Relationship Goals

Relationship Goals
Bagian 54_Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

Alice menatap Bara yang tengah asyik mengemudi dengan pandangan lekat. Pikirannya masih tidak bisa berhenti menerka apa yang ada di pikiran pemuda di dekatnya. Sejak masuk ke dalam mobil, bahkan Alice tidak berpaling dari wajah santai di sebelahnya.


Apa kamu benar mencintaiku atau hanya menjadikanku alat untuk membalas perbuatan mama, Bara, batin Alice merasa takut. Dia takut jika Bara tidak mencintainya dan hanya akan memberikan rasa sakit.


Bara menghela napas perlahan dan menatap ke arah Alice. Dia sadar sejak tadi tengah diperhatikan, tetapi dia mengabaikan begitu saja. Dia memilih fokus ke jalanan sampai menemukan tempat yang pas untuk menepi.


“Ada apa, Alice?" tanya Bara yang sudah mematikan mesin mobil.


“Apa kamu yakin akan melamarku, Bara? Apa kamu yakin untuk hidup denganku dan tidak menjadikanku sebagai alat membalas dendam terhadap mama?” tanya Alice dengan wajah cemas.


Bara bukannya menjawab malah menahan tawa dan membuang tatapannya dari Alice, membuat gadis di dekatnya mendngus kesal dan memukul pelan lengan kekasihnya.


“Ditanya beneran malah ketawa,” gerutu Alice yang langsung menatap ke depan dengan bibir dimanyunkan. Bahkan, tangannya sudah disedekapkan dengan mata menatap jalanan lekat.


Bara yang mengerti kekasihnya tengah merajuk segera menghentikan tawanya dan menatap ke arah Alice lekat. “Jangan ngambek. Baru baikan masa mau berantem lagi,” celetuk Bara dan hanya diabaikan oleh Alice.


Alice masih betah dengan keterdiamannya ketika Bara dengan lembut meraih jemarinya. Menatap dengan pandangan lekat dan penuh kelembutan. Alice bahkan melihat senyum tipis di bibir Bara ketika tubuhnya semakin mendekat.


“Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu, sayang?” tanya Bara pelan, membuat Alice yang merasakan napasnya menerpa hanya diam dengan mata terpaku.


“Apa kamu tidak percaya denganku?” tanya Bara dengan suara lirih.


Alice yang mendengar menghela napas perlahan dan mengalungkan tanganya di leher Bara, menatap mata bening pria yang sangat dicintainya. “Bukannya aku gak percaya, Bara. Aku hanya merasa aneh karena sebelumnya kamu sangat membenciku karena mama,” jelas Alice.


Bara mengangguk mengerti. Perlahan, tangannya menarik pinggang Alice agar semakin dekat dengannya. Menyatukan kening dan menatap Alice degan jarak semakin dekat.


“Aku pernah salah dengan itu, Alice. Benar kata semua orang, tidak seharusnya aku memusuhimu. Galuh yang salah dan bukan kamu. Lagi pula aku ingin mendengar penjelasan dari wanita itu kenapa meninggalkan kami dan membiarkan anaknya terlantar,” ucap Bara yang langsung mendekap Alice erat.


“Aku tidak bisa jauh darimu, Alice. Aku menyayangimu, sangat,” lanjut Bara membuat Alice senang.


Alice tersenyum kecil dan melepaskann pelukan Bara. Matanya menatap Bara dengan dalam, hingga tanpa sadar dia mulai mendekat dan meletakan bibirnya di atas bibir Bara. Perlahan, keduanya mulai menyatukannya, meneguk semua rasa yang selalu dirindukan. Sampai akhirnya, Bara melepaskan lumatan dan menatap Alice yang tengah terengah dengan wajah memerah.


“Kamu masih mau menikah denganku, kan?” tanya Bara dengan wajah cemas.

__ADS_1


Aljce yang mendengar tersenyum dan mengangguk. “Tentu. Aku bahkan tidak mau kehilanganmu, Bara. Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu,” jawab Alice dengan semangat menggebu, membuat Bara terseyum bahagia.


_____


Galuh menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyiram bunga ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Matanya menatap mobil Alice yang sudah sangat dikenalinya. Dengan perlahan, dia mulai meletakan gayungnya dan melangkah mendekati Alice.


“Mas, Alice sudah pulang,” teriak Galuh memberitahukan kepada Surya yang sejak tadi menunggu putrinya.


Galuh masih mengembangkan senyum bahagia, tetapi hanya sekejap senyumnya menghklang. Matanya menatap Bara yang keluar dari mobil anaknya dengan pandangan datar, terlebih ketika menatapnya. Dengan susah payah, Galuh melangkah mendekati Alice yang menatapnya dengan wajah bahagia.


“Mana Alice, sayang?” tanya Surya membuat ketiganya menatap ke arah pria tersebut. Ketika tidak mendapat jawaban apa pun, Surya memilih mendongak dan terkujut ketika melihat Bara ada di depannya.


“Bara,” gumam Surya dengan pandangan lekat dan mulai mendekati istrinya. Manik matanya masih menatap ke arah Bara yang juga melangkah bersama putri semata wayang.


“Apa yan kamu lakukan di sini, Bara?” tanya Surya dengan penuh tanya.


Bara menatap Surya masih dengan pandangan datar. “Saya hanya ingin mengantar kekasih saya sampai rumahnya, Tuan.”


“Maaf jika waktu itu saya menyakiti anda, Tuan. Saya hanya masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Saya membutuhkan sedikti waktu sampai hati saya tenang,” ucap Bara dengan kesungguhan.


