Rencana Sang Tuan Muda

Rencana Sang Tuan Muda
Kemarin malam


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka.


"Masuk" teriak Raka dari dalam.


"Selamat pagi Tuan" Sapa Sekretaris Jay ketika ia masuk ke dalam Ruangan.


"Darimana saja kau. Nomor juga tidak bisa di hubungi" Tanya Raka Setengah teriak.


Tiba tiba ia juga melihat Cindi juga masuk dan berdiri di depan Raka.


"Tuan. Maaf kan kelancangan ku. Aku meminta ijin kepada mu untuk menikahi Nona Cindi" dengan kepala menunduk.


Seketika Tania berdiri dari sebelum nya duduk di pangkuan Raka. Sementara Raka dengan wajah heran tidak berkedip.


"A P A ??!" tanya Tania kaget


"Ada apa sebenar nya?!" Tanya Raka bingung.


Seketika Suasana menjadi hening. Tidak ada suara.


"Sayang Bisa kah aku bicara Cindi sebentar?!" Tanya Tania dengan melihat Raka.


Raka mengangguk.


"Ikut aku sekarang" Seraya Tania menarik tangan Cindi keluar dari ruangan tersebut menuju taman.


Di dalam ruang kini hanya Sekretaris Jay dan Raka.


"Apa kau sedang bercanda??!" Tanya Raka dengan tatapan mematikan.


"Aku bersungguh sungguh Tuan. Aku mencintai Nona Cindi dan ingin menikahi nya" dengan kepala menunduk.


" Kau selalu sibuk bekerja, sejak kapan itu terjadi?!" Heran


"Itu terjadi begitu saja Tuan. Untuk pertama kali nya aku menyukai seorang wanita. Dan dia harus menjadi milik ku" jawab nya tegas.


Kenapa dia seperti ku. Apa terlalu lama bekerja akhir nya sifat nya juga menyerupai ku.


"Tapi dia adik ku." nada marah


"Saya tau tuan. Ijin kan aku menjaga adik mu sepenuh hati ku" jawab nya tegas.


"Kau duduk dulu jay. Biarkan aku berpikir sejenak" dengan nada pelan.


Bagaimana ini. Apa yang akan aku katakan kepada om dan tante nanti nya.


*


"Bisa kah kau jelaskan apa yang terjadi??!" Tanya Tania ketika sudah sampai di taman.


"Aku tidak tau bahkan ini masih seperti mimpi Tania" Jawab nya dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Ini tidak Lucu Cindi. Apa kau mencintai Sekretaris Jay??!" Tanya Tania dengan menatap dalam wajah Cindi.


"Saya tidak tau Tania. Tapi aku merasa nyaman. walau pun dia sering mengancam ku, tapi aku seperti menyukai hal itu" Jawab nya dengan terbata.


Astaga Cindi.. Kenapa nasib kita bisa sama seperti ini sih.


"Kau bohong Cindi. Sekarang duduk disini dan mulai ceritakan semua nya kepada ku." sambil menunjuk tempat duduk di samping nya.


Cindi menurut, ia duduk di samping Tania dan mengangkat kepala nya.


*


Kemarin Malam.


Di perjalanan Sekretaris Jay hanya diam saja, begitu juga dengan Cindi ia juga merasa kesal.


kring kring kring


Sebuah telpon masuk ke hp cindi. Ia melihat nya dan mengangkat nya.


"Hallo" suara dari sebrang telpon.


"Iya. Siapa?!" Tanya Cindi.


"Ini Geri. Bisa minta waktu nya sebentar?" Dari sebrang telpon.


"Ooh Pak Geri. Ada apa pak?!" Tanya Cindi datar.


"Saya belum sempat mengucapakan terimkasih atas kerja sama kalian di acara kemarin. Bisa kita bertemu besok?" Tanya pria dari sebrang telpon.


Sekretaris Jay mendengar nya langsung tersulut cemburu.


Siapa geri?? Dia ingin bertemu. Seperti nya aku harus turun tangan.


Tiba tiba mobil rem mendadak. Ia langsung menarik hp Cindi dengan paksa.


"Hallo. Pak Geri. perkenalkan saya sekretaris Jay. Apa anda mengenal saya?!" Tanya Jay tanpa memperdulikan Cindi dengan wajah kaget.


"Tidak. Bisa saya bicara kepada Cindi saja"


"Ha ha ha, Apa anda tau Sekretaris Tuan Raka wijaya pemilik Wijaya Groub" dengan tatapan lurus ke depan


TIba tiba telpon di matikan dari si penelpon.


dAsar cemen, padahal aku sudah ingin menghajar nya.


Kemudian ia menyerahkan Hp Cindi kembali.


"Apa kau sudah gila??!" Tanya Cindi dengan suara Tinggi.


"Kau benar benar menguji kesabaran ku Nona" dengan suara bergetar.


"iihh aku muak dengan sikap mu Jay" Ucap Cindi langsung membuka handle pintu.

__ADS_1


Namun dengan cepat Jay mengunci nya,


"BUka aku ingin pulang sendiri saja" Ucap Cindi masih membelakangi Jay.


Namun sekretaris Jay tidak memperdulikan nya, ia kembali melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Cindi semakin kesal.


"Aku berharap ini terakhir kali nya aku bertemu dengan mu Jay" Ucap Cindi pelan.


Sekretaris Jay semakin kesal dan semakin mempercepat laju mobil terserbut. Cindi merngerutkan kening, karena ia tau ini bukan jalan ke arah rumah nya.


Apa dia ingin membawaku ke tempat Tania??! Tapi sepertinya tidak, ini bukan jalan kesana, lantas kemana lagi ini. Aku sudah muak dengan nya.


Tiba di basment sebuah bangunan. Jay turun dan membuka pintun Cindi dan menarik nya lagi keluar dari mobil tersebut,


"KIta dimana?!" Tanya Cindi gemetar.


Namun Jay tidak menjawab, ia kembali menarik tangan Cindi hingga masuk ke sebuah lift. Ia tidak melepaskan tangan Cindi. HIngga sampai ke sebuah ruangan yang satu lantai hanya ada satu ruangan yang cukup luas. Itu adalah Apartemen Sekretaris Jay, ia membawa Cindi ke tempat nya.


Setelah tiba di dalam Sekretrais Jay menghempaskan tangan Cindi ke atas sebuah Sofa berukuran besar.


"Mau apa kau Jay?" Tany Cindi dengan nada takut.


"Besok akhiri pekerjaan mu sebagai model. apa kau mengerti??!" Perintah Sekretaris jay dengan suara menahan amarah.


"ha ha ha BUkan kah sebelum nya aku sudah pernah katakan kepada mu!! Kau bukan ayah ku, atau kaka ku yang harus aku turuti perintah mu" membalas tatapan Sekretaris Jay. Berusaha menutupi ketakutan nya.


"Benar kah??!! Kau ingin aku melakukan sesuatu ternyata" Dengan wajah memerah ia mengambil smartphone nya.


Ia menelpon seseorang. Setelah terhubung.


"Kau tau perusahaan Beauty??!" Tanya Jay kepada seseorang di sebrang telpon.


Cindi membulatkan mata nya.


Bukan kah itu perusahaan Pak geri??! Mau apa dia?!


"Bagus. jika kau mengetahui nya. Aku mau besok perusahaan itu segera di tutup. Apa kau mengerti?!" Dengan nada tegas.


Setelah Jay meletakkan Hp nya.


"Apa mau mu sekarang?! Apa kesalahan Beauty hingga kau harus menutup nya?!" Tanya cindi mulai takut


"Kesalahan nya adalah mengajak mu bertemu. Belum selesai Nona. Masih ada satu lagi. Perusahaan Tommy" ucap nya kembali menyentuh Hp nya.


Dengan cepat Cindi menarik hp Sekretaris Jay dan melempar nya.


"Ada apa dengan mu Jay??!!" Teriak Cindi dengan nada sedih.


"Aku mau kau berhenti menjadi model. Apa kau mengerti" dengan suara berat dengan wajah memerah.


"Baik lah. Jika itu mau mu. Tapi setelah ini aku tidak akan mau bertemu lagi dengan mu" Ucap nya Cindi bergetar. air mata nya kini menetes.


"Tidak bisa" Teriak Jay dengan kesal.

__ADS_1


Cindi tidak mengeluarkan suara lagi. Namun ia menatap lurus dengan tatapan kosong namun air mata masih menetes.


__ADS_2