Rencana Sang Tuan Muda

Rencana Sang Tuan Muda
Bertemu Tuan Raka


__ADS_3

"Apa???"


"ia Tania, agar kaka bisa keluar dari masalah ini cuma kamu yang bisa menolong kaka"


"Tapi aku masih sekolah kak, Aku juga masih punya cita cita"


"kaka gak memaksa kamu Tania. Kalau kamu memang tidak mau, tidak apa apa. kaka mengerti, tapi mungkin besok kamu tidak akan pernah lihat kaka lagi di dunia ini"


"kaka ngomong apa sih?? kesalahan apa yang sudah kaka perbuat kak? kenapa kaka jadi seperti ini? kamu bukan kak anton yang aku kenal, kaka seperti orang yang berbeda" sambil menangis sejadi jadinya.


Maafkan kaka dek, harus melibatkan mu dalam masalah ini. Kaka tidak tau harus memulai darimana, ini terlalu susah untuk kamu pahami. Bahkan aku sendiri tidak tau kenapa ini bisa terjadi.


"siapa kak? siapa orang yang membuat kaka jadi seperti ini?"


"Sudahlah Tania. kamu tidak akan mengerti. Kaka tidak akan memaksa kamu jika memang kamu tidak mau"


Maafkan kaka dek, Seharunya aku yang melindungi kamu, sekarang malah kamu yang harus melindungi kaka. Kaka memang tidak berguna sama sekali.


Satu jam sudah Tania menangis di kasurnya.


Ia melirik ke arah Anton dan Menghampiri nya yang sendari tadi diam di sebuah kursi kecil di sudut kamar Tania.


"Aku mau kak"


Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa menebus semua kebaikan kaka selama ini. Bagaimana pun cuma kaka yang aku punya di dunia ini. Seandainya terjadi sesuatu kepada kaka bagaimana nasib anak dan istrimu.


"Tania?? Sebaiknya kamu istirahat dan melupakan apa yang kaka ucapkan barusan. Kaka akan hadapi apapun itu"


"Tania yakin kak, aku masih muda dan belum memiliki tanggung jawab, sedangkan kaka sudah memiliki anak dan istri. Tugas kaka masih panjang. Kaka udah membesarkan Tania, Mungkin ini sudah jalan Tania kak"


sudah lah, mungkin beginilah nasibku.


Sembari menghapus air matanya.


*


Tania merapikan rambutnya. Dari tadi dia tidak berpaling dari kaca di depannya. Seolah olah ini adalah kebiasaanya saat di memikirkan sesuatu.


Sore ini dia harus bertemu dengan orang yang di maksud kakanya. Bahkan ia sendiri belum tau dia siapa orangnya dan seperti apa dia.


"Maaf mbak mau nanyak, ruangan sekretaris jay ada dimana?" bertanya ke seorang resepsionis


"Mbak Tania ya?"


"ia mbak"


Dia sudah mengenalku? Kenapa aku merinding membayangkan nasib ku sebentar lagi.


"mari mbak saya antar" mengulurkan tanganya memberikan intrusi arah jalan.


Mereka memasuki lift dan sampai di depan sebuah ruangan.


"ini mbak ruanganya. Saya tinggal ya mbak" melangkah pergi.


"makasih ya mbak" tersenyum.


Tok tok tok


"Masuk" Suara terdengar dari dalam.


Tania membuka pintu dan melihat sekretaris jay sedang duduk di kursi.

__ADS_1


Bukannya dia itu?? iya benar. Dia si manusia angkuh. Jadi dia orang yang di maksud ka anton. Kenapa harus berurusan dengan orang seperti mereka sih kak.


"Silahkan duduk"


"Sepertinya kakamu sudah menjelaskan semuanya kan, jadi saya langsung ke intinya saja. Ini surat yang harus kamu tanda tangani."


Menyodorkan selembar kertas kehadapan nya. Tania membaca sampai habis.


"Apa saya harus menandatangi ini?"


"Lakukan saja tidak usah bertanya"


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Apakah datang kesini adalah keputusan yang salah. apa sebaik aku tidak mau menandatangai surat ini dan membatalkan semuanya, tapi Bagaimana nasib kak Anton.


"Sebelum saya tanda tangan, bisa saya bertanya satu hal?"


"Silahkan"


"Apa yang telah kaka saya lakukan. Sehingga anda memperlakukan dia seperti ini"


"Anda tanya saja kepadanya"


Jadi kau tidak mau memberitahu adik mu ini. Kenapa perasaanku mengatakan Anton tidak bersalah. Sebaiknya aku harus kembali periksa semua berkas nya.


"Apakah dengan menukar hidupku, kaka ku akan bisa bebas Tuan?"


Orang seperti apa dia ini. Kenapa dia terlihat sangat menyeramkan sekali, sifatnya juga sangat dingin.


"Sekarang hidup kakamu ada di tanganmu. Tidak usah membangkang, jalankan perintah dengan baik kupastikan kaka mu aman"


"Baiklah, saya pegang kata kata anda"


Setelah menandatangai surat perjanjian itu, ia pergi melangkah keluar dari gedung megah itu, ia menuju kos miliknya. Langsung merebahkan diri di kasur. Menangis sejadi jadinya. Meluapkan air mata yang sedari tadi ditahannya.


Bagaimana dengan sekolahku, Bagaimana dengan cita citaku, Kenapa hidup bisa sekejam itu. Baru kemaren hidupku berjalan dengan baik. Masuk universitas favorit, bertemu sahabat, bertemu kak Ferdi. Kak ferdi?? Bagaimana aku menjelaskannya nanti. aahhh Takdir bagaimana kau mempermainkan hidupku.


*


"mama akan pulang nak" suara seorang wanita paruh baya terdengar dari sebrang telpon.


"Kenapa tiba tiba ma?"


"Mama mau menjodohkan kamu sama anaknya teman mama"


"Raka sudah punya calon istri ma"


"Apa???!! Beneran???"


"ia ma"


"Baiklah mama akan tetap pulang, dan melihat sendiri calon menantu mama"


Tanpa menunggu jawabapan telpon sudah di matikan.


Selama ini mama nya raka tinggal di luar negri. Ia memilih tinggal disana karna disana ada tantenya dan saudaranya yang lain setidaknya dia punya teman cerita. Dia memilih berpisah saja dari Raka. Karna bagaimanapun Raka selalu di sibukkan dengan kerjaan. Dia jarang sekali punya waktu untuk mamanya sendiri. Kabar perjodohan sudah terlebih dahulu di dengar dari informan nya yg tinggal disana. Jadi ia sudah mempersiapkannya dengan matang.


"jay"


"ia Tuan"


"Dia sudah menandatangani nya?"

__ADS_1


"Sudah Tuan"


"Atur pertemuanku dengannya"


aku mau lihat bagaimana wajah mu sangat ketakutan nanti nya. Dan apakah kau masih menunjukkan wajahmu seperti kemarin.


"Baik tuan"


*


Tania bergegas merapikan diri. Membiarkan rambut panjangnya terurai. Celana jeans dan kaos oblong warna putih. Dia pergi keluar kos dan menuju kesuatu tempat.


Sesampainya di kafe yang sudah diperintahkan untuk di datanginya, ia melihat kesekeliling nya. Matanya tertuju kepada dua orang yang ada di salah satu meja. Ia berjalan menemui mereka. Ia duduk Tanpa di perintah.


"Aku mengampuni mu. Karna kau hanya telat tiga detik" salah seseorang berbicara kepadanya.


Dengan cepat ia melirik kearah jam tanganya. Dan menatap orang yang berbicara kepadanya.


apa?? cuma Tiga detik reaksi mu sudah ingin menelanku hidup hidup. Tunggu dia kan Tuan Raka yang sombong itu. Jadi dia orang nya yang sudah membuat kak Anton jadi seperti ini


"Lusa mama saya akan pulang. Bersikap lah sewajarnya"


"Baik tuan, Ada lagi" dengan nada ketus.


Baik, selesaikan pembicaraan ini dan aku akan pulang sekarang.


"Jangan macam macam atau kakamu akan ku hancurkan" dengan mata melotot.


"Baik tuan. Saya akan turuti semua keinginan anda tuan" dengan senyum yang di paksakan.


kak anton? Mungkin menyingkirkan kaka ku hanyalah masalah kecil bagi mereka. aahh membayangkan nya saja membuatku merinding.


"Jay"


"ia Tuan"


"Apa kau sudah memberitahukan dia apa yang akan menjadi tugas nya?"


"Sudah tuan"


"Saya beri kamu 5 menit. Pastikan dia tidak mengacau saat bertemu mama"


"Baik tuan"


Raka pergi meninggalkan Tania dan sekretaris jay.


"Saya sudah print apa saja yang anda lakukan"


menerima sebuah kertas


"satu hal lagi. Di depan ibu Sarah, anda harus memanggil Tuan raka dengan sebutan apa, semua sudah ada didalam. Saya harap kerja samanya nona"


"Baik sekretaris jay" sembari tersenyum. senyum yang dipaksakan lebih tepatnya.


Nona?? sekarang dia memanggilku dengan nona.


apa apaan ini. Satu lembar penuh. Semua ini harus ku lakukan. iiihhh dasar manusia yang sangat kejam.


"Saya permisi nona. Silahkan nikmati makanan anda. Saya ingatkan lagi. Patuh lah, jangan membangkang. Buat semuanya lebih mudah"


persisnya jangan menambah pekerjaanku nona.

__ADS_1


__ADS_2