Rencana Sang Tuan Muda

Rencana Sang Tuan Muda
Tania Marah.


__ADS_3

"Kenapa kau kelihatan sangat marah Tania??!" Tanya Cindi ketika Tania sudah berada di dalam kamar nya.


"Aku kesal kepada mereka" nada kesal.


"Kenapa? Ada masalah?!" Menyipitkan mata.


Astagaaaaa bocah ini masih bertanya??! Dia di tinggalkan suami nya bekerja di malam pertama nya.


"Kau masih bertanya??!" nada semakin kesal.


"Iya, aku kan belum tau." Sambil mengangkat bahu.


"Ahh sudah lah, lupakan" Nada kesal tapi pasrah.


Cindi berdiri dan di depan kaca rias.


"Daripada kau membuatku pusing. Bantu aku membuka hiasan di kepala ku" Ucap nya dengan melihat Tania dari pantulan kaca.


Tania dengan wajah masih kesal menghampiri Cindi.


"Lantas kau ngapain datang kesini?!" dengan tangan membuka anting.


Tania melihat nya dari pantulan kaca.


Sialan, dia masih bertanya ngapain aku kesini?! Aku mau menemani kau, karna aku pikir kau sudah nangis bombay karna suami mu malah pergi bekerja.


"Sudah lah, aku hanya ingin kesini saja" jawab nya lemas.


"Kau tidak ingin berniat mengganggu malam pengantin ku kan?!" tatapan Curiga.


"Apa??!" suara meninggi.


Ya ampun niat baik ku malah di salah artikan.. Bagaimana bisa kau menikmati malam ini suami mu saja sudah sibuk dengan pekerjaan nya.


"Ha ha ha Aku bercanda. Jay bilang dia akan bekerja malam ini karna beberapa hari terakhir ini dia sibuk mengurus pernikahan jadi pekerjaan nya banyak yang tertunda" dengan nada santai nya, tapi membuat Tania semakin kesal.


"Dan kau tidak marah?!" tatapan mematikan.


"Tidak, aku sudah mengerti pekerjaan nya." sambil membalikkan badan berhadapan dengan Tania.


Tania tanpa sadar melihat ke atas dengan napas berat.


Arrggghh percuma juga aku ngomong kepada nya. Toh dia sama saja dengan mereka.


"Sudah lah, kau mandi saja" seraya pergi ke sofa dan duduk dengan wajah masih kesal.


"Bagaimana kalau kita ke bawah. Di sana ada salon. Kita kesana aja, mumpung suami kita masih bekerja" bersemangat.


"Terserah kau saja." nada kesal "Kau ganti gaun mu dulu, kalau tidak mereka berpikir pengantin pria nya sudah kabur nanti" nada jengkel.


"Ha ha ha" tawa Cindi seraya pergi ke dalam kamar mandi.


Hah??!!! Masih bisa tertawa?! Dunia sudah semakin gila. Aku juga lama lama bisa gila sama seperti mereka.


*


Kring kring kring


Telpon milik Tania berbunyi, panggilan dari "Suami ku sayang" Tertulis di layar hp.

__ADS_1


Tania melihat nya. Marah nya yang sudah mulai mereda kini kembali naik.


Aku sedang tidak ingin mendengarkan perintah mu, kau membuat ku kesal.


Telpon di matikan.


Siapa suruh kau membuat ku kesal.


"Siapa sih?! Kok tidak di angkat?!" Tanya cindi dengan melirik karna rambut nya sedang di cuci.


Mereka sedang berada di salon di lantai pertama. Sesuai permintaan Cindi, mereka treathment sebelum Jay dan Raka selesai bekerja.


"Raka" jawab nya singkat.


"Kenapa di rijek?!" tanpa melihat.


"Aku lagi malas bicara" Dengan nada kesal.


"waahh kau sudah semakin berani ya" Sambil tertawa kecil.


Tania tidak menjawab.


Apa cuma aku yang waras disini??! Bukan nya seharus nya dia yang marah karna suami nya di paksa bekerja?! Kenapa malah aku yang marah??! Aahh sudah lah, pusing.


Kring kring kring


Kini telpon Cindi yang berbunyi.


"Sekretaris Jay" adalah nama yang menghubungi. Ia belum sempat mengubah nama nya di hp nya.


"Hallo" Ucap Cindi pertama kali.


