
Alice berdecak kecil ketika menatap Bara yang masih memejamkan mata dengan wajah tenang. Membuat Alice mengulas senyum tipis dan kembali menggeleng pelan. Dia memillih melangkah ke arah jendel kamar dan mulai membuka tirai pelan. Menghadirkan sinar mentari yang mulai mengganggu Bara.
Bara berdecak kecil ketika merasakan sinar matahari mulai mengganggu tidurnya. Dia memilih membalik badan dan menutupi wajahnya dengan bantal. Hal yang membuat Alice tertawa kecil.
Dasar mas Bara, batin Alice pelan.
Dia mulai membuka tirainya dan kembali mendekati Bara. Dia mulai mengambil bantal yang tengah didekap suaminya pelan.
“Mas, sudah siang,” kata Alice pelan.
“Sebentar, sayang. Nas masih ngantuk. Lagi pula ini hari minggu,” kata Bara pelan.
Alice berdecak kecil dan menarik selimut Bara pelan. “Mas, ayolah bangun. Jangan jadi orang pemalas seperti ini,” gerutu Alice dengan wajah kesal. Dia memilih duduk di pinggir ranjang dan berdekatan dengan suaminya.
“Mas,” panggil Alice pelan. Tangannya sudah mengusap pelan pipi sang suami, mencoba mengusik ketenangan yang tengah Bara rasakan.
Bara yang merasakan usapan terus-menerus mulai membuka mata dan menatap ke arah Alice berada. Memandang istrinya dengan mata sembab khas bangun tidur.
“Ayo bangun, sayang,” ucap Alice pelan. Mencoba bersabar dengan sikap Bara yang seperti anak kecil.
Bukannya bangun, Bara kembali memiringkan badan dan mendekap Alice pelan. Dia memilih menyembunyikan wajah di balik perut Alice yang kian membuncit. Sesekali mengelus pelan perut istrinya. Hal yang membuat Alice tertawa kecil.
“Mas, ayo bangun. Masa setiap pagi kalah sama baby di kandungan aku,” ucap Alice pelan.
Bara hanya diam dan menatap ke arah Alice lekat. “Mas rasa dia juga tidak mau kamu ajak bangun pagi, sayang. Dia masih mau dipeluk sama papanya,” cicit Bara dengan wajah memalas.
“Kata siapa?” tanya Alice dengan mata menyipit. Memperhatikan Bara yang tidak bersemangat sama sekali.
“Kata aku,” jawab Bara tanpa rasa bersalah.
Alice memutar bola mata kesal. Dia memilih diam dan melepaskan tangan Bara yang masih asyik mengelusnya. Dia mulai bangkit dan menatap suaminya lekat. “Terserah apa mau kamu, Mas. Aku sudah membangunkanmu dan itu terserah denganmu. Sekarang aku mau keluar dan jalan-jalan di depan. Jadi, kalau kamu nanti bangun, kamu bisa langsung makan saja,” jelas Alice ketus. Dia menatap Bara dengan pandangan kesal yang dibuat-buat.
Bara langsung membelalakan mata ketika mendengar ucapan Alice. Dia mulai bangun dan menatap istrinya lekat. “Mas ikut,” ucapnya cepat. Dia segera turun dari ranjang dan melangkah ke arah Alice berada.
__ADS_1
“Mas ikut. Kamu tunggu sebentar. Aku akan bersiap,” kata Bara tergesa.
Alica yang mendengar hanya diam, membiarkan Bara berlari ke arah kamar mandi. Membuat bibir Alice langsung menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Aku tahu kamu akan selalu memprioritaskan aku, Mas, batin Alice bahagia.
_____
Dara membuka mata pelan ketika merasakan dekapan di pinggangnya kian mengerat. Menatap tepat di wajah tenang pria yang berbaring di dekatnya. Wajah tenang yang membuatnya mengulas senyum tipis.
Astaga, aku semalam melakukan dengan Dave. Astaga, batin Dara dengan perasaan tidak percaya. Mencoba menenangkan degup jantung yang kian bertalu cepat. Bahkan, wajahnya sudah terasa memerah membayangkan bagaimana dia dan Dave dalam menggapai puncak bersama.
“Kenapa jantungmu berdegup sangat cepat, sayang?” tanya Dave dengan mata memejam. Membuat Dara yang tengah menenangkan diri terdiam seketika.
Dara menatap lekat ke arah Dave yang masih saja memejam. Sampai akhirnya, mata tersebut mulai terbuka pelan. Menatap ke arah Dara dengan pandangan khas bangun tidur.
“Kenapa wajahmu memerah, baby? Kamu teringat dengan kejadian semalam?” celetuk Dave dengan senyum tipis.
Dara yang mendengar membelalakan mata dan mencubit lengan Dave kesal. Dia merasa kali ini Dave memang sengaja membuatnya semakin memerah. Dara baru akan berbalik dan turun dari ranjang, tetapi terhenti karena Dave kembali menarik dan mendekap pelan.
“Mau ke mana? Ini masih pagi untuk kita, sayang,” tanya Dave pelan. Matanya masih mengamati wajah Dara yang terlihat serba salah di depannya.
“Dave, aku harus memasak. Aku tidak mau mama berpikir macam-macam tentangku,” cicit Dara mencoba melepaskan dekapan Dave.
“Tenang saja, sayang. Mama tidak akan berpikir buruk tentangmu. Aku rasa mama malah senang,” ucap Dave tidak mau kalah. Dia malah mendekatkan kepala dan mendarat di bagian leher Dara.
Dara terdiam ketika Dave menyesapnya pelan. Membuat perasaan aneh kembali menjalar. “Dave, lepas,” cicit Dara masih mencoba bertahan dengan godaan yang Dave lakukan.
Dave mulai menjauhkan kepala dan tersenyum bangga. Menatap hasil karya yang terlihat indah di depannya. “Lehermu indah kalau begitu, sayang,” kata Dave dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Dara yang mengerti berdecak kecil dan menatap Dave kesal. “Dave, aku akan sulit menutupinya,” gerutu Dara.
Dave hanya terdiam dengan senyum kecil. Dia masih asyik menatap bagian atas Dara yang tidak tertutup sama sekali. Bahkan, dia mampu merasakan benda kenyal yang mulai terasa di dadanya.
Dave baru akan kembali mendekati Dara dan melancarkan aksinya, tetapi niatnya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Membuat Dave berdecak kesal dan menatap ke arah pintu sinis.
__ADS_1
“Dave, ini mama. Apa kamu sudah bangun?” tanya Renita dari luar.
Dave yang mendengar membelalak kaget dan melepaskan dekapannya. “Sudah, Ma,” jawab Dave cepat. Dia segera turun dari ranjang dan mengenakan pakaian. Sesekali menatap ke arah Dara yang memejamkan mata karena tubuh polosnya.
Dara yang melihat Dave melangkah ke arah pintu kamar mulai membalut tubuhnya dengan selimut. Secepat mungkin dia langsung menuju ke arah kamar mandi dan menutup pelan. Tepat saat Dave membuka pintu kamar. Membuat Dave hanya terkekeh kecil dan menggeleng pelan.
“Dave, mama mengganggumu?” tanya Renita dengan perasaan bersalah.
“Tidak, Ma. Ada apa?” jawab Dave pelan.
“Mama mau ke rumah paman kamu hari ini. Mungkin sampai satu atau dua minggu lagi baru kembali,” kata Renita dengan nada santai.
“Mama mau pergi? Namun, mama tidak mengatakan apa pun dengan Dave kemarin,” ucap Dave dengan kening berkerut heran. Merasa aneh dengan sikap mamanya.
“Ini memang dadakan, sayang. Kemarin paman kamu baru mengajak mama. Jadi, hari ini mama harus berangkat,” sahut Renita lembut.
Dave menghela napas pelan dan menatap mamanya serius. “Baiklah kalau memang itu mau Mama. Jaga diri dan jangan lupa makan.”
Renita tersenyum kecil dan mengagguk. “Jaga Dara ya. Jangan buat dia kesal. Mama harap setelah ini akan ada kabar baik tentang cucu mama,” celetuk Renita sembari mengerlingkan mata pelan.
Dave yang mendengar membelalak tidak percaya. Sampai dia tersenyum dan menatap mamanya yang mulai menjauh. “Aku tahu kenapa mama pergi,” gumam Dave sembari menutup pintu pelan
“Dave, mama kenapa?” tanya Dara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Menunjukan wajah segar dan menatap suaminya lekat.
Dave menatap Dara dan tersenyum misterius. Kakinya mulai mendekat ke arah Dara berada dan mengulas senyum tipis. Hingga dia berhenti tepat di depan Dara dan memperhatikan wajah di depannya lekat.
Dave memilih menarik Dara dan mendekap erat. “Mama bilang mau ke rumah paman sampai dua minggu ke depan,” jawab Dave pelan.
“Apa? Kenapa?” tanya Dara dengan tatapan bingung.
“Mama mau kamu segera memiliki anak, sayang,” bisik Dave pelan. Membuat Dara yang mendengar membelalak seketika.
Astaga, sejak kapan Dave menjadi pria seperti ini, batin Dara.
__ADS_1
_____