Surya yang mendengar mengangguk dan melempar senyum. “Aku tahu itu, Bara. Aku juga merasa bersalah karena waktu itu aku mencela Rika. Aku tanpa bertanya mengambil keputusan yang menyakiti kalian berdua,” sahut Surya tenang. Tatapannya beralih ke arah Galuh yang hanya diam dengan kepala tertunduk di dekatnya.


“Dan mengenai mama kamu?” tanya Surya mulai megaluhkan pandangan ke arah Bara yang juga menatap Galuh lekat. “Apa kamu sudah memafkannya?”


“Saya masih belum memaafkannya, Tuan. Tetapi saya ingin mendengar apa alasannya sebagai seorang ibu meninggalkan anaknya dalam kesusahan,” tegas Bara membuat Galuh menatap ke arahnya lekat.


“Mama akan jelaskan semuanya, Bara. Mama akan jelaskan semuanya,” jawab Galuh dengan rasa bahagia.


Bara hanya diam ketika Galuh mulai mempersilahkannya masuk. Matanya hanya menatap lekat wanita yang ada di hadapannya. Dia sendiri tidak yakin akan bisa menerima penjelasan mamanya. Pasalnya, hatinya masih terasa batu hinga saat ini.


Mendengar tidak ada salahnya, kan, pikir Bara berusaha menerima.


Galuh menatap Bara dengan seyum penuh kebahagiaan. Dia merasa senang bisa duduk bersama dengan Baraal, meski berada di kursi yang berbeda. “Sudah lama mama tidak melihatmu, Bara. Sudah lama juga mama menganggap kalian bahagia bersama dengan papa kalian,” ucap Galuh memulai pembicaraan.

__ADS_1


“Bagaiman anda bisa berpikir bahwa kami bahagia? Bagaimana anda bisa berpikir bahwa papa merawat kami yang lahir dari rahim wanita yang selalu menghiantinya. Anda yang membuat salah, tetapi kami yang menerima akibatnya. Dan perlu anda tahu, saya tidak suka berbasa-basi. Jadi, bisa jelaskan secepatnya?” celetuk Bara masih merasa dongkol dengan pikiran mamanya.


Galuh menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Aku tahu kamu dan Rika sangat membenciku. Tetapi, saat itu aku bebar-benar khilaf. Mama tidak bisa hidup dengan papa kalian yang suka mabuk dan main judi. Bukan itu saja, sebenarnya papa kalian juga suka bermain dengan para wanita bayaran di luar sana. Mama tidak tahan hidup terus-menerus dengan papa kalian.”


Galuh menghentikan ucapannya sejenak dan menatap ke arah Bara dengan air mata yang perlahan mulai turun. “Kamu tahu, Bara. Selama perusahaan papa kamu mengalami kebangkrutan, mama yang menopang semua kehidupan kalian. Papa kalian menjual mama kepada para rekan kerjanya, termasuk dengan Mas Surya, suami mama saat ini.”


Bara yang mendengar membelalakan mata tidak percaya. Kenyataan pahit itu seakan menghantamnya dengan sangat keras, bahkan rasanya semua kehidupannya runtuh seketika. Alkce yang mendengar menitikan air mata, menatap ke arah Bara yang juga terlihat tercengang. Perlahan, tangannya mengusap pundak Bara lembut, menyadarkan kekasihnya dari lamunan.


“Waktu itu Mas Surya menjemputku dan mengajakku pergi, Bara. Mama meninggalkan kalian karena berharap dengan begitu papa kalian akan sadar dan mulaimengerti tanggung jawab. Selain itu, hubungan mama dan Mas Surya juga belum menemukan titik terang. Kami berusaha mencari kalian setelah pernikahan berlangsung, tetapi tidak ditemukan. Kalian menghilang dan kami tidak tahu harus mencari ke mana.”


Surya mendekap tubuh lemah istrinya dan menatap Bara dengan senyum perih. “Kami mencarimu ke mana-mana, Bara. Bahkan, Galuh sangat merindukan kalian. Dia bahkan pernah frustasi karena kalian tidak ditemukan.”


“Kenapa anda tidak mengatakannya kepada kami?” tanya Bara dengan suara tercekat.


Galuh mendongak dan menatap ke arah Bara lekat. “Waktu itu kalian masih terlalu kecil untuk menanggung beban seberat ittu.”


“Tetapi kami menanggung beban lebih berat lagi diusia saat itu,” celetuk Bara dengan mata tertutup.


“Maaf untuk itu. Mama tidak menyangka papa kamu akan meninggalkan kalian seorang diri. Maaf.”


Bara memilih diam tidak menanggapi. Dia hanya diam dan mulai bangkit. Perlahan, kakinya melangkah keluar dengan air mata menetes. Alice yang melihat menatap ke arah Bara dengan pandangan iba dan langsung mengikutinya.


“Bara,” panggil Alice sembari menyentuh lengan Bara pelan.


Bara menatap ke arah Alice dengan air mata berlinang. “Aku membutuhkan waktu untuk sendiri, sayang. Hanya sebentar.”


Alice mendekap Bara erat, mencoba meredam rasa sakit yang dirasaka Bara saat ini. Ini adalah kali pertama Bara menunjukan sisi lemahnya tepat di depan Alice.


“Aku akan bersamamu. Aku akan ikut dengammu,” ujar Alice yang langsung menuntun Bara ke arah mobilnya. Sebelum Alice masuk ke dalam mobil, matanya menatap Surya yang mengangguk menyetujui keputusannya.


Alice tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil. Matanya menatap Bara yang masih saja diam di sebelanya. Jaga dia, Tuhan. Hilangkan kepedihan dari kehidupannya, batin Alice dengan helaan napas perlahan.


____

__ADS_1


__ADS_2