"Kalian dimana?!"


"Dimana Tania?!" tiba tiba Suara nya berbeda, siapa lagi kalau bukan Raka yang menarik hp secara paksa.


"Kaka ipar ada di samping ku kk" jawab nya sambil melirik Tania.


Tania mendengar ucapan Cindi, dengab wajah jutek.


Apa peduli mu aku dimana, seharus nya kau bekerja saja terus, tidak perlu pedulikan orang lain.


"Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku?!"


"Karna dia lagi treatmen, jadi tidak bisa pegang hp" Alasan.


"Apa ada pria disana?!" terdengar nada curiga dan mengancam.


"Tidak ada kak. Salon di tutup untuk orang lain. Ini hanya kami berdua"


"Cepat, kembali jika sudah selesai"


"Baik kk"


Setelah Cindi meletakkan hp nya kembali.


"Kaka ku sudah benar benar gila karna mu Tania" Ucap Cindi sambil tertawa.


Tania hanya tersenyum kesal.

__ADS_1


Dia gila karna aku??!! Salah, yang ada Aku yang gila karna dia,


Sebelum pergi ke salon, Cindi sudah pamit kepada Sekretaris Jay. Mengetahui hal itu Jay langsung menghubungi Salon di lantai bawah agar salon di tutup dan hanya di buka untuk Cindi dan Tania.


"Pergi lah, aku sudah meminta agar salon di tutup untuk customer yang lain. Jangan lama lama disana, sudah larut malam" Pesan Jay terakhir.


Cindi hanya tersenyum namun tidak memberitahu Tania.


*


"Kenapa kau masih kesini?! Bukan nya kamar mu di sebelah sana?!" curiga.


"Tidak aku tidur di kamar mu saja." Ucap nya dengan wajah cemberut.


"Loh kenapa?! Aku sudah punya suami tau" mengerutkan kening.


"Ha ha ha Apa kau pikir aku belum punya suami?! Jika mereka sibuk dengan pekerjaan nya? Aku harus apa?!" nada semakin kesal.


"Kau jangan mudah marah Kaka ipar, nanti kau cepat Tua" sambil tertawa dan membuka pintu.


Tertawa lah Cindi, akan ada saat nya aku tertawa nanti nya. Kau belum tau saja bagaimana ke dua Monster itu mengatur hidup mu sesuka nya.


Baru saja duduk di sofa. Tiba tiba pintu terbuka.


"Kau sudah kembali?!" seru Cindi dengan girang.


"Ia" tersenyum. Lalu melihat Tania. "Maaf Nona, Tuan sudah menunggu Anda" Dengan bahasa lain, kau sudah bisa pergi karna aku ingn bersama istri ku.


Tania dengan wajah kesal, tidak menjawab ucapan Sekretaris Jay. Ia langsung keluar dan pergi ke kamar nya.


Setelah masuk Tania melihat Raka yang duduk di sofa.


Dengan wajah masih kesal langsung naik ke atas kasur. Raka yang melihat nya langsung mendekati Tania.


"Kau tidak mengankat telpon ku!" Tanya Raka seraya duduk di samping Tania yang sudah terbaring.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai?!" Membelakangi Raka.


"Kenapa kau malah bertanya?!" jadi ikut kesal.


"Bukan kah Pekerjaan mu adalah paling utama daripada Aku" nada ketus.


"Apa kau sedang marah kepada ku?!" nada sedikit meninggi.


Tania langsung duduk dan melihat Raka.


"Tidak sayang" sambil tersenyum. Senyuman terpaksa lebih tepat.


Aahh kenapa aku tidak berani sih melawan nya.


"Hanya itu?!" Bahasa lain Nya kau tau cara meminta maaf yang benar.


Tania langsung memeluk Raka.


"Sayang Apa pekerjaan mu sudah selesai??! Bisakah kita tidur. Aku sudah sangat lelah" kepala di dada Raka, padahal di bawah sana wajah nya sudah menunjukkan wajah ingin menelan nya hidup hidup.


"Tidak, pekerjaan ku belum selesai" ucap nya dan langsung mendorong Tania.


Dengan cepat Ia menciumi Bibir mungil Tania.

__ADS_1


Walaupun kesal, Tania adalah Tania. Dia tidak berani menolak pekerjaan Raka kali ini.


Dan terjadi lah yang seharus nya terjadi.


__ADS_2