
Setelah mengantar Bara pulang ke rumah sakit, Alice segera mengurus cuti dan untungnya masih diterima oleh papanya. Padahal ini adalah hari pertama Bara mulai bekerja. Bara sendiri sudah mengelak dan mengatakan bsia bekerja, tetapi namanya Alice keras kepala, semua tidak akan pernah didengarkannya. Dia hanya mau menjalankan apa yang menurutnya benar.
Alice menghentikan mobil ketika sampai di parkiran apartemen dan menatap sekeliling yang tampak sederhana. “Ini apartemen kamu?” tanya Alice dengan wajah mengamati.
“Hmm,” gumam Baradan segera melepaskan sabuk pengamannya, “apartemenku benar-benar tidak sama dengan rumahmu. Jadi bisa urungkan niatmu untuk tinggal di apartemenku? Aku bisa mengurus hidupku sendiri.”
Alice yang mendengar berpikir sejenak dan menggeleng. “Maaf, tetapi aku sudah memutuskan untuk tinggal disini. Jadi aku akan tetap melakukannya. Aku juga sudah meminta izin sama papa dan diizinkan. Ini sebagai tanda permintaan maafku karena sudah melukaimu,” ucap Alice dengan senyum merekah.
“Terserah,” balas Bara cuek dan segera membuka pintu keluar. Dia tidak berniat melihat ke arah Alice sama sekali.
“Aku pinjam mobilmu untuk mengambil beberapa keperluanku, ya?” tanya Alice dengan berteriak dan menatap Bara yang tidak menanggapinya sama sekali.
“Aku akan kembali lagi,” lanjut Alice masih tetap sama.
Alice berdecih kesal dan segera melajukan mobil. Dia mengabaikan sikap Bara yang begitu menyebalkan di matanya. Bahkan di hari pertama kerja.
“Dasar Bara si hemat omong,” gerutu Alice kesal.
_____
Galuh masih sibuk memasak ketika dia mendengar suara pintu terbuka. Terpaksa, sejenak dia mematikan kompor dan melihat siapa yang datang. Langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang baru saja datang ke rumahnya di saat jam kerja. Alice.
“Alice, kamu sudah pulang?” tanya Galuh dengan kening berkerut. Tidak biasanya anaknya membolos di jam kerja. “Apa kamu sakit?” tanya Galuh yang segera mendekat ke arah Alice berdiri saat ini berdiri.
Alice hanya diam ketika dilihatnya sang mama sudah sampai di hadapannya dan memeriksa keningnya, memastikan apakah dia demam atau tidak. Alice yang melihat tersenyum kecil dan menatap mamanya lembut.
“Ma, jangan terlau khawatir. Alice baik-baik saja kok,” ucap Alice dengan wajah santai.
"Terus, kalau gak sakit kenapa kamu bolos kerja?” tanya Galuh dengan mata menyelidik. “Mulai mau nakal, ya?”
“Enggaklah,” protes Alice dengan tawa kecil. “Alice pulang karena mau ambil pakaian ganti buat beberapa hari, Ma. Alice juga sudah bilang sama papa kok.”
“Baju ganti? Kamu mau menginap di mana, sayang? Ada tugas luar kota?” Galuh menatap semakin bingung ke arah anaknya.
Alice menggeleng. “Alice harus menginap ke rumah Bara, Ma. Alice sudah membuatnya terluka dan sekarang tangannya sedang masa pemulihan. Itu sebabnya Alice ambil beberapa hari cuti dan mengurus Bara.”
__ADS_1
“Kamu yakin dia anak yang baik? Dia lelaki loh sayang. Mama takut nanti dia macam-macam sama kamu,” ujar Galuh merasa tidak enak hati anaknya tinggal serumah dengan seorang pria yang bukan suaminya.
Alice menggenggam tangan mamanya pelan dan tersenyum. “Tenang, Ma. Dia anak baik kok, meski sedikit jutek. Alice juga yakin dia tidak akan pernah macam-macam sama Alice. Jadi Mama jangan kahwatir dan percaya sama Alice, ya.”
Galuh awalnya masih ragu, tetapi melihat wajah meyakinkan Alice, dia menjadi ikut merasakannya. Entah mengapa rasanya dia juga tenang dan tidak sekhawatir sebelumnya. “Baiklah, tetapi ingat. Kalau ada apa-apa langsung telfon mama atau papa,” peringat Galuh dengan suara lembut.
“Iya, Ma. Kalau gitu Alice pergi ke kamar dulu ya buat siapin pakaian.”
“Mau mama bawakan makanan untuk nanti malam? Mama buat sup banyak,” tawar Galuh sembari menatap anaknya yang suda melangkah menaiki tangga.
“Boleh, Ma. Biar Alice gak memasak,” jawab Alice.
Memasak? Galuh yang mendengar hanya menggeleng tidak percaya. Anaknya bahkan tidak tahu nama bumbu dapur dan akan merawat temannya. Dia merasa, bukan Alice yang merawat, tetapi malah dia yang dirawat.
Dasar Alice, mana bisa dia memasak, batin Galuh merasa heran dengan anaknya.
_____
“Kamu itu ya, Bara. Seenaknya sendiri. Pergi gak nunggu Kakak bangun dulu.”
Bara hanya mendengarkan ocehan Rika dari balik telfon dengan wajah malas. Dia hanya diam sembari memakan camilan yang sudah disiapkan. Bahkan, telinganya sudah cukup panas mendengar ocehan Rika yang tidak ada habisnya.
Bara menghela napas perlahan. “Aku mendengarkanmu, Rika. Sudahlah, lagi pula kita masih berada di negara yang sama. Aku akan bermain ke rumah jika tidak sibuk nanti.”
Terdengar helaan napas lelah dari arah Rika dan itu menarik perhatian Bara yang masih sibuk dengan kunyahannya.
“Kamu kenapa?” tanya Bara penasaran.
“Tidak tahu, aku hanya merasa lelah saja. Jadi, kapan kamu akan datang ke rumah?”
“Rika, aku baru saja pindah dan...” Bara menghentikan ucapanya ketika mendengar suara bel apartemennya berbunyi.
“Rika, aku sedang ada tamu. Aku akan hubungi lagi nanti,” ucap Bara yang langsung mematikan panggilan. Dia tidak menghiraukan protes Rika di seberang.
Bara meletakan ponselnya dan melangkah ke pintu apartemen. Dia tahu siapa pelaku yang ada di balik pintu dan menekan bel sampai membuat telinganya terasa akan pecah. Dengan segera Bara membuka pintu apartemen.
__ADS_1
“Hai. Aku datang,” sapa Alice dengan wajah ceria.
Bara yang melihat langsung meneliti barang bawaah Alice yang begitu banyak. Satu koper dan juga paper bag dengan ukuran sedang. Bara beralih menatap Alice yang datang tanpa rasa canggung sama sekali.
“Kamu mau tinggal di sini selamanya?” tanya Bara dengan kening berkerut.
“Enak aja. Ya gaklah. Kata dokter kamu butuh satu minggu untuk segera pulih. Jadi aku akan di apartemen dan merawatmu sampai satu minggu ke depan,” jelas Alice segera melangkah masuk. Dia lelah berdiri di depan pintu dan tidak dipersilahkan untuk masuk ke dalam.
Matanya menatap seisi ruangan Bara yang ditata begitu rapi. Apartemennya memang kecil, tetapi karena desain yang pas, apartemen Bara tampak begitu lebar. “Woow, aparteman kamu keren juga. Rapi,” puji Alice sembari menatap penuh memuja.
Bara hanya mengabaikan ucapan Alice dan kembali menutup pintu. “Kamu bisa tinggal di kamar sebelah,” ucap Bara yang sudah kembali duduk di kursi yang ada di depan televisi.
Alice yang melihat langsung mengerutkan kening dan tersenyum kecil melihat Bara sedang memakan camilan. Tanpa diperintah, Alice segera ke dapur dan mengambil beberapa mangkuk dan juga piring. Setelah dirasa pas, dia kembali ke ruang utama dan meletakan piring di meja depan televisi.
Bara hanya diam ketika Alice membuka isi paper bag dan mengeluarkan beberapa sayuran matang. Bau yang begitu lezat membuatnya merasa begitu lapar.
“Aku bawa makanan dari rumah. Mama sedang memasak banyak,” ucap Alice sembari meracik makanan di piring.
Bara hanya diam dan memperhatikan Alice yang sudah duduk di sebelahnya dan tersenyum manis.
“Ayo makan,” perintah Alice sembari menyodorkan sendok berisi makanan.
Bara yang melihat hanya menuruti saja dan mulai mengunyah. Dia tahu, protes pun hanya akan menambah daftar kekesalannya dengan Alice yang selalu bertingkah ceroboh.
Alice yang melihat langsung tersenyum senang dan kembali menyuapi Bara sampai habis. Akhirnya dia mau menurut, batin Alice merasa senang.
_____
💞💞💞💞
Mau pada ngelakui acara apa nih buat tahun baru? Kalau Kim sih cuma mau bakar masa lalu yang menyakitkan. Eeeaaaakkk
Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote ya.
Jangan lupa mampir ke cerita Kim yang lain ya. Judulnya “Wedding with My Lecturer”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, dan vote
__ADS_1
See you next chapter sayangkuh. Ikuti sampai tamat, ya.
💞💞💞💞