
Bara menghela napas perlahan dan meletakan ponselnya. Dia baru saja menerima telfon dari Dave yang mengatakan ingin bertemu dengannya. Namun, bukan itu yang menggangu pikiranya. Bara masih memikirkan mengenai Dave yang mulai penasaran dengan Bella.
“Apa dia mulai tertarik dengan Bella,” tebak Bara merasa aneh karena setahunya, Dave sedang tidak ingin berhiubungan dengan siapa pun.
Bara masih memikirkan hal yang sama ketika sebuah tangan mendekapnya dari belakang. Bara segera mendongak dan mendapati Alice tengah berdiri di belaang dengan tangan mendekapnya erat.
“Alice,” panggil Bara kaget karena dia baru saja meletakan Alice di kamar.
“Kenapa gak bangunin aku sih. Padahal aku mau makan bareng,” gerutu Alice dengan kesal. Bibirnya sudah manyun dengan wajah ditekuk.
Bara yang mendengak mendongak dan menatap Alice lekat. “Aku juga belum makan, Alice. Kalau begitu kamu bisa ambil makananmu di dapur,” celetuk Bara yang kembali menatap ke layar televisi
Alice yang mendengar berdecak kesal dan melepasakn pelukannya. Bukannya menuju ke arah dapur, Alice malah memilih duduk di dekat Bara dan duduk bersila, membuat Bara yang saat itu tengah menikmati makananya menatap bingung.
“Katanya tadi lapar. Kok malah gak diambil,” ucap Bara dengan tatapan bingung. Mulutnya masih mengunyah makanan dan menelannya cepat.
“Malas,” jawab Alice singkat.
Bara yang mendengar bedecak kecil dan mengalihkan pandangan. “Suruh ambil saja malas. Padahal tinggal ambil terus makan, gak perlu masak,” sindir Bara membuat Alice menatapnya lekat.
Alice mengabaikan tatapan Bara dan membenarkan duduknya menjadi menatap Bara sepenuhnya. “Suapi,” ujar Alice dengan wajah manja.
Bara yang mendengar hanya terkekeh kecil dan mengabaikannya. “Sudah besar, jangan manja.”
“Ih, Bara. Gak ada sweet-sweetnya deh,” gerutu Alice ketika mendengar jawaban Bara.
Alice segera mengubah duduknya sehingga menatap ke arah televisi. Wajahnya benar-benar suntuk karena jawaban bara yang membuatnya kesal. Tangannya bahkan sudah disedekpakan dengan bibir manyun.
Bara yang mendengar tertawa kecil dan menyendokan makanannya. Perlahan, dia mulai mendekatkan ke mulut Alice dan tersenyum lembut.
“Ayo, katanya tadi minta disuapi. Sekarang buka mulutnya,” ucap Bara mencoba membujuk Alice.
__ADS_1
Alica yang terburu kesal hanya diam dengan pandangan bungkam. Matanya menatap sendok berisi makanan dengan lekat. Sebenarnya dia merasa tergiur karena masakan Bara memang selalu menggoda selera. Namun, dia kembali teringat dengan alasannya marah.
Bara yang melihat menghela napas perlahan dan hendak menarik sendoknya, tetapi dicegah oleh Alice yang akhirnya memutuskan untuk menyerah. Alice segera memasukan sendok tersebut dan mulai menikmati masakan Bara dengan penuh kebahagiaan.
“Makanya, gak usah sok ngambek,” celetuk Bara yang kembali menyendok makanannya.
Alice hendak memprotes ucapan Bara, tetapi sudah dimasuki dengan sendok berisi makanan. Pada akhirnya, Alice harus menelan ucapannya dan memilih menikmati masakan kekasihnya.
“Bara, tadi siapa yang menelfon?” tanya Alice penasaran.
“Dave,” jawab Bara singkat.
“Dave? Kenapa?” Alice menatap ke arah Bara dengan pandangan penuh tanya.
Bara yang mendengar menghela napas perlahan dan menyendok makanannya. Matanya menatap Alice dengan pandangan lembut. “Kalau makan jangan berbicara terus, sayang. Nanti kamu tersedak.” Bara mengabaikan pertanyaan Alice. Dia tahu, jika pembahasan mengenai Bella akan membuat hubungannya dengan Alice kembali merenggang.
Alice yang belum terbiasa mendapat panggilan sayang dari Bara hanya mampu bungkam dan mengabaikannya saja. Dia kembali fokus menelan makananya, mengabaikan Bara yang masih menatap dengan bibir mengulum senyum. Hal yang selalu membuatnya luluh.
Alice diam dan menatap Bara bingung. Dia baru akan membersihkan sisa makanan dibibirnya, tetapi tangan Bara menghentikannya. Bara malah memilih mengabil beberapa nasi di bibir Alice dengan mulutnya dan kembali mencuri ciuman gadis tersebut.
Alice yang sadar langsung tersentak dan memukul Bara pelan. “Ih, Bara. Sejak kapan kamu itu jadi cowok mesum,” teriak Alice dengan wajah dibuat kesal.
Bara yang mendengar hanya tertawa kecil dan menatap Alice yan masih saja memukul lengannya pelan. Sesekali dia menghindar menjauhi Alice agar terbebas dari pukulan gadis tersebut. Sampai pada akhirnya Bara memilih mendekap Alice dari samping dan menghentikan tawanya. Matanya menatap Alice dengan pandangan lembut, membuat gadis tersebut semakin dibuat tidak karuan.
“Aku mau melamarmu. Jamu mau?” tanya Bara membuat Alice membelalak tidak percaya.
“Kamu yakin? Bahkan kita baru berpacaran kemarin.” Alice balik bertanya. Dia tidak mau meliat Bara menyesal nantinya.
Bara yang mendengar mengangguk yakin dan tersenyum. “Aku sudah memilihmu, Alice. Jadi aku yakin untuk bersamamu.”
Alice yang mendengar tersenyum. Dia mengabaikan pikiran apakah Rika akan menyentujuinya atau tidak. Banyak hal yang diabaikannya untuk bisa terus bersama dengan Bara, termasuk usianya yang jauh lebih dewasa dari pria tersebut.
__ADS_1
Alice mengangguk dan mengeratkan peluaknnya. “Aku mau. Aku mau menikah denganmu.”
Bara yang mendengar tersenyum senang. Dia berharap Alice berbeda dengan mamanya yang tidak memiliki hati.
_____
Bella menatap rumah kecilnya dengan tatapan nanar. Dia sudah masuk bersama dengan kopernya dan mendapati suasana sunyi di sana. Sebenarnya dia merindukan keramaian yang ada di rumah tersebut. Namun, dia tidak sempat meratapi nasibnya yang teramat menyakitkan ketika sebuah deheman keras membuatnya mendongak dan menatap ke asal suara.
Bella menghela napas perlahan ketika melihat Ryan yang sudah berdiri di hadapannya. Hal yang tidak diinginkan sama sekali.
“Baru pulang, Bella?” tanya Ryan dengan suara tegas.
Bella yang mendengar hanya menelan salivanya susah payah dan menatap Ryan dengan pandangan takut. Dia tahu apa yang membuat pria tersebut menatapnya dengan penuh amarah. Semua pasti karena kejadian di penginapan saat itu.
“Aku pikir kamu tidak akan kembali lagi ke rumah kumuhmu ini dan pergi dengan pria kaya itu,” sindir Ryan dengan tatapan mengejek.
Bella hanya mampu mengela napas lelah dan menatap Ryan lemah. “Aku hanya memiliki rumah ini untuk tinggal, Ryan. Aku tidak bisa pergi ke mana pun karena aku masih memiliki perjanjian denganmu,” jawab Bella merasa benar.
Ryan yang mendapat jawaban bukannya merasa tenang malah semakin mengeraskan rahangnya dan menatap Bella dengan pandangan tajam. Langkahnya semakin lebar mendekat ke arah Bella.
“Kamu sekarang mulai berani menjawabku, Bella!” bentak Ryan merasa tidak suka.
Bella yang mendengar tersentak kaget dan langsung membeku. Sampai sebuah tangan menekan kedua pipinya dan mendongakan kepalanya, sehingga matanya menatap Ryan dengan tatapan mengiba.
“Kamu tahu, sayang. Aku tidak menyukai seorang pembangkang,” celetuk Ryan membuat Bella hanya diam seketika.
“Aku akan memberimu pelajaran agar kembali menurut,” desis Ryan membuat Bella membelalak kaget.
Ryan segera menarik Bella masuk ke kamar gadis tersebut dan membanting ke ranjang keras. Bella yang hendak bangkit terpaksa menyerah karena Ryan yang sudah ada di atasnya dengan senyum bak iblis.
“Sekarang terima hukuman dari pilihanmu, sayang,” kata Ryan penuh penekanan.
__ADS_1
_____