
Dara membuka mata pelan ketika mersakan ciuman yang sejak lima belas menit yang lalu tidak berhenti sama sekali, mengusik tidur nyenyaknya. Sampai dia menatap ruangan yang tidak asing baginya dan membuang napas pelan.
“Selamat pagi, Sayang.”
Dara yang mendapat sapaan segera menatap ke asal suara. Dia mulai menatap ke belakang dan mendapat Dave tengah tersenyum ke arahnya. Membuat Dara kembali mendesah pelan dan membenarkan posisi tidurnya.
“Pagi juga, Dave,” jawab Dara dengan senyum tipis. Dia mulai memiringkan tubuh dan menatap ke arah suaminya lekat.
Dave mengusap pelan wajah sang istri. Dia mulai mendekat dan mencium pelan kening istrinya, membuat Dara memejamkan mata, meresapi ciuman suaminya. Hingga Dave melepaskannya dan menatap Dara lembut.
“Kamu tidur nyenyak, Baby?” tanya Dave lembut.
Dara hanya mengangguk pelan. Dia memilih meletakan kepanya di dada bidang sang suami dan mendekap Dave lekat. “Haya saja pagi ini aku tidak bisa tenang karena kamu, Dave,” jawab Dara lirih.
Dave tertawa kecil. “Maafkan aku, Baby. Hanya saja aku selalu merasa gemas dengan kamu,” ujar Dave sembari mencubit pipi istriya.
Dara hanya diam ketika diperlakukan sedemikian. Dia bahkan mengabaikan tubuhnya yang hanya tertutup selimut. Dara memilih menutup mata pelan dan mendapatkan kembali ketenangannya. Merasakan sentuhan lembut Dave di puncak kepalanya.
Dave yang melihat Dara mulai memejamkan mata mulai mengulas senyum tipis. Tangan yang sejak tadi berada di puncak kepala Dara mulai melaju turun, mengelus punggung lembut yang tersingkap selimut. Tangannya terus bermain di bagian yang sama, hingga perlahan dia kembali turun. Namun, niatnya terhenti ketika Dara memegang mencuit kecil bagian pinggangnya.
“Mau apa, Sayang?” tanya Dara sembari menatap ke arah Dave dengan pandangan mengamcam.
Dave yang mendengar tertawa kecil dan menatap ke arah Dara lekat. “Aku hanya mau mewujudkan apa yang kamu mau, Sayang,” jawab Dave tanpa rasa bersalah sama sekali. “Bukannya kamu mau memiliki anak seperti Alice dan Bara?”
Dara berdecak kecil dan mencubit pelan bagian pinggang sang suami. “Dave, kamu ini benar-benar mesum. Aku bahkan masih lelah karena ulahmu semalam. Sekarang kamu mau lagi? Dasar tiak berperasaan,” tegas Dara dengan bibir dimanyunkan.
Seketika, Dave tertawa kecil dan mendekap istrinya erat. Namun, sekejap kemudian dia bangkit dan berada tepat di atas Dara, bertumpu dengan kedau tangan tang tengah menggengam pergelangan tangan sang istri.
“Tidak masalahkan kalau mesumnya sama istri sendiri?” tanya Dave dengan senyum manis.
“Dave, jangan aneh-aneh,” ucap Dara dengan tatapan mengancam.
“Aku gak aneh-aneh, Sayang. Aku hanya mau nambah sekali .... saja,” ujar Dave dengan tatapan memohon.
“Dave.”
“Dara ... please,” sahut Dave dengan wajah semakin memelas.
__ADS_1
Dara berdecak kecil dan menatap suaminya lekat. “Aku belum memasak, Dave. Aku harus menyiapkan sarapan sebelum datang ke rumah Alice, kan?” tolak Dara lembut.
Dave yang mendengar diam. Dia memilih menunduk dan berhenti tepat di sebelah telinga Dara. “Aku rasa kamu saja cukup menjadi sarapanku, Sayang,” bisik Dave. Dia segera mengarahkan bibirnya ke leher Dara dan mengecup dalam.
“Aaahh. Dave,” desah Dara ketika Dave mulai menghisapnya dalam.
_____
“Ada yang tertinggal, Sayang?” tanya Bara memastikan. Pasalnya, Bara memang sudah siap sejak satu jam yang lalu. Rasanya, dia benar-benar tidak sabar untuk kembali ke rumah bersama dengan anak dan istrinya.
Alice yang mendengar menggeleng pelan dan mengulas senyum tipis. “Tidak ada, Mas,” jawab Alice lemah. Perlahan, dia mulai turun dari ranjang dan melangkah ke arah suaminya pelan.
“Ayo kita pulang, aku benar-benar sudah tidak tahan, Mas,” ucap Alice ketika sudah sampai di sebelah Bara.
Bara mengulas senyum tipis dan mengangguk pelan. Perlahan, dia mulai menggandeng sang istri yang sudah ada di dekatnya. Sesekali menatap ke arah Alice dan memastikan bahwa wanita di sebelahnya baik-baik saja. Kakinya terus melangkah ke arah pintu keluar rumah sakit, mengabaikan beberapa tatap mata yang memperhatikannya. Pasalnya, kali ini Bara memang tidak mengajak siapa pun ke rumah sakit untuk membantunya membawa pulang istri dan sang bayi.
“Mas, mama dan papa tidak datang?” tanya Alice ketika sampai di depan mobil.
Bara yang mendengar mengulas senyum dan mendekat. Perlahan, dia mulai mengecup kening sang istri dan menjauhkan tubuhnya pelan. “Aku rasa mama dan papa sedang sibuk, Sayang,” jawab Bara lembut.
Alice terdiam. Ada rasa aneh yang menjalar di tubuhnya. Apa pekerjaan sekarang jauh lebih penting dari pada aku, batin Alice dengan tatapan sendu.
Alice mengangguk pelan dan mulai masuk mobil. Bibir yang sempat mengulas senyum pedih mulai berubah ketika Bara meletakan sang anak di pangkuannya. Menatap wajah polos yang membuatnya menjadi tenang.
Bara mulai masuk ke kursi pengemudi dan menatap istrinya lekat, mulai menjalankan mesin dan melaju pelan. Sesekali matanya menatap ke arah Alice yang tengah bercada dengan putrinya. Membuat Bara tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
“Mas, kenapa dia mirip sekali denganmu?” tanya Alice sembari mengamati Bara dan putrinya secara bergantian.
Seketika, Bara menatap ke arah istri dan anaknya, tersenyum tipis. Namun, setelahnya dia mulai menunjukan wajah kesal dan marah. “Aku rasa kamu memang terlalu membenciku ketika mengandungnya, Sayang,” celetuk Bara dengan bibir dimanyunkan.
“Hey, aku tidak pernah membencimu,” protes Alice sembari menepuk pelan lengan sang suami.
Bara tertawa kecil dan melirik istrinya sekilas. “Aku hanya bercanda,” sahut Bara sembari membelokan kemudi. Dia mulai memasukan mobil ke halaman rumahnya dan berhenti tepat di depan pintu.
Bara menghela napas pelan dan menatap istrinya lekat. “Aku rasa dia terlalu menyukaiku. Itu sebabnya dia mirip sekali denganku,” ucap Bara dengan tawa kecil.
Alice mengerutkan kening dalam ketika mendengar ucapan Bara. Sampai dia tertawa kecil dan menggeleng pelan karena ulah Bara, hingga pintu di sebelahnya terbuka, menghadirkan Bara dengan tatapan lembut.
__ADS_1
“Ayo keluar,” ucap Bara sembari menggendong putrinya.
Alice hanya menurut. Perlahan, dia mulai turun dan berpegang dengan jemari Bara. Matanya menatap ke arah rumah yang terlihat sunyi di depannya. Membuat Alice membuang napas pelan dan tersenyum tipis.
Kamu sudah besar, Alice. Di larang menangis. Kamu bisa menghadapi semua meski mama dan papa kamu tidak ada, batin Alice dengan senyum tipis. Dia mulai melangkah ke arah rumahnya bersama dengan Bara.
Bara mulai membuka pintu pelan dan tersenyum ketika melihat wajah Alice. Aku tahu kamu mengharapkan kehadiran orang tuamu, sayang, batin Bara.
Alice menunduk pelan ketika pintu rumahnya terbuka. Namun, ketika dia mendengar suara gaduh di rumahnya, Alice kembali mendongak dan membelalakan mata, menatap sekitar dengan pandangan tidak percaya.
“Alice,” panggil Dara yang tengah membawa pita, membuat semua yang ada di sana berhenti seketika.
Alice hanya diam dan mengamati sekitar. “Ini ada apa?” tanya Alice bingung. Pasalnya, papanya juga tengah berada di rumahnya bersama sang mama.
“Awalnya kami mau memberi kejutan untuk kamu, tetapi karena kamu sudah datang, papa rasa tidak perlu lagi menghias rumah untuk mengejutkanmu,” jawab Surya yang langsung bangkit, meninggalkan pekerjaannya. Dia mulai melangkah ke arah Alice dan menatap putrinya lekat.
“Selamat ya, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu,” lanjut Surya dengan suara lembut.
Alice mengangguk pelan dan tersenyum bahagia. “Kenapa Papa tidak datang?” tanya Alice.
“Mengenai itu, kamu bisa tanyakan saja dengan suamimu. Kenapa papa dan mama tidak boleh datang,” jawab Surya sembari menatap Bara yang tidak menatapnya sama sekali.
Alice yang mengerti berdecak kecil dan mencubit lengan suaminya. Da mulai memanyunkan bibir dan merasa kesal karena ulah Bara. Surya tersenyum tipis dan meraih cucunya dari tangan Bara.
“Mas, kenapa kamu gak bilang kalau kamu yang menyuruh papa dan mama tidak datang?” tanya Alice dengan tatapan lekat, masih dengan bibir yang dimanyunkkan.
Bara memilih diam dan menatap ke sembarang arah. Dia enggan menatap ke arah istrinya, tetapi Alice tetap menatapnya. Membuat Bara membuang napas pelan dan menatap ke arah istrnya lekat.
“Aku mau memberi kejutan untukmu, Sayang. Jadi, aku menyuruh mama dan papa untuk tetap tinggal di rumah,” jawab Bara lembut. “Ya, meskipun kejutannya gagal seperti sekarang ini.”
Seketika, Alice tersenyum tipis dan mendekap suaminya erat. “Meski begitu, aku merasa sangat bahagia, Mas,” lirih Alice sembari menatap ke arah Bara lekat. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Sayang,” sahut Bara dengan senyum bahagia. Dia mulai mendekap istrinya dan membuang napas pelan.
Aku bersyukur kepada takdir yang telah mempersatukan kita. Semoga, kelak akan selalu ada kebahagiaan dalam kisah kita, batin Bara dengan senyum bahagia.
SELESAI
__ADS_1
_____
Sampai sini saja atau mau ada extra part nih sayang? Hehe