
Alice duduk diam di sebelah Dave dan berhadapan dengan Bara. Setelah bertemu dengan Bella dan juga Dave, mereka memutuskan untuk makan siang bersama di cafe dekat hotel. Sejak tadi juga Alice hanya diam dan mempehatikan Bella yang masih saja bergelanyut manja dengan Bara. Rasanya dia ingin mengusir Bella dari sebelah Bara sejauh mungkin.
“Alice, kamu mau makan apa? Kamu mau udah pedas manis?” tanya Dave sembari menatap Alice lekat.
Alice segera mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Dave lembut. Dia baru akan menjawab, tetapi Bara jauh lebih dulu menyela ucapan Dave.
“Alice tidak makan udang, Dave. Bukannya kamu tahu itu?” celetuk Bara santai.
“Oh iya? Maafkan aku, Alice. Aku lupa,” ucap Dave dengan wajah menunjukan perasaan bersalah.
“Tidak masalah, Dave. Aku tahu kamu terlalu banyak pikrian,” sahut Aluce dengan senyum manis.
Bara yang melihat menghela napas perlahan dan memperhatikan Alice dengan pandangan datar. Dia merasa ada hal aneh yang dirasakan saat ini. Namun, goyangan kecil di lengannya membuat Bara mengalihkan pandangan dan menatap Bella yang sejak tadi berada di dekatnya.
“Bara, kamu tidur dengan Alice?” tanya Bella dengan mata menatap lekat.
Bara mengangguk dan kembali tidak peduli. Dia mengabiakn Bella dan memilih untuk fokus dengan pemandangan yang tersaji di sebelahnya. Lautan luas yang terlihat begitu sepi.
“Kalian tidur bersama?” tanya Dave sembari menatap Bara dan juga Alice bergantian.
Bara mengangguk dan menatap Alice yang menujukan rasa tidak enak hati mendengar ucapan dave.
Mungkin dia tidak enak dengan kekasihnya, batin Bara menerka.
“Tenang saja, Dave. Aku akan tidur di sofa dan dia di ranjang. Aku tidak akan macam-macam dengannya,” tegas Bara dengan tujuan agar Dave tidak berpikir macam-macam tentangnya.
“Aku juga tidur bersama dengan Tuan Dave,” celetuk Bella dengan cepat dan membuat Dave mengurungkan niatnya untuk menjawab. “Bagiamana kalau aku yang tidur dengan Alice dan Bara dengan Tuan Dave?’ usul Bella dengan senyum sumringah.
Dave yang mendengar mengangguk setuju dan menatap kedua orang yang sejak tadi diam. “Kalian gimana?” tanya Dave meminta persetujuan.
__ADS_1
“Aku tidak masalah,” jawab Alice sembari mengalihkan pandangan dari Bara yang terlalu tajam menurutnya.
“Kamu, Bara?”
“Aku juga setuju,” ucap Bara dengan suara dingin.
Bella yang mendengar langsung terseyum senang dan begitu antusias. Berbeda dengan Dave yang meski tersenyum, tetapi terkadang matanya menatap ke asal yang berbeda. Ada hal yang membuatnya terseyum tipis kali ini.
_____
Bella menghela napas lega ketika sudah masuk ke kamar Alice. Awalnya dia kekeh agar Alice yang pindah ke kamarnya, tetapi karena Bara yang memaksa, akhirnya dia memutuskan untuk menurut dan memilih untuk menempati kamar Alice.
“Kamu bisa masukan pakaianmu ke lemari, Bella,” ucap Alice yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Bella yang mendengar hanya mengangguk dan malah memilih berbaring di ranjang. Dia menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis. “Alice, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Bella pelan dan menatap Aluce yang ada di depan meja rias.
Alice mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya merias wajah. “Kamu mau tanya apa, Bella?”
Alice yang mendengar menghetikan gerakan tangannya dan menatap Bella dari arah kaca besar di hadapannya. Perlahan, dia menghela napas dan melanjutkan gerakan tangan yang masih mengusap wajahnya pelan.
“Tidak. Kami hanya rekan kerja,” jawab Alice pelan dan mengabaikan tatapan dari Bella.
“Oh iya? Aku pikir kalian pacaran. Sepertinya Bara jauh mengertimu dari pada Tuan Dave,” celetuk Bella santai.
Bella kembali berbaring dan mengulas senyum. “Aku dulu pacar Bara,” aku Bella membuat Alice menghentikan gerakannya.
“Dia itu tipe pria yang perhatian meski dingin. Dia jarang sekali tersenyum, tertawa dan bahkan berbicara. Aku yang bosan dengan sikap pria seperti itu terpaksa mencari pria lain yang jauh mengerti dan manusiawi,” lanjut Bella tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Kamu berselingkih darinya?” sela Alice yang sudah berbalik dan menatap Bella tajam.
__ADS_1
Bella melirik Alice sekilas dan mengangguk. “Siapa yang tahan dengan orang seperti dia, Alice. Aku butuh pria yang perhatian dan sering menanyakan kabarku. Bukan pria yang cuek dengan semua masalahku. Aku lelah dengan pria seprti itu,” keluh Bella dengan wajah kesal.
“Tetapi kamu bisa mengatakan terlebih dahulu dengannya,kan, Bella,” protes Alice merasa kesal karena Bella tidak merasa bersalah sama sekali.
“Aku sudah mengatakan itu dan dia malah bilang jika aku tidak bisa menerima kekurangannya, aku boleh pergi dan aku lakukan itu. Tetapi rasanya sekarang aku menyesal telah meninggalkan Bara,” ujar Bella dan bangkit dari tidur. Dia menatap Alice dengan senyum sumringah.
“Jadi, aku akan mendekati dan kembali meraih hatinya. Aku yakin, dia masih mencintaiku,” kata Bella dengan penuh semangat.
Alice yang mendengar bangkit dan menatap Bella tajam. “Kamu sudah membuangnya dan setelah kamu merasa bosan dengan yang sekarang, kamu datang untuk mengambilnya lagi? Kamu benar-benar tidak memiliki akal, Bella,” ucap Alice dengan suara dingin dan langsung pergi keluar kamar. Dia merasa tidak bisa bersama dengan Bella di satu kamar.
_____
“Halo, Rony,” sapa Margaret dari seberang ponsel. Matanya menatap jam pasir yang ada di hadapannya dengan pandangan lekat.
“Kamu sudah menemukan Alice?” tanya Margaret mulai penasaran.
“Aku sudah menemukannya, Nenek. Jangan khawatir, ada kabar baik yang aka datang untukmu,” celetuk Rony dari ponsel.
“Jadi, kapan kamu akan menjalankan rencanamu? Aku benar-benar sudah tidak sabar memberi pelajaran untuk gadis yang sudah merenggut nyawa menantu kesayanganku. Aku juga ingin memberi pelajaran untuk wanita tidak tahu diri yang sudah menggoda anakku,” desis Margaret dengan raut wajah iblis.
“Tenang saja, Nek. Jangan terlalu terburu-buru. Kita masih memiliki banyak sekali waktu untuk membalas keduanya. Jangan lupa dengan tujuanku kali ini, Nek. Aku tidak mau melukai Alice, aku hanya mau menaklukannya dan membuat dia tunduk dengan keinginanku. Aku akan buktikan ke Surya bahwa aku bisa mendapatkan putri kesayangannya,” jawab Roy dengan suara tegas.
Margaret yang mendengar hanya tersenyum sinis dan menyentuh jam pasir sampai berbalik. “Aku tahu itu, Rony. Aku setuju karena dengan kamu menikahi Alice, gadis tersebut akan mengalami masa sulit."
Rony yang mendengar berdecak pelan dan tertawa setelahnya. “Kamu memang manusia paling kejam, Margaret.”
“Aku menunggu kabar baikmu,” ucap Margaret sembari mematikan panggilan.
Margaret menatap dua foto besar di hadapanya dan tersenyum sinis. “Kamu akan mendapat kejutan, cucu dan menantuku tersayang,” gumam Margaret dengan tawa meremehkan ke arah foto Alice dan juga Galuh di hadapannya.
__ADS_1
“Kalian adalah sumber dari kematian menantuku dan aku akan membalaskannya,” desis Margaret dengan tatapan kejam.
_____