya, dia baru keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Alice di kamar.


Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi denganya, batin Bara dengan perasaan cemas.


Bara melangkah gontai menuju ke arah penginapan. Dia sudah berniat meminta bantuan dari Surya ketika sampai kamar. Hingga sebuah suara tidak asing mulai terdengar di indra pendengarannya, membuat Bara segera membalik badan dan menatap ke asal suara.


“Msa, kamu dari mana?” tanya Aloce tanpa perasaan bersalah sama sekali.


“Astaga, saynag,” ucap Bara dengan helaan napas lega. Kakinya segera melangkah ke arah Alice berada. Dengan cepat, dia segera menarik tubuh istrinya dan mendekap erat.


“Sayang, aku mencari. Kamu ke mana saja?” ucap Bara dengan perasaan lega. Dia bahkan mengabaikan beberapa pengunjung yang menatapnya lekat.


Alice menghela naps perlahan dan melepaskan dekapan Bara pelan. Matanya menatap wajah yang sudah tidak terlihat rapi sama sekali. “Apa aku pernah mengatakan kalau kau menyukai pria yang tidak rapi?” tanya Alice sembari menyisir rambut Bara menggunakan jemarinya.


“Aku mencarimu. Aku takut terjadi hal buruk denganmu, sayang. Itu sebabnya aku tidak sempat menyisir rambut,” jawab Bara lirih.


Alice yang mendengar tersenyum kecil dan menatap suaminya lekat. “Hey, aku hanya keluar sebentar. Aku pikir kamu masih lama. Jadi, aku tidak mengatakannya denganmu. Maaf membuatmu merasa cemas,” kata Alice merasa bahagia dengan perhatian suaminya.

__ADS_1


Bara yang mendengar mengangguk pelan dan menatap tangan Alice lekat. “Kamu beli apa?” tanya Bara menyelidik.


“Beli es krim,” jawab Alice sembari menunjukan kantong plastik berisi es krim dan beberapa makanan ringan.


“Kamu malam-malam beli es krim?” celetuk Bara merasa aneh.


“Aku suka lapar kalau malam, Mas. Jadi, aku membeli untuk persediaan malam ini,” sahut Alice dengan tawa kecil.


Bara hanya mengangguk patuh dan menarik Alice dalam dekapannya. “Kita masuk ke kamar. Di sini udara dingin,” ajak Bara.


Alice yang mendengar hanya mengangguk patuh dan mengikuti langkah sang suami. Dia mengabaikan tatapan para pengunjung penginapan yang sudah memperhatikan tingkahnya lekat. Bagaimana tidak? Bara bahkan melangkah dengan tangan merangkul pinggang istrinya erat. Tidak berniat melepaskannya sama sekali.


Dasar mas Bara. Tidak mikir tempat umum atau bukan, gerutu Alice dengan tawa tertahan.


_____


“Kamu istirahatlah di sini, Dara. Jangan malu, anggap saja ini rumah kamu,” ucap Renita dengan senyum tpis. Tangannya sudah mengelus pelan wajah manis gadis tersebut.


Renita hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu, tante keluar dulu ya. Istirahat ya, sayang,” ujar Renita lembut. Dia merasa senang karena Dara yang akan tinggal di rumahnya. Dia berharap, dengan begitu Dara dan Dave akan segera melajutkan hubungan keduanya ke jenjang yang lebih serius.


Renita mulai memutar kursi roda yang digunakan dan menatap Dave yang sejak tadi diam di belakangnya. “Dave, kita keluar. Biarkan Dara beristirahat. Dia pasti lelah,” tegur Reita membuat Dave mengalihkan pandangan.


Dave yang mendengar hanya mengangguk perlahan. “Sebentar, Ma. Dave masih ada sedikit urusan dengan Dara,” jawab Dave.


“Baiklah. Tetapi ingat, jangan terlalu malam.”


Dave hanya mengangguk patuh. Matanya menatap ke arah sang mama yang mulai menjauh. Hingga dia melihat mamanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat. Membuatnya menghela napas lega.


“Jadi, Tuan Dave yang terhormat. Apa yang ingin anda katakan?” ucap Dara dengan nada sopan. Dia sudah bangkit dan menatap Dave lekat.


Dave yang mendengar tertawa kecil dan menatap Dara. Kakinya mulai melangkah mendekati Dara. Sampai langkahnya terhenti, membuat jarak keduanya menjadi sangat dekat.

__ADS_1


“Aku cuma mau bertanya denganmu, Dara. Kamu yakin akan tinggal di kamar ini sendiri?” tanya Dave dengan pandangan lekat dan mendapat anggukan dari arah Dara.


“Kamu yakin tidak mau aku temani?” tanya Dave dengan senyum tipis.


Dara yang mendengar tertawa kecil dan menggeleng pelan. “Aku bukan anak kecil yang takut tidur sendiri, Dave. Aku sudah biasa tidur sendiri,” jawab Dara lembut.


“Ya, aku tahu. Namun, ini berbeda, Dara. Kamu tahu? Di kamar ini suka ada suara aneh kalau malam,” kata Dave dengan wajah meyakinkan.


“Benarkah?” sahut Dara dengan antusias. Matanya menatap Dave yang sudah mengangguk pelan ke arahnya. Hal yang membuat Dara tertawa seketika.


“Kamu tidak percaya?” tanya Dave serius.


Dara mengembuskan napas perlahan. Tangannya sudah membalik tubuh Dave sehingga menatap ke arah pintu keluar. Dia berniat mendorong pria tersebut agar keluar dari kamarnya, tetapi gagal karena Dave malah membalik dan mendekapnya erat. Hal yang membuat Dara membelalak seketika.


“Dave, lepaskan,” ucap Dara sembari berusha melepaskan dekapan Dave.


“Aku cuma memeluk kamu, Dara. Jadi, tenanglah,” sahut Dave dengan santai.


Dara yang mendengar berdecak kesal dan menghentikan gerakannya. Dia memlih mendongak, menatap pria memeluknya erat. “Kalau dilihat mama gak enak, Dave,” cicit Dara.


“Kenapa gak enak? Mama juga tahunya kamu kekasihku, kan? Jadi, tidak ada salahnya aku memelukmu,” kata Dave tanpa rasa malu sama sekali.


“Iya, tetapi kita belum resmi menikah. Tidak enak kalau ada yang lihat. Cowok di kamar cewek malam-malam. Pakai peluk lagi,” ujar Dara mencoba menjelaskan kepada Dave.


Dave yang mendengar menunduk kecil dan berhenti tepat di dekat telinga Dara. “Kalau begitu, mungkin kita bisa menikah supaya ini menjadi hal wajar,” bisik Dave membat Dara membelalak tidak percaya.


Apa dia benar melamarku, batin Dara merasa tidak percaya. Jantungnya bahkan sudah berhenti bekerja karena uapan Dave yang terlalu mengejutkan.


_____


Taraaattt.. Kim kembali lagi. hehe

__ADS_1


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke daftar favorit kalian dan tinggalkan vote ya sayangkuh. See you next chapter 😘😘


__ADS